Posted in

AKU MENABUNG LEBIH DARI Rp340.000.000 UNTUK MENJAMIN HARI TUA ORANG TUAKU. NAMUN SAAT PULANG PADA MALAM NATAL, DI HALAMAN RUMAH SUDAH BERDIRI KATERING MEWAH, LAYAR LED RAKSASA, DAN MOBIL-MOBIL BARU. KETIKA AKU MENGETAHUI DARI MANA SEMUA ITU BERASAL, SELURUH TUBUHKU LANGSUNG MEMBESI.*

*AKU MENABUNG LEBIH DARI Rp340.000.000 UNTUK MENJAMIN HARI TUA ORANG TUAKU. NAMUN SAAT PULANG PADA MALAM NATAL, DI HALAMAN RUMAH SUDAH BERDIRI KATERING MEWAH, LAYAR LED RAKSASA, DAN MOBIL-MOBIL BARU. KETIKA AKU MENGETAHUI DARI MANA SEMUA ITU BERASAL, SELURUH TUBUHKU LANGSUNG MEMBESI.**

### Bagian 1 — Selama Tujuh Tahun Aku Bertahan Hidup dengan Makanan Murah Demi Menabung untuk Orang Tuaku, Tetapi Pada Malam Natal Mereka Justru Terlihat Jauh Lebih Kaya Dariku

Tujuh tahun empat bulan.

Lebih dari dua ribu malam.

Selama itulah aku menyembunyikan rasa lelah, lapar, iri, dan kesepian saat merantau di Jakarta demi mengumpulkan uang yang kupikir akan menjadi jaminan masa tua kedua orang tuaku.

Namaku **Marina Santos**.

Aku adalah anak sulung dari seorang mantan sopir becak motor dan penjual kue tradisional di sebuah desa kecil.

Setelah lulus kuliah jurusan Teknik Informatika berkat beasiswa, aku berangkat ke Jakarta hanya membawa sebuah ransel, dua pasang sepatu, dan satu janji.

Aku berjanji tidak akan membiarkan Ayah dan Ibu menjalani masa tua sambil gemetar setiap kali tagihan datang.

Pekerjaan pertamaku adalah sebagai **Junior Developer** di kawasan bisnis Jakarta.

Gelar pekerjaannya memang terdengar keren.

Namun kenyataannya…

Aku hampir tinggal di kantor.

Saat ada proses deployment, kami bekerja sampai pukul tiga dini hari.

Kalau muncul bug, akhir pekan pun tidak ada artinya.

Kalau klien meminta perubahan mendadak, hari Minggu tetap harus membuka laptop.

Rekan-rekanku minum kopi di kafe mahal.

Aku menyeduh kopi sachet di pantry kantor.

Mereka makan pasta dan rice bowl seharga lebih dari seratus ribu rupiah.

Aku makan siomai dan nasi dari warung pinggir jalan.

Mereka menyewa apartemen lengkap dengan kolam renang.

Aku tinggal di kamar kos sempit bersama tiga perempuan lain.

Kami hanya berbagi satu kipas angin.

Kalau hujan turun deras, kami harus menaruh ember di bawah atap yang bocor.

Aku tidak pernah malu dengan kehidupan itu.

Karena setiap rupiah yang tidak kubelanjakan…

Akan menjadi biaya berobat Ibu.

Akan menjadi biaya pemeriksaan kesehatan Ayah.

Akan menjadi atap baru agar rumah kami tidak lagi bocor saat musim hujan.

Setiap hari gajian, aku selalu mentransfer uang ke sebuah rekening tabungan digital yang hanya kuketahui sendiri.

Aku menamainya:

**”Dana untuk Ayah dan Ibu.”**

Awalnya aku hanya menyisihkan sekitar **Rp300.000** setiap dua minggu.

Lalu meningkat menjadi **Rp1.500.000**.

Setelah gajiku naik, jumlahnya menjadi **Rp4.500.000**.

Setiap bonus langsung masuk ke rekening itu.

Setiap proyek freelance yang kukerjakan pada malam hari juga masuk ke sana.

Setiap kali aku ingin membeli sepatu baru atau mengganti ponsel, aku hanya melihatnya sebentar di toko online, lalu menutup aplikasinya.

Aku selalu membayangkan wajah Ibu ketika nanti aku berkata,

*”Bu, Ibu tidak perlu lagi bangun subuh untuk membuat kue dan menjualnya di pasar.”*

Lalu wajah Ayah saat kuberikan kartu ATM sambil berkata,

*”Yah, Ayah tidak perlu lagi bekerja keras saat lutut sudah sering sakit.”*

Pemandangan itu selalu jelas di kepalaku.

