DIA DIUSIR OLEH ANAKNYA SA TENGAH HUJAN SAMBIL MEMELUK SEKANTONG BERAS… NAMUN DI DALAMNYA ADA SEBUAH SURAT: “MAAFKAN AKU, IBU… AKU MENCINTAIMU DALAM DIAM”
Part 1
Di usia tujuh puluh tahun, Ibu Rosa Santoso hampir diusir dari rumah anaknya sendiri, hanya membawa sekantong beras di pelukan, sementara hujan mengalir di wajahnya—seolah langit pun ingin menyembunyikan rasa malunya.
Malam telah turun di sebuah desa kecil bernama Desa Sumber Jaya, tempat dengan rumah-rumah sederhana, anjing-anjing tidur di depan pintu, dan asap kayu yang perlahan naik dari dapur belakang. Rosa berjalan pelan, bertumpu pada tongkatnya. Sebuah selendang tua melilit bahunya, dan tas usang tergantung di lengannya. Di dalamnya—kertas kusut, KTP yang sudah kedaluwarsa, dan beberapa koin yang bahkan tak cukup untuk membeli sepotong roti.
Ia sudah tua. Lututnya bengkak. Hampir dua hari perutnya kosong.
Namun hari itu, ia mengumpulkan sisa harga dirinya untuk melakukan hal yang paling tak ingin ia lakukan—mengunjungi anaknya, Rian Santoso.
Rian bukan lagi anak kecil yang dulu berlari tanpa alas kaki di sawah, atau pemuda yang membantu mengangkat karung di pasar. Kini ia pemilik toko bangunan di kota; punya mobil pickup mengilap, rumah dua lantai dengan pagar hitam, dan seorang istri yang tak pernah menyembunyikan rasa tidak nyamannya saat mendengar kata “keluarga dari kampung.”
Sepanjang perjalanan, Rosa terus meyakinkan dirinya—ia tidak akan mengemis. Hanya ingin meminjam sedikit uang untuk membeli beras, minyak, dan lauk sederhana. Ia akan mengembalikannya suatu hari nanti… bahkan jika harus menjual mesin jahit tua yang menjadi satu-satunya kenangan masa lalu.

Saat tiba di depan rumah itu, ia mendongak ke pagar tinggi dan napasnya tertahan. Dengan tangan gemetar, ia menekan bel.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Maya, istri Rian, berdiri dengan rambut rapi dan tatapan dingin.
“Ada perlu apa, Bu?” tanyanya datar.
Rosa memaksakan senyum meski bibirnya bergetar.
“Saya… ingin bertemu Rian, Nak. Ada sedikit yang ingin saya minta bantuannya.”
Maya menatapnya dari ujung kepala hingga kaki—sepatu lusuh, tongkat, ujung selendang yang basah. Lalu ia menoleh ke dalam.
“Rian! Ibumu datang lagi!”
Rian keluar sambil memegang ponsel. Kemejanya rapi, jam tangannya mahal—seolah waktunya lebih berharga daripada wanita yang melahirkannya. Saat melihat ibunya, ia sedikit mengernyit—bukan marah, tapi malu.
“Ada apa sih, Bu? Aku lagi sibuk.”
Rosa menelan ludah. Semua kata yang ia latih sepanjang jalan… lenyap begitu saja.
“Anak… di rumah sudah tidak ada apa-apa. Bisa pinjam sedikit uang? Untuk makan saja. Nanti Ibu ganti…”
Rian menghela napas, lalu melirik Maya yang berdiri dengan tangan bersedekap.
“Aku lagi nggak pegang uang tunai, Bu. Semua masuk ke usaha.”
Rosa menunduk. Perutnya perih karena lapar.
“Sedikit saja, Nak… sudah beberapa hari Ibu belum makan…”
Maya mendengus pelan.
“Rian, bilang saja—kita bukan bank.”
Kata-kata itu seperti tamparan. Rosa tak menjawab. Ia hanya menggenggam tongkatnya lebih erat agar tangannya tak terlihat gemetar.
Akhirnya, Rian berbalik ke dapur dan kembali dengan sekantong kecil beras.
“Ini saja, Bu. Aku nggak punya uang sekarang, tapi ini cukup buat beberapa hari. Nanti kalau sempat, aku kirim lagi.”
Maya membuka pagar sedikit dan, dengan senyum dingin, mendorong Rosa perlahan keluar.
“Silakan pulang, Bu. Sebelum hujannya makin deras.”
Rosa memeluk kantong beras itu erat—seolah lebih berat dari segalanya. Ia ingin menangis, tapi tak ingin memberi mereka kepuasan itu. Ia menunduk, berbisik “terima kasih” yang tak dibalas, lalu berjalan pulang.
