AKU PULANG LEBIH AWAL DARI PERJALANAN BISNIS UNTUK MEMBERI KEJUTAN PADA ISTRIKU. TAPI SAAT AKU MEMBUKA PINTU MANSIUN KAMI, APA YANG KULIHAT LANGSUNG MENGHANCURKAN HATIKU. IBuku YANG SUDAH TUA BERLUTUT DI LANTAI, MENANGIS SAMBIL MENYIKAT SEPATU PENUH LUMPUR MILIK ISTRIKU! DAN APA YANG KULAKUKAN SETELAH ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN KEANGKUHAN WANITA YANG KUNIKAHI.
Janji Seorang Anak
Namaku Elias, tiga puluh lima tahun, CEO sebuah perusahaan pengembang properti yang sukses. Semua kekayaanku kupersembahkan untuk dua wanita terpenting dalam hidupku: istriku Stella, dan ibuku, Mama Carmen.
Mama Carmen membesarkanku sendirian sebagai tukang cuci pakaian. Aku melihat sendiri setiap kapalan dan luka di tangannya hanya demi menyekolahkanku sampai kuliah. Karena itu, saat aku berhasil menjadi kaya, aku berjanji akan menjadikannya ratu di rumah kami.
Saat menikahi Stella, dia berjanji akan merawat ibuku.
“Jangan khawatir, sayang. Aku sudah tidak punya ibu, jadi aku akan menganggap beliau seperti ibuku sendiri. Di rumah ini beliau tidak perlu melakukan apa pun selain beristirahat,” katanya manis waktu itu.
Aku percaya. Karena cinta, aku memberikan Stella segalanya—kartu kredit, mobil mewah, dan kuasa penuh atas seluruh mansion kami.
Kepulangan Rahasia

Baru-baru ini aku melakukan perjalanan bisnis selama seminggu ke Jepang. Namun karena negosiasi berjalan lebih cepat dari perkiraan, semuanya selesai hanya dalam tiga hari. Aku sengaja tidak mengirim pesan atau menelepon karena ingin memberi kejutan pada istriku dan ibuku. Aku membawa makanan favorit mereka dan hadiah-hadiah khusus.
Pukul empat sore aku tiba di mansion kami. Sopirku sudah kupulangkan, lalu aku membuka pintu utama dengan pelan.
Kupikir aku akan disambut suasana tenang, atau melihat ibuku sedang menonton TV. Tapi baru beberapa langkah masuk ke lorong rumah, aku mendengar suara wanita yang tajam dan penuh amarah.
“Cepat! Gosok yang benar! Kamu tahu berapa harga sepatu itu?! Itu seratus juta, dibeli langsung dari Paris!”
Itu suara Stella. Tapi nadanya bukan seperti istri lembut yang kukenal. Suara itu terdengar seperti monster yang kejam.
Budak di Kaki Mereka
Pelan-pelan aku mengintip ke ruang tamu utama. Pemandangan di depanku terasa seperti pisau tajam yang menusuk dadaku berkali-kali. Napasku seakan berhenti.
Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, ibuku yang sudah berusia enam puluh tahun sedang berlutut. Ia mengenakan daster lama, tubuhnya gemetar, dan menangis. Di tangannya ada kain lap dan baskom kecil berisi air. Dengan susah payah ia menyikat sepatu desainer penuh lumpur milik istriku, Stella…Tangan ibuku yang sudah mulai lumpuh karena rematik itu bergerak gemetar, sementara Stella berdiri di atasnya sambil berkacak pinggang. Di sebelah Stella, ada dua temannya yang sibuk tertawa sambil memegang cangkir teh, menatap ibuku dengan pandangan jijik seolah beliau hanyalah seonggok sampah.
“Aduh Stella, mertuamu ini lelet sekali ya. Kalau aku jadi kamu, sudah kuusir dia ke panti jompo. Bikin kotor pemandangan mansion saja,” cibir salah satu teman Stella sambil terkekeh.
“Dia memang tidak tahu diri,” sahut Stella ketus, lalu dengan sengaja menendang baskom air di dekat ibuku hingga isinya tumpah, membasahi tubuh tua yang ringkih itu. “Lihat! Kerja begitu saja becus! Bersihkan airnya sekarang!”
Ibuku terperanjat, buru-buru menyeka lantai dengan daster tuanya sambil terus terisak, “Maaf, Stella… Maaf, Ibu bersihkan sekarang…”
Darahku mendidih. Rasa hangat dari kotak makanan yang kupegang mendadak terasa sedingin es. Seluruh pengorbanan ibuku, setiap tetes keringat yang beliau keluarkan untuk menjadikanku seorang CEO, dihina habis-habis oleh wanita yang kumanjakan dengan uangku.
Aku melangkah keluar dari balik pilar. Langkah kakiku sengaja kubuat berat dan menggema.
Hancurnya Topeng Sang Ratu
BRAAAK!
Aku melempar tas kerja dan semua oleh-oleh mahal dari Jepang ke atas lantai marmer. Bunyi benturan itu membuat seisi ruangan seketika senyap.
Stella menoleh, dan dalam sekejap, wajah angkuhnya berubah pucat pasi bagai mayat. “E-Elias?! Kamu… bukankah kamu baru pulang tiga hari lagi?” suaranya bergetar hebat. Teman-temannya langsung meletakkan cangkir teh mereka dengan gugup.
Aku tidak memedulikannya. Aku langsung berlari, berlutut di lantai yang basah, dan merengkuh tubuh ibuku.
