Posted in

Arkana Mahendra, pemilik grup pelayaran terbesar di Surabaya, pulang lebih cepat malam itu.

Arkana Mahendra, pemilik grup pelayaran terbesar di Surabaya, pulang lebih cepat malam itu.

Hujan baru saja turun di kota. Jas hitam mahalnya masih basah di bagian bahu ketika mobil Alphard yang ditumpanginya berhenti di depan mansion keluarga Mahendra di kawasan elit Citraland.

Dia tidak memberi tahu siapa pun soal kepulangannya.

Memang bukan kebiasaan Arkana menjelaskan jadwalnya kepada orang rumah.

Di dunia bisnis logistik dan ekspor-impor Indonesia, nama Arkana Mahendra terlalu besar untuk dipertanyakan. Dingin. Sulit ditebak. Dan selalu tampak sempurna di depan publik.

Namun langkah Arkana langsung terhenti begitu pintu utama mansion terbuka.

Karena untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun…

dia mendengar suara tawa dari dalam rumah itu.

Bukan suara televisi.

Bukan suara pelayan.

Melainkan tawa anak kecil.

Arkana membeku di foyer marmer yang luas.

Sejak istrinya, Kirana, meninggal dalam kecelakaan tol Cipularang dua tahun lalu, rumah itu berubah seperti bangunan kosong.

Sunyi.

Dingin.

Dan terasa seperti tidak lagi dihuni manusia hidup.

Ketiga anaknya — Naura, Kayla, dan Celine — nyaris tidak pernah bicara lagi sejak hari pemakaman ibunya.

Mereka tidak menangis.

Tidak marah.

Tidak tertawa.

Hanya diam seperti boneka mahal yang kehilangan jiwa.

Arkana sudah mencoba segalanya.

Dia mendatangkan psikolog anak dari Jakarta.

Mengirim guru piano privat.

Membangun ruang bermain baru lengkap dengan mini bioskop dan taman indoor.

Namun semua itu sia-sia.

Anak-anak itu tetap menatap dunia dengan mata kosong.

Sampai malam itu.

Ada suara nyanyian pelan dari arah dapur belakang.

Arkana berjalan cepat melewati lorong rumah yang dipenuhi lukisan mahal dan foto keluarga.

Tatapannya sempat berhenti pada potret besar Kirana di dinding utama.

Perempuan itu masih terlihat begitu hidup di sana.

Senyumnya hangat.

Matanya lembut.

Seolah masih menjaga rumah itu meski raganya sudah tiada.

Suara nyanyian itu semakin jelas.

Lagu anak-anak lama.

Lagu yang dulu sering dinyanyikan Kirana sebelum tidur.

“Matahari terbenam… hari mulai malam…”

Langkah Arkana melambat saat sampai di depan dapur.

Dan untuk beberapa detik…

napasnya berhenti.

Dapur besar itu dipenuhi cahaya hangat lampu gantung.

Ada adonan kue berceceran di meja island.

Tepung menempel di lantai.

Bahkan oven masih menyala.

Namun yang membuat Arkana terpaku adalah pemandangan di tengah ruangan itu.

Naura tertawa sambil memegang spatula kayu.

Kayla memakai apron kebesaran dengan noda cokelat di pipinya.

Dan Celine — si bungsu yang bahkan sudah berbulan-bulan tidak mau disentuh siapa pun — kini tertidur manja di pundak seorang wanita muda.

Wanita itu sedang bernyanyi pelan sambil mengaduk adonan cookies.

“Lanjut lagi, Kak Asha…” rengek Kayla sambil tertawa kecil.

Asha.

Bukan “Papa.”

Bukan dirinya.

Melainkan wanita asing itu.

Arkana menatap sosok perempuan tersebut tanpa suara.

Namanya Asha Pramesti.

Pengasuh baru yang direkrut tiga bulan lalu oleh kepala rumah tangga mansion.

Usianya mungkin sekitar dua puluh enam tahun.

Berpenampilan sederhana.

Rambut hitam panjang diikat asal.

Tidak memakai makeup mahal seperti perempuan-perempuan sosialita yang biasa Arkana temui.

Dan sejujurnya…

Arkana bahkan hampir tidak pernah menyadari keberadaan wanita itu sebelumnya.

