Posted in

DIAM-DIAM SATPAM TUA MENYELIPKAN SECARIK KERTAS BASAH KE TANGANKU: “SEBELUM JAM 8 PAGI BESOK, JANGAN SEKALI-KALI TURUN KE BASEMENT B2” — LALU PESAN TENGAH MALAM DARI PERUSAHAAN MEMBUAT SELURUH TUBUHKU MEMBEKU*

*DIAM-DIAM SATPAM TUA MENYELIPKAN SECARIK KERTAS BASAH KE TANGANKU: “SEBELUM JAM 8 PAGI BESOK, JANGAN SEKALI-KALI TURUN KE BASEMENT B2” — LALU PESAN TENGAH MALAM DARI PERUSAHAAN MEMBUAT SELURUH TUBUHKU MEMBEKU**

Malam itu hujan turun tanpa henti.

Aku tetap berada di kantor untuk lembur, dan baru keluar hampir pukul dua dini hari.

Di depan gerbang, aku melihat satpam tua berteduh di bawah atap kecil. Pakaiannya basah kuyup, tubuhnya yang kurus menggigil kedinginan.

Aku tak tega meninggalkannya dalam keadaan seperti itu, jadi aku menawarkan untuk mengantarnya pulang.

Namun sebelum turun dari mobil, tiba-tiba ia menyelipkan secarik kertas yang hampir hancur karena air hujan ke telapak tanganku.

Di atasnya tertulis dengan tulisan yang gemetar dan miring:

**”Sebelum jam 8 pagi besok, jangan sekali-kali turun ke Basement B2.”**

Saat itu aku hanya mengira ia sedang mabuk dan mengigau.

Baru keesokan harinya aku menyadari bahwa ternyata ia telah menyelamatkan nyawaku, ketika grup chat perusahaan mendadak kacau.

## 01

Hujan menghantam kaca depan mobil bagaikan tirai putih.

Wiper terus bergerak tanpa henti, tetapi jalan di depan tetap terlihat buram, seolah tertutup kabut tebal.

Pukul 01.40 dini hari ketika aku meninggalkan kantor.

Hampir semua lampu gedung di belakangku telah padam. Di tengah kegelapan, hanya satu jendela kecil di lantai tiga yang masih menyala.

Itulah lampu yang baru saja kumatikan beberapa menit sebelumnya.

Di depan pos keamanan, ada seseorang yang berdiri diam tanpa bergerak.

Itu adalah satpam tua.

Usianya hampir enam puluh tahun dan ia jarang berbicara. Setiap kali bertemu karyawan, ia hanya mengangguk pelan sebelum kembali bekerja.

Malam itu ia tidak membawa payung.

Air hujan terus mengalir dari pinggir topinya hingga membasahi wajahnya yang dipenuhi keriput. Celananya menempel di kakinya yang kurus, sementara seluruh tubuhnya sesekali bergetar karena dingin.

Aku menghentikan mobil di depan gerbang dan menurunkan kaca jendela.

“Sudah malam, Pak. Belum pulang?”

Perlahan ia mengangkat kepala.

Matanya tampak sayu, seolah seluruh tenaga dan harapannya telah habis.

“Nona…”

Suaranya serak hingga hampir tak terdengar.

“Rumahmu di bagian selatan kota, bukan?”

Aku memang tinggal di wilayah selatan kota. Satpam itu juga tinggal di sana, di sebuah apartemen tua.

Karena hujan masih turun sangat deras, aku langsung berkata,

“Naik saja, Pak. Kebetulan saya searah. Saya antar pulang.”

Namun ia tetap berdiri di tempat.

Air hujan mengalir di sela-sela keriput wajahnya sebelum menetes satu per satu ke tanah.

Ia menoleh ke arah gedung kantor.

Aku ikut melihat ke sana.

Seluruh gedung telah gelap.

Hanya lampu kuning di pintu masuk basement yang masih berkedip redup.

Tiba-tiba angin dingin berembus.

Lampu itu langsung berkedip beberapa kali.

Barulah satpam itu membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil.

Tak lama kemudian, aroma hujan dan pakaian tua yang basah memenuhi kabin.

Aku mengambil beberapa lembar tisu dan mengulurkannya ke kursi belakang.

“Silakan dipakai, Pak. Nanti masuk angin.”

Ia tidak menerimanya.

