Posted in

DIA BELUM MATI! DADANYA MASIH NAIK TURUN!”**

DIA BELUM MATI! DADANYA MASIH NAIK TURUN!”**

Siapa sangka teriakanku di tengah upacara pemakaman paling mewah di kawasan Puncak akan membalikkan seluruh hidupku hanya dalam satu malam?

Namaku Emilia Ramos.

Seorang pelayan restoran.

Perempuan biasa dari Jakarta yang setiap hari bekerja hingga kelelahan demi membeli obat untuk adikku yang sakit dan membayar sewa apartemen kecil kami.

Aku sudah terbiasa hidup susah.

Terbiasa mengalah.

Terbiasa menjadi “orang yang tak terlihat” di hadapan kaum kaya.

Namun malam itu, di dalam mansion megah keluarga Monteverde, aku justru menjadi pusat dari sebuah mimpi buruk.

Di tengah ballroom, di dalam peti mati berlapis emas yang dikelilingi ribuan bunga lili putih, terbaring pria paling berkuasa dan paling ditakuti di dunia kriminal Indonesia—Alejandro Monteverde.

Usianya tiga puluh delapan tahun.

Berkuasa.

Terlalu tampan untuk menjadi mayat.

Media memberitakan bahwa ia meninggal karena serangan jantung.

Sementara rumor di jalanan mengatakan bahwa ia dibunuh oleh anak buahnya sendiri.

Saat itu sudah enam jam aku bekerja tanpa henti.

Jari-jariku mulai mati rasa karena terus membawa baki berisi sampanye mahal.

Ketika sedang merapikan bunga yang mulai layu di dekat peti mati, aku melihat sesuatu.

Bukan peti emas itu.

Bukan pula setelan jas Italia yang dikenakannya.

Melainkan tenggorokannya.

Tenggorokannya bergerak.

Sangat pelan.

Seolah sedang menelan ludah.

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Dengan tubuh gemetar, aku menatap dadanya yang tertutup kain sutra.

Di sana.

Ada gerakan naik turun yang sangat lemah.

Sangat lambat.

Tetapi nyata.

Mayat itu…

Masih bernapas.

Karena terlalu panik, baki di tanganku terlepas.

Gelas-gelas kristal pecah berhamburan.

Sampanye mahal tumpah ke lantai.

Suara keras itu langsung menarik perhatian para pengawal bersenjata dan anggota keluarga yang mengenakan pakaian hitam.

“Kurang ajar! Apa yang dilakukan perempuan itu di sini?!” bentak Roberto Monteverde, paman Alejandro.

Namun aku tidak mendengarnya.

Aku justru melangkah mendekat.

Tanganku menyentuh leher “mayat” itu.

Kulitnya hangat.

Dan di bawah ujung jariku…

Aku merasakan denyut nadi.

Lemah.

Tetapi terus berdetak.

Deg.

Deg.

Deg.

“Dia belum mati…” bisikku.

“Apa yang kamu bicarakan? Dasar pengemis! Menjauh sebelum kami menyeretmu keluar!” teriak Sofia, saudara tiri Alejandro.

Namun tubuhku bergerak sendiri.

Aku menoleh ke seluruh ruangan.

Para politikus.

Pebisnis.

Tokoh-tokoh dunia kriminal.

Semuanya menatapku.

Lalu aku berteriak sekuat tenaga.

**”DIA BELUM MATI! CEK NADINYA! DIA MASIH BERNAPAS!”**

“Perempuan ini sudah gila! Seret dia keluar!” perintah Roberto.

Dua pengawal bertubuh besar langsung mencengkeram lenganku.

Cengkeraman mereka begitu kuat hingga terasa seperti akan mematahkan tulangku.

Namun sebelum mereka sempat membawaku keluar…

Terdengar tarikan napas yang panjang.

Berat.

Parau.

Seperti seseorang yang baru muncul ke permukaan setelah tenggelam selama sepuluh menit.

Para pengawal langsung melepaskanku.

Seluruh ballroom membeku.

Beberapa tamu mundur hingga menabrak meja.

Sebagian berlutut karena ketakutan.

Yang lain refleks meraih pistol yang tersembunyi di balik jas mereka.

Perlahan…

Alejandro Monteverde duduk di dalam peti matinya sendiri.

Matanya yang gelap, tajam, dan dingin perlahan menyapu seluruh ruangan.

Ia tidak melihat pamannya.

Tidak melihat saudara tirinya.

Tatapannya langsung berhenti padaku.

“Siapa… kamu?” tanyanya dengan suara serak, namun penuh wibawa hingga seluruh mansion menjadi sunyi.

“E-Emilia…” jawabku dengan tubuh gemetar.

“Saya hanya pelayan… saya melihat Anda masih bernapas…”

Alejandro turun dari peti mati tanpa terlihat lemah sedikit pun.

Tangan kanannya, Marco, segera menyampirkan mantel ke bahunya.

Namun pandangannya tetap tertuju kepadaku.

Ia melangkah mendekat.

Setiap langkahnya terdengar seperti vonis kematian.

Sesampainya di depanku, ia menggenggam pergelangan tanganku.

Kuat.

Hangat.

Aku bisa merasakan setiap denyut nadinya.

“Ada seseorang yang mencoba menguburku hidup-hidup,” katanya dingin, cukup keras untuk didengar semua orang.

“Dan orang yang melakukannya…

Ada di ruangan ini sekarang.”

Ia menoleh kepada Marco.

“Tutup seluruh mansion.”

