Posted in

Aku tanpa sengaja mengirimkan hasil USG ke orang yang salah. Seharusnya untuk adikku. Tapi tanpa sengaja aku mengirimkannya ke Luca Valente—pria paling berbahaya yang pernah kutemui.

Aku tanpa sengaja mengirimkan hasil USG ke orang yang salah. Seharusnya untuk adikku. Tapi tanpa sengaja aku mengirimkannya ke Luca Valente—pria paling berbahaya yang pernah kutemui.

Beberapa detik kemudian, dia membalas:

“Itu anakku.”

Lalu teleponku berdering…

Dan gambar di layar adalah fotoku saat meninggalkan apartemenku kemarin.

Dia menguntitku.

BAGIAN 1
Ketika aku menyadari telah mengirimkan hasil USG ke orang yang salah, semua darah di pembuluh darahku membeku.

Jari-jariku gemetar saat memegang telepon. Aku mencoba menarik kembali pesan itu beberapa kali, tetapi tanda centang biru kecil muncul.

Dia telah melihatnya.

Aku duduk di sofa usang di apartemen kecilku di Queens, New York, kesulitan bernapas sementara jantungku berdebar kencang.

Hujan deras menghantam jendela.

Ruangan itu berbau makanan yang dipanaskan dengan microwave, pengharum ruangan murahan, dan ketakutan.

Hasil USG itu seharusnya untuk Emma.

Dialah satu-satunya yang tahu aku hamil.

Tapi malah dialah yang menerima pesan itu.

Luca Valente.

Seorang pria yang nama aslinya baru kuketahui beberapa bulan setelah malam yang menentukan itu. Seorang pria yang bisa membuat seluruh restoran terdiam hanya dengan satu langkah. Seorang pria yang setelannya lebih mahal daripada sewa rumah selama setahun. Sebuah nama yang hanya dibisikkan orang ketika mereka yakin tidak ada yang bisa mendengarnya.

Aku menatap layar, berharap dia akan mengabaikannya.

Lalu gelembung “sedang mengetik…” muncul.

Perutku menegang.

Hanya tiga kata yang muncul.

“Ini anakku.”

Tidak ada tanda tanya.

Tidak ada kebingungan.

Tidak ada pertanyaan “apa ini?”.

Dia langsung yakin.

Sudah dua belas minggu dan tiga hari sejak terakhir kali aku melihat Luca. Sejak malam itu aku terus mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah kesalahan—meskipun sebagian diriku tahu itu bukan kesalahan.

Dan sekarang, menatap tiga kata itu, aku menyadari sesuatu.

Kehidupan tenangku telah berakhir.

Aku bahkan belum sempat memikirkan jawaban ketika telepon tiba-tiba menyala. Ada panggilan masuk.

Namanya muncul di layar.

Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.

Di atas namanya ada foto yang belum pernah kuambil.

Foto diriku saat meninggalkan gedung apartemen kemarin.

Aku segera menutup mulutku dengan tangan.

Dia menatapku.

Telepon berdering sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pada dering keempat, aku mengangkatnya—tapi tidak bisa berkata apa-apa.

Kami terdiam selama beberapa detik.

Berat.

Berbahaya.

Mengandung hal-hal yang belum siap kuhadapi.

Lalu dia berbicara.

“Buka pintunya, Ellie.”

Persis seperti yang kuingat.

Suara yang dalam.

Tenang.

Dengan sedikit aksen lokal.

Berbicara pelan dengan cara yang justru membuatku semakin takut.

“Apa?” bisikku, meskipun aku bisa mendengarnya dengan jelas.

“Aku di depan pintumu,” katanya. “Buka pintunya.”

Panggilan itu langsung berakhir.

Aku berdiri di tengah ruang tamu.

Saat aku sampai di pintu, kakiku terasa mati rasa. Melalui lubang intip, aku melihatnya berdiri di lorong seolah-olah tempat itu miliknya.

Luca Valente mengenakan setelan abu-abu gelap yang pas, membuat apartemenku terlihat lebih murahan dari dalam.

Rambut hitamnya disisir rapi.

Garis rahangnya tajam.

Ekspresinya sulit dibaca.

Di belakangnya berdiri seorang pria besar berpakaian hitam, terus-menerus mengamati lorong seolah waspada terhadap ancaman dari dalam.

Untuk sesaat, aku mempertimbangkan untuk berpura-pura dia tidak ada di rumah.

Lalu aku teringat foto itu.

Luca bukan tipe orang yang bisa diabaikan.

Dan sekarang dia tahu tentang bayi itu.

Anaknya.

Dengan tangan gemetar, aku membuka kunci pintu tetapi membiarkan gemboknya tetap terpasang. Aku mengintip sedikit melalui pintu agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Bagaimana kau menemukanku?” tanyaku.

Suaraku terdengar lebih tenang daripada yang sebenarnya. Dia menatapku dengan mata hitamnya yang dalam, lalu tatapannya beralih ke perutku, yang tersembunyi di balik sweter yang terlalu besar.

“Aku tidak pernah kehilanganmu, Ellie.”

Cara dia memanggil namaku membuatku merinding.

Seolah-olah dia telah menyimpan nama itu selama berabad-abad.

Seolah-olah dia tidak pernah melepaskanku.

“Apa yang kau inginkan?” tanyaku, meskipun kami berdua tahu jawabannya.

“Biarkan aku masuk,” katanya. “Kita perlu bicara.”

“Kita tidak punya apa-apa untuk dibicarakan.”

Wajahnya hampir tidak berubah, tetapi matanya mengeras.

“Bayi di dalam perutmu mengatakan sebaliknya.”

Seharusnya aku menutup pintu.

Seharusnya aku menelepon polisi.