“Mama… Mama tidak apa-apa?” tanyaku dengan suara serak, menahan tangis yang mendesak di dada.
Ibuku mendongak, terkejut melihatku. Alih-alih mengadu, tangan kapalan yang basah itu justru mengusap pipiku. “Elias… kamu sudah pulang, Nak? Jangan marah pada Stella, ini… ini Mama yang menawarkan diri karena bosan tidak ada kerjaan…”
Mendengar kalimat itu, hatiku semakin hancur. Bahkan dalam kondisi tertindas, ibuku masih mencoba melindungiku agar rumah tanggaku tidak hancur.
Aku membantu ibuku berdiri, menuntunnya ke sofa terlembut di ruangan itu—sofa yang selama ini dilarang Stella untuk diduduki ibuku. Aku berbalik, menatap Stella dengan pandangan yang siap membunuh.
“Elias, sayang… ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku… aku hanya bercanda dengan Ibu—”
“DIAM!!!” bentakku, suaraku menggelegar memenuhi seluruh penjuru mansion. Stella tersentak mundur, tubuhnya gemetar ketakutan. Belum pernah sekalipun aku membentaknya seperti ini.
Pembalasan yang Menghancurkan Keangkuhan
Aku berjalan mendekati Stella, mengambil sepatu desainer Paris penuh lumpur yang tadi dipegang ibuku, lalu melemparkannya tepat ke bawah kaki Stella.
“Kau bilang sepatu ini harganya seratus juta?” tanyaku dengan nada dingin yang mencekam.
“I-iya, Elias… itu dari uang bulanan yang kamu beri—”
“Uangku,” potongku tajam. “Mansion ini, kartu kredit di tasmu, mobil sport di garasi, bahkan pakaian dalam merek desainer yang kau pakai sekarang… semuanya dibeli dengan uangku. Dan tahu kenapa aku bisa punya uang sebanyak ini? Karena wanita tua yang kau injak-injak tadi rela kelaparan demi menyekolahkanku!”
Aku mengambil ponselku, menekan satu tombol cepat ke kepala keamanan mansion dan pengacaraku.
“Bawa lima petugas keamanan ke ruang tamu utama sekarang. Dan panggil tim hukum perusahaan,” perintahku singkat, lalu mematikan panggilan.
Stella mulai panik. Ia mencoba meraih lenganku dengan air mata buaya yang mulai mengalir. “Elias, tolong maafkan aku! Aku khilaf! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi! Aku mencintaimu, Elias!”
“Kau tidak mencintaiku, Stella. Kau mencintai kekayaanku. Dan hari ini, aku akan mengambil semuanya kembali.”
Keluar Tanpa Alas Kaki
Lima menit kemudian, petugas keamanan datang. Di belakang mereka, pengacaraku, Bram, masuk membawa beberapa berkas.
“Bram, batalkan semua kartu kredit atas nama Stella. Cabut hak asuhnya atas semua aset properti milikku. Mulai detik ini, ajukan gugatan cerai dengan pasal kekerasan dan pelecehan. Pastikan dia tidak mendapatkan sepeser pun harta gono-gini,” ujarku tegas.
Stella menjerit histeris. “Tidak! Elias, kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku istrimu!”
“Kau mantan istriku,” koreksiku. Aku menoleh ke arah teman-teman Stella yang menyebalkan. “Dan kalian berdua, keluar dari rumahku sebelum aku menyeret kalian atas tuduhan memasuki properti tanpa izin!” Kedua wanita itu langsung lari tunggang-langgang ketakutan.
Aku kemudian menatap Stella, yang kini terduduk lemas di lantai, menangis meraung-raung. Keangkuhannya sebagai sosialita terpandang runtuh total dalam hitungan menit.
“Sekarang, keluar dari mansionku,” kataku dingin.
“Elias, biarkan aku ganti baju dan membereskan barang-barangku dulu…” ratapnya.
“Tidak ada satu pun barang di rumah ini yang dibeli dengan uangmu. Pakaian yang melekat di tubuhmu saat ini adalah sedekah terakhir dariku. Dan satu lagi…” Aku mengambil sepatu mewahnya yang berlumpur, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah.
“Kau tidak pantas memakai sepatu mahal. Satpam, seret wanita ini keluar dari gerbang. Tanpa alas kaki.”
“Elias!!! Jangan lakukan ini!!!” Stella menjerit, mencakar-cakar lantai saat dua petugas keamanan berbadan besar mencengkeram lengannya dan menyeretnya keluar dari rumah. Keangkuhannya sirna, digantikan oleh kehinaan yang luar biasa di hadapan para pelayan dan penjaga yang selama ini kerap ia maki.
Ratu yang Sesungguhnya
Setelah suasana kembali tenang, aku kembali berjalan ke arah ibuku. Aku berlutut di hadapannya, meletakkan kepalaku di pangkuannya yang hangat, dan membiarkan air mataku menetes.
“Maafkan Elias, Ma… Elias gagal menjaga Mama,” bisikku lirih.
Ibuku mengusap rambutku dengan lembut, air matanya menetes di pipiku. “Anakku… kamu tidak pernah gagal. Mama bangga padamu.”
Mulai hari itu, aku menyewa kepala pelayan baru yang bertugas khusus untuk merawat dan menemani ibuku. Tidak akan ada lagi air mata duka di rumah ini. Aku telah menyingkirkan parasit yang menyamar menjadi istri, dan mengembalikan tahta mansion ini kepada satu-satunya ratu yang paling berhak: ibuku tercinta.