Aku akan pulang saat malam Natal.

Mencium tangan mereka.

Duduk bertiga di meja makan.

Lalu mengeluarkan kartu ATM yang berisi lebih dari **Rp340.000.000**.

Bagi orang lain mungkin jumlah itu tidak terlalu besar.

Tetapi bagiku…

Itu adalah tujuh tahun hidupku.

Tujuh tahun pengorbanan.

Tujuh tahun cinta.

Pada tanggal 24 Desember, pukul setengah enam pagi, aku berangkat membawa koper kecil dan satu kantong hadiah.

Isinya sederhana.

Vitamin untuk Ibu.

Penyangga lutut untuk Ayah.

Roti manis favorit mereka.

Serta sebuah kemeja yang kubeli saat diskon.

Di dalam tas, kusimpan kartu ATM dalam sebuah amplop kecil.

Di atasnya kutulis dengan tanganku sendiri:

**”Untuk Ayah dan Ibu, dari anakmu yang tidak pernah melupakan kalian.”**

Sepanjang perjalanan menuju kampung halaman, aku memandangi pemandangan di luar jendela bus.

Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang.

Digantikan pepohonan, warung pinggir jalan, rumah-rumah sederhana, dan lampion Natal yang menggantung di depan rumah warga.

Semakin dekat ke rumah…

Dadaku semakin terasa ringan.

Aku sangat lelah.

Tetapi jauh lebih bahagia.

Aku ingin melihat ekspresi terkejut mereka.

Aku ingin mendengar Ibu berkata,

*”Nak, ini terlalu banyak.”*

Dan aku akan menjawab,

*”Belum, Bu. Semua ini masih belum sebanding dengan pengorbanan Ayah dan Ibu.”*

Menjelang siang aku tiba di terminal.

Aku melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju rumah.

Semua jalan masih terasa akrab.

Kapel kecil masih berdiri di tempat yang sama.

Warung Bu Cora masih buka.

Lapangan basket tua juga masih ada.

Namun ketika memasuki gang menuju rumah…

Aku melihat banyak orang berdiri sambil memandangi arah rumahku.

Anak-anak berhenti bermain.

Para tetangga berkumpul.

Lampu-lampu besar menyala terang meski matahari masih tinggi.

Entah kenapa…

Perasaanku tiba-tiba tidak enak.

Mungkin sedang ada pesta, pikirku.

Atau acara Natal warga.

Namun saat motor berhenti tepat di depan rumah…

Aku seperti disiram air es.

Aku hampir tidak mengenali rumah itu.

Rumah sederhana beratap seng yang selama ini kukenal…

Kini berubah menjadi rumah berpagar tinggi dengan gerbang besi baru dan lampu taman di kedua sisi.

Di halaman terparkir dua SUV baru, sebuah van putih, dan sebuah pikap hitam mengilap.

Salah satunya bahkan masih dihiasi pita merah seperti baru keluar dari dealer.

Di samping rumah berdiri meja katering lengkap.

Seekor babi panggang utuh tersaji di tengah.

Layar LED raksasa menampilkan tulisan:

**”Selamat Malam Natal Keluarga Santos.”**

Di sampingnya terpasang spanduk besar bergambar Ayah, Ibu, dan adik bungsuku, **Carlo**.

Ayah mengenakan jas resmi.

Ibu memakai gaun mewah.

Carlo memakai setelan jas hitam.

Aku…

Tidak ada di foto itu.

Aku berdiri terpaku sambil memegang koper.

Pengemudi ojek ikut memandang rumah itu.

“Bu… benar ini rumah tujuan Ibu?”

Aku tidak bisa langsung menjawab.

Aku dibesarkan di rumah ini.

Aku pernah menangis di sini karena tidak punya uang saku.

Aku belajar di bawah lampu redup ketika Ibu masih berjualan kue di depan rumah.

Namun saat itu…

Aku merasa seperti orang asing yang sedang berdiri di depan rumah milik orang lain.

Seorang pria berseragam membuka gerbang.

Satpam.

Rumah kami sekarang bahkan memiliki satpam.

“Boleh tahu Ibu siapa?”

Aku menelan ludah.

“Saya anak pemilik rumah.”

Dia memandangku dari ujung kepala sampai kaki.

Jelas dia tidak mengenaliku.

Sebelum sempat berkata apa-apa, pintu rumah terbuka.

Ayah keluar.

Bukan memakai kaus oblong seperti dulu.

Melainkan kemeja putih baru, jam tangan mahal, dan sepatu kulit yang tampak belum pernah menginjak lumpur.

