Aku menjual jeepney terakhir milik keluargaku demi menyelamatkan istriku untuk operasinya di Cebu City. Tapi tepat di hari aku membawa uang itu ke rumah sakit, aku melihat dia memakaikan cincin pernikahanku ke wanita lain… sementara ibu mertuaku tersenyum seolah akhirnya berhasil menyingkirkanku dari hidup mereka.
Hujan turun deras di Cebu City hari itu.
Air meluap hingga ke tangga Vicente Sotto Memorial Medical Center.
Aku duduk gemetar di lorong sambil memeluk erat map dokumen yang sudah basah terkena hujan. Di dalamnya ada surat penjualan jeepney hijau tua milikku — kenangan terakhir dari ayahku sebelum meninggal.
Jeepney itu menghidupi keluarga kami selama lebih dari sepuluh tahun.
Tapi saat dokter berkata istriku harus segera dioperasi jika ingin selamat, aku tidak memikirkan apa pun lagi.
Malam itu juga aku langsung menjual jeepney itu.
Sebesar 1,2 juta peso langsung kubayarkan ke rumah sakit.
Selama sebelas hari, aku hampir tidak tidur.
Pagi hari aku mondar-mandir membayar obat.
Malamnya aku tidur di kursi keras lorong rumah sakit sambil menunggu kabar dari ICU.
Ibu mertuaku, Lourdes, tidak pernah menyukaiku.
Dia selalu membuatku merasa bahwa aku hanyalah anak sopir jeepney dari Tondo dan tidak pantas untuk anaknya yang seorang engineer di perusahaan asing.
Tapi aku menahan semuanya.
Kupikir suatu hari nanti dia akan menerimaku sebagai keluarga.
Sampai hari kesebelas itu tiba.
Ponselku berbunyi sekitar pukul enam pagi.
“Suami pasien Adrian sudah boleh berkunjung.”
Aku langsung berdiri dan mengambil arroz caldo hangat favoritnya.
Aku juga membeli kopi hitam karena aku tahu kepalanya selalu sakit setelah bangun saat sedang sakit.
Namun saat aku tiba di VIP room—
“PLAK!”
Sebuah tamparan keras menghantam wajahku.
Makanan yang kubawa jatuh ke lantai.
Dengan kepala pening aku menatap ke atas.
Di depanku berdiri ibu mertuaku, Lourdes.
Tatapannya tajam.
“Kamu masih berani datang ke sini?”
Dengan tubuh gemetar aku berkata,
“Ma… Adrian sudah sadar?”
Dia tertawa dingin.
“Sudah. Dan hal pertama yang dia bilang adalah dia tidak mau melihatmu lagi.”
Duniaku terasa berhenti.
“Aku… tidak mengerti…”
Dia langsung membuka pintu kamar.
“Lihat sendiri.”
Dan di situlah aku melihat Adrian.
Dia duduk di ranjang rumah sakit dan terlihat sudah membaik.
Tapi yang menghancurkan seluruh diriku…
adalah wanita yang duduk di sampingnya.
Seorang pramugari Cebu Pacific muda berseragam.
Rambut panjang.
Bibir merah menyala.
Dan di jari manisnya…
terpasang cincin pernikahanku.
Cincin yang kupasang sendiri di jari Adrian saat kami menikah di Quiapo Church tujuh tahun lalu.
Aku kehilangan napas.
“Adrian…”
Dia menatapku.
Namun tidak ada lagi cinta di matanya.
Wanita itu tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahunya.
“Mommy benar,” katanya pelan. “Istrimu memang masih tidak tahu diri.”
Aku menoleh pada ibu mertuaku.
“Apa maksud semua ini?”
Dia melipat tangan dan tersenyum.
“Wanita itu adalah cinta sejati anakku sebelum kamu datang. Kalau saja dia tidak pergi ke Dubai waktu itu, kamu tidak akan pernah masuk ke keluarga kami.”
Telingaku berdenging.
Dubai?
Cinta sejati?
