Posted in

AYAH MENAMPAR IBU DI DEPAN SELURUH KELUARGA SA HARI ULANG TAHUN PAMANKU. SEMUA ORANG BERKATA, “SUDAH, SABAR SAJA.” AKHIRNYA AKU MEMILIH MEMBELA IBU, MESKI AKU HARUS DICAP SEBAGAI ANAK DURHAKA.**

AYAH MENAMPAR IBU DI DEPAN SELURUH KELUARGA SA HARI ULANG TAHUN PAMANKU. SEMUA ORANG BERKATA, “SUDAH, SABAR SAJA.” AKHIRNYA AKU MEMILIH MEMBELA IBU, MESKI AKU HARUS DICAP SEBAGAI ANAK DURHAKA.**

## BAGIAN 1

Saat itu sudah lewat tengah hari.

Matahari sangat terik.

Aku sedang bekerja ketika adik perempuanku menelepon.

Begitu kuangkat…

Aku langsung mendengar tangisnya.

“Kak…”

“Cepat pulang…”

“Ayah memukul dan menampar Ibu…”

Seluruh tubuhku langsung terasa dingin.

“Apa?”

“Apa yang terjadi?”

Ia bahkan hampir tidak bisa bernapas karena menangis.

“Aku tidak tahu…”

“Tadi Ibu sedang memasak, lalu cuma bilang kalau dia capek…”

“Ibu bilang semoga ada yang mau membantunya…”

“Habis itu Ayah langsung marah…”

“Ayah menampar Ibu berkali-kali…”

Aku tidak menunggu penjelasan lebih lanjut.

Aku langsung mengambil kunci mobil.

Lalu bergegas pulang.

Rumah kami berada di pinggiran **Jakarta**.

Biasanya perjalanan memakan waktu hampir satu jam.

Namun hari itu…

Rasanya jalan tak kunjung berakhir.

Di kepalaku…

Semua kenangan kembali bermunculan.

Saat masih kecil…

Aku menganggap Ayah adalah pria terkuat di dunia.

Dialah pelindung kami.

Dialah tiang penyangga keluarga.

Namun semakin dewasa…

Aku perlahan melihat kenyataan.

Ada laki-laki yang hanya berani…

Saat menghadapi orang yang tidak melawan.

Begitu tiba di rumah…

Hal pertama yang kulihat…

Adalah Ibu yang terduduk di lantai.

Rambutnya berantakan.

Pipinya memerah.

Dan di depannya…

Ayah berdiri dengan wajah penuh amarah.

“Kalau memang tidak betah tinggal di sini, pergi saja!”

“Pulang ke keluargamu!”

“Kamu selalu mempermalukanku!”

Di sekelilingnya…

Seluruh keluarga besar kami ada di sana.

Hari itu adalah pesta ulang tahun pamanku.

Ada jamuan makan.

Ada banyak tamu.

Namun yang paling mengejutkan…

Tak seorang pun menghampiri untuk menolong Ibu.

Aku segera berlari.

Kubantu Ibu berdiri.

“Ibu…”

Ia menatapku.

Padahal dialah yang terluka…

Namun kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru:

“Jangan bikin keributan, Nak.”

Aku memejamkan mata.

Karena itulah kalimat yang paling menyakitkan.

Meski telah disakiti…

Ia masih memikirkan orang lain.

Aku menatap Ayah.

“Ayah memukul Ibu?”

Sedikit pun ia tidak merasa malu.

Ia menjawab tanpa ragu.

“Dia istriku.”

“Aku berhak menegurnya.”

Mataku langsung membelalak.

“Menegur?”

“Ayah menyebut menampar itu sebagai menegur?”

Nenek tiba-tiba menyela.

“Sudah, Nina.”

“Jangan lupa, dia tetap ayahmu.”

“Namanya juga suami istri.”

“Hal seperti itu biasa saja sesekali.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Biasa?”

“Nek…”

“Memukul perempuan yang seharian memasak untuk keluarga itu menurut Nenek hal yang biasa?”

Nenek terdiam.

Bukan karena mengerti.

Melainkan karena tak ingin menghadapi kenyataan.

Pamanku ikut angkat bicara.

“Kamu tidak boleh ikut campur urusan rumah tangga mereka.”

“Kamu masih muda.”

“Kamu belum tahu beratnya kehidupan pernikahan.”

Aku tertawa pelan.

“Kalau memang kami tidak boleh ikut campur…”

“Kenapa kalian semua hanya berdiri diam saat Ibu dipukul?”

Tak seorang pun menjawab.

Aku memandang sekeliling.

Orang-orang yang selama ini kusebut keluarga.

Orang-orang yang sedang menikmati hidangan pesta.

Orang-orang yang beberapa menit sebelumnya masih tertawa bersama.

Saat itu aku sadar…

Terkadang yang paling menyakitkan bukanlah pukulannya.

Melainkan melihat begitu banyak orang memilih menjadi penonton.

Di dekat pintu…

Aku melihat sepotong batu bata yang digunakan untuk menyangga pot bunga.

Entah kenapa…

Aku mengambilnya.

Wajah semua orang langsung berubah.

“Nina!”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Taruh batu itu!”

Aku menatap Ayah.

Pria yang sepanjang hidup kupanggil sebagai ayah.

Lalu dengan suara dingin aku berkata,

“Ayah selalu bilang seorang anak harus menghormati orang tuanya.”

“Tapi Ayah lupa satu hal…”

“Orang tua juga…”

“Harus tahu bagaimana menghormati anak dan istrinya.”

Dan pada detik itu…

Seluruh rumah mendadak sunyi.