Seharusnya aku melakukan apa saja selain menuruti perintahnya.

Namun akal sehatku meninggalkanku begitu namanya muncul di layar ponselku.

Aku menutup pintu, membuka kuncinya, dan membiarkan pria paling berbahaya di New York masuk ke apartemenku.

Saat Luca masuk, seluruh ruangan terasa menyempit.

Terlalu sempit. Terlalu murahan.

Terlalu mencolok.

Pengawalnya berdiri di lorong dan menutup pintu.

Aroma parfum mahal Luca langsung memenuhi ruangan—kayu cendana dan sesuatu yang sedikit lebih dalam.

Aku mundur hingga lututku menyentuh sofa.

Dia tidak duduk.

Dia hanya berdiri di sana, menjulang seperti predator yang baru saja mengunci mangsanya di ruang sempit. Matanya yang gelap menyapu sekeliling apartemenku—menilai sofa usang, keran dapur yang sedikit bocor, hingga jendela yang buram oleh air hujan.

Ekspresinya tidak menunjukkan penghinaan, melainkan ketidaksukaan yang mendalam karena aku tinggal di tempat seperti ini.

“Kau tinggal di tempat yang salah, Ellie,” katanya, suaranya mengalun rendah, memecah keheningan malam yang mencekam.

“Ini rumahku,” sahutku defensif, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Aku menyilangkan tangan di depan dada, melindungi perutku secara refleks. “Dan kau tidak berhak datang ke sini. Bagaimana kau bisa tahu tentang… tentang foto itu? Kau menguntitku?”

Luca maju satu langkah. Instingku meneriakkan bahaya, tetapi kakiku terpaku di lantai.

“Aku tidak menguntitmu. Aku mengawasimu,” koreksinya tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Ada perbedaan besar. Dan mulai hari ini, pengawasan itu akan jauh lebih ketat.”

“Aku tidak butuh diawasi!” suaraku meninggi, sedikit bergetar oleh keputusasaan. “Luca, apa yang terjadi dua belas minggu lalu adalah… sebuah ketidaksengajaan. Kita sepakat malam itu tidak berarti apa-apa.”

“Itu sebelum aku tahu ada darah dagingku yang tumbuh di dalam dirimu,” sergahnya. Nada suaranya beralih dari tenang menjadi setajam silet. Dia berjalan mendekat, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma cologne-nya yang memabukkan sekaligus mengintimidasi.

Dia menunduk, menatap langsung ke mataku. “Keluarga Valente tidak pernah meninggalkan sekecil apa pun bagian dari mereka di tempat seperti ini. Terutama anakku.”

“Dia anakku!” tangkisku, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku karena frustrasi. “Aku yang mengandungnya. Aku bisa membesarkannya sendiri. Aku tidak butuh uangmu, aku tidak butuh duniamu—”

“Kau pikir ini tentang uang?” Luca memotong dengan tawa sinis yang pendek dan dingin. Dia perlahan mengulurkan tangan. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh menyentuh daguku, memaksaku untuk terus menatapnya. Sentuhannya hangat, namun mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh tubuhku.

“Dunia tempatku hidup tidak mengenal kata kompromi, Ellie. Musuh-musuhku akan mencari kelemahanku. Jika mereka tahu tentangmu dan bayi ini sebelum kau berada di bawah perlindunganku, kalian berdua tidak akan selamat dalam waktu 24 jam.”

Kata-katanya menghantamku seperti godam. Rasa takut yang berbeda—yang lebih nyata dan mengerikan—mulai merayap. Aku teringat bisikan-bisikan orang tentang siapa Luca Valente sebenarnya. Eksekusi tanpa jejak, bisnis gelap di dermaga, dan kekuasaan mutlak yang tak tersentuh hukum.

“Jadi…” suaraku mencicit, hampir habis. “Apa yang mau kau lakukan?”

Luca melepaskan daguku, lalu merogoh saku mantelnya. Dia mengeluarkan sebuah ponsel hitam baru dan meletakkannya di atas meja kopi yang retak.

“Kemasi barang-barangmu. Hanya yang penting saja. Kau pergi bersamaku malam ini.”

“Malam ini?! Tidak, Luca! Aku punya pekerjaan, aku punya Emma—”

“Semua urusanmu sudah diselesaikan. Kontrak apartemen ini, pekerjaanmu di toko buku, semuanya telah diurus per jam ini juga,” ucapnya dengan nada final yang mutlak, seolah dia sedang mendiktekan ramalan cuaca, bukan menghancurkan seluruh hidupku.

Aku terperangah. “Kau gila! Kau tidak bisa mengatur hidupku sepihak seperti ini!”

Luca tidak membalas makianku. Dia hanya melirik jam tangan Rolex emas di pergelangan tangannya, lalu menatapku kembali dengan mata hitamnya yang tak tertembus.

“Aku memberimu waktu sepuluh menit, Ellie. Ambil pakaianmu, atau aku sendiri yang akan membawamu keluar dari sini hanya dengan sweter yang kau pakai itu.”

Dia berbalik, berjalan menuju pintu, dan bersandar di sana dengan tangan terlipat—menungguku. Di luar jendela, petir menyambar, menerangi wajah tajam Luca yang tak menyiratkan keraguan sedikit pun.

Aku tahu, jika aku melangkah keluar dari pintu itu bersamanya malam ini, aku tidak akan pernah bisa kembali lagi menjadi Ellie yang biasa.

Bagaimanakah kelanjutan pelarian Ellie ke mansion Luca? Apakah kau ingin aku menuliskan BAGIAN 2 dengan fokus pada ketegangan di dalam mobil, atau langsung melompat ke konfrontasi mereka saat tiba di tempat Luca?