Aku menatap Adrian, berharap dia menyangkal semuanya.
Tapi dengan dingin dia berkata,
“Kita selesai, Maya.”
Duniaku runtuh seketika.
“Kenapa…?”
Dia menghela napas.
“Kamu terlalu sederhana. Kamu tidak bisa mengikuti kehidupanku sekarang.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Lalu bagaimana dengan uang yang kupakai untuk menyelamatkan hidupmu?”
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Dan kemudian…
tanpa emosi ibu mertuaku berkata,
“Anggap saja itu bayaran untuk tahun-tahun kamu tinggal di rumah kami.”
Aku tidak bisa bergerak.
Di luar jendela, hujan deras di Cebu City masih terus turun.
Dan saat aku membungkuk mengambil arroz caldo yang tumpah…
sebuah map kuning jatuh dari tas mahal si pramugari.
Halaman pertamanya meluncur keluar.
Dan saat aku membaca tulisan di sana…
seluruh tubuhku membeku.
“LIFE INSURANCE COMPENSATION AGREEMENT — Beneficiary: Sofia Ramirez.”
Di bawahnya ada nama suamiku.
Beserta jumlah uang sebesar…
50 JUTA PESO.
BAGIAN 2
Otakku mendadak mati rasa saat membaca deretan angka nol yang berjejer di kertas itu. 50 juta peso. Dan nama penerima manfaatnya bukan aku, istrinya yang sah, melainkan Sofia Ramirez—si pramugari yang kini duduk manis di samping suamiku.
Perlahan, potongan-potongan teka-teki yang selama ini membingungkanku mulai menyatu. Penyakit jantung Adrian yang tiba-tiba memburuk, desakan ibu mertuaku agar aku segera menjual jeepney peninggalan ayahku, dan penolakan mereka saat aku ingin ikut masuk ke ruang konsultasi dokter.
Mereka tidak bangkrut. Mereka tidak kekurangan uang.
“Kau… kau memalsukan kondisi medismu?” suaraku keluar seperti bisikan parau. Aku menatap Adrian, lalu beralih ke dokumen asuransi di lantai. “Operasi itu… 1,2 juta peso yang kubayarkan dari hasil menjual harga diriku dan kenangan ayahku… itu semua hanya bagian dari skenario kalian untuk mencairkan klaim asuransi jiwa?”
Ibu mertuaku, Lourdes, langsung merebut map kuning itu dari lantai dengan gerakan cepat, lalu menyembunyikannya di balik punggung. Wajahnya sempat menegang panik, namun dengan cepat dia menguasai diri kembali dan memasang senyum sinisnya.
“Jangan menuduh sembarangan, Maya!” bentak Lourdes, melangkah maju untuk menghalangi pandanganku dari Adrian. “Adrian memang sakit. Uangmu itu benar-benar dipakai untuk operasinya. Tapi kontrak asuransi ini adalah urusan masa depan Adrian dan Sofia. Kamu tidak punya hak lagi di sini!”
Aku mengabaikan bentakan Lourdes. Mataku menembus langsung ke arah pria yang telah bersamaku selama tujuh tahun. Pria yang dulu berjanji di depan altar Quiapo Church untuk menemaniku dalam susah dan senang.
“Adrian, jawab aku!” teriakku, air mata kemarahan akhirnya tumpah membasahi pipiku. “Kamu membiarkan aku mengemis pada rentenir? Kamu membiarkan aku melepaskan satu-satunya peninggalan mendiang ayahku, sementara kamu dan ibumu sudah merencanakan kematian serumit ini demi uang 50 juta peso?!”
Adrian memalingkan wajahnya, menolak menatap mataku. Namun Sofia, wanita di sampingnya, justru tertawa kecil sambil mengusap cincin pernikahanku yang kini kekecilan di jarinya.
