Di restoran paling ramai di Quezon City, suamiku menamparku karena katanya aku telah “mempermalukan” wanita itu. Sepuluh jam kemudian, dia meneleponku 63 kali, sementara aku sudah berada di sebuah kondominium di Cebu, mendengarkan pengacara membacakan satu per satu tuntutan hukum yang bisa diajukan terhadapnya.
**Bagian 1**
Setelah tamparan itu, aku tidak mengatakan apa pun.
Aku hanya menunduk, mengangkat putriku dari kursi anak, menyelimuti bahunya yang gemetar dengan jaket, lalu berjalan keluar dari restoran.
Di belakangku, suara sendok dan garpu mendadak berhenti.
Restoran itu penuh sesak.
Para orang tua murid dari St. Anne.
Rekan bisnis suamiku.
Beberapa bibi dari keluarganya.
Dan Camille Villamor.
Wanita berbaju putih yang mengenakan anting mutiara yang pernah kulihat di dalam mobil suamiku.
Rafael Dizon, suamiku, berdiri di tengah restoran di Quezon City. Tangannya yang baru saja menamparku masih sedikit bergetar.
Tapi itu bukan karena penyesalan.
Dia gemetar karena marah.
“Mariela, kamu sudah keterlaluan.”
Suaranya rendah, seolah-olah dialah yang dipermalukan.
“Camille hanya membantuku mengurus penggalangan dana sekolah. Apa kamu harus membuat keributan di depan semua orang?”
Aku mendengar setiap kata.
Tapi itu bukan bagian yang paling menyakitkan.
Yang paling menyakitkan adalah putriku, Sofia, yang baru berusia empat tahun, menarik rokku dan berbisik:
“Mommy, kenapa Daddy menyakitimu?”
Suaranya sangat pelan.
Namun rasanya seperti pisau yang langsung menusuk dadaku.
Aku menatap Rafael.
Kami sudah menikah selama tiga tahun.
Sejak aku meninggalkan Cebu untuk mengikutinya ke Manila. Aku bahkan meninggalkan posisiku di bisnis rantai pendingin milik keluargaku demi menjadi “Mrs. Dizon” yang tenang dan selalu mendukungnya dari belakang.
Dia bilang menjadi laki-laki di Filipina itu berat. Katanya, ketika pulang ke rumah, dia hanya ingin menemukan makanan hangat dan suasana yang tenang.
Jadi aku belajar memasak kare-kare favorit ibunya.
Dia bilang perusahaan medianya membutuhkan koneksi.
Aku menggunakan nama keluarga Reyes untuk membukakan pintu klien-klien besar baginya.
Dia bilang Camille adalah direktur pemasaran yang sangat penting. Katanya proyek mereka akan mati tanpa Camille.
Aku percaya.
Dia bilang malam-malam panjangnya di BGC hanyalah pertemuan dengan klien.
Aku memilih diam.
Dia bilang kondominium yang atas nama Camille itu hanya untuk tamu asing perusahaan.
Aku berpura-pura tidak mendengar.
Tapi tamparan itu berbeda.
Itu bukan luapan emosi sesaat.
Itu adalah jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini kutelan sendiri.
Aku tidak menangis.
Aku hanya menoleh kepada pelayan dan berkata:
“Bisakah Anda memanggilkan taksi untuk saya?”
Rafael mencengkeram lenganku.
“Sudah selesai mengamuk? Ini acara penggalangan dana. Apa kamu ingin menghancurkan namaku?”
Aku menatap tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku.
Lalu aku menatap langsung ke matanya.
“Lepaskan aku.”
Mungkin selama tiga tahun pernikahan kami, itu pertama kalinya dia mendengar aku mengucapkan kalimat itu tanpa suara gemetar.
Dia terdiam.
Di belakangnya, mata Camille memerah. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Dia mengira dirinya menang.
Saat itu, aku juga berpikir begitu.
Sampai Sofia menempelkan wajahnya ke bahuku dan berbisik:
“Mommy, ayo pulang ke rumah Nenek.”
Rumah Nenek.
Dua kata yang membangunkanku.
Aku memang punya tempat tinggal di Manila.
