Posted in

ANAKKU AKAN MENJEMPUTKU UNTUK TINGGAL DI CEBU… TAPI CUCUKU MENANGIS DAN MENULIS: “JANGAN IKUT.” LALU PESAN YANG KUTERIMA SETELAHNYA… MENJADI ALASAN AKU BERLARI MENYELAMATKAN DIRI.

ANAKKU AKAN MENJEMPUTKU UNTUK TINGGAL DI CEBU… TAPI CUCUKU MENANGIS DAN MENULIS: “JANGAN IKUT.” LALU PESAN YANG KUTERIMA SETELAHNYA… MENJADI ALASAN AKU BERLARI MENYELAMATKAN DIRI.

Aku berdiri di tengah Ninoy Aquino International Airport, menggenggam koper tua dengan telapak tangan yang basah oleh keringat.

Kertas kecil itu masih ada di tanganku.

Hanya dua kata, ditulis dengan tangan seorang anak kecil:

“Jangan ikut.”

Aku tidak menoleh.

— Ma! Mau ke mana?

Itu suara anakku, Rafael, berteriak dari belakang sambil terengah-engah seperti baru saja mengejarku.

Aku mempererat genggaman pada koper.

Langkahku semakin cepat.

Bandara penuh sesak. Pengumuman berulang kali terdengar dalam bahasa Inggris dan Tagalog, tetapi di telingaku… hanya detak jantungku sendiri yang terdengar.

Kalau aku menoleh…

Kalau aku naik kendaraan itu…

Mungkin aku tidak akan pernah bisa kembali.

Tiga bulan lalu, hidupku masih tenang—seperti danau di Laguna saat pagi hari.

Namaku Maria Santos, enam puluh enam tahun, pensiunan guru sekolah dasar. Setelah suamiku meninggal dua tahun lalu karena stroke, aku tinggal sendirian di rumah kecil kami di Quezon City.

Rumah itu tidak besar—hanya sekitar tujuh puluh meter persegi. Catnya sudah pudar, dan atapnya berisik setiap kali hujan turun.

Tetapi di situlah seluruh hidup kami tersimpan.

Setiap hari aku bangun pukul lima pagi, membuat kopi barako, mendengarkan radio, lalu menyiram tanaman.

Tetangga bilang aku masih kuat.

Namun hanya aku yang tahu…

Sakit di punggung.

Pusing yang datang tiba-tiba.

Dan yang paling berat…

Kesepian.

Rafael, anakku, sibuk bekerja di Makati. Ia jarang datang.

Menantuku, Liza, sebenarnya tidak jahat. Tapi ia punya dunianya sendiri.

Satu-satunya cahaya dalam hidupku adalah Sofia, cucuku yang berusia delapan tahun.

Ia suka berbaring di sampingku, mendengarkan cerita, dan membaca puisi.

Sampai suatu hari…

Rafael menelepon.

— Ma, aku punya kabar baik.

— Apa itu?

— Perusahaanku memindahkanku ke Cebu. Kami ingin Mama ikut tinggal bersama kami di sana.

Cebu.

Tempat yang tidak kukenal.

— Mama sudah tua, Nak. Mama tidak terbiasa dengan tempat baru.

— Kami tidak tega membiarkan Mama tinggal sendiri. Di sana udaranya lebih bagus, dekat laut.

Suaranya… terlalu sempurna.

Aku tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.

Dua bulan kemudian, semuanya berubah.

Ia lebih sering pulang.

Membawakan makanan, obat, vitamin.

— Ma, Mama harus lebih sehat.

Liza juga menjadi lebih perhatian.

— Ma, ayo kita check-up.

Aku menjalani pemeriksaan.

Banyak tes.

Hasilnya baik-baik saja.

Tetapi Rafael…

Menatap hasil pemeriksaan itu lama sekali.

Seolah mencari sesuatu.

Lalu…

— Ma, di mana sertifikat rumah?

Aku menunjukkannya.

— Kita jual saja rumah ini, Ma. Sudah tua. Di Cebu kita beli yang baru.

Aku terdiam.

Rumah ini…

Adalah kenangan seluruh hidupku.

— Belum. Mama belum sanggup menjualnya.

Wajah Rafael berubah sesaat.

Dingin.

Dan aku melihatnya.

Hanya Sofia yang berbeda.

