Posted in

CALON IPARKU YANG SEDANG HAMIL INGIN MENGHAPUS NAMAKU DARI WARISAN KELUARGA KAMI DI MANILA

CALON IPARKU YANG SEDANG HAMIL INGIN MENGHAPUS NAMAKU DARI WARISAN KELUARGA KAMI DI MANILA
Tapi malam saat dia membawa seluruh keluarganya untuk membuat keributan… Daddy tiba-tiba membongkar sebuah rahasia yang langsung membuat semua orang terdiam

### 1

“Kak! Email-nya sudah datang! Aku benar-benar diterima di University of the Philippines!”

Sambil membawa laptop, aku hampir tersandung saat berlari keluar kamar menuju ruang tamu penthouse kami di BGC.

Mommy langsung berdiri dari sofa tempatnya membaca katalog interior.

“Coba Mommy lihat!”

Aku membuka email itu. Jelas terlihat tulisan “University of the Philippines Diliman.”

Mommy langsung memelukku erat.

“Anak Mommy memang hebat…”

Daddy yang sedang membaca koran di meja makan perlahan melepas kacamatanya.

“Karena kamu sudah diterima,” katanya, “sekarang tepati perjanjian kita. Pilih condo di Quezon City. Daddy yang urus.”

Aku bahkan belum sempat berteriak kegirangan saat dia menambahkan:

“Sekalian pilih mobil juga. BMW atau Lexus?”

Aku tertawa lalu langsung memeluknya.

“Daddy terlalu memanjakanku!”

Suasana ruang tamu tadinya penuh kebahagiaan sampai tiba-tiba terdengar suara gelas dibanting ke meja.

“Aku tidak setuju.”

Semua langsung menoleh.

Itu Tricia Villanueva — tunangan kakakku, Marco.

Mereka sudah hampir empat tahun pacaran. Kedua keluarga juga sudah sangat dekat dan pernikahan mewah mereka di Makati Shangri-La bahkan sudah direncanakan.

Biasanya Tricia sangat manis dan sopan. Dia sering membantu di dapur dan hampir setiap hari memanggil Mommy dan Daddy dengan sebutan “Tito” dan “Tita.”

Tapi malam ini, tatapannya dingin.

“Hanya karena lolos kuliah, langsung dibelikan condo dan mobil mewah?” katanya tajam. “Memangnya itu pantas untuk uang miliaran?”

Senyum Mommy perlahan hilang.

“Kami memang sudah lama menyiapkannya untuk Sam.”

“Lalu kenapa?” jawab Tricia cepat. “Dia tetap perempuan. Nanti kalau menikah, semua itu juga jatuh ke keluarga lain. Bukankah itu sia-sia?”

Tanganku makin erat menggenggam laptop.

Tepat saat itu pintu terbuka.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Marco sambil masuk.

Ekspresi Tricia langsung berubah. Matanya memerah saat mendekat dan memegang lengan Marco.

“Marco… aku cuma tidak bisa menerima ini…”

Dia menunjuk ke arahku.

“Sam langsung dapat condo dan mobil. Sementara kamu hampir mati kerja untuk perusahaan.”

Marco terlihat sedikit terdiam.

Daddy menurunkan korannya.

“Perusahaan nanti juga akan jatuh ke tangan Marco.”

“Tapi Sam pernah memberi kontribusi apa untuk keluarga?” potong Tricia. “Selain shopping dan spa?”

Seluruh ruang tamu langsung sunyi.

Aku menatapnya lurus.

“Sebenarnya kamu mau bilang apa?”

Dia tersenyum tipis.

“Aku salah? Perempuan pintar belum tentu disukai laki-laki. Kadang malah bikin pria minder.”

“Tricia.” Suara Daddy menjadi berat. “Kamu sudah keterlaluan.”

Dia menggigit bibir tapi tidak mundur.

Marco berdiri di tengah kami, jelas bingung harus memihak siapa.

“Bisa tenang dulu tidak…” katanya pelan.