Kedua tangannya masih menggenggam erat lututnya.

Begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Aku menatapnya melalui kaca spion.

“Apakah Bapak sedang tidak enak badan?”

Bibirnya sedikit bergetar.

“Tidak.”

Kami bahkan belum menempuh tiga ratus meter ketika ia tiba-tiba bertanya,

“Besok pagi kamu tetap masuk kerja?”

“Tentu. Saya ada rapat jam sembilan.”

Ia langsung terdiam.

Di luar mobil, suara hujan terdengar semakin deras.

Aku mencoba tersenyum untuk mengurangi suasana aneh di dalam mobil.

“Kenapa, Pak? Besok ada inspeksi keselamatan kebakaran lagi?”

Ia tidak tersenyum.

Di kaca spion, wajahnya terlihat semakin pucat.

Beberapa saat kemudian, dengan suara pelan ia berkata,

“Jangan datang terlalu pagi.”

Tanganku yang memegang setir langsung menegang.

“Maksud Bapak?”

Ia menoleh ke arah jendela.

“Tidak apa-apa.”

Sejak saat itu hingga kami tiba di depan tempat tinggalnya, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Aku menghentikan mobil di mulut gang menuju apartemen tua tempat ia tinggal.

Gang itu terlalu sempit sehingga mobil tidak bisa masuk.

Ia membuka pintu dan turun.

Namun ketika sudah berada di tengah hujan, ia tiba-tiba berbalik.

Ia berjalan mendekati jendela di sisi pengemudi.

Aku menurunkan kaca.

Air hujan langsung masuk dan membasahi lengan bajuku.

Ia menyelipkan sesuatu ke telapak tanganku.

Dingin.

Basah kuyup.

Lembek, seolah telah lama disimpan di dalam sakunya.

“Nona.”

Ia menatap lurus ke mataku.

**”Sebelum jam 8 pagi besok… jangan sekali-kali turun ke Basement B2.”**

Aku terdiam.

“Basement B2?”

Ia tidak menjelaskan apa pun.

Setelah mengatakan itu, ia langsung berbalik dan berjalan cepat menembus hujan.

“Pak!”

Aku memanggilnya keras.

Namun ia justru mempercepat langkahnya.

Hampir semua lampu di pintu masuk apartemen tua itu sudah rusak. Tak lama kemudian, tubuh kurusnya benar-benar lenyap ditelan hujan.

Aku menunduk melihat secarik kertas di tanganku.

Kertas itu telah basah kuyup.

Tulisan di atasnya berantakan dan tampak bergetar.

**”Sebelum jam 8 pagi besok, jangan sekali-kali turun ke Basement B2.”**

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Lalu aku tertawa kecil.

Mungkin benar, ia memang sedang mabuk.

Basement B2 perusahaan hanyalah area parkir.

Selain mobil, apa lagi yang mungkin berbahaya di sana?

Aku memasukkan kertas itu ke kompartemen di samping kursi penumpang, lalu melanjutkan perjalanan pulang.

Setelah mandi, aku baru berbaring sekitar pukul tiga dini hari.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari grup administrasi perusahaan.

Di layar muncul pengumuman baru:

**”Tepat pukul 07.45 besok pagi, seluruh karyawan diwajibkan berkumpul di Basement B2 untuk bekerja sama dengan manajemen gedung dalam proses registrasi slot parkir. Tidak seorang pun diperbolehkan absen.”**

Pesan itu dikirim oleh kepala divisi administrasi.

Aku hanya berbaring sambil menatap layar ponsel tanpa berkedip.

Karena tempat yang diperintahkan perusahaan untuk didatangi semua orang sebelum pukul delapan pagi…

Adalah tempat yang beberapa jam sebelumnya dilarang keras oleh satpam tua itu untuk kudatangi…

02: Pilihan di Ambang Batas

Pemberitahuan di ponselku terus menyala, memotong keheningan malam yang pekat.

Satu per satu rekan kerja membalas pesan tersebut dengan jempol atau kata “Baik, Pak,” tanpa rasa curiga. Bagi mereka, ini hanyalah tugas administratif biasa. Namun bagiku, pesan itu terasa seperti surat panggilan kematian.

Aku menatap secarik kertas basah dari satpam tua yang kini tergeletak di atas meja. Tulisan gemetarnya seolah berteriak padaku: Jangan ke B2 sebelum jam 8 pagi.

