Posted in

BALAS DENDAM SANG PEMILIK ASLI: AKU PIKIR, PERTEMUAN KEMBALI DENGAN MANTAN KEKASIHKU HANYALAH SEBUAH KEBETULAN YANG MENYAKITKAN.

BALAS DENDAM SANG PEMILIK ASLI: AKU PIKIR, PERTEMUAN KEMBALI DENGAN MANTAN KEKASIHKU HANYALAH SEBUAH KEBETULAN YANG MENYAKITKAN.

Namun, ketika pacarnya yang kaya raya sengaja mempermalukanku di depan banyak orang, aku sadar bahwa semuanya tidak sesederhana itu.
Dan rahasia di dalam map merah di tanganku ini… cukup untuk menghancurkan seluruh klan mereka.

Aku Althea Reyes, dua puluh tujuh tahun.
Tiga tahun lalu, aku pikir aku memiliki segalanya—cinta, kepercayaan, dan mimpi kecil bersama pria bernama Marco Villanueva.
Kami dulu tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit di Jakarta, bertahan hidup dengan mi instan, sambil bersama-sama merancang masa depan.

Namun suatu hari… dia memilih untuk pergi.
— “Althea, aku tidak bisa lagi melanjutkan hidup seperti ini. Kamu terlalu biasa… dan aku layak mendapatkan yang lebih tinggi.”
Kata-kata itu… seperti pisau yang tertancap dalam di hatiku.

Tak lama kemudian, aku melihatnya bersanding dengan Isabella Cruz—seorang gadis kaya dari kawasan elit, putri dari keluarga pengembang real estate ternama.
Aku tidak menangis. Aku hanya terdiam. Dan benar-benar menghilang dari hidup mereka.

Tidak ada yang tahu bahwa setelah aku pergi, aku menjual semua desain teknologi yang diam-diam aku kembangkan selama bertahun-tahun kepada sebuah dana investasi besar di Singapura.
Tidak ada yang tahu bahwa hanya dalam dua tahun, aku menjadi pemegang saham terbesar Aurora Holdings—sebuah perusahaan yang diam-diam membeli dan menguasai mal-mal besar serta jaringan ritel di seluruh Indonesia.

Dan yang lebih penting, tidak ada yang tahu…
Akulah yang menandatangani pembelian Serendra Luxe Mall di pusat kota pagi itu.

Malam itu, aku kembali ke sana.
Bukan sebagai CEO.
Melainkan sebagai… seorang kurir pengantar barang.
Aku mengenakan jaket biru kusam, helm lama, dan membawa tas pengiriman di punggungku.
Aku ingin melihat sendiri—bagaimana orang-orang di sini memperlakukan mereka yang dianggap “rendah.”

Saat aku memasuki lobi utama mal, lampu kristal berkilauan di atas lantai marmer yang dingin.
Baru saja aku menuju meja resepsionis ketika—
— “Ya ampun… lihat itu! Aku tidak percaya!”
Sebuah suara melengking dan menghina bergema.

Aku menoleh. Jantungku berhenti berdetak sejenak.
Marco. Dan di sampingnya—Isabella.
Isabella mengenakan gaun mahal, rambut keritingnya tertata rapi, dan tatapannya penuh keangkuhan.
Marco menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu tertawa dengan penghinaan yang luar biasa.

— “Althea? Benarkah itu kamu? Wow… dari seorang wanita penuh mimpi, sekarang kamu hanya menjadi… kurir pengantar?”
Isabella menutup mulutnya sambil tertawa, suaranya manis tapi penuh racun:
— “Aduh, aku pikir orang-orang sepertinya hanya sampai di depan pintu saja. Siapa yang membiarkanmu masuk? Atau jangan-jangan… kamu menyelinap masuk hanya untuk melihat bagaimana orang kaya hidup?”

Orang-orang di sekitar mulai berbisik. Tatapan mereka padaku seolah-olah aku adalah benda yang tidak pantas berada di sana.
Marco mendekat, merendahkan suaranya tapi tidak bisa menyembunyikan ejekannya:
— “Dulu kamu bilang akan sukses… inikah suksesmu? Mengantar makanan di mal mewah?”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya… seolah dia adalah orang asing yang sempurna. Hal itu justru membuatnya semakin kesal.
— “Sekuriti!”
Dia melambai memanggil penjaga.
— “Keluarkan dia. Orang-orang seperti ini merusak citra tempat ini.”
Isabella melipat tangan dan tersenyum dingin:
— “Benar. Tempat ini bukan untuk… levelnya.”