Namun malam itu…

ketiga anaknya memeluk Asha seperti dia adalah rumah terakhir yang mereka miliki.

Asha tidak terlihat berusaha mencari perhatian.

Dia hanya tersenyum lembut sambil mengusap rambut Celine perlahan.

Tatapannya penuh kesabaran.

Seolah dia memahami luka anak-anak itu tanpa perlu dijelaskan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Arkana merasa rumah itu hidup kembali.

Namun rasa hangat itu hanya bertahan beberapa detik.

Karena perlahan muncul rasa sesak yang aneh di dadanya.

Dia bisa membeli kapal miliaran rupiah tanpa berpikir dua kali.

Bisa mengendalikan ribuan karyawan di berbagai pelabuhan Indonesia.

Bisa membuat lawan bisnis tunduk hanya lewat satu rapat.

Tapi dia gagal melakukan satu hal sederhana.

Membuat anak-anaknya merasa aman.

Dan wanita bernama Asha itu berhasil melakukannya hanya dalam tiga bulan.

Tiba-tiba tas kerja Arkana terlepas dari tangannya.

Bruk.

Suara benturannya membuat seluruh dapur langsung sunyi.

Tawa anak-anak menghilang seketika.

Naura refleks mundur.

Kayla menunduk takut.

Dan Celine langsung memeluk leher Asha erat-erat.

Asha sendiri spontan berdiri di depan anak-anak itu seperti melindungi mereka.

Baru setelah itu dia menatap Arkana dengan gugup.

“Maaf, Pak… saya tidak tahu Bapak sudah pulang.”

Namun Arkana tidak menjawab.

Tatapannya justru berhenti pada sesuatu di leher wanita itu.

Sebuah kalung perak kecil dengan liontin bunga melati.

Wajah Arkana langsung berubah.

Karena dia mengenali kalung itu.

Kalung tersebut adalah milik Kirana.

Kalung yang ikut hilang setelah kecelakaan malam itu…

BAGIAN 2 (Tamat)

Suasana dapur yang tadinya hangat berubah menjadi dingin mencekam. Tatapan mata Arkana menancap lurus pada liontin perak berbentuk melati di leher Asha. Jantungnya bergemuruh hebat. Kalung itu didesain khusus oleh perajin perhiasan di Italia, satu-satunya di dunia yang ia hadiahkan untuk mendiang istrinya pada ulang tahun pernikahan mereka yang kelima.

Asha yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah sang majikan langsung meraba lehernya dengan gugup. “Pak Arkana? Ada apa, Pak?”

Arkana melangkah maju. Langkah kakinya berat namun sarat akan tekanan intimadasi. Kehadirannya yang dominan membuat Naura dan Kayla refleks bersembunyi di balik punggung Asha, sementara Celine mulai terisak pelan karena ketakutan.

“Dari mana kamu mendapatkan kalung itu, Asha?” suara Arkana rendah, parau, dan bergetar menahan badai emosi.

“Ini… ini milik saya, Pak. Warisan dari…”

“Jangan berbohong!” bentak Arkana. Suaranya yang menggelegar membuat ketiga anaknya tersentak. Arkana jarang sekali meninggikan suara, namun malam ini pertahanannya runtuh. “Itu kalung istri saya, Kirana. Kalung yang hilang dari lehernya saat jenazahnya dievakuasi dari Tol Cipularang dua tahun lalu! Siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu komplotan pencuri yang menjarah barang korban kecelakaan?!”

Tuduhan kejam itu membuat wajah Asha pias. Air mata menetes di pipinya yang polos. Namun, alih-alih berlari ketakutan, Asha justru menarik napas dalam-dalam. Ia membalikkan badannya sejenak, mengusap air mata Celine, lalu berbisik lembut kepada Naura, “Kak Naura, bawa adik-adik ke kamar dulu, ya? Temani Celine tidur. Kak Asha ada urusan sebentar dengan Papa.”

Ajaibnya, Naura yang biasanya mengabaikan semua orang, mengangguk patuh. Dengan sigap ia menggandeng Kayla dan menggendong Celine keluar dari dapur, melewati sang ayah tanpa berani menatapnya.

Setelah dapur kembali sunyi, Asha melepaskan kaitan kalung perak itu dari lehernya. Dengan tangan gemetar, ia meletakkannya di atas meja island yang masih berlumuran tepung, tepat di samping adonan cookies yang belum selesai dicetak.