Tapi jelas Tricia belum selesai.

“Marco bilang resort di Cebu butuh modal besar untuk ekspansi. Lebih masuk akal kalau uangnya dipakai untuk itu.”

Mommy tersenyum kecil.

“Itu uang yang berbeda.”

“Berbeda?” Tricia tertawa kecil. “Bukannya tetap uang keluarga juga?”

Aku menoleh ke Marco.

Aku yang membantu membuat proposal bisnisnya saat dia baru memulai usaha. Aku juga yang memilih tas Chanel hadiah ulang tahun untuk Tricia.

Tapi malam ini…

Aku justru terasa seperti orang luar.

### 2

Makan malam berakhir dalam keheningan.

Sekitar pukul sembilan malam, ponsel Marco tiba-tiba berbunyi.

Begitu menjawab telepon, wajahnya langsung berubah.

“Mom…” katanya ragu, “mamanya Tricia sedang ke sini.”

Daddy mengernyit.

“Untuk apa?”

Marco bahkan belum sempat menjawab saat bel pintu berbunyi.

Ibu Tricia masuk bersama dua kerabatnya.

Dia memakai gaun desainer merah terang dan sejak masuk langsung melihat-lihat ruang tamu kami seolah sedang menilai seluruh aset keluarga.

“Tricia menelepon sambil menangis jadi saya langsung datang.”

Dia duduk di sofa tanpa menunggu dipersilakan.

“Karena kita sebentar lagi jadi keluarga, semuanya harus jelas.”

Mommy diam-diam menuangkan teh.

“Silakan bicara.”

Wanita itu menaruh cangkir dengan keras.

“Anak saya hamil.”

Seolah waktu berhenti.

Marco langsung menoleh ke Tricia.

Perlahan Tricia memegang perutnya.

“Benar,” katanya pelan. “Sebenarnya kami ingin memberitahunya setelah pernikahan.”

Ibunya langsung menyela:

“Dokter bilang kemungkinan besar laki-laki.”

Seluruh ruang tamu makin sunyi.

Lalu dengan dagu terangkat dia berkata:

“Ini cucu laki-laki pertama keluarga Reyes.”

Aku menoleh ke Mommy dan Daddy.

Keduanya diam.

Tricia menarik napas panjang lalu menatap mereka lurus.

“Aku tidak mau anakku nanti hidup menderita.”

“Maksudmu?” tanya Mommy.

Tricia menggenggam tangan Marco lebih erat.

“Kalau Tito dan Tita tetap membeli condo dan mobil untuk Sam… aku tidak akan melanjutkan kehamilan ini.”

“TRICIA!” Marco langsung berteriak.

Tapi ibunya cepat menjawab:

“Dia benar! Anak saya yang akan memberikan cucu laki-laki untuk keluarga kalian, tapi kalian masih lebih mementingkan anak perempuan yang nantinya jadi milik keluarga lain?”

Tubuhku terasa dingin.

Marco menoleh ke Mommy dan Daddy.

“Dad… Mom… bisa tidak condo dan mobil itu ditunda dulu? Tunggu sampai Tricia melahirkan…”

Aku menatap kakakku.

Pria yang dulu berjanji akan selalu melindungiku.

Tapi sekarang…

Dia siap mengorbankanku hanya karena ancaman Tricia.

Mommy perlahan berdiri.

Dia tidak menangis. Tidak marah juga.

Dia hanya menatap Tricia dengan tenang.

“Kamu yakin ingin memakai anak itu untuk mengancam kami?”

Tricia menggigit bibir.

“Aku cuma melindungi keluargaku nanti.”

Mommy mengangguk.

Lalu dia menoleh ke Daddy.

“Hon… sepertinya sudah waktunya kita mengatakan yang sebenarnya.”

Marco langsung membeku.

“Mom… maksudnya apa?”

Daddy perlahan berdiri.

Dia menatap Marco sangat lama.

Begitu lama sampai wajah kakakku perlahan memucat.