Otakku berputar cepat mencari logika.

  • Mengapa pendaftaran slot parkir harus dilakukan sepagi itu?
  • Mengapa di Basement B2 yang biasanya pengap, gelap, dan jarang digunakan?
  • Dan yang paling membuatku merinding: satpam tua itu tahu jadwal ini sebelum manajemen mengirimkan pengumuman resmi di tengah malam.

Ketakutan mencekamku. Aku memutuskan untuk memercayai naluriku—dan pria tua yang menggigil di bawah hujan itu. Aku mengatur alarmku ke pukul 07.45 pagi, bukan untuk bersiap pergi, melainkan untuk mengamati dari jauh.

03: Keheningan yang Pecah

Keesokan paginya, pukul 07.40.

Aku tidak pergi ke kantor. Aku memarkir mobilku di seberang jalan, agak jauh dari gedung perusahaan, dengan posisi mesin tetap menyala. Dari balik kaca depan, aku melihat rekan-rekan kerjaku berjalan memasuki gedung dengan santai, membawa kopi pagi mereka.

Tepat pukul 07.45, grup chat kantor mulai ramai.

Rian (Divisi Pemasaran): “Lho, kok pintu akses tangga darurat ke B2 dikunci dari luar? Kita semua lewat lift ya?”

Sari (HRD): “Iya, manajemen bilang biar tertib. Semua langsung turun pakai dua lift utama saja.”

Jantungku berdegup kencang. Aku melihat jam di dasbor mobil: 07.50.

Dua menit kemudian, keanehan dimulai.

Rian: “Kok lampunya mati semua? Gelap banget di B2. Pak Kepala Divisi di mana? Kami sudah berkumpul semua di dekat koridor tengah.”

Seni (Keuangan): “Eh, ada bau aneh gak sih? Kayak bau gas atau bahan kimia terbakar?”

Dika (IT): “Pintu liftnya gak bisa dibuka! Tombolnya mati! Tolong, ada yang bisa hubungi teknisi?”

Pesan-pesan setelah itu berubah menjadi kepanikan massal. Rekan-rekanku mulai mengirimkan pesan suara berisi jeritan, suara hantaman keras pada pintu besi, dan batuk-batuk yang menyesakkan.

Aku gemetar hebat di dalam mobil. Aku ingin menelepon polisi, namun sebelum jariku sempat menekan nomor darurat, seluruh sinyal di ponselku mendadak hilang menjadi No Service. Tidak hanya ponselku, seluruh lampu di gedung kantor berkedip hebat lalu padam total.

04: Kebenaran di Balik B2

Tepat pukul 08.00 pagi.

Sinyal ponselku kembali memancar penuh. Sebuah notifikasi baru masuk dari aplikasi berita lokal, disusul oleh pesan terakhir dari grup chat perusahaan yang dikirim oleh akun sistem otomatis.

[BERITA UTAMA]: Ditemukan kebocoran gas beracun massal dari fasilitas pembuangan limbah bawah tanah ilegal di Basement B2 Gedung Menara Cyber. Investigasi awal menunjukkan adanya kelalaian struktur bangunan yang sengaja ditutupi oleh pihak manajemen selama berbulan-bulan.

Dan sebuah pesan di grup kantor dari Manajemen Pusat:

“Terima kasih atas kerja samanya. Dengan ini, seluruh klaim asuransi kecelakaan kerja massal dan restrukturisasi perusahaan akibat kegagalan fungsi gedung telah diaktifkan secara otomatis pada pukul 07.59.”

Mereka tidak sedang mendata slot parkir. Manajemen sengaja mengumpulkan seluruh karyawan di titik paling mematikan untuk dijadikan korban tumbal asuransi dan penutupan borok korporat.

Tiba-tiba, kaca jendela mobilku diketuk pelan.

Aku tersentak dan menoleh dengan cepat. Di luar sana, berdiri si satpam tua. Ia tidak lagi memakai seragamnya, melainkan jaket biasa yang kering. Ia menatapku dengan tatapan datar, lalu mengangguk pelan—sebuah anggukan perpisahan.

Sebelum aku sempat membuka pintu untuk berbicara dengannya, ia berbalik dan berjalan berbaur di antara kerumunan orang di trotoar, meninggalkan aku yang terpaku sendirian di dalam mobil, hidup, namun dengan jiwa yang selamanya membeku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.