DIUSIR OLEH KELUARGA PACARKU DAN DITERTAWAKAN KARENA DATANG MELAMARNYA DENGAN SEPEDA TUA BERKARAT. DIA MEMILIH PRIA KAYA DAN MENINGGALKANKU BERLUTUT DI ATAS LUMPUR. LIMA TAHUN KEMUDIAN, AKU DATANG KE PERNIKAHANNYA… BUKAN DENGAN SEPEDA, MELAINKAN DIIRINGI DUA PULUH MOBIL MEWAH YANG MENGHANCURKAN DUNIA MEREKA SELAMANYA.
Mimpi yang Terkoyak
Namaku Gabriel, berusia dua puluh tujuh tahun. Lima tahun lalu, aku mengalami hari paling menyakitkan dalam hidupku. Saat itu aku hanyalah seorang mahasiswa yang bekerja sambil kuliah dan memperoleh uang receh sebagai kuli angkut di pasar tradisional. Aku dan Chloe telah berpacaran selama empat tahun. Meski miskin, aku memberikan seluruh waktu dan cintaku untuknya.
Setelah lulus, aku menabung setiap rupiah dari gajiku untuk membeli sebuah cincin perak kecil. Di tengah hujan deras, aku mengayuh sepeda tua berkarat kesayanganku menuju rumah besar mereka. Sepeda itu adalah peninggalan almarhum ayahku yang sangat berharga bagiku.
Dengan tubuh basah kuyup, aku mengetuk gerbang rumah mereka. Aku berharap Chloe menerima lamaranku dan kami bisa menjalani hidup bersama dalam suka maupun duka. Namun yang menyambutku bukan senyum manis Chloe, melainkan tawa kejam ibunya, Nyonya Agatha, serta seorang pria yang berdiri di samping Chloe—Marcus, putra arogan dari seorang pengusaha kaya.
Penghinaan di Depan Gerbang
“Gabriel? Apa yang kamu lakukan di sini dengan penampilan seperti anjing kehujanan?!” teriak Nyonya Agatha dengan nada tajam.
Aku berlutut di jalan yang basah dan mengeluarkan kotak cincin kecil itu.
“Chloe… aku sangat mencintaimu. Aku memang belum punya banyak uang sekarang, tapi aku berjanji akan bekerja keras. Maukah kamu menikah denganku?”
Alih-alih tersentuh, Chloe justru menutup hidungnya.
“Gabriel, berdiri sana! Kamu memalukan! Apa kamu pikir aku bisa hidup hanya dengan cintamu? Lihat kendaraanmu itu! Sepeda tua berkarat! Bagaimana kamu akan menghidupiku?!”
Marcus maju mendekat, mengambil sepedaku, lalu melemparkannya begitu saja ke selokan.
“Ups, maaf. Kukira itu sampah,” ejek Marcus sambil tersenyum sinis.
Ia merangkul Chloe dan mengangkat tangan wanita itu untuk memperlihatkan cincin berlian besar di jarinya.
“Aku dan Chloe sudah bersama. Aku akan memberinya mobil-mobil mewah dan rumah megah. Sedangkan kamu, Gabriel, membusuklah di jalan bersama sepedamu.”
Dengan air mata mengalir, aku menatap Chloe penuh harap. Namun dia hanya membalikkan badan dan menutup gerbang besar itu.
Mereka meninggalkanku berlutut di atas lumpur, memeluk sepeda yang rusak, sementara hujan dingin terus mengguyur tubuhku.
Pernikahan Mewah
Lima tahun berlalu dengan kerja keras, darah, dan keringat. Aku menjadikan rasa sakit itu sebagai bahan bakar untuk bangkit. Aku membangun perusahaan teknologi dan properti milikku sendiri. Kini orang-orang mengenalku sebagai “Mr. G”—miliarder termuda sekaligus CEO konglomerasi terbesar di Asia.
Aku mendengar bahwa hari ini adalah hari pernikahan Chloe dan Marcus. Acara itu digelar di taman terbuka mewah sebuah hotel bintang lima. Banyak pengusaha besar diundang, tetapi seