DIAM-DIAM AKU MENIKAH DENGAN DOKTER PALING DINGIN DI RUMAH SAKIT
Saat melihatnya memeluk seorang wanita di ruang VIP, barulah aku menyadari bahwa pernikahan yang kujalani ternyata bukanlah pernikahan biasa.
Dan apa yang dikatakannya tentang “rahasia masa lalu” benar-benar mengguncang duniaku…
“Dokter Gabriel… benarkah dia belum pernah menyukai siapa pun?”
Tawa kecil terdengar dari meja perawat di ujung koridor.
“Aku sudah tiga tahun bekerja di sini, belum pernah melihat dia menerima bunga dari perempuan mana pun.”
“Tapi aku melihat dia memakai cincin beberapa hari lalu!”
“Cincin?”
“Iya! Waktu dia mencuci tangan di ruang sterilisasi, bekas cincin di jari manisnya terlihat jelas.”
“Aku tidak percaya. Pria seperti Dokter Gabriel… sudah menikah?”
“Jadi penasaran. Siapa ya istrinya?”
Aku berhenti di depan ruang arsip.
Tanpa sadar, aku menggenggam map di tanganku begitu erat.
Punggungku perlahan terasa dingin.
Karena di jari manisku sendiri…
ada bekas cincin yang sama.
Sudah empat bulan aku menikah dengan Gabriel Villanueva.
Selain kedua keluarga kami dan petugas catatan sipil, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
“Amara?”
Aku terkejut lalu menoleh.
Profesor Reyes berjalan ke arahku bersama seorang pria tinggi mengenakan jas dokter putih.
Gabriel.
Ia memakai kacamata berbingkai perak, dan seperti biasa, ekspresinya dingin serta sulit dibaca. Cahaya rumah sakit jatuh di bulu matanya yang panjang, membuatnya terlihat semakin jauh dan tak tersentuh.
Pria itu adalah suamiku.
Namun terkadang, bahkan aku sendiri sulit mempercayainya.
Profesor Reyes tersenyum.
“Beruntung sekali. Kalian berdua sama-sama di bagian bedah saraf. Kalau ada masalah penelitian, kamu bisa bertanya pada Dokter Gabriel. Dia yang terbaik di sini.”
Aku sedikit menunduk.
“Halo, Dokter Gabriel.”
Ia hanya melirikku sekilas.
“Hm.”
Nada suaranya datar seperti kepada orang asing.
Kalau semalam kami tidak makan malam bersama di apartemen kecil kami, tak seorang pun akan percaya bahwa kami adalah pasangan suami istri.
Tak lama kemudian, Profesor Reyes dipanggil untuk rapat darurat.
Koridor mendadak menjadi sepi.
Aku hendak pergi ketika seseorang memanggil dari belakang.
“Amara!”
Seorang pria berlari menghampiri.
Marco.
Senior saat aku masih kuliah kedokteran.
Ia tersenyum sambil mengangkat segelas kopi dingin.
“Kamu jaga malam, kan? Aku kebetulan lewat, jadi kubelikan juga untukmu.”
Aku belum sempat menjawab ketika sebuah tangan dingin tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku.
Aku terkejut.
Gabriel berdiri tepat di sampingku.
Begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum mint yang samar.
“Dokter Amara.”
Nada suaranya formal dan dingin.
“Ada bagian laporanmu yang perlu direvisi. Ikut ke ruanganku.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung menarikku pergi.
Marco terpaku di belakang kami.
Masih memegang kopinya di udara.
Begitu pintu lift tertutup, keheningan terasa menekan.
Aku melirik tangannya yang masih menggenggamku.
“Kamu bisa melepaskanku sekarang.”
Beberapa detik berlalu sebelum ia perlahan melepaskan tangan itu.
Namun wajahnya tetap dingin.
“Ada masalah apa denganmu?” tanyaku sambil tertawa kecil. “Bukankah kita sudah sepakat bahwa pernikahan ini hanya untuk kenyamanan?”
Tatapannya sempat terhenti.
Sangat singkat.
Tetapi aku tetap melihatnya.
Empat bulan lalu, semuanya bermula dari makan malam yang diatur keluarga kami.
Ibuku berkata,
“Kamu sudah cukup umur untuk menikah.”
Ibunya berkata,
“Anakku hanya tahu rumah sakit dan pekerjaan.”
Lalu kami dipertemukan.
Sepanjang makan malam, Gabriel hampir tidak berbicara.
Hingga saat kami hendak pulang.
Tiba-tiba ia bertanya,
“Apa ada orang lain yang kamu sukai?”
Aku menggeleng.
Ia menatapku beberapa saat sebelum berkata,
“Menikahlah denganku.”
Aku langsung terdiam.
“…Begitukah caramu melamar?”
“Lebih efisien.”
Jawabannya sangat serius.
Belakangan aku tahu bahwa keluarganya terus memaksanya mengikuti kencan buta.
Sedangkan aku…
baru saja keluar dari hubungan enam tahun.
Aku terlalu lelah untuk memulai lagi.
Maka dua orang asing pun menikah.
Tanpa cinta.