Lalu dengan suara dingin dia berkata:

“Marco… kamu tahu kenapa selama ini Daddy tidak pernah menaruh namamu di satu pun saham Reyes Group?”\

3

Pertanyaan Daddy menggantung di udara, begitu berat hingga meruntuhkan seluruh keangkuhan di wajah ibu Tricia.

Marco menatap Daddy dengan mata membelalak. “Dad… apa maksudnya? Selama ini Daddy bilang aku harus belajar dari bawah dulu sebelum memegang saham utama. Aku sudah bekerja belasan jam sehari di divisi operasional!”

Tricia meremas lengan Marco, mencoba mengembalikan kendali situasi. “Tito, jangan mengalihkan pembicaraan hanya karena aku meminta hak untuk calon cucu laki-laki Anda! Marco adalah anak sulung. Masa depan Reyes Group adalah miliknya!”

Daddy tidak memedulikan Tricia. Beliau berjalan menuju meja kerja kecil di sudut ruang tamu, membuka laci terkunci, dan mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam yang sangat tebal.

Beliau melempar map itu ke atas meja kaca tepat di hadapan Marco dan Tricia.

BRAK!

“Buka dan baca halaman pertama, Marco,” perintah Daddy dingin.

Dengan tangan gemetar, Marco membuka map tersebut. Ibu Tricia ikut mencondongkan tubuhnya, siap melihat apa yang dia kira adalah dokumen pembagian warisan. Namun, begitu matanya membaca baris demi baris dokumen resmi dengan segel hukum dari rumah sakit di Singapura itu, seluruh tubuh Marco mendadak kaku.

“I-Ini… Akta Adopsi?” suara Marco tercekat di tenggorokan.

Tricia merebut kertas itu. “Apa?! Adopsi?!”

“Tiga puluh dua tahun lalu, sebelum Sam lahir, kami mengadopsi seorang bayi laki-laki dari panti asuhan di Cebu karena dokter bilang Mommy-mu tidak bisa memiliki keturunan,” Daddy berbicara dengan suara yang sangat tenang, namun setiap katanya bagai hantaman gada besi. “Bayi itu adalah kamu, Marco.”

Ibu Tricia langsung berdiri, gaun desainer merahnya bergoyang hebat. “Tidak mungkin! Jangan mengarang cerita bohong hanya untuk menyingkirkan anak saya!”

“Semua dokumen hukum, tes DNA pembanding, hingga persetujuan pengadilan tertera di sana, Villanueva,” potong Mommy, kali ini suaranya terdengar sangat anggun namun mematikan. “Dua tahun setelah kami mengadopsi Marco, sebuah mukjizat terjadi. Saya hamil. Dan anak kandung darah daging kami satu-satunya… adalah Sam.”


4

Ruang tamu penthouse di BGC itu mendadak terasa seperti kuburan.

Tricia mundur selangkah, tangannya terlepas dari lengan Marco seolah pria itu baru saja berubah menjadi orang asing. Ibu Tricia yang tadinya mendongak angkuh, kini mendadak kehilangan seluruh suaranya. Matanya bergerak liar, menyadari bahwa taruhan besar yang dia pasang malam ini telah hancur total.

“Jadi…” Tricia menatap Marco dengan pandangan kosong, lalu beralih pada Daddy. “Jadi selama ini… Marco bukan pewaris darah Reyes?”

“Secara hukum, dia adalah anak kami,” kata Daddy tegas. “Dan kami menyayanginya. Itu sebabnya aku membiarkannya mengelola divisi operasional dan membiayai resortnya di Cebu. Tapi untuk saham utama Reyes Group? Hak mutlak perusahaan, penthouse ini, dan seluruh aset utama keluarga… sejak awal sudah terdaftar atas nama Samantha Reyes.”

Aku tertegun, menatap Daddy dan Mommy bergantian. Aku bahkan tidak tahu tentang dokumen ini. Selama ini aku mengira aku hanya anak perempuan biasa yang dimanja, namun ternyata, orang tuaku sedang melindungiku dari orang-orang serakah yang mengincar nama keluarga kami.