Ia tidak lagi ceria.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Tetapi setiap kali ia mulai bicara—

— Sofia, belajar dulu sana.

Liza selalu menghentikannya.

Suatu hari…

Aku melihat Sofia menguping di depan kamar Rafael.

Saat ia melihatku—

— Lola…

Ia menggenggam tanganku.

Tangannya gemetar.

Tetapi—

— SOFIA!

Rafael berteriak.

Sofia langsung berlari menjauh.

Dan sekarang…

Hari keberangkatanku.

Mereka semua menemaniku ke bandara.

Sofia diam saja.

Sampai saat aku hendak naik kendaraan menuju private plane…

Tiba-tiba ia berlari.

Menggenggam tanganku.

Menyelipkan secarik kertas.

Matanya merah karena menangis.

— Lola… jangan…

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Liza menariknya pergi.

Aku membuka kertas itu.

Dua kata.

“Jangan ikut.”

Dan sekarang…

Aku berjalan menjauh.

Semakin cepat.

— Ma! Berhenti!

Rafael berteriak.

Aku tidak berhenti.

Aku tidak sanggup.

Begitu keluar dari bandara…

Ada mobil hitam.

Pintunya terbuka.

Seorang pria berbaju polo putih turun.

Ia tidak tampak seperti sopir.

Ia hanya menatapku.

Seolah sedang menunggu.

Tiba-tiba—

Ponselku bergetar.

Nomor tak dikenal.

“Aku tahu kau sudah membaca kertas itu. Kalau kau ingin hidup… jangan dekati mobil itu.”

Tubuhku langsung dingin.

Rafael sudah berada di belakangku.

Tangannya menyentuh bahuku.

— Ma… ayo masuk.

Suaranya berbeda.

Bukan lagi suara anakku yang kukenal.

Aku menatapnya.

Dan pada saat itu—

Aku mengerti.

Ia bukan lagi Rafael yang dulu.

Aku mundur.

Mesin mobil masih menyala.

Pria berbaju putih itu tersenyum.

Ponselku bergetar lagi.

“Kalau kau percaya padaku… pergi ke kiri. Ke toilet wanita. Ada yang menunggu di sana. Cepat.”

Satu langkah.

Dua langkah.

— Ma… jangan buat semuanya susah.

Rafael semakin dekat.

Aku menarik napas panjang.

Dan tiba-tiba—

Aku menjatuhkan koper.

Lalu berlari.

— MAAAA!!!

Teriaknya menggema.

Aku tidak menoleh.

Aku tidak sanggup.

Pintu toilet wanita.

Aku masuk.

Di dalam—

Ada seorang wanita.

Memakai blus seperti dokter.

Membelakangiku.

Perlahan ia berbalik.

Tatapannya dingin.

— Maria… kau sudah memilih dengan benar.

Sunyi sesaat.

— Tapi…

Ia mengangkat ponselnya.

Di layar…

Sofia.

Terikat.

Mulutnya disumpal.

— Cucumu… dialah yang membayar harganya.

Duniaku berhenti.

Di luar—

Terdengar langkah kaki mendekat.

Pintu di belakangku…

TERKUNCI.

Dan wanita di depanku…

Tersenyum…

Senyuman wanita itu begitu dingin, kontras dengan gemuruh kepanikan yang menghantam dadaku. Di layar ponselnya, Sofia tampak ketakutan, air matanya berlinang di balik sumpalan kain.

“Kau mengira ini tentang rumah tuamu di Quezon City, Maria?” wanita itu berbisik, melangkah maju hingga aroma parfumnya yang tajam menusuk hidungku. “Rumah itu tidak ada harganya. Ini tentang apa yang tersimpan di bawah fondasinya. Sesuatu yang ditinggalkan mendiang suamimu sebelum dia ‘terserang stroke’.”

Otakku berputar cepat. Mendiang suamiku, mantan kepala logistik di pelabuhan Manila. Seumur hidupnya dia adalah pria yang jujur… atau begitulah anggapanku.

“Rafael terlilit utang judi miliaran peso kepada bos kami,” lanjut wanita itu, menepuk pipiku dengan ujung ponselnya yang dingin. “Satu-satunya cara dia bisa menebus nyawanya adalah dengan menyerahkan cetak biru jalur penyelundupan kuno yang disembunyikan suamimu. Dan kunci dekripsinya ada di dalam kalung yang selalu kau pakai.”

