DI HARI JADI PERNIKAHAN KAMI YANG KE-7, AKU BARU TAHU TERNYATA SECARA HUKUM AKU MASIH LAJANG. MEMEGANG WARISAN SENILAI Rp19,5 TRILIUN, AKU MEMUTUSKAN MENIKAH DENGAN MUSUH TERBESAR SUAMIKU…**
Tepat di hari jadi pernikahan kami yang ketujuh, aku menerima pesan tak terduga dari bank.
**Saldo rekening Anda telah berubah. Dana masuk: US$1,2 miliar.**
Aku bahkan belum sempat mencerna keterkejutanku ketika ponselku berdering. Pengacaraku menelepon.
“Selamat siang, Bu Patricia. Seluruh proses hukum terkait warisan dari nenek Anda sudah selesai. Namun… ada satu masalah besar.”
Ia terdiam beberapa saat, seolah ragu, lalu berkata perlahan,
“Kami sudah memeriksa data resmi di Kantor Catatan Sipil, tetapi tidak menemukan satu pun akta pernikahan atas nama Anda dan suami Anda, Lucas.”
“Artinya, di mata hukum… Anda masih berstatus belum menikah.”
“Karena itu, seluruh harta warisan ini menjadi milik Anda sepenuhnya sebagai perempuan lajang.”
Aku membeku. Jemariku mencengkeram ponsel semakin erat.
Pandanganku perlahan tertuju pada foto pernikahan besar kami yang tergantung di ruang tamu.
Pria di dalam foto itu…
Saat ini sedang berada di rumah wanita lain, sibuk memilih nama untuk bayi mereka.
## BAB 1
Setelah mendengar kata-kata pengacaraku, aku terdiam selama tiga detik.
“Anda yakin, Pak Perez?”
Dari seberang telepon terdengar suara lembaran-lembaran dokumen dibalik.
“Bu Patricia, kami sudah memeriksa sistem sebanyak tiga kali. Tidak ada satu pun catatan pernikahan antara Anda dan Lucas Arellano di Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil.”
Aku berpegangan pada meja, sementara jemariku tanpa sadar memainkan cincin di jari manis.
Tujuh tahun yang lalu…
Sehari setelah pesta pernikahan kami yang megah.
Lucas bangun dari tempat tidur, mengecup lembut dahiku sambil tersenyum.
“Sayang, tidur saja lagi. Biar aku yang mengurus pencatatan pernikahan kita. Aku tidak ingin kamu lelah bolak-balik mengurus administrasi.”
Saat itu aku hanya memeluk selimut sambil tersenyum manis, merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki pria terbaik di dunia.
“Kalau begitu… siapa yang tercatat sebagai istrinya secara hukum?” tanyaku.
Pengacaraku kembali terdiam, seolah memilih kata-kata dengan hati-hati.
“Sanya.”
Aku kehilangan suara.
Sanya.
Putri mantan pembantu keluarga Arellano.
Sejak kecil ia selalu mengikuti Lucas ke mana pun.
Setiap bertemu denganku, ia selalu menunduk sambil memanggil,
“Kak Patricia.”
“Tanggal pernikahan mereka tercatat pada 8 Oktober, tujuh tahun yang lalu,” lanjut Pak Perez. “Tepat sehari setelah pesta pernikahan Anda.”
Layar ponselku tiba-tiba menyala.
Pesan dari Lucas.
*”Sayang, makan dulu ya nanti malam dan tunggu aku. Akhirnya aku berhasil membeli kalung berlian yang sudah lama kamu impikan. Aku baru saja mendarat di bandara, nanti mampir dulu ke kantor untuk mengurus beberapa dokumen.”*
Aku menatap pesan manis itu, lalu membuka media sosial.
Dua jam yang lalu, Sanya mengunggah foto di Instagram.
Ia duduk di kabin kelas satu pesawat sambil memegang secangkir latte.
Caption-nya berbunyi,
*”Perjalanan jauh pertama ternyata senyaman ini kalau ada yang selalu menjaga kita.”*
Aku langsung menutup aplikasi itu dan kembali ke panggilan.
“Pak Perez, kapan saya bisa menandatangani dokumen pengalihan warisan?”
“Kapan saja Anda mau, Bu. Kalau besok pagi ada waktu, silakan datang ke kantor saya. Semua aset akan langsung dialihkan atas nama Anda, dan tidak ada pihak ketiga yang dapat menyentuhnya.”
“Baik. Besok pagi.”
Aku menutup telepon lalu berjalan perlahan menuju ruang tamu.