Rambutnya yang dulu hampir seluruhnya memutih kini sudah diwarnai hitam.

Begitu melihatku, wajahnya langsung berseri-seri.

“Marina! Akhirnya kamu pulang juga!”

Dia memelukku erat.

Pelukannya tetap hangat.

Tetapi tubuhku membeku.

Karena aroma parfum mahal yang dipakainya sama sekali bukan aroma Ayah yang kukenal.

“Yah… semua ini apa?”

Aku menunjuk mobil-mobil baru, katering, dan rumah yang berubah total.

Ayah tertawa santai.

“Oh, cuma ada tamu saja. Mereka menitipkan mobil di sini. Sudah, jangan dipikirkan.”

“Semua mobil itu milik tamu?”

“Iya. Masuk dulu.”

Ibu juga keluar.

Beliau mengenakan gaun merah elegan dengan kalung emas dan anting berlian kecil.

Tangannya yang dulu kasar karena membuat kue kini tampak halus dengan kuku yang dirawat.

“Anakku…”

Beliau memelukku.

“Kamu kok makin kurus? Memangnya tidak makan di Jakarta?”

Aku ingin tertawa.

Aku ingin berkata bahwa aku hidup hemat supaya bisa menabung untuk mereka.

Tetapi aku hanya diam.

Begitu masuk ke dalam rumah…

Dadaku kembali berdebar.

Ruang tamu yang dulu hanya berisi sofa tua kini berubah seperti ruang pamer.

Televisi pintar berukuran besar.

Pendingin ruangan.

Lampu gantung kristal.

Meja makan besar untuk dua belas orang.

Kotak-kotak minuman impor.

Keranjang hadiah Natal bertumpuk di bawah pohon.

Di dapur ada dua perempuan yang tidak kukenal sedang menyiapkan makanan.

Pembantu?

Dulu semua pekerjaan itu selalu dilakukan Ibu sendiri.

“Ibu… sejak kapan semua ini?”

Beliau hanya tersenyum.

“Sedikit demi sedikit saja, Nak. Rezeki.”

“Rezeki apa?”

Ayah buru-buru menyela.

“Nanti saja. Kamu makan dulu.”

Aku tidak duduk.

Pandanganku tertuju pada sebuah spanduk lain di ruang tamu.

Di bawah foto keluarga tertulis:

**”Grand Opening — Casa Santos Events Pavilion.”**

Aku mengernyit.

“Yah… apa itu Casa Santos?”

Ruangan mendadak hening.

Bahkan perempuan yang sedang menyusun piring ikut menoleh.

Sebelum Ayah sempat menjawab…

Seseorang menuruni tangga.

Carlo.

Adik bungsuku.

Sudah dua tahun kami tidak bertemu.

Dulu dia selalu meminta uang dariku.

Sekarang dia memakai pakaian bermerek, gelang emas tebal, dan memegang kunci salah satu SUV di halaman.

“Kak! Surprise!”

Dia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kok Kakak tidak bilang kalau pulang hari ini?”

Aku menatap kunci mobil di tangannya.

“Itu mobilmu?”

Dia melirik Ayah.

Ayah melirik Ibu.

Lalu Carlo tertawa.

“Cuma mobil kantor.”

“Perusahaan apa?”

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, seorang perempuan cantik bergaun panjang datang memeluk lengannya.

“Sayang, Mama mencarimu untuk foto.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Carlo… siapa dia?”

“Denise. Tunanganku.”

Tunangannya.

Mereka bahkan tidak pernah memberi tahuku.

Selama tujuh tahun aku mengirim uang setiap bulan.

Selama tujuh tahun aku selalu datang setiap kali mereka berkata sedang kesulitan.

Namun aku tidak tahu bahwa adikku sudah bertunangan.

Aku tidak tahu mereka memiliki usaha sendiri.

Aku tidak tahu rumah kami berubah menjadi seperti ini.

Aku tidak tahu keluarga kami sudah memiliki kehidupan baru.

Dan…

Dalam kehidupan baru itu…

Hanya aku yang tertinggal.

Aku keluar rumah untuk mencari udara segar.

Di ujung jalan aku bertemu Jun, teman masa kecilku.

Begitu melihatku, matanya membelalak.

“Marina? Astaga… kamu baru pulang?”

Aku langsung menghampirinya.

“Jun… kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumahku?”

Dia mendadak terdiam.

Seolah menyesal telah menyapaku.

“Maksudmu apa?”

“Rumah ini… mobil-mobil itu… gedung acara… Carlo… Kenapa cuma aku yang tidak tahu apa-apa?”