Dua petugas sekuriti mendekatiku. Suasana tiba-tiba terasa berat.
Salah satu dari mereka mengulurkan tangan—
— “Mbak, tolong, silakan keluar sekarang.”
Aku tetap berdiri tegak. Aku tidak melawan. Aku tidak menjelaskan. Aku hanya… menunggu dalam diam.

Dan pada saat itu—
Terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi dari arah belakang. Tegas. Berwibawa.
Semua orang menoleh serentak.
Seorang wanita paruh baya, mengenakan setelan hitam elegan, keluar dari lift VIP.
Wajahnya… membungkam seluruh lobi.
Dia adalah Doña Elena Salazar—Ketua Eksekutif Aurora Holdings. Wanita yang dijuluki “tangan besi dunia keuangan Indonesia.”

Marco segera menegakkan tubuh dan tersenyum paksa.
— “Doña Elena! Sebuah kehormatan besar bisa melihat Anda di sini—”
Tapi Doña Elena tidak melihatnya. Tatapannya melewati semua orang… hingga berhenti padaku.
Satu detik. Dua detik. Seluruh ruangan seolah menahan napas.

Kemudian—di depan mata semua orang yang terbelalak kaget…
Beliau berjalan lurus ke arahku. Membungkuk hormat.
Dan berkata dengan jelas:
— “Nona Althea… akhirnya, Anda datang.”

Seluruh lobi terguncang. Marco terdiam kaku. Isabella pucat pasi. Dan kedua sekuriti itu… buru-buru melepaskan pegangan mereka dariku.
Doña Elena menoleh ke manajer mal, suaranya sedingin es:
— “Aku ingin tahu… siapa yang memerintahkan untuk mengusir pemilik baru tempat ini?”

Tidak ada yang berani menjawab. Tidak ada yang berani bernapas keras.
Perlahan, aku melepas helmku. Mengangkat kepala. Mataku dengan tenang menatap langsung ke arah Marco.
— “Tadi kamu tanya… apakah ini suksesku?”
Aku tersenyum tipis. Kemudian asistenku menyerahkan sebuah folder. Folder dengan segel merah.
Kontrak pengalihan seluruh aset Serendra Luxe Mall senilai puluhan triliun Rupiah atas namaku.

Aku mengangkatnya tepat di hadapannya.
— “Bukan. Ini… adalah jawabannya.”
Marco mundur selangkah. Wajahnya seputih kertas. Isabella gemetar dan tidak bisa berkata-kata.
Dan aku… hanya memiringkan kepalaku sedikit.
— “Dan sekarang… mari kita lanjutkan pembicaraannya, ya?”

Keheningan menebal. Semua mata tertuju padaku.
Dan tepat saat aku akan berbicara—
Sebuah suara panik bergema dari pintu utama:
— “Berhenti! Penandatanganan kontrak itu tidak bisa dilanjutkan—ada masalah besar dengan kepemilikan tanah ini!”

Semua orang menoleh serentak. Seorang pria berjas, memegang dokumen tebal, berlari masuk ke tengah lobi. Keringat bercucuran. Matanya menatap lurus padaku.
— “Nona Althea… jika Anda melanjutkan penandatanganan ini, Anda akan kehilangan segalanya!”

Seluruh lobi meledak dalam keheningan yang memekakkan telinga.
Dan aku—masih memegang kontrak itu. Senyum di bibirku tiba-tiba menghilang.
Dan untuk pertama kalinya… tatapanku goyah.

Pria itu adalah Hendrik, pengacara senior keluarga Cruz yang tampak gemetar hebat. Ia menyodorkan dokumen tambahan yang menyatakan bahwa lahan di bawah Serendra Luxe Mall masih dalam sengketa hukum lama yang bisa memicu pembekuan aset total.

