Posted in

BARU SAJA MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN, MANTAN SUAMIKU DENGAN DINGIN BERTANYA ANAK MANA YANG INGIN KUBAWA. AKU MEMELUK PUTRIKU, MENUNJUK KE TIGA ANAK LAKI-LAKI ITU SAMBIL TERSENYUM. “MEREKA ANAK-ANAK PEREMPUAN SIMPANANMU. AKU TIDAK PUNYA KEWAJIBAN LAGI MENGURUS MEREKA.”**

BARU SAJA MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN, MANTAN SUAMIKU DENGAN DINGIN BERTANYA ANAK MANA YANG INGIN KUBAWA. AKU MEMELUK PUTRIKU, MENUNJUK KE TIGA ANAK LAKI-LAKI ITU SAMBIL TERSENYUM. “MEREKA ANAK-ANAK PEREMPUAN SIMPANANMU. AKU TIDAK PUNYA KEWAJIBAN LAGI MENGURUS MEREKA.”**

## BAGIAN 1

Kami baru saja menandatangani surat perceraian.

Mantan suamiku menatapku dengan sorot mata yang dingin.

“Anak mana yang ingin kau bawa?”

Dalam sekejap, suasana di rumah mewah kami di kawasan elit Jakarta menjadi sunyi.

Keempat anak itu berada di ruang keluarga.

Tiga anak laki-laki sedang asyik duduk di lantai, merakit satu set Lego mobil sport baru mereka.

Sementara si bungsu…

seorang gadis kecil…

berdiri diam di sudut ruangan sambil memeluk boneka beruang lusuh miliknya.

Dialah putriku.

Sofia.

Sedangkan aku…

Maria Reyes.

Berusia dua puluh sembilan tahun.

Dulu aku adalah lulusan terbaik di Akademi Seni Rupa Jakarta.

Aku bahkan pernah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Namun lima tahun yang lalu…

hanya karena satu kalimat dari suamiku…

hidupku berubah sepenuhnya.

“Istri keluarga Del Rosario tidak perlu bekerja.”

Aku meletakkan kuasku.

Aku mengubur semua mimpiku.

Aku memilih tinggal di rumah.

Merawat suamiku.

Merawat anak-anak.

Merawat seluruh keluarganya.

Aku pikir…

semua pengorbanan itu…

akan ditukar dengan sebuah keluarga yang bahagia.

Sampai hari ini.

Tanpa ekspresi, mantan suamiku melemparkan dua rangkap surat perceraian ke atas meja.

“Sudah benar-benar yakin?”

“Begitu keluar dari keluarga Del Rosario…”

“…jangan pernah berharap bisa kembali lagi.”

Aku mengambil dokumen itu.

Lalu perlahan mengusap permukaan meja…

meski sebenarnya tidak ada debu sedikit pun.

“Aku sudah memikirkannya.”

“Tapi aku punya satu permintaan.”

Dia tersenyum sinis.

“Uang?”

“Nafkah?”

“Atau kau mau bagian dari perusahaan?”

Aku menggeleng pelan.

“Aku tidak menginginkan apa pun.”

“Aku hanya akan membawa Sofia.”

Seluruh ruang tamu langsung sunyi.

Ketiga anak laki-laki itu serentak menoleh.

Anak sulung langsung cemberut.

“Tidak boleh!”

“Siapa nanti yang membersihkan kamar kami?”

Anak kedua langsung ikut menyahut.

“Iya!”

“Dia juga yang selalu mencuci sepatu kami.”

Si bungsu memeluk erat kotak biskuitnya lalu berkata polos,

“Aku bahkan belum selesai merebut semua biskuitnya.”

Sofia menundukkan kepala.

Tangannya menggenggam erat ujung gaunnya.

Dadaku terasa sesak.

Selama lima tahun.

Aku membesarkan ketiga anak itu…

seolah mereka anak kandungku sendiri.

Tetapi pada akhirnya…

di mata mereka…

putriku hanyalah seorang pembantu.

Suara mantan suamiku tetap datar tanpa sedikit pun emosi.

“Mereka tidak bisa kehilangan saudara perempuan mereka.”

“Kalau kau membawanya pergi…”

“…siapa yang akan mengurus ketiga anak itu?”

Aku tersenyum.

Senyum yang penuh kelelahan.

“Jadi menurutmu…”

“…putriku dilahirkan hanya untuk menjadi pelayan anak-anakmu?”

Dia berdiri.

“Bagaimana kau akan membesarkan dia?”

“Lima tahun kau tidak bekerja.”

“Memangnya berapa penghasilan dari lukisanmu?”

“Kau bahkan tidak mampu menghidupi dirimu sendiri.”

“Lalu apa yang akan kau berikan untuk makan anakmu?”

Setiap kata…

menusuk harga diriku seperti pisau tajam.

Namun kali ini…

aku tidak lagi merasa sakit.

Aku berjalan menghampiri Sofia.

Berlutut di hadapannya.

Mengusap lembut rambutnya.

Lalu aku berdiri.

Menatap lurus ke mata mantan suamiku.

“Benar.”

“Aku memang tidak sanggup membiayai empat anak.”

“Tapi…”

“…tiga anakmu dari wanita simpananmu itu…”

“…bukan lagi tanggung jawabku.”

Begitu kata-kata itu keluar…

**PRANG!**

Gelas di tangannya terlepas.

Jatuh menghantam lantai marmer hingga pecah berkeping-keping.

Dan dalam sekejap…

seluruh rumah diselimuti keheningan yang mencekam…

BAGIAN 2 (TAMAT)

Wajah mantan suamiku, Adrian Del Rosario, seketika berubah pucat pasi. Keangkuhan yang tadi menghiasi wajahnya runtuh dalam sekejap.