Penthouse seluas **260 meter persegi** ini memiliki pemandangan sungai dan kota yang sangat indah.
Lucas membelinya ketika kami menikah.
Dulu ia berkata ingin memberiku rumah terbaik agar aku menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Di atas meja terdapat buket mawar merah yang masih segar.
Baru saja dikirim oleh asistennya.
Di dalamnya ada sebuah kartu bertuliskan,
**Aku merindukanmu setiap detik.**
Kubalik kartu itu.
Bagian belakangnya kosong.
Tidak ada apa-apa.
Persis seperti pernikahan kami yang palsu.
## BAB 2
Aku tidak menunggu kepulangannya.
Aku langsung pergi ke bandara.
Di tengah keramaian area kedatangan, aku berdiri di balik sebuah pilar besar sambil mengenakan masker dan topi.
Dua puluh menit kemudian…
Lucas muncul.
Dengan mantel mahal yang dikenakannya, ia tampak begitu gagah dan menonjol di tengah kerumunan.
Di sampingnya berjalan Sanya.
Ia mengenakan sweater putih, rambut panjang tergerai, dan membawa tas kecil.
Tampak polos dan lembut seperti bunga.
Mereka berjalan berdampingan, hanya berjarak setengah langkah.
Tiba-tiba Lucas berhenti.
Ia dengan lembut merapikan rambut Sanya yang tertiup angin.
Gerakannya begitu alami.
Seolah ia sudah melakukannya ribuan kali.
Sanya menatapnya dengan senyum yang memenuhi kedua matanya.
Lucas sedikit membungkuk lalu mengecup lembut dahinya.
Aku berdiri sekitar sepuluh meter dari mereka, menyaksikan semuanya.
Ciuman di dahi itu…
Sama persis seperti yang selalu ia berikan kepadaku setiap pagi sebelum berangkat dari rumah.
Ponselnya tiba-tiba menyala.
Ia mengeluarkannya, melihat layar sebentar, lalu memasukkannya kembali ke saku tanpa ekspresi.
Itu adalah pesan yang kukirim sepuluh menit sebelumnya.
*”Kalau pesawatmu sudah mendarat, kabari aku ya.”*
Ia tidak membalas.
Aku perlahan berbalik dan meninggalkan bandara.
Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal muncul.
*”Teh hitam yang kamu minum setiap malam selama tujuh tahun… pernahkah kamu memeriksa kandungannya?”*
Aku berhenti di tepi jalan, menatap setiap kata dalam pesan itu.
Tujuh tahun yang lalu.
Malam pertama setelah pernikahan kami.
Lucas membawakan secangkir teh herbal hitam yang masih hangat.
*”Ibu meminta tabib terkenal meraciknya. Katanya bagus untuk kesehatanmu supaya kita cepat punya anak.”*
Ia menyuapiku perlahan dengan sendok sambil tersenyum.
*”Habiskan ya, ratuku.”*
Rasanya sangat pahit.
Meski meringis, aku tetap meminumnya.
Lalu ia akan menciumku sambil berkata,
*”Kalau obatnya pahit, biar aku yang membuat malammu terasa manis.”*
Namun selama tujuh tahun…
Aku tidak pernah hamil.
Aku mendatangi dokter ke mana-mana, mencoba akupunktur, program bayi tabung, dan berbagai terapi yang menyakitkan hanya demi memiliki anak.
Ia tidak pernah menyalahkan ataupun mendesakku.
Ia selalu berkata,
*”Jangan terburu-buru. Bagiku, memilikimu saja sudah cukup.”*
Sekarang baru kusadari…
Bukan karena ia tidak terburu-buru.

Melainkan karena ia memang tidak membutuhkan aku untuk mengandung anaknya.
Sebab…
…Sanya sedang mengandung anak kandungnya saat ini.
Aku berdiri membeku di trotoar yang bising. Lampu-lampu jalanan Jakarta berkelebat di mataku, tetapi pikiranku melesat ke belakang, mengingat setiap rasa sakit yang kuhadapi di ruang dokter kandungan. Jarum-jarum suntik IVF yang menusuk kulitku, rasa mual yang menyiksa, dan air mata kekecewaan setiap kali hasil tes menunjukkan garis satu.
Selama tujuh tahun, dia meracuniku agar rahimku kering, sementara di balik punggungku, dia menanam benih di rahim wanita lain.
Aku menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh empedu yang bergolak di tenggorokanku. Ponsel di tanganku bergetar lagi. Pesan baru dari nomor tak dikenal itu masuk:
“Datanglah ke Rumah Sakit Medika Sudirman, Kamar VVIP 402. Lihat sendiri hadiah ulang tahun pernikahanmu.”