Ada ruang tamu yang tirainya kupilih sendiri.
Ada dapur yang setiap toples bumbunya kuberi label dengan tanganku sendiri.
Ada lemari pakaian yang selalu berbau parfum Rafael bercampur aroma lipstik wanita lain.
Tapi itu bukan rumah.
Rumahku ada di Cebu.
Di sana, kamar lamaku masih menungguku.
Di sanalah dulu Papa berkata:
“Anakku, kamu boleh mencintai siapa pun. Tapi jangan pernah menyerahkan kunci hidupmu kepada seseorang yang tidak mampu menghargaimu.”
Malam itu, aku membawa Sofia kembali ke kondominium kami di Makati.
Aku tidak menyalakan lampu ruang tamu.
Aku hanya membuka koper.
Dua set pakaian Sofia.
Paspor.
Akta kelahiran.
Catatan vaksinasi.
Seekor boneka teddy bear.
Dan sebuah map biru yang sudah tiga bulan kusimpan di dalam brankas.
Rafael menelepon.
Sekali.
Dua kali.
Tujuh belas kali.
Aku tidak menjawab.
Pada panggilan ke-30, ibu mertuaku mengirim pesan:
“Perempuan yang sudah menikah harus tahu cara bertahan. Satu tamparan tidak akan membunuhmu. Jangan membesar-besarkan masalah.”
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Lalu aku mengambil tangkapan layar dan mengirimkannya kepada pengacaraku.
Pukul tiga dini hari, aku menggendong Sofia menuju Terminal 3 Bandara NAIA.
Hujan turun ketika pesawat kami lepas landas dari Manila menuju Cebu.
Sofia tertidur di pangkuanku, memeluk erat boneka beruangnya.
Sementara itu, ponselku terus menyala.
63 panggilan tak terjawab dari Rafael.
Pesan terakhirnya berbunyi:
“Mariela, sebenarnya apa yang kamu inginkan?”
Begitu pesawat mendarat di Cebu, mantan asisten Papa menelepon.
Suaranya terdengar sangat gugup.
“Bu Mariela, apakah Anda sudah aman?”
“Saya baru saja mendarat.”
“Kalau begitu, tolong dengarkan baik-baik.”
Dia berhenti sejenak.
“Bukan hanya karena Pak Rafael berselingkuh. Dia juga menggunakan tanda tangan palsu Anda untuk menjamin pinjaman sebesar **Rp10,9 miliar**.”
Genggamanku pada ponsel langsung mengencang.

Di luar pintu kaca bandara, Mama sedang menunggu.
Dan di ujung telepon, sang asisten melanjutkan:
“Dan penanda tangan bersama dalam dokumen itu… adalah Camille Villamor.”
Bagian 2 (Selesai)
Mendengar angka Rp10,9 miliar disebutkan, jantungku sempat berdegup kencang, namun bukan karena takut. Melainkan karena kemarahan yang membakar habis sisa-sisa cinta yang pernah kupunya untuk Rafael.
Dia tidak hanya mengkhianati pernikahanku, dia juga mencoba menghancurkan masa depan putriku.
“Mariela!” Mama berlari memelukku begitu aku keluar dari pintu kedatangan Bandara Mactan-Cebu. Dia tidak bertanya apa-apa. Melihat koper di tanganku dan Sofia yang tertidur di gendonganku sudah cukup bagi Mama untuk memahami semuanya.
“Kita pulang, Nak,” bisik Mama tegas. “Di Cebu, tidak akan ada yang berani menyentuh selembar rambutmu pun.”
Sepuluh jam setelah tamparan di Quezon City itu, aku sudah berada di sebuah kondominium mewah di IT Park, Cebu. Tempat ini adalah properti milik keluarga Reyes yang tidak pernah diketahui oleh Rafael. Di dalam ruangan yang sejuk itu, ponselku yang tergeletak di atas meja kaca terus bergetar tanpa henti.
63 panggilan tak terjawab.
Layar ponsel kembali menyala. Panggilan ke-64 dari Rafael. Aku membalikkan ponsel itu, membiarkannya membisu, dan mengalihkan perhatianku kepada pria paruh baya yang duduk di hadapanku.