Dia membuang puntung rokoknya.

Lalu berkata pelan,

“Marina… kukira kamu sudah tahu.”

“Tahu apa?”

Dia menatapku dengan wajah pucat.

“Tanah di belakang sawah lama keluargamu…”

“Sudah dijual tahun lalu.”

Jari-jariku langsung gemetar.

“Tanah yang mana?”

Dia memandangku tidak percaya.

“Tanah yang diwariskan nenekmu.”

“Yang sertifikatnya atas namamu.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Aku tidak lagi mendengar suara musik Natal.

Tidak lagi mendengar tawa para tamu.

Aku hanya mendengar detak jantungku sendiri.

“Aku tidak pernah menjual tanah apa pun, Jun.”

Wajahnya langsung memucat.

Dia mendekat dan berbisik,

“Marina…”

“Di kantor pertanahan ada akta jual beli…”

“Akta jual beli itu ditandatangani tahun lalu, Marina. Olehmu. Semua orang di desa tahu Carlo menjadi direktur utama Casa Santos karena modal dari penjualan tanah itu. Nilainya… hampir dua miliar rupiah.”

Kata-kata Jun berdesing di telingaku seperti tawon. Seluruh tubuhku mendadak membesi. Kaku. Dingin.

Tanah itu adalah satu-satunya aset yang ditinggalkan almarhumah Nenek khusus untukku, sebagai jaminan jika suatu saat terjadi sesuatu padaku di perantauan. Sertifikat aslinya kusimpan di dalam laci terkunci di kamar lamaku di rumah ini. Aku tidak pernah menandatangani apa pun. Aku tidak pernah menjualnya.

Aku berbalik tanpa mengucap sepatah kata pun pada Jun. Langkah kakiku yang tadinya lelah karena perjalanan jauh, kini terasa berat dan mantap bagai baja.

Begitu aku melangkah kembali melewati gerbang gerbang besi Casa Santos, alunan musik Natal yang megah dan tawa riuh katering seolah memudar menjadi kesunyian yang mencekam.

Aku langsung berjalan menuju ruang tengah. Di sana, Ayah, Ibu, Carlo, dan tunangannya, Denise, sedang berkumpul di depan layar LED, bersiap melakukan sesi foto keluarga bersama fotografer sewaan.

“Oh, Marina! Sini, Nak, ikut foto! Biar seragam, pakai selendang merah ini—” Ibu mendekat sambil membawa selembar kain sutra.

Aku tidak menerima kain itu. Aku menjatuhkan koper kecilku ke lantai dengan dentuman keras. Kantong plastik berisi vitamin, penyangga lutut Ayah, dan roti murah dari Jakarta teronggok mengenaskan di sudut sofa mewah mereka.

Aku meraba tas selempangku, mengeluarkan amplop putih berisi kartu ATM dengan tabungan Rp340.000.000 hasil keringat keringatku selama tujuh tahun. Aku melemparkannya ke atas meja kaca di depan mereka.

Plak.

“Apa ini, Marina?” Ayah mengernyit, memandang amplop itu lalu menatapku.

“Itu adalah tujuh tahun hidupku di Jakarta,” suaraku begitu datar, namun sanggup membuat fotografer dan para pelayan katering di sudut ruangan langsung menghentikan aktivitas mereka. “Itu uang yang kumpulkankan dengan cara menahan lapar, memakai sepatu rusak, dan tinggal di kamar kos bocor, hanya karena aku takut Ayah dan Ibu kelaparan di masa tua.”

Carlo berdeham, wajahnya mulai terlihat tidak nyaman. “Kak, kalau mau bahas uang jangan sekarang dong. Ini malam Natal, ada Denise juga di sini…”

“Diam, Carlo!” bentakku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membentak adik bungsuku.

Aku menatap lurus ke mata Ayah dan Ibu. “Jun baru saja memberi tahuku. Tanah warisan Nenek di belakang sawah sudah dijual seharga dua miliar rupiah. Atas namaku.”

Seketika, ruangan itu menjadi sepi seolah-olah seluruh pasokan oksigen ditarik keluar. Senyum di wajah Ibu langsung lenyap. Ayah memalingkan wajahnya, tidak berani membalas tatapanku.

Hanya Carlo yang mencoba bersikap defensif. Dia melangkah maju, menghalangi Denise di belakangnya. “Kak, tanah itu kalau didiamkan saja tidak menghasilkan apa-apa! Aku menggunakannya untuk modal usaha. Sekarang lihat? Kita punya Events Pavilion, kita punya mobil baru, Ayah dan Ibu tidak perlu hidup susah lagi! Aku melakukan ini demi keluarga!”