Isabella, yang tadinya pucat, tiba-tiba tertawa histeris. Harapan muncul di matanya yang licik. “Kau dengar itu, Althea?! Kau pikir kau bisa menang? Kau hanya membeli sampah bernilai triliunan! Kau akan bangkrut bahkan sebelum sempat duduk di kursi CEO-mu!”

Marco ikut menyeringai, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sempat hancur. “Tetap saja seorang kurir yang malang. Insting bisnismu serendah kasta sosialmu, Althea.”

Aku terdiam. Menunduk menatap map merah di tanganku. Keheningan di lobi itu terasa mencekam, sampai akhirnya… aku tertawa. Bukan tawa histeris seperti Isabella, melainkan tawa rendah yang penuh kendali.

Kebenaran di Balik Map Merah

“Hendrik,” ucapku tenang, menyebut namanya tanpa perlu perkenalan. “Kau terlambat sepuluh menit.”

Aku membuka map merah itu dan mengeluarkan selembar kertas yang berbeda dari kontrak pembelian. Itu adalah Sertifikat Pelepasan Hak dan Putusan Final Mahkamah Agung.

“Masalah lahan yang kau bicarakan? Aku yang memicu gugatannya enam bulan lalu melalui perusahaan cangkang di Singapura,” ujarku sambil melangkah mendekati Marco dan Isabella. “Aku sengaja menciptakan ‘cacat hukum’ itu untuk menurunkan nilai saham Serendra hingga ke titik nadir, agar aku bisa membelinya dengan harga sepertiga dari nilai aslinya.”

Wajah Hendrik memucat. “Jadi… Anda yang memegang surat piutang keluarga Cruz?”

“Tepat sekali,” balasku tajam. “Dan di dalam map ini juga ada bukti bahwa ayahmu, Isabella, telah menjaminkan seluruh aset real estate keluargamu untuk menutupi lubang hitam di proyek ini. Karena aku baru saja menandatangani akuisisi mal ini, secara otomatis… aku adalah pemilik sah dari seluruh hutang keluargamu.

Kejatuhan Sang Pengkhianat

Isabella terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Gaun mahalnya tak lagi terlihat anggun. Marco mencoba memegang bahuku, suaranya berubah gemetar dan penuh permohonan. “Althea… Sayang, dengarkan aku. Kita punya sejarah, kan? Aku hanya terpaksa melakukan ini demi masa depan kita—”

Aku menepis tangannya seolah dia adalah kotoran yang menjijikkan.

“Keamanan,” panggilku dengan suara lantang yang menggema di seluruh lobi.

Dua sekuriti yang tadi nyaris mengusirku kini berdiri tegak di sampingku, menunggu perintah.

“Keluarkan mereka berdua. Dan pastikan foto mereka dipajang di setiap pintu masuk. Marco Villanueva dan Isabella Cruz dilarang menginjakkan kaki di seluruh properti milik Aurora Holdings seumur hidup mereka.”

“Tapi Althea! Aku tidak punya tempat tinggal lagi jika rumahku disita!” teriak Isabella saat petugas menyeretnya keluar.

Aku menatap mereka untuk terakhir kalinya melalui pintu kaca yang besar. “Dulu kalian bilang tempat ini bukan untuk ‘levelku’. Kalian benar. Levelku adalah di atas kalian, melihat kalian jatuh.”


Epilog

Doña Elena mendekat, memberikan jaket CEO berbahan wol yang hangat untuk menutupi jaket kurirku yang kusam. “Apa langkah selanjutnya, Nona Althea?”

Aku menatap pantulan diriku di dinding kaca mal yang megah. Althea yang rapuh di kamar kontrakan itu sudah mati. Yang tersisa hanyalah wanita yang tahu persis nilai dari setiap tetes keringat dan air matanya.

“Hancurkan sisa-sisa perusahaan keluarga Cruz,” ucapku tanpa ekspresi. “Dan kirimkan paket mi instan ke alamat baru Marco. Aku ingin dia ingat… bagaimana rasanya bertahan hidup dengan mimpi yang dia buang demi keserakahan.”

Malam itu, lampu Serendra Luxe Mall bersinar lebih terang dari biasanya, menyambut pemilik aslinya yang telah kembali bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk berkuasa.