“Maya, Maya… kamu ini naif sekali,” kata Sofia dengan nada mengejek yang kental. “Adrian memindahkan semua aset dan keuntungan asuransinya atas namaku sejak sebulan lalu. Mengapa? Karena dia tahu, wanita kelas rendah sepertimu tidak akan pernah bisa mengelola uang sebanyak itu. Lagipula, dokumen cerai kalian sudah diproses oleh pengacara Tante Lourdes. Jadi, angkat kakimu dari sini.”
Hatiku hancur berkeping-keping, namun di tengah rasa sakit yang teramat sangat itu, sesuatu di dalam diriku mendadak bangkit. Rasa sedihku menguap, digantikan oleh dinginnya kebencian yang murni.
Aku mundur satu langkah, menghapus air mata di pipiku dengan kasar. Aku tidak lagi membungkuk. Aku berdiri tegak, memeluk map basah surat penjualan jeepney-ku dengan erat.
“Kalian mengira kalian sangat cerdas, bukan?” kataku, suaraku tiba-tiba menjadi begitu tenang, begitu dingin hingga membuat tawa Sofia terhenti.
Lourdes mengernyitkan alisnya. “Apa maksudmu? Keluar dari sini sebelum aku memanggil sekuriti!”
“Panggil saja,” sahutku sambil merogoh saku jaketku yang basah. Aku mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna hitam—alat perekam medis digital yang selalu kubawa sejak hari pertama Adrian masuk ICU untuk mencatat instruksi dokter. Alat itu menyala, lampu indikator merahnya berkedip pelan. “Aku menyalakan ini sejak aku mengetuk pintu tadi. Kalimatmu tentang ‘skenario asuransi’ dan ‘pemindahan aset sebelum perceraian’ semuanya terekam dengan sangat jelas di sini.”

Wajah Adrian seketika memucat. Dia langsung menegakkan tubuhnya di ranjang, melupakan akting sakitnya. “Maya… hapus itu!”
“Tidak akan,” kataku tegas. Aku menatap mereka bergantian dengan tatapan paling jijik yang pernah kupunya. “Kalian tahu apa hal terbaik dari Vicente Sotto Memorial Medical Center? Rumah sakit ini bekerja sama langsung dengan Biro Investigasi Nasional (NBI) untuk kasus penipuan asuransi skala besar. Dan kebetulan, salah satu pemilik jeepney yang sering menyewa armada ayahku dulu adalah seorang jaksa senior di Cebu City.”
“Maya, jangan gila! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” seru Lourdes, suaranya kini mulai bergetar ketakutan. Keangkuhannya runtuh dalam sekejap. Dia tahu benar konsekuensi hukum dari penipuan asuransi senilai 50 juta peso. Hukuman penjaranya tidak akan singkat.
Sofia pun panik, dia buru-buru melepaskan cincin pernikahan dari jarinya dan melemparkannya ke arahku. “Ambil cincin sialan ini! Kami akan kembalikan uang 1,2 juta pesomu! Dua kali lipat! Tiga kali lipat! Tapi tolong hancurkan perekam itu!”
Cincin perak itu menggelinding di lantai rumah sakit, berhenti tepat di depan ujung sepatuku yang basah. Aku tidak sudi menyentuhnya lagi. Cincin itu sudah ternoda, sama seperti cinta Adrian yang ternyata palsu.
“Uang kalian tidak akan bisa membeli kembali jeepney ayahku,” kataku dingin, menatap Adrian untuk terakhir kalinya. “Tapi uang itu akan cukup untuk membiayai masa hidup kalian di dalam sel penjara.”
Tanpa menunggu jawaban mereka, aku berbalik dan melangkah keluar dari kamar VIP tersebut. Di belakangku, aku bisa mendengar suara Lourdes yang berteriak histeris menyalahkan Sofia, dan suara Adrian yang memanggil namaku dengan nada penuh penyesalan dan ketakutan.
Aku terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mengabaikan panggilan mereka. Hujan di luar Cebu City masih turun dengan deras, namun saat aku melangkah keluar menembus rintik airnya, dadaku tidak lagi terasa sesak. Aku akan mendapatkan keadilanku, dan mereka akan membusuk di tempat yang semestinya.