Aku langsung menyetop taksi. “Ke Rumah Sakit Medika Sudirman. Sekarang.”
BAB 3
Rumah sakit itu sunyi ketika aku melangkah melewati koridor lantai empat. Di depan kamar VVIP 402, aku melihat asisten pribadi Lucas berdiri berjaga. Begitu melihatku, wajahnya memucat seketika.
“B-Bu Patricia? Anda sedang apa di sini? Pak Lucas sedang ada rapat penting dengan—”
Aku tidak mendengarkan bualannya. Kudorong pintu kayu jati itu dengan satu sentakan kuat.
Di dalam ruangan yang harum aromaterapi itu, Lucas sedang berlutut di tepi ranjang rumah sakit. Tangannya mengusap lembut perut Sanya yang mulai membuncit di balik baju pasien. Di atas meja nakas, sebuah cetakan foto USG diletakkan dengan rapi.
“Dokter bilang bayinya laki-laki, Lucas,” bisik Sanya dengan suara manjanya. “Dia akan menjadi penerus Arellano Group yang hebat.”
“Tentu saja, Sayang. Begitu warisan dari nenek Patricia cair minggu ini, aku akan langsung membeli saham mayoritas dan mengganti nama perusahaan menjadi milik putra kita,” jawab Lucas, suaranya penuh ambisi.
Brak!
Pintu yang menghantam dinding membuat mereka berdua tersentak. Lucas langsung berdiri, tubuhnya menegang hebat saat melihatku berdiri di ambang pintu.
“Patricia?!” pekik Lucas. Matanya bergetar panik, namun dalam hitungan detik, dia mencoba memasang topeng tenangnya. “Sayang… kamu salah paham. Sanya sedang sakit, jadi aku hanya—”
“Berhenti membual, Lucas,” potongku. Suaranya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk asistennya di luar meremang. Aku berjalan mendekat, menatap foto USG di meja, lalu beralih menatap Sanya yang kini sengaja menarik selimut untuk melindungi perutnya.
“Tujuh tahun,” ujarku pelan, menatap lurus ke manik mata pria yang kusangka suamiku. “Setiap malam kamu menyuapiku teh hitam mandul itu. Kamu membuatku merasa bersalah karena tidak bisa memberimu keturunan, sementara kamu menanam anak haram ini di rahim pembantumu.”
Lucas menelan ludah, wajahnya kaku. “Patricia, dengarkan aku—”
“Dan yang paling menjijikkan,” aku tersenyum sinis, mengabaikan panggilannya. “Kamu bahkan tidak pernah mendaftarkan pernikahan kita di Catatan Sipil. Kamu menikahinya secara hukum sehari setelah pesta kita, agar semua aset yang kubawa dari keluarga keluargaku jatuh ke tanganmu saat kita ‘bercerai’ nanti, bukan?”
Menyadari sandiwara tujuh tahunnya telah terbongkar, raut wajah Lucas berubah drastis. Tidak ada lagi tatapan hangat penuh cinta. Yang tersisa hanyalah tatapan dingin, licik, dan penuh kepongahan seorang predator.
Dia menegakkan bahunya, tertawa kecil yang terdengar sangat sinis.
“Oh, jadi kamu sudah tahu?” Lucas melangkah mendekat, menatapku dengan pandangan merendahkan. “Kalau begitu, baguslah. Aku tidak perlu berpura-pura lagi. Ya, Patricia. Kamu secara hukum hanyalah wanita lajang yang menumpang hidup di penthouse-ku. Tujuh tahun aku muak harus berpura-pura menjadi suami yang manis untuk wanita membosankan sepertimu. Tapi bagaimanapun, warisan nenekmu tetap akan jatuh ke Arellano Group karena semua dokumen bisnis yang kamu tanda tangani dulu mengikat asetmu ke perusahaanku!”
Sanya di atas ranjang ikut tersenyum mengejek. “Kak Patricia, sudahlah. Berikan saja warisan itu pada Lucas. Setidaknya, pergilah dengan terhormat sebelum kami mengusirmu.”
Aku menatap mereka berdua, lalu tawa kecil lolos dari bibirku. Tawa yang membuat Lucas mengernyitkan dahi.
“Dokumen bisnis?” aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi perbankan, lalu mengarahkannya tepat ke depan wajah Lucas. Angka US$1,2 miliar (Rp19,5 triliun) menyala terang di layar.