“Demi keluarga? Atau demi membiayai gaya hidup mewahmu dan tunangan barumu?!” seruku, mataku menyipit menatap Carlo. “Siapa yang memalsukan tanda tanganku di akta jual beli itu? Kamu, Carlo? Atau Ayah?”

Ayah akhirnya mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca namun suaranya terdengar egois. “Marina… maafkan kami. Carlo sangat butuh modal saat itu. Kamu di Jakarta sudah sukses, gajimu besar, kamu tidak butuh tanah di desa lagi. Jangan salahkan adikmu, Ayah yang memberikan sertifikat itu dari kamarmu.”

Aku tiba-tiba tertawa. Tawa pahit yang terasa mencekik tenggorokanku.

“Sukses? Kalian pikir aku sukses di sana sampai kalian berhak mencuri satu-satunya hak milikku?” Aku membuka tas jasku, memperlihatkan telapak tanganku yang kasar karena terlalu banyak mengetik dan bekerja lembur, lalu menunjuk amplop di meja. “Uang di dalam amplop itu bernilai 340 juta rupiah. Aku berniat memberikan seluruh hidupku untuk kalian. Tapi ternyata, di belakangku, kalian memperlakukan aku seperti orang asing yang bisa dirampok kapan saja.”

Denise berbisik pelan di belakang Carlo, “Sayang, ini memalukan… banyak tamu di luar.”

Carlo menatapku dengan tatapan tajam, ego lelakinya terluka. “Sudahlah, Kak! Tanah itu sudah sah terjual. Uangnya sudah menjadi aset rumah dan bisnis ini. Kakak mau apa lagi? Mau merusak malam Natal kami hanya karena sebidang tanah?!”

Aku menarik napas panjang. Rasa sakit di dadaku kini telah mengkristal menjadi tekad yang dingin dan tak tergoyahkan. Aku mengambil kembali amplop kartu ATM-ku dari atas meja, menyimpannya rapat-rapat di dalam saku.

“Kalian benar. Tanah itu sudah terjual, dan uangnya sudah berubah menjadi rumah mewah, katering, LED raksasa, dan mobil-mobil baru ini,” aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Carlo tiba-tiba merinding.

Aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi perbankan, dan menyorot layar ke arah Carlo.

“Sebagai lulusan Teknik Informatika, apakah kalian lupa siapa yang mengonfigurasi seluruh sistem jaringan, akun rekening bisnis, dan gerbang pembayaran digital untuk Casa Santos Events Pavilion yang baru saja kalian luncurkan?”

Wajah Carlo seketika memucat. “K-Kak… apa maksudmu?”

“Kamu mendaftarkan bisnis ini menggunakan nama perusahaan komanditer yang legalitas digitalnya kubantu buatkan bulan lalu, Carlo. Dan karena akun master digitalnya tertaut pada email dan nomor ponselku sebagai penjamin…” Jari-jariku bergerak cepat di atas layar, menekan tombol bekukan aset dan mengalihkan seluruh hak akses rekening penampung modal usaha mereka ke akun pribadiku atas dasar indikasi penipuan sertifikat tanah.

BEEP.

Ponsel Carlo di kantong jasnya bergetar hebat. Saat dia membukanya, matanya membelalak horor melihat notifikasi dari bank bahwa seluruh rekening bisnis Casa Santos telah diblokir total, dan dana operasional sebesar ratusan juta di dalamnya dibekukan.

“Marina! Apa yang kamu lakukan?!” Ayah berdiri dari kursinya, panik.

“Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi hakku,” kataku sambil memungut kopertu dari lantai. “Seluruh aset bisnis ini berada di bawah kendali sistemku. Dan besok pagi, setelah libur Natal selesai, pengacaraku akan datang ke desa ini bersama polisi untuk membatalkan akta jual beli tanah tersebut atas dasar pemalsuan dokumen.”

Aku melangkah mundur menuju pintu keluar, menatap untuk terakhir kalinya pada spanduk megah tanpa fotoku di sana.

“Nikmati makanan mewah kalian malam ini,” ujarku dingin tepat di ambang pintu. “Karena mulai besok, kalian harus mencari cara sendiri untuk membayar sewa satpam, cicilan SUV baru itu, dan biaya pengacara untuk persidangan Carlo nanti. Selamat malam Natal, Keluarga Santos.”

Aku berbalik dan berjalan menembus rintik hujan malam, meninggalkan jeritan histeris Ibu dan kepanikan Carlo yang menggema di dalam rumah mewah yang sebentar lagi akan berubah menjadi istana pasir yang runtuh.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.