“Saya bukan pencuri, Pak Arkana,” kata Asha, suaranya kini terdengar tenang namun sarat akan luka yang mendalam. “Dan saya tidak pernah berniat melamar menjadi pengasuh di sini jika kepala rumah tangga Anda tidak menaruh pengumuman lowongan itu di koran.”

“Lalu bagaimana benda itu bisa ada padamu?!”

Asha menatap lurus ke dalam manik mata Arkana yang merah karena amarah dan air mata yang ditahan. “Dua tahun lalu, di Tol Cipularang… saya adalah salah satu korban di tabrakan beruntun malam itu. Mobil saya berada tepat di belakang mobil Ibu Kirana.”

Arkana tercekat. Amarahnya tiba-tiba tertahan di tenggorokan.

“Malam itu hujan deras, persis seperti malam ini,” lanjut Asha, air matanya mengalir semakin deras mengenang tragedi itu. “Mobil Ibu Kirana ringsek parah. Saat saya berhasil keluar dari mobil saya yang terbakar, saya mendengar suara rintihan. Saya mendekat, mencoba menarik Ibu Kirana dari jepitan sabuk pengaman, tapi tubuhnya sudah terlalu lemah.”

Asha mengambil jeda, dadanya naik turun menahan sesak. “Sebelum petugas penyelamat datang dan sebelum beliau mengembuskan napas terakhir, Ibu Kirana menggenggam tangan saya. Beliau melepaskan kalung ini dari lehernya, memberikannya kepada saya, dan membisikkan satu pesan terakhir.”

Arkana melangkah mendekat, seluruh tubuhnya gemetar. “Apa… apa pesannya?”

“Tolong… berikan ini pada anak-anakku jika mereka merindukanku. Katakan pada mereka, Ibu selalu ada di wangi bunga melati. Dan tolong… jaga mereka. Suamiku tidak akan bisa melakukan ini sendirian, dia terlalu sibuk dengan dunianya.”

Asha menatap Arkana dengan pandangan iba. “Ibu Kirana tahu Anda pria yang hebat di luar rumah, Pak. Tapi beliau juga tahu, jika beliau pergi, Anda akan hancur dan anak-anak akan kehilangan arah. Saya mengalami koma selama berbulan-bulan setelah malam itu. Begitu pulih, saya mencari tahu tentang keluarga ini. Saya tidak berniat meminta imbalan. Saya datang ke sini murni untuk menunaikan janji saya pada wanita yang meninggal di pelukan saya.”

“Selama tiga bulan ini, saya tidak pernah memberikan kalung ini pada anak-anak secara langsung. Saya hanya memakai parfum aroma melati yang biasa dipakai Ibu Kirana, memasak kue resepnya, dan menyanyikan lagu pengantarnya. Saya ingin mereka tahu bahwa Ibu mereka tidak pernah benar-benar pergi.”

Arkana menatap kalung di atas meja, lalu menatap wanita di hadapannya. Segala keangkuhan, kekuasaan, dan kekayaan yang ia miliki seolah menguap tak bersisa. Dia, sang penguasa lautan bisnis Surabaya, bersujud di lantai dapur yang kotor oleh tepung.

Tangisan Arkana pecah. Bahunya terguncang hebat. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, benteng tangis yang ia tahan demi terlihat kuat di depan dunia runtuh seketika. Ia menangisi kepergian istrinya, menangisi egonya yang buta, dan menangisi fakta bahwa ia hampir saja mengusir malaikat penjaga yang dikirimkan mendiang istrinya untuk menyembuhkan luka anak-anak mereka.

Asha perlahan berlutut di depan Arkana, tidak berani menyentuh, namun memberikan ruang bagi pria itu untuk menumpahkan seluruh rapuhnya.

“Terima kasih… dan maafkan saya,” bisik Arkana di sela tangisnya yang memilukan.

Malam itu, di bawah temaram lampu dapur, badai di dalam mansion Mahendra akhirnya reda. Arkana tahu, luka kehilangan itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun melihat kalung melati itu, dan mengingat tawa anak-anaknya yang sempat terdengar tadi, ia sadar bahwa rumahnya yang sempat mati kini telah diberi kesempatan kedua untuk hidup kembali.