“Nenekku jauh lebih cerdas daripada otak licikmu, Lucas,” kataku berbisik di depan wajahnya yang mendadak pias. “Dalam klausul wasiatnya, syarat mutlak pencairan warisan ini adalah: dana hanya akan ditransfer ke rekening pribadi Patricia sebagai perempuan lajang, dan jika dia menikah, aset ini tidak boleh tersentuh oleh suaminya.“
“Dan karena kamu dengan bodohnya tidak mendaftarkan pernikahan kita…” Aku menjeda kalimatku, menikmati raut horor yang perlahan merayap di wajah Lucas. “…Uang Rp19,5 triliun ini murni milikku pribadi. Tidak ada satu persen pun yang terikat dengan Arellano Group. Kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun.”
“A-Apa?!” Lucas berteriak, wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darahnya. Dia mencoba meraih tanganku, tetapi aku mundur selangkah.
“Nikmati sisa hari-harimu, Lucas. Mulai besok, aku akan menarik seluruh investasi keluargaku dari perusahaanku, dan membiarkan Arellano Group hancur lebur,” kataku tegas. Aku berbalik, berjalan keluar dari kamar itu, mengabaikan teriakan histeris Lucas dan tangisan panik Sanya di belakangku.
BAB 4
Keesokan paginya, setelah menandatangani seluruh berkas pengalihan aset di kantor Pak Perez, aku tidak kembali ke penthouse. Aku melangkah menuju sebuah gedung pencakar langit hitam yang paling ditakuti di kawasan SCBD Jakarta.
Gedung milik Valerius Vance.
Pria berusia tiga puluh lima tahun, seorang taipan kejam, berdarah dingin, dan merupakan musuh bebuyutan Arellano Group di dunia bisnis. Selama bertahun-tahun, Lucas selalu kalah bersaing dengannya dan menyimpan dendam kesumat pada pria itu.
Aku duduk di ruang kerja bersofa kulit hitam yang luas. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Valerius masuk dengan langkah tegap. Setelan jasnya yang rapi dan rahangnya yang tegas memancarkan aura dominasi yang mutlak.
Dia duduk di hadapanku, menyandangkan punggungnya, lalu menatapku dengan mata elangnya yang tajam namun penuh minat.
“Bu Patricia. Sebuah kejutan besar melihat ‘istri’ dari musuh bisnis saya datang ke kantor ini sendirian,” ujar Valerius, nadanya terdengar berbahaya namun memikat.
Aku meletakkan sebuah map hitam di atas meja kaca di antara kami. Di dalamnya ada dokumen pembuktian status lajangku, laporan medis racun teh hitam dari Lucas, dan bukti dana Rp19,5 triliun yang kupunya.
“Saya bukan istrinya, Tuan Vance. Secara hukum, saya masih lajang. Dan saya membawa modal Rp19,5 triliun untuk menghancurkan Arellano Group sampai ke akar-akarnya,” kataku tanpa keraguan sedikit pun.
Valerius menaikkan satu alisnya, melihat sekilas dokumen-dokumen itu, lalu menatapku kembali dengan senyuman tipis yang sangat menawan. “Menarik. Balas dendam seorang wanita yang dikhianati memang selalu menjadi tontonan terbaik. Tapi, apa hubungannya denganku? Aku bisa menghancurkan Lucas tanpa uangmu.”
Aku memajukan tubuhku, menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya.
“Hubungannya adalah… saya butuh status baru untuk melegitimasi perang ini. Dan Anda butuh kendali penuh atas pasar konstruksi yang saat ini masih dipegang Arellano.”
“Maksudmu?”
“Mari kita menikah, Valerius. Menikahlah denganku, jadilah suamiku yang sah secara hukum, dan mari kita tonton bersama bagaimana Lucas Arellano menjadi gila saat melihat musuh terbesarnya merebut seluruh hidupnya—dan wanita yang selama tujuh tahun ini dia sia-siakan.”
Ruangan itu hening sesaat. Valerius menatapku tajam, seolah sedang membaca setiap jengkal jiwaku. Hingga akhirnya, suara tawa berat yang seksi terdengar dari bibirnya.
Dia berdiri, berjalan mengitari meja, lalu berhenti tepat di hadapanku. Valerius mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, meraih jemariku, dan mengecup punggung tanganku dengan tatapan yang penuh dengan kepemilikan.
“Kontrak yang sangat menggoda, Patricia,” bisik Valerius, matanya berkilat penuh kemenangan. “Mari kita mulai pernikahannya besok pagi. Dan aku berjanji… aku akan memastikan mantan ‘suamimu’ itu berlutut di bawah kakimu sebelum bulan ini berakhir.”
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.