Secara refleks, tanganku bergerak menyentuh liontin perak kuno di leherku. Jadi, pemeriksaan medis (check-up) yang intensif beberapa bulan lalu, vitamin-vitamin itu… mereka tidak mencari penyakit. Mereka mencari dokumen fisik dan memetakan rutinitas fisikku! Dan Sofia… cucu kecilku yang cerdas, tidak sengaja mendengar rencana busuk ayah dan ibunya sendiri.

“Sekarang,” wanita berbaju dokter itu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan bening. “Ikut kami dengan tenang ke Cebu, atau anakmu yang tidak berguna itu akan menerima kiriman potongan jari anaknya sendiri besok pagi.”

Air mataku menetes, tetapi ingatan sebagai seorang guru sekolah dasar selama puluhan tahun mengembalikan ketegasanku. Aku tidak boleh panik. Aku harus berpikir.

Gedoran keras terdengar di pintu toilet yang terkunci. itu suara Rafael dari luar, berteriak frustrasi.

“Buka pintunya! Ma! Buka!”

Wanita di depanku teralih perhatiannya sesaat oleh gedoran itu. “Diam, Rafael! Ibumu sudah bersamaku!” bentaknya ke arah pintu.

Itu kesempatanku.

Dengan sisa kekuatan di tubuh tuaku, aku mengangkat tas tangan beratku dan menghantamkannya tepat ke arah wajah wanita itu. PRAKK! Ponsel di tangannya terlepas, berguling ke lantai. Jarum suntiknya jatuh dan pecah.

Wanita itu menjerit kesakitan, memegangi hidungnya yang berdarah. Aku tidak membuang waktu. Aku langsung menerkam ponsel yang terjatuh di lantai, melihat layar video yang masih menyala. Di latar belakang video Sofia, aku melihat sebuah detail kecil: sebuah kalender dinding dengan logo toko kelontong lokal yang sangat kukenal, terletak tepat di dekat rumah lama kami di Quezon City!

Sofia tidak dibawa ke Cebu. Dia disekap di gudang bawah tanah rumahku sendiri! Rafael dan Liza sengaja membawaku ke bandara untuk membuat alibi menjauh dariku, sementara komplotan mereka menahan Sofia di rumah.

“Kurang ajar tua bangkai!” wanita itu berteriak, mencoba menerkamku dengan pisau kecil dari saku blusnya.

Tepat pada saat itu, kaca jendela ventilasi toilet di bagian atas mendadak pecah.

PRANGGG!

Dua orang pria berseragam taktis hitam dengan lambang National Bureau of Investigation (NBI) melompat turun dari langit-langit plafon. Hanya dalam hitungan detik, wanita berbaju dokter itu sudah dilumpuhkan di lantai dengan tangan terborgol.

Salah satu agen NBI mendekatiku, membantuku berdiri. “Ibu Maria Santos? Kami dari satuan tugas khusus. Seseorang telah mengirimkan rekaman audio pembicaraan Rafael dan istrinya ke hotline kami satu jam yang lalu.”

“Siapa?” tanyaku dengan suara gemetar.

Agen itu menunjukkan ponselnya. Itu adalah pesan darurat yang dikirim dari ponsel pintar mainan milik Sofia sebelum mulutnya disumpal. Anak cerdas itu berhasil merekam rencana orang tuanya dan mengirimkannya ke polisi menggunakan Wi-Fi rumah.

“Kami sudah mengirim tim penyerbu ke rumah Anda di Quezon City. Cucu Anda aman, Ibu. Pasukan kami sudah mengamankannya dua menit yang lalu,” kata agen itu menenangkan.

Pintu toilet mendadak didobrak dari luar. Rafael dan Liza langsung ditangkap oleh belasan agen NBI yang sudah mengepung area toilet bandara. Rafael menatapku dengan wajah pucat pasi, hancur, dan penuh penyesalan, sementara Liza berteriak histeris.

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun kepada anak kandungku yang telah dibutakan oleh keserakahan itu. Aku melepas liontin perak di leherku, menyerahkannya kepada agen NBI sebagai barang bukti, lalu melangkah keluar dari toilet dengan kepala tegak.

Aku tidak jadi pergi ke Cebu. Hari itu, aku pulang ke Quezon City, bukan untuk meratapi pengkhianatan anakku, melainkan untuk memeluk erat Sofia—satu-satunya keluarga sejati yang telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanku.