DI HARI PERTAMA PERNIKAHAN KAMI, SUAMIKU MENYEKA WAJAHKU DENGAN KAIN LAP KOTOR AGAR AKU MENJADI PEMBANTU—TAPI SAAT MEREKA MELIHAT ISI HADIAH SENILAI Rp200 JUTA, DUNIA MEREKA LANGSUNG RUNTUH!**
### I. Berakhirnya Sebuah Dongeng
Pesta pernikahan mewah kami baru saja usai.
Aku masih mengenakan gaun pengantin putih berkilau. Meski lelah, hatiku dipenuhi harapan saat kami tiba di rumah besar keluarga suamiku, Mateo.
Kupikir malam itu akan menjadi awal kehidupan pernikahan yang bahagia.
Aku membayangkan malam yang romantis, penuh kata-kata manis dan janji untuk masa depan.
Namun begitu kami melangkah masuk ke dalam rumah, suasana langsung berubah.
Mateo melepaskan genggaman tanganku.
Senyum hangat di wajahnya lenyap, digantikan tatapan dingin dan penuh kesombongan.
Ia berjalan menuju dapur.
Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa selembar kain lap meja yang kotor, basah, dan penuh noda minyak.
Sebelum sempat bertanya apa yang sedang terjadi, Mateo mendekat dan tanpa belas kasihan mengusap kain lap itu ke wajahku.
Riasan pengantin mahal yang kupakai langsung rusak.
Bau tengik minyak dan lemak menempel di kulitku.
“Mulai hari ini, kamu adalah pembantu di keluarga ini,” katanya dingin sambil berkacak pinggang dan menatapku seolah aku hanyalah sampah.
“Sandiwara sudah selesai. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk pernikahan ini, jadi kamu harus membayarnya dengan melayani keluarga kami. Besok pagi aku ingin sarapan untuk Mama dan aku sudah siap.”
Dari atas tangga, ibu mertuaku, Carmen, turun sambil bertepuk tangan dan tertawa puas.
“Bagus, Mateo. Akhirnya kamu mengatakan yang sebenarnya. Perempuan ini mungkin mengira dirinya putri di rumah ini. Hei, cepat ganti bajumu lalu bersihkan kamar mandi!”
—
### II. Senyum Seorang Wanita yang Tak Mudah Dikalahkan
Mereka mengira aku akan menangis.
Mereka mengira aku akan memohon, berlutut, dan bertanya mengapa mereka tega memperlakukanku seperti ini tepat di hari pernikahanku.
Namun aku hanya berdiri diam.
Aku mengusap kotoran di wajahku dengan tangan.
Aku menatap Mateo dan Carmen bergantian.
Bukannya menangis…
Sebuah senyum tenang yang membuat bulu kuduk merinding justru muncul di bibirku.
Aku bukan wanita biasa yang bisa mereka jadikan budak sesuka hati.
“Baik,” jawabku dengan suara tenang.
Perlahan aku melepas cincin tunangan berlian yang dulu diberikan Mateo saat melamarku.
Aku meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kaca di ruang tamu.
“Apa yang sedang kamu lakukan?!” bentak Mateo sambil mengernyitkan dahi menatapku….
.. Aku tidak menjawab bentakan Mateo. Dengan gerakan tenang, aku merogoh tas tangan kecil yang tergeletak di sofa, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna emas dengan stempel resmi dari salah satu bank swasta terbesar di Indonesia.
Di dalam amplop itu, terdapat sebuah cek tunai dan surat sertifikat deposito senilai Rp200 juta.
Aku meletakkan amplop emas itu tepat di samping cincin berlian yang baru saja kulepas.
“Itu adalah hadiah pernikahan dari ayahku,” ucapku dengan nada yang sangat datar, namun sarat akan penegasan. “Nilainya dua ratus juta rupiah. Nilai yang awalnya ingin kugunakan untuk melunasi seluruh sisa cicilan rumah ini dan modal usaha barumu, Mateo.”
Mateo dan Carmen seketika membeku. Mata ibu mertuaku langsung berbinar serakah melihat angka yang tertera di surat berharga tersebut.
“D-dua ratus juta?” gagap Mateo, langkah kakinya maju selangkah, hendak meraih amplop itu. “Kamu… kamu punya uang sebanyak ini? Kenapa kamu tidak bilang sejak awal?!”
“Jangan sentuh,” desisku dingin, membuat tangan Mateo tertahan di udara.
III. Kebenaran yang Menghancurkan
Aku menatap Mateo dengan pandangan paling menjijikkan.
“Kalian mengira aku hanyalah gadis yatim piatu miskin dari desa yang beruntung bisa menikah dengan pria kota seperti Mateo? Kalian lupa, atau memang terlalu bodoh untuk mencari tahu bahwa ayahku adalah pemilik jaringan grosir terbesar di provinsi ini yang sengaja mendidikku hidup sederhana?”
Wajah Carmen mendadak pucat pasi. Tubuhnya gemetar saat menyadari kekeliruan besar yang baru saja mereka lakukan.
“N-Niken… maksud Mama, tadi itu cuma bercanda, Nak. Mateo cuma ingin mengujimu—” Carmen mencoba mendekat dengan senyum palsu yang dipaksakan.
“Cukup, Nyonya Carmen,” potongku tegas. “Tidak ada komedi di dalam kain lap kotor ini.”
Aku mengambil kembali amplop emas itu dan memasukkannya ke dalam tas. Aku menatap suamiku yang kini tampak begitu kecil dan menyedihkan.
“Kalian merencanakan pernikahan ini hanya untuk mencari pembantu gratisan yang bisa kalian injak-injak demi memuaskan ego miskin kalian, tapi kain lap kotor yang kau usapkan ke wajahku semalam telah menghapus seluruh hakmu atas uang ini, dan atas hidupku selamanya.”
IV. Dunia yang Runtuh dalam Semalam
“Niken, tunggu! Jangan pergi! Kita bisa bicarakan ini baik-baik! Aku mencintaimu!” teriak Mateo panik. Pria yang beberapa menit lalu berdiri dengan sombongnya, kini bersujud di depan pintu, memegangi ujung gaun pengantinku dengan air mata yang mulai mengalir.
Dia tahu betul bahwa bisnisnya sedang di ambang kebangkrutan dan rumah mewah yang mereka tempati ini terancam disita bank bulan depan. Uang Rp200 juta dariku adalah satu-satunya pelampung penyelamat hidup mereka.
“Cinta tidak berbau minyak tengik, Mateo,” kataku sambil menarik gaunku dengan kasar dari genggamannya.
Tepat saat itu, pintu depan rumah terbuka. Dua orang pria berjas hitam—yang merupakan pengacara keluarga dan sopir pribadi ayahku—masuk ke dalam rumah. Mereka datang atas instruksi darurat yang kukirim lewat pesan singkat beberapa menit lalu.
“Nona Niken, mobil sudah siap di luar. Surat gugatan cerai dan pembatalan pernikahan atas dasar penipuan serta kekerasan psikis akan selesai diproses besok pagi,” ujar sang pengacara dengan tegas.
Aku melangkah keluar dari rumah itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di ambang pintu, aku bisa mendengar suara Carmen yang menjerit histeris menyalahkan Mateo, dan suara Mateo yang memukul lantai dengan frustrasi.
Dunia kemewahan palsu yang mereka agung-agungkan runtuh seketika di hari pertama pernikahan kami. Mereka tidak mendapatkan pembantu, tidak mendapatkan uang, dan sebentar lagi, mereka akan kehilangan rumah serta nama baik mereka untuk selamanya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.