Tanpa romansa.
Hanya karena situasinya cocok.
Pada hari pernikahan sipil kami, ia mengatakan sesuatu.
“Kita rahasiakan.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka keributan.”
Aku langsung setuju.
Karena memang tidak ada yang normal dari pernikahan kami.
Namun saat tinggal serumah dengannya, aku mulai menyadari bahwa Gabriel tidak sama seperti penampilannya yang dingin.
Hari pertama aku pindah ke apartemennya, kulkas sudah penuh dengan makanan favoritku.
“Apa kamu menguntitku?” candaku.
Ia bahkan tidak mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang dibacanya.
“Ibumu yang memberi tahu.”
Tetapi malam itu, saat aku melakukan panggilan video dengan ibuku…
ternyata ibuku sama sekali tidak tahu makanan favoritku.
Minggu kedua, aku demam karena terlalu banyak jaga malam.
Saat bangun, aku sudah berada di tempat tidur.
Gabriel duduk di sampingku mengenakan polo hitam sambil bekerja di laptop.
“Kamu yang membawaku pulang?”
“Hm.”
“Kukira aku tertidur di ruang jaga.”
“Mulai sekarang, kamu tidak boleh tidur di sana lagi.”
Nada suaranya tetap dingin.
Tetapi jemarinya menggenggam mouse begitu erat.
Minggu ketiga, aku hanya sekali mengeluh bahwa perutku sakit.
Keesokan paginya, semangkuk bubur hangat sudah tersedia di meja makan.
Di sampingnya ada secarik catatan kecil.
【Habiskan.】
Tulisan tangannya sedingin biasanya.
Saat itu aku berpikir…
mungkin dia memang suami yang baik.
Sampai malam itu.
Aku pulang sangat larut setelah menyelesaikan tugas jaga.
Ketika melewati koridor VIP rumah sakit, aku melihat sosok yang sangat familiar.
Gabriel.
Ia berdiri di depan sebuah kamar privat.
Dan di dalam kamar itu…
ada seorang wanita cantik mengenakan gaun pasien.
Wajahnya pucat sambil menangis dan memeluk pinggang Gabriel dengan erat.
Dan Gabriel…
tidak menjauh.
Aku membeku di tempat.
Kemudian wanita itu bertanya dengan suara gemetar,
“Benarkah kamu sudah menikah?”
Udara terasa begitu berat.
Beberapa detik berlalu.
Lalu aku mendengar jawaban Gabriel.
“Iya.”
Seolah ada sesuatu yang jatuh menghantam dadaku.
Tetapi kalimat berikutnya dari wanita itu membuat seluruh tubuhku menjadi dingin.
“Kalau dia tahu apa yang terjadi dulu… menurutmu dia masih akan tetap berada di sisimu?”
Aku mencengkeram map di tanganku semakin kuat.

Di dalam ruangan itu…
Gabriel perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapannya langsung menuju kaca pintu.
Tepat ke arahku.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…
aku melihat kepanikan di matanya.
Pintu kamar VIP itu perlahan terbuka. Gabriel melangkah keluar dengan tergesa-gesa, meninggalkan wanita yang masih terisak di dalam sana. Langkah kakinya yang biasanya tenang dan berirama kini terdengar kacau.
Aku tidak berlari. Aku tetap berdiri di koridor yang sepi itu, menatapnya yang kini berada tepat di hadapanku. Kacamata berbingkai peraknya sedikit turun, dan napasnya memburu. Pria dingin yang dikagumi seluruh rumah sakit ini tampak seolah dunianya baru saja runtuh.
Retakan dalam Sandiwara
“Amara,” suaranya serak, tidak ada lagi nada formal atau datar yang biasa ia gunakan. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tersenyum getir, melirik ke dalam kamar melalui celah pintu yang terbuka sedikit. “Lalu seperti apa, Gabriel? Siapa wanita itu? Dan apa maksudnya dengan ‘apa yang terjadi dulu’?”
Gabriel hendak meraih tanganku, namun aku melangkah mundur. Penolakanku membuat matanya meredup, memancarkan rasa sakit yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kita bicarakan ini di rumah,” bisiknya memohon. “Tolong.”
Malam itu, perjalanan pulang ke apartemen terasa seperti siksaan tanpa akhir. Tidak ada yang bersuara. Begitu pintu apartemen tertutup, aku langsung berbalik menghadapnya di ruang tengah. Aku meletakkan map kerjaku di atas meja, siap untuk mendengar kebenaran—sepahit apa pun itu.
“Siapa dia?” tanyaku langsung.
Gabriel melepaskan kacamatanya, memijat pangkal hidungnya dengan lelah. “Namanya Elena. Dia… dia adalah adik dari mendiang sahabatku, sekaligus pasien yang baru saja didiagnosis mengidap tumor otak stadium lanjut.”
Aku terdiam, menunggu kelanjutannya. “Lalu, apa hubungan masa lalu kalian yang bisa membuatku pergi?”