“Marco…” Tricia berbisik, suaranya bergetar penuh kekecewaan. “Kamu membohongiku? Kamu bilang kamu yang memegang kendali perusahaan ini!”

Marco tidak mendengarkan Tricia. Dia menatap Mommy dan Daddy dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Mom… Dad… kenapa kalian tidak pernah mengatakannya padaku?”

Mommy mendekat, mengusap kepala Marco dengan lembut. “Karena bagi kami, kamu tetap anak kami, Marco. Kami tidak pernah membedakan kasih sayang. Tapi tunanganmu… wanita yang belum sah menjadi bagian dari keluarga ini, sudah berani datang membawa seluruh keluarganya untuk mengancam dan menghapus nama adikmu dari rumahnya sendiri.”

Mommy menoleh, menatap Tricia dan ibunya dengan tatapan menghina.

“Kamu ingin menggugurkan kandunganmu jika Sam mendapatkan condo dan mobil?” Mommy tersenyum tipis, sangat dingin. “Silakan. Pergi ke klinik sekarang juga. Kami tidak akan menahanmu satu detik pun.”

“Tita…” Tricia panik, wajahnya pucat pasi. “Aku… aku cuma emosi…”

“Pernikahan di Makati Shangri-La dibatalkan,” sela Daddy tanpa ampun. “Besok pagi, tim pengacara Reyes Group akan mengirimkan surat pemutusan hubungan bisnis dengan perusahaan distribusi milik keluarga Villanueva. Dan untukmu, Marco…”

Daddy menatap anak angkatnya dengan ekspresi terluka namun tegas.

“Jika kamu memilih untuk tetap bersama wanita yang menghina adikmu dan mengancam keluarga ini menggunakan janin di rahimnya, silakan kemas barang-barangmu malam ini. Ikutlah dengan mereka. Tapi jangan harap kamu bisa membawa satu sen pun aset milik keluarga Reyes.”


5

Ibu Tricia langsung menarik tas desainer miliknya, wajahnya merah padam karena malu yang luar biasa. Dia menatap putrinya dengan marah. “Tricia! Ayo pulang! Tempat ini sialan!”

Tricia menangis, berlutut di depan meja kaca. “Tito… Marco… tolong maafkan aku. Aku melakukan ini demi anak kami… demi cucu kalian…”

Namun, tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang bergerak untuk menolongnya.

Marco perlahan mundur dari jangkauan Tricia. Rasa syok karena mengetahui asal-usul dirinya, bercampur dengan kekecewaan mendalam melihat tabiat asli wanita yang dia cintai, membuat kakakku akhirnya tersadar. Dia melihat ke arahku, tatapannya penuh rasa bersalah yang amat sangat.

“Sam…” bisik Marco lirih. “Maafkan Kakak…”

Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan mendekat dan menggenggam tangannya. Bagiku, Marco tetap kakak laki-laki yang membantuku tumbuh, dan melihatnya hancur seperti ini karena wanita serakah membuat hatiku ikut pedih. Tapi ini adalah badai yang harus dia lalui agar dia tahu siapa yang benar-benar tulus berdiri di sampingnya.

Daddy berjalan mendekatiku, lalu menyerahkan kunci mobil bersimbol BMW yang sejak tadi ada di saku jasnya.

“Besok, pergi bersama pengacara Daddy untuk menandatangani akta kepemilikan condomu di Quezon City, Sam,” kata Daddy, suaranya kembali hangat saat berbicara padaku. “Dan untuk kuliahmu di University of the Philippines… buat Daddy dan Mommy bangga.”

Aku mengangguk pelan, mendekap kunci itu erat-erat.

Di luar jendela penthouse, lampu-lampu kota BGC berkilauan di bawah langit Manila yang pekat. Keributan malam ini telah usai, dan orang-orang yang mengira bisa menggunakan keserakahan untuk menyingkirkanku, kini harus berjalan keluar menembus kegelapan malam tanpa membawa apa-apa.