Di belakangnya, pagar besi tertutup keras—suara yang lebih menyakitkan dari kata-kata apa pun.
Dalam perjalanan pulang, gerimis berubah menjadi hujan deras. Lumpur menempel di kakinya. Ia mulai pusing karena lapar.
Namun dalam hatinya… ia masih membela anaknya.
Mungkin Rian sedang kesulitan.
Mungkin memang begini kalau sudah punya keluarga.
Setidaknya… aku tidak diusir tanpa apa-apa.
Ia terus mengulang kebohongan itu—seperti seorang ibu yang lebih memilih terluka daripada menerima bahwa cinta kadang datang bersama kelemahan.
Saat tiba di gubuk kecilnya, ia meletakkan tongkat di samping pintu, menaruh beras di atas meja, lalu menyalakan lampu tua. Ruangan itu berbau lembap dan sepi.
Ia mendekat, berniat langsung memasak.
Namun saat membuka kantong beras… ia merasakan sesuatu yang keras di dalamnya.
Ia memasukkan tangan, lalu menarik keluar sebuah amplop.
Ia terdiam.
Kertasnya sedikit basah di luar, tapi tersegel rapat.
Jantungnya berdegup kencang saat perlahan ia membukanya—
Dan saat melihat isinya…
Matanya membesar.
Air mata yang sejak tadi ditahan Rosa akhirnya tumpah, namun kali ini bukan karena rasa sakit. Di dalam amplop itu, terselip tumpukan uang pecahan seratus ribu yang sangat tebal—jumlah yang jauh lebih banyak daripada sekadar untuk membeli makan. Di balik uang itu, terdapat selembar kertas dengan tulisan tangan yang terburu-buru dan berantakan, seolah ditulis dalam keadaan tertekan.
Rosa mendekatkan kertas itu ke lampu minyaknya yang temaram, membaca baris demi baris dengan tangan yang berguncang hebat:
“Ibu… maafkan aku. Maafkan ketidakberdayaanku.”
“Aku tahu Ibu sakit hati melihat sikapku dan Maya tadi. Aku tahu Ibu merasa aku telah menjadi anak yang durhaka. Tapi tolong, dengarkan aku sekali ini saja. Maya mengontrol semua keuangan dan akses komunikasiku. Dia mengancam akan pergi dan membawa anak-anak jika aku terus terang membantumu. Setiap rupiah yang kukirimkan dulu selalu menjadi pertengkaran hebat.”
“Tadi, saat aku pura-pura mengambil beras ke dapur, aku memasukkan tabungan rahasiaku yang kukumpulkan sedikit demi sedikit selama setahun ini ke dalam kantong ini. Aku harus berpura-pura kasar dan mengusir Ibu agar dia tidak curiga kalau aku memberimu sesuatu yang berharga.”
“Ibu, aku mencintaimu dalam diam. Aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Di dalam amplop ini juga ada sebuah kunci. Itu kunci rumah kecil yang sudah kubeli atas namamu di pinggir kota, dekat dengan rumah sakit agar Ibu mudah berobat. Besok pagi, jam 8, akan ada taksi yang menjemput Ibu. Sopirnya adalah orang kepercayaanku. Dia akan membawamu ke sana.”
“Jangan kembali ke rumah ini lagi, Bu. Aku tidak ingin Ibu melihat wajahku yang penuh malu ini sampai aku bisa menyelesaikan masalah di rumah tanggaku. Makanlah yang enak, beli obatmu, dan hiduplah dengan tenang.”
“Maafkan anakmu yang pengecut ini, Bu. Aku selalu mendoakanmu di setiap sujudku tanpa berani mengatakannya di depanmu.”
Rosa terduduk lemas di kursi kayu tuanya. Ia memeluk surat itu dan sekantong beras tersebut erat-erat ke dadanya. Rasa lapar yang tadinya menyiksa mendadak hilang, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia memandang ke luar jendela, ke arah kegelapan malam dan sisa-sisa hujan yang masih turun. Ternyata, doa-doanya selama ini tidak sia-sia. Putranya tidak hilang; Rian hanya sedang terjebak dalam badainya sendiri.
Di gubuk kecil yang sepi itu, Rosa menangis sesenggukan. Bukan karena diusir, tapi karena menyadari bahwa di balik pagar besi yang dingin dan kata-kata tajam tadi, masih ada seorang anak kecil yang dulu berlari tanpa alas kaki di sawah, yang tetap menjaga ibunya dengan caranya yang paling menyakitkan namun penuh pengorbanan.
Esok pagi, saat matahari terbit di Desa Sumber Jaya, Rosa tidak akan lagi menjadi wanita tua yang kelaparan. Ia akan melangkah menuju hidup baru, membawa rahasia cinta anaknya yang tersimpan rapat di dalam sekantong beras.