Rahasia yang Terbongkar
Gabriel menarik napas panjang. Ia berjalan mendekat, lalu perlahan berlutut di hadapanku yang sedang duduk di sofa. Tindakan itu membuatku terkesiap. Dokter paling angkuh dan dingin di rumah sakit ini, kini berlutut di depanku.
“Amara, kamu ingat kecelakaan beruntun delapan tahun lalu yang menewaskan tunanganmu?” tanya Gabriel, suaranya bergetar.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Enam tahun hubungan yang kukatakan telah usai sebelum menikah dengannya… sebenarnya berakhir karena kematian. Tunanganku meninggal dalam kecelakaan tragis saat aku masih menjadi mahasiswa kedokteran tingkat pertama.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyaku, suaraku mulai bergetar.
“Karena akulah dokter magang yang bertugas di IGD malam itu,” jawab Gabriel, setitik air mata jatuh dari matanya.
“Malam itu, ambulans membawa dua pasien kritis. Tunanganmu, dan kakak Elena. Persediaan darah negatif sangat langka, dan fasilitas ruang operasi hanya siap untuk satu tindakan darurat saat itu. Aku… aku yang membuat keputusan medis malam itu. Aku mendahulukan kakak Elena karena peluang hidupnya secara klinis lebih tinggi.”
Aku membeku. Seluruh tubuhku gemetar hebat.
“Tapi takdir berkata lain,” lanjut Gabriel dengan suara tercekat. “Kakak Elena tetap tidak tertolong di meja operasi, dan tunanganmu… meninggal dalam perjalanan saat dipindahkan ke rumah sakit lain. Selama delapan tahun ini, aku hidup dalam rasa bersalah. Aku merasa telah membunuh dua orang malam itu. Termasuk pria yang kamu cintai.”
Alasan di Balik Pernikahan
Pikiranku berputar hebat. Air mata yang selama bertahun-tahun ini kutahan akhirnya tumpah. “Jadi… pernikahan ini? Kamu menikahiku hanya karena belas kasihan? Karena rasa bersalah?!”
“Tidak! Demi Tuhan, tidak, Amara!” Gabriel menggenggam kedua tanganku dengan erat, menolak untuk dilepaskan.
“Aku mengenalimu sejak hari pertama kamu masuk sebagai dokter residen di bagianku. Aku melihat bagaimana kamu belajar tanpa lelah, bagaimana kamu menyembunyikan kesedihanmu di balik senyuman. Aku jatuh cinta padamu, Amara. Jauh sebelum makan malam keluarga itu diatur.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Keluargaku tidak pernah menjodohkan kita. Akulah yang memohon pada ibuku untuk mendekati ibumu setelah aku tahu kamu juga dipaksa mencari pasangan,” aku Gabriel jujur.
“Makanan favoritmu di kulkas, bubur saat kamu sakit, catatan-catatan kecil itu… itu bukan karena ibumu yang memberi tahu. Aku memperhatikanmu selama bertahun-tahun. Aku merahasiakan pernikahan ini bukan karena aku malu, tapi karena aku takut kamu akan menyelidiki masa laluku dan membenciku jika tahu akulah dokter yang gagal menyelamatkan tunanganmu.”
Di dalam kamar VIP tadi, Elena yang frustrasi karena penyakitnya dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada Gabriel, mencoba mengancam akan membongkar rahasia ini agar Gabriel meninggalkanku.
Penerimaan dan Lembaran Baru
Aku menarik tanganku dari genggamannya, menghapus air mata yang membasahi pipiku. Ruangan itu kembali hening untuk beberapa saat. Gabriel menunduk, siap menerima keputusan terburuk jika aku memilih untuk pergi.
Namun, sebagai sesama dokter bedah saraf, aku tahu persis rasanya berada di posisi sulit itu. Keputusan di IGD adalah tentang probabilitas medis, bukan pembunuhan. Tunanganku pergi karena takdir, bukan karena kelalaian Gabriel.
Aku mengulurkan tangan, perlahan menyentuh rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Gabriel tersentak dan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
“Itu sudah masa lalu, Gabriel,” kataku dengan suara yang mulai tenang. “Sebagai dokter, kamu tahu kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. Kamu tidak membunuhnya.”
Gabriel menatapku dengan binar harapan yang rapuh. “Kamu… tidak membenciku?”
“Aku terkejut, dan aku butuh waktu untuk memproses semuanya,” jawabku sambil tersenyum tipis. “Tapi pria dingin yang kukenal empat bulan ini adalah suami yang tulus. Kamu tidak menikahiku karena rasa bersalah, kamu merawatku karena kamu mencintaiku. Aku bisa merasakan itu.”
Gabriel berdiri, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang kali ini terasa begitu hangat, erat, dan penuh kelegaan. Rahasia besar yang selama ini menjadi dinding es di antara kami akhirnya mencair.
Keesokan harinya, saat kami berjalan di koridor rumah sakit, Gabriel tidak lagi berjalan di depanku seperti atasan dan bawahan. Ia berjalan di sampingku, dan untuk pertama kalinya, ia menyelipkan jemarinya di antara jemariku, memperlihatkan bekas cincin pernikahan kami kepada dunia tanpa ada lagi yang perlu disembunyikan.