Atty. Christopher Santos, kepala tim hukum keluarga kami, membenarkan letak kacamata bakelitnya. Di depannya tersebar belasan berkas, termasuk salinan dokumen pinjaman yang dikirimkan oleh asisten lamaku.
“Mariela,” Atty. Santos memulai dengan suara berat yang menenangkan. “Suamimu melakukan kesalahan fatal karena mengira kamu adalah wanita tanpa perlindungan. Di Manila, mungkin dia merasa di atas angin dengan perusahaan medianya. Tapi dia lupa dari keluarga mana kamu berasal.”
Beliau mengetuk jarinya di atas salah satu dokumen.
“Pertama, kita memiliki bukti medis otentik mengenai kekerasan fisik (VAWC – Violence Against Women and Their Children Act). Tamparan di depan umum di Quezon City itu disaksikan oleh puluhan orang. Kita sudah mengamankan rekaman CCTV restoran melalui koneksi keluarga Reyes. Ini adalah tiket otomatis untuk menjebloskannya ke penjara.”
Aku mendengarkan sambil menyesap teh hangat yang disiapkan Mama. Rasanya begitu melegakan mendengarkan hukum bekerja untukku, setelah tiga tahun hidup dalam kepatuhan yang semu.
“Kedua,” lanjut Atty. Santos dengan senyum dingin. “Pemalsuan tanda tangan untuk pinjaman Rp10,9 miliar atas nama lini bisnis keluargamu. Ini adalah tindak pidana penipuan berat dan pemalsuan dokumen komersial. Ditambah fakta bahwa Camille Villamor menandatanganinya sebagai penjamin bersama, mereka berdua secara sah telah melakukan konspirasi kejahatan.”
“Apa dampaknya bagi perusahaan Rafael, Uncle?” tanyaku, memanggilnya dengan sebutan akrabku sejak kecil.
“Hancur total,” jawab Atty. Santos tanpa ragu. “Kita akan membekukan seluruh asetnya di Manila sebagai jaminan atas kerugian finansial yang kamu alami. Dan karena Camille terlibat langsung, semua aset, rumah, termasuk kondominium di BGC yang dielu-elukan wanita itu, akan disita oleh pengadilan. Mereka tidak akan punya tempat untuk bersembunyi.”
Tepat saat itu, ponselku bergetar lagi. Kali ini sebuah pesan singkat dari Rafael: “Mariela, tolong angkat. Aku minta maaf soal semalam. Aku hanya panik karena investor. Camille tidak ada hubungannya dengan ini. Jangan bawa Sofia pergi dari Manila, atau aku akan melaporkanmu atas penculikan anak!”
Aku membaca pesan itu dan menyerahkannya kepada Atty. Santos. Sang pengacara tertawa kecil, sebuah tawa yang menandakan badai besar bagi pihak lawan.
“Penculikan anak? Dia bahkan tidak tahu hukum dasar bahwa hak asuh anak di bawah umur otomatis jatuh ke tangan ibunya,” kata Atty. Santos menggelengkan kepala. “Mariela, kirimkan satu pesan terakhir padanya. Katakan bahwa kamu menunggunya di pengadilan.”
Aku mengambil ponselku. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh jam terakhir, aku mengetik balasan untuk Rafael:
“Sampai jumpa di pengadilan, Rafael. Oh, dan sampaikan salamku pada Camille. Nikmati sisa hari-hari kalian sebelum surat perintah penangkapan tiba.”
Setelah mengirim pesan itu, aku mematikan ponselku sepenuhnya. Aku berjalan menuju balkon kondominium, memandang garis pantai Cebu yang indah di kejauhan. Angin laut yang hangat menerpa wajahku, menghapus sisa rasa perih dari tamparan semalam.
Di dalam kamar, Sofia terbangun dan memanggilku, “Mommy?”
Aku berbalik, tersenyum lebar, dan berjalan menghampirinya. Pintu masa laluku di Manila telah tertutup rapat, hancur bersama keangkuhan Rafael. Di sini, di tanah kelahiranku, aku bukan lagi ‘Mrs. Dizon’ yang lemah dan penurut.
Aku adalah Mariela Reyes. Dan perang baru saja dimulai.