SETELAH DIAM-DIAM MENGHABISKAN UANG TABUNGANKU SELAMA BERTAHUN-TAHUN HANYA UNTUK MENGAJAK ADIK PEREMPUANKU BERLIBUR MEWAH, IBUKU BAHKAN BERANI MENGANCAM AKAN MENGUSIRKU DARI RUMAH…
TAPI SAAT MEREKA PULANG MEMBAWA KOPER-KOPER MAHAL, APA YANG MENUNGGU DI DEPAN RUMAH BENAR-BENAR MENGGUNCANG DUNIA MEREKA.
—
Pukul tujuh pagi.
Marco Reyes baru saja mengenakan seragam kerjanya ketika ia membuka aplikasi perbankan untuk membayar semester terakhir kuliahnya.
Namun ia langsung membeku.
Saldo rekeningnya hanya tersisa Rp3,8 juta.
Hampir saja cangkir kopi di tangannya terjatuh.
Padahal malam sebelumnya, rekening itu masih berisi lebih dari Rp620 juta—uang hasil kerja keras selama lima tahun sebagai teknisi pendingin ruangan, lembur hingga tengah malam, bahkan menerima pekerjaan tambahan di gang-gang sempit demi menabung dan membangun masa depannya sendiri.
Detak jantungnya langsung berpacu.
Ia segera membuka riwayat transaksi.
Penarikan dana beruntun.
Resor mewah.
Tiket kelas bisnis.
Paket tur pulau.
Tas desainer.
Reservasi hotel.
Totalnya: lebih dari Rp620 juta.
Hanya ada satu orang yang masih memiliki akses ke rekening gabungan lama itu.
Ibunya.
Elena Reyes.
Marco terdiam.
Lalu segera menelepon bank untuk membekukan rekening tersebut.
Baru sepuluh menit berlalu, ponselnya sudah berdering tanpa henti.
“IBU” tertulis di layar.
Ia tidak mengangkatnya.
Tak lama kemudian, adiknya, Camille, mengirim pesan.
Kak, sebenarnya kamu sedang apa? Mama marah besar.
Baru pada panggilan keenam Marco menjawab.
Begitu sambungan tersambung, suara Elena langsung meledak.
“BUKA REKENING ITU SEKARANG JUGA!”
Marco berdiri di area parkir lokasi proyek konstruksi sementara angin panas berembus di sekelilingnya.
“Di mana uangku?” tanyanya dingin.
“Seolah-olah aku mencurinya saja!” teriak Elena. “Aku cuma meminjamnya!”
“Meminjam? Enam ratus juta lebih untuk liburan?”
“Camille stres berat beberapa bulan terakhir! Dia butuh istirahat!”
Marco tertawa dingin.
“Dia berhenti kuliah hampir setahun yang lalu.”
Seketika suasana di seberang telepon menjadi sunyi.
Beberapa detik kemudian, suara Elena berubah tajam dan dingin.
“Kalau kamu tidak membuka rekening itu lagi, aku akan mengusirmu dari rumah!”
Marco menggenggam ponselnya semakin erat.
“…Rumah yang mana?”
“Rumah kita ini! Jangan lupa, aku ibumu!”
Marco menatap rumah tua di hadapannya.
Rumah peninggalan almarhum ayahnya.
Rumah yang secara hukum telah menjadi miliknya sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu.
Namun selama bertahun-tahun, ibunya selalu berkata:
“Kita keluarga. Mau atas nama siapa pun, tetap saja milik bersama.”
Dulu ia tidak pernah membalas.
Tetapi sekarang…
Ada sesuatu dalam dirinya yang benar-benar mati.
Ia memutuskan sambungan telepon.
Dan tidak berkata apa-apa lagi.
—
Tiga hari setelah itu.
Elena dan Camille masih sibuk menikmati liburan mewah mereka, terus mengunggah foto di media sosial.
Makan malam mahal.
Yacht.
Wine tasting.
Tas-tas bermerek terbaru.
Sementara itu, Marco bergerak diam-diam.
Ia bertemu pengacara.
Mengurus seluruh dokumen hukum.
Berkonsultasi dengan agen properti.
Menyewa tim renovasi.
Dan yang terpenting…
Menghubungi seseorang yang tidak pernah dibayangkan ibunya akan ia datangi.
—
Sepuluh hari kemudian.
Mobil Elena dan Camille berhenti di depan rumah sekitar pukul sebelas malam.
Sambil menarik koper mahalnya, Camille masih mengeluh.
“Aku capek banget…”
Namun tiba-tiba ia berhenti.
Keduanya langsung pucat.
Rumah itu terang benderang.
Tetapi semua jendela di lantai bawah terbuka.
Lampu-lampu besar menyala di dalam.
Dan di tengah halaman…
Berdiri sebuah papan besar.
RUMAH INI DIJUAL.
Tangan Camille mulai gemetar.
“M-Mama… apa ini?”
Elena berlari menuju pintu.
Namun sidik jarinya sudah tidak bisa digunakan.
“BUKA PINTUNYA!” teriaknya sambil menggedor keras.
Dan tepat pada saat itu…
Pintu perlahan terbuka.
Marco keluar.
Mengenakan polo hitam.
Memegang sebuah map tebal.
Di belakangnya berdiri seorang pria berjas.
Mata Elena membelalak.
“Kamu sudah gila?!”
Marco menatapnya cukup lama.
Tatapannya sangat dingin.
Kemudian ia menyerahkan map itu.
“Tandatangani ini.”
“Apa itu?”
“Pemberitahuan hukum.”
Wajah Camille langsung pucat.