Karena mereka semua tahu…

Aku bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa diam menyaksikan semuanya

BAGIAN 2 (TAMAT)

Aku menggenggam batu bata itu erat-erat. Tanganku gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang sudah menggunung selama bertahun-tahun melihat Ibu selalu mengalah dan ditindas.

“Nina! Kamu gila ya?! Kamu mau jadi anak durhaka?!” teriak Ayah, suaranya menggelegar mencoba mengintimidasi seperti biasanya. Namun kali ini, langkahnya justru mundur satu langkah. Sorot mataku yang dingin membuatnya menyadari bahwa aku tidak sedang menggertak.

“Durhaka?” aku tersenyum getir, air mata kemarahan mengalir di pipiku. “Jika membela Ibu yang dipukuli di depan orang banyak membuatku dicap sebagai anak durhaka, maka aku akan dengan senang hati menerima cap itu! Aku lebih baik dikutuk seluruh dunia daripada membiarkan Ibuku dihancurkan oleh laki-laki yang seharusnya melindunginya!”

“Kurang ajar!” Ayah mengangkat tangannya, hendak melangkah maju untuk menamparku juga.

PRAAANGGGG!

Sebelum tangannya sempat melayang, aku mengayunkan lengan dan melemparkan batu bata itu dengan sekuat tenaga ke arah meja kaca pajangan di ruang tamu, tepat di sebelah tempat Ayah berdiri. Kaca tebal itu hancur berkeping-keping, menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga.

Seluruh keluarga besar menjerit histeris. Nenek hampir pingsan, sementara paman dan bibiku langsung mundur teratur ke sudut ruangan, ketakutan melihat nekatnya tindakan perlawananku. Ayah mematung, wajahnya mendadak pucat pasi. Ia tidak pernah menyangka anak perempuannya yang biasa penurut bisa bertindak sejauh ini.

“Siapa pun yang berani melangkah maju atau menyentuh Ibuku lagi,” kataku dengan suara rendah namun tajam, menunjuk ke arah Ayah dan seluruh keluarga besar, “aku bersumpah tidak akan ragu untuk melempar batu berikutnya tepat ke wajah kalian!”

Suasana rumah seketika mencekam. Orang-orang yang tadi dengan gampang berkhotbah tentang “sabar” dan “urusan rumah tangga orang lain” kini mengunci mulut rapat-rapat. Mereka yang tadinya menganggap kekerasan pada Ibu sebagai hal biasa, kini gemetar saat kekerasan itu berbalik mengancam kenyamanan mereka.

Aku berbalik, merangkul bahu Ibu yang masih menangis sesenggukan, dan menatap adik perempuanku yang berdiri ketakutan di dekat pintu.

“Kemas barang-barang Ibu dan barangmu sekarang, Dek. Kita pergi dari neraka ini,” perintahku tegas.

Ibu memegang tanganku dengan gemetar. “Nina… jangan, Nak… nanti apa kata orang…”

“Ibu,” aku memotong kalimatnya sambil menatap matanya yang sembap, “cukup sudah Ibu hidup demi penilaian orang lain. Hari ini, Ibu harus memilih hidup demi diri Ibu sendiri. Aku ada di sini. Ibu tidak sendirian lagi.”

Mendengar kata-kataku, tangis Ibu pecah lagi, namun kali ini ia mengangguk. Adikku dengan cepat berlari ke kamar dan membawa dua tas besar berisi pakaian dan dokumen-dokumen penting milik Ibu yang sudah lama aku suruh persiapkan untuk kondisi darurat seperti ini.

Saat kami berjalan menuju pintu keluar, paman mencoba menahan jalan kami dengan wajah sok bijak. “Nina, pikirkan baik-baik. Kalau kamu bawa Ibumu pergi, tetangga akan bergunjing. Ayahmu juga bisa jantungan. Kamu akan membawa kutukan seumur hidup sebagai anak pembangkang!”

Aku menghentikan langkah, menatap pamanku dengan pandangan paling jijik yang bisa kuberikan. “Paman, simpan saja nasihat busukmu itu. Hari ini adalah ulang tahunmu, kan? Anggap saja kehancuran rumah ini adalah hadiah ulang tahun terbaik dariku, agar Paman ingat bahwa diam di hadapan kezaliman adalah sebuah kejahatan.”

Aku menuntun Ibu dan adikku keluar melewati pagar rumah. Di belakang kami, Ayah berteriak memaki-maki, mengancam tidak akan pernah sudi menerima kami kembali. Namun, langkahku tidak goyah sedikit pun.

Aku memasukkan Ibu dan adikku ke dalam mobil, lalu melajukannya membelah jalanan pinggiran Jakarta, meninggalkan rumah penuh toksisitas itu untuk selamanya. Aku membawa mereka ke rumah kontrakan kecil yang diam-diam sudah kusewa atas namaku sendiri sejak beberapa bulan lalu.

Malam harinya, di dalam rumah baru yang tenang, Ibu duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi tangannya yang tidak lagi harus memegang wajan untuk orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat gurat kedamaian di wajah Ibu, meski sisa lebam di pipinya masih memerah.

Aku tahu, mulai besok, grup WhatsApp keluarga akan penuh dengan caci maki yang menyebutku sebagai anak durhaka yang menghancurkan rumah tangga orang tuanya. Aku tahu nama baikku di mata keluarga besar sudah hancur total.

Namun saat aku melihat Ibu bisa bernapas lega tanpa ketakutan dan adikku bisa tersenyum kembali, aku tahu aku telah mengambil keputusan yang paling benar seumur hidupku. Menjadi “durhaka” di mata manusia yang zalim adalah sebuah kehormatan, demi menyelamatkan malaikat tanpa sayap yang telah melahirkanku ke dunia.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.