“M-Maria… apa yang kau katakan?” suaranya bergetar, kehilangan ketegasannya yang biasa.

Aku tersenyum tipis, merangkul bahu kecil Sofia yang gemetar. “Kau pikir aku bodoh, Adrian? Lima tahun lalu, kau membawaku ke rumah ini, memintaku menjadi ibu tulus bagi tiga anak laki-laki yang kau sebut sebagai ‘anak yatim piatu korban kecelakaan sahabatmu’. Aku memercayaimu. Aku mengubur kuas lukisku demi merawat darah dagingmu dengan wanita lain.”

Aku melangkah mendekati meja, mengambil tas jinjingku, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dan melemparkannya tepat di atas pecahan gelas marmer.

“Tes DNA, foto-foto kemesraanmu dengan mantan sekretaris itubukan, ibunya anak-anak ini—dan seluruh bukti transferan bulananmu ke rekeningnya di luar negeri. Semuanya ada di sana. Aku sudah tahu sejak setahun yang lalu.”

Ketiga anak laki-laki yang tadinya manja dan angkuh kini terdiam. Si sulung menatap ayahnya dengan bingung. “Ayah… apa yang Ibu katakan? Ibu bohong, kan? Siapa yang akan mencuci baju kami?”

“Dia bukan ibumu!” ketusku, memotong kalimat anak itu tanpa rasa ragu lagi. “Ibumu yang asli sedang bersenang-senang di Paris dengan uang hasil memeras keringatku di rumah ini. Mulai hari ini, carilah dia untuk mencuci sepatumu.”

Adrian melangkah maju, mencoba meraih lenganku. “Maria, dengarkan aku. Kita bisa bicarakan ini. Anak-anak membutuhkanmu. Kau tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja!”

“Aku bisa, dan aku sudah melakukannya,” ujarku dingin sembari menepis tangannya.

Aku berlutut di depan Sofia, mengambil boneka beruang lusuhnya, lalu menggandeng tangan kecilnya yang hangat. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa napasku begitu lega. Rumah mewah ini tak ubahnya penjara berlapis emas yang mengisap seluruh jiwaku.

“Ayo, Sofia. Kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya.”

SATU TAHUN KEMUDIAN

Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela kaca besar di sebuah galeri seni di pusat kota Jakarta. Di dinding utama, sebuah lukisan cat minyak berukuran besar menarik perhatian ratusan pengunjung. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang sedang memegang kuas, dengan latar belakang burung-burung yang lepas dari sangkar emas.

Judulnya: Rebirth (Kelahiran Kembali).

“Lukisan yang luar biasa, Ibu Maria. Karakter garis dan emosinya benar-benar hidup,” puji seorang kolektor seni terkenal sambil menjabat tanganku.

“Terima kasih banyak,” jawabku dengan senyuman tulus.

Lima tahun vakum tidak membunuh bakatku. Begitu keluar dari kediaman Del Rosario, dengan sisa tabungan pribadi sebelum menikah dan bantuan dari mantan dosen akademiku, aku kembali melukis. Karya-karyaku terjual dengan harga fantastis di kalangan pencinta seni internasional. Aku tidak lagi membutuhkan sepeser pun uang nafkah dari Adrian.

“Ibu!” sebuah suara riang memanggilku.

Sofia berlari kecil menghampiriku, mengenakan gaun putih yang cantik dan bersih. Tidak ada lagi ketakutan di matanya. Kulitnya tidak lagi pucat, dan dia memegang sebuah piala kecil dari lomba menggambar tingkat anak-anak yang baru saja dimenanginya.

“Lihat, Sofia juga menang seperti Ibu!” serunya bangga. Aku memeluknya erat, mencium pipinya yang tembam.

Saat itulah, dari balik kerumunan pengunjung galeri, aku melihat sesosok pria dengan pakaian yang tampak kusut dan wajah yang kuyu.

Adrian.

Dia berdiri di sana, menatapku dengan tatapan penuh penyesalan dan kerinduan. Di sampingnya, tidak ada lagi kemewahan. Melalui berita bisnis, aku tahu bahwa setelah perceraian kami, selingkuhannya kembali dan menuntut hak asuh anak serta harta yang membuat perusahaan Del Rosario goyah akibat skandal. Tanpa adanya aku yang mengurus rumah tangga secara gratis, rumah mewahnya berubah menjadi neraka kekacauan karena ketiga anak laki-lakinya yang tidak tahu sopan santun dan tidak bisa mandiri.

Adrian melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca. “Maria… kau tampak sangat bahagia. Sofia juga… dia tumbuh sangat cantik.”

Aku berdiri tegak, membalas tatapannya dengan datar, tanpa dendam, namun juga tanpa kehangatan.

“Kami selalu bahagia sejak hari kami pergi, Adrian,” jawabku tenang.

“Aku… aku salah, Maria. Bisakah kita mulai lagi dari awal? Anak-anak merindukanmu. Rumah sangat sepi tanpamu…” ratihnya, mencoba memohon belas kasihan.

Aku tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepala perlahan.

“Pintu itu sudah tertutup rapat, Adrian. Uruslah anak-anak dari wanita pilihanmu. Tugasku sebagai pelayan di rumahmu sudah selesai, dan sekarang, aku adalah ratu di kehidupanku sendiri.”

Aku membalikkan badan, menggandeng tangan Sofia, dan berjalan menyusuri galeriku yang terang benderang. Meninggalkan Adrian yang terpaku sendirian di dalam kegelapan penyesalannya yang terlambat.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.