“P-pemberitahuan apa?”
Pria berjas itu melangkah maju dan perlahan mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya.
Dan saat Elena membaca baris pertama di lembaran tersebut…
Koper di tangannya langsung jatuh ke tanah.
Di lembaran itu tertulis dengan jelas: GUGATAN TINDAK PIDANA PENGGELAPAN DANA DAN PERINTAH PENGOSONGAN RUMAH.
“Kamu… kamu menuntut ibumu sendiri?!” Suara Elena melengking, bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya. “Aku yang melahirkanmu, Marco! Rumah ini milik keluarga kita!”
“Rumah ini atas namaku, Bu. Secara hukum, ini propertiku,” jawab Marco, suaranya sedatar garis kematian. “Dan uang Rp620 juta yang Ibu habiskan adalah hasil keringatku, bukan uang bersama. Aku sudah mendaftarkan laporan pidana ke kepolisian atas dugaan pencurian dan penggelapan dalam keluarga.”
“Kak, kamu keterlaluan! Kita ini keluargamu!” Camille mulai menangis, memeluk tas desainer barunya yang tiba-tiba terasa seperti beban batu yang sangat berat. “Hanya karena uang, kamu tega memenjarakan Mama?”
“Hanya karena uang?” Marco menatap adiknya dengan muak. “Kamu tahu berapa kali aku melewatkan jam tidur demi uang itu? Kamu tahu rasanya hampir mati tersengat listrik saat memperbaiki AC di lantai dua puluh hanya agar bisa membayar kuliah? Kamu menghabiskan lima tahun hidupku hanya dalam sepuluh hari, Camille.”
Pria berjas di samping Marco, yang merupakan pengacara senior, berdeham. “Nyonya Elena, klien saya telah memindahkan seluruh hak milik rumah ini kepada pembeli baru yang sudah membayar lunas sore tadi. Dana dari penjualan rumah ini akan digunakan untuk mengganti kerugian rekening Marco yang Anda kuras.”
Elena menggelengkan kepala dengan liar. “Tidak mungkin! Siapa yang mau membeli rumah ini dalam waktu sesingkat itu? Kamu pasti menggertak!”
Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulut Elena, sebuah mobil sedan mewah hitam meluncur dan berhenti tepat di belakang taksi mereka. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria paruh baya berambut pangkas rapi dengan setelan mahal keluar dari mobil.
Begitu melihat wajah pria itu di bawah sorotan lampu teras, Elena langsung membeku. Wajahnya berubah seputih kain kafan.
“H-Haris…?” bisik Elena parau.
Pria itu adalah Haris Reyes, adik kandung dari almarhum ayah Marco—paman mereka yang kaya raya, namun telah diputus hubungannya oleh Elena sepuluh tahun lalu setelah Elena mencoba menipunya dalam pembagian warisan keluarga. Selama ini, Elena selalu mencuci otak Marco dan Camille agar membenci pamannya tersebut.
Namun, Marco tidak bodoh. Sebelum mengambil keputusan ini, ia menemui Paman Haris, menceritakan segalanya, dan membawa semua bukti transaksi perbankan. Haris yang memang sudah lama ingin menyelamatkan Marco dari jeratan ibunya yang parasit, langsung setuju untuk membeli rumah itu dengan harga di atas pasar.
“Lama tidak bertemu, Elena,” ujar Haris dengan nada dingin yang menusuk. “Terima kasih sudah menjaga rumah saudaraku dengan baik. Tapi mulai malam ini, rumah ini adalah milikku. Dan aku tidak mengizinkan pencuri tinggal di propertiku.”
“Paman… tolong kami…” Camille memohon, air matanya kini benar-benar tumpah karena ketakutan.
“Jangan panggil aku pamanmu. Di mana hati nurani kalian saat menghabiskan masa depan Marco di resor mewah?” Haris menatap koper-koper mahal yang berserakan di tanah. “Kalian punya waktu tiga puluh menit untuk membawa barang-barang pribadi kalian keluar dari sini. Jika tidak, pihak keamanan yang akan membuangnya ke jalanan.”
Elena menatap Marco, berharap menemukan sisa-sisa kepatuhan atau rasa kasihan dari anak laki-laki yang biasanya selalu mengalah dan diam itu. Namun, di mata Marco, Elena hanya melihat refleksi dari seorang asing.
“Marco… tolong, Nak… Mama minta maaf…” Elena berlutut di atas aspal, memegang kaki celana Marco. Sifatnya yang semula arogan runtuh total dalam sekejap.
Marco mundur satu langkah, membuat pegangan tangan ibunya terlepas.
“Ibu bilang, kalau aku tidak membuka rekening itu, Ibu akan mengusirku dari rumah,” kata Marco pelan, menatap ibunya untuk terakhir kali. “Aku tidak perlu membuka rekening itu lagi. Dan sekarang, justru kalian yang harus pergi.”
Marco berbalik, berjalan masuk ke dalam rumah bersama Paman Haris, lalu menutup pintu depan dengan rapat. Suara dentuman pintu yang tertutup itu terdengar seperti palu hakim yang mengetok vonis akhir bagi Elena dan Camille.
Di luar, di bawah rintik hujan malam yang mulai turun, Elena dan Camille terduduk lemas di antara koper-koper mahal mereka yang mendadak tidak ada harganya lagi. Mereka memiliki tas desainer dan pakaian bermerek, namun malam itu, mereka tidak memiliki tempat untuk berteduh, tidak memiliki uang sepeser pun di dompet, dan yang terpenting—mereka telah kehilangan satu-satunya orang yang tulus memedulikan mereka.