“Tak seorang pun boleh keluar.”

“Tak seorang pun boleh menghubungi siapa pun di luar.”

“Lalu perempuan ini…” katanya sambil menatapku dari ujung kepala hingga kaki, “…akan tetap berada di sisiku.”

“T-tapi, Tuan… saya harus pulang… adik saya—” pintaku sambil menahan tangis.

Alejandro mendekatkan wajahnya ke telingaku.

Aroma parfum mahal bercampur dengan bau formalin dan kematian memenuhi napasku.

“Kalau yang kamu katakan benar, berarti kamu telah menyelamatkan hidupku,” bisiknya, membuat bulu kudukku berdiri.

“Tapi kalau ternyata kamu bagian dari mereka…

Aku akan memastikan kamulah orang berikutnya yang berbaring di dalam peti mati itu.”

**KLANG!**

Pintu baja raksasa mansion itu tertutup rapat.

Dan malam itu…

Aku tahu…

Mungkin aku tidak akan pernah bisa keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup.

BAGIAN 2

Suara dentang pintu baja yang menutup seolah menjadi lonceng kematian bagi kebebasanku. Seluruh ballroom yang tadinya megah kini berubah menjadi ruang interogasi yang mencekam.

Para tamu kehormatan—yang beberapa menit lalu berpura-pura menangis—kini berdiri tegang dengan wajah pucat pasi. Alejandro Monteverde tidak membuang waktu. Ia duduk di kursi kebesarannya di ujung ruangan, sementara aku dipaksa berdiri tepat di sampingnya, menjadi saksi dari pembersihan darah yang mendebarkan.

“Siapa dokter yang menyatakan aku mati?” tanya Alejandro, suaranya terdengar seperti bisikan iblis yang mematikan.

Seorang pria paruh baya bertubuh tambun maju dengan lutut gemetar. “T-Tuan Alejandro… ini kesalahan medis… diagnosis awal menunjukkan serangan—”

BANG!

Satu tembakan dari pistol Marco langsung menyudahi kalimat sang dokter sebelum ia sempat menyentuh lantai. Pekikan histeris terdengar dari para wanita di ruangan itu, namun Alejandro bahkan tidak mengedipkan mata. Tatapannya beralih kepada paman dan saudara tirinya yang mulai berkeringat dingin.

“Paman Roberto. Sofia,” panggil Alejandro lembut, namun kejam. “Kalian tampak… kecewa melihatku bangun?”

“Alejandro, demi Tuhan, kami tidak tahu apa-apa!” ratap Sofia, berlutut di atas lantai yang kini ternoda darah. “Perempuan pelayan itu pasti berbohong! Dia bersekongkol dengan musuhmu untuk membuat kekacauan!”

Mendengar namaku disebut, jantungku berdegup kencang. Aku menatap Alejandro, takut ia akan memercayai hasutan itu. Namun, pria itu justru menatap tangan kaku yang tadi kugunakan untuk memeriksa nadinya.

“Perempuan ini,” kata Alejandro sambil menarik lenganku egois, membawaku selangkah lebih dekat ke kursinya, “tidak memiliki motif untuk menyelamatkannya jika dia adalah musuh. Musuhku akan membiarkan tanah menguburku malam ini.”

Alejandro berdiri, auranya yang dominan mengintimidasi seluruh ruangan. “Marco, bawa Roberto dan Sofia ke ruang bawah tanah. Interogasi mereka sampai aku mendapatkan nama racun yang mereka masukkan ke dalam minumanku.”

“Siap, Tuan,” jawab Marco dingin, langsung menyeret kedua anggota keluarga yang berteriak histeris itu keluar dari ballroom.

Setelah ruangan dibersihkan dari para pengkhianat, Alejandro berbalik menatapku. Tatapan matanya yang tadi sekeras es, perlahan meneliti wajahku yang dipenuhi ketakutan.

“Kamu bergetar, Emilia,” ujarnya, ibu jarinya yang kasar tiba-tiba menyentuh daguku, memaksaku mendongak menatap mata elangnya.

“S-Saya takut, Tuan… Saya hanya ingin pulang. Adik saya butuh obatnya,” bisikku dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya.

Alejandro terdiam sesaat, seolah sedang menilai ketulusan di mataku. Perlahan, ia melepaskan cengkeramannya.

“Mulai malam ini, adikmu akan mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit swasta paling mahal di Jakarta. Semua biayanya ditanggung atas namaku,” kata Alejandro tegas.

Aku tertegun. “Terima kasih, Tuan… tapi apa imbalannya?”

Alejandro menyunggingkan senyum tipis yang misterius, sebuah senyuman yang menandakan bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi.

“Imbalannya adalah hidupmu, Emilia. Kamu telah menggagalkan rencana pembunuhan terbesar abad ini. Di luar sana, musuh-musuhku akan memburumu karena kamu telah mengembalikan sang monster ke atas takhtanya.” Ia melangkah mendekat, berbisik tepat di telingaku dengan nada yang tak terbantahkan. “Kamu tidak bisa pulang. Mulai detik ini, tempat amanmu satu-satunya di dunia ini adalah berada di sampingku.”

Malam itu, di balik dinding mansion Puncak yang tertutup rapat, aku menyadari satu hal. Aku memang selamat dari kematian malam ini, tetapi aku baru saja menyerahkan seluruh jiwaku pada pria yang paling berbahaya di negeri ini. Dan entah bagaimana, aku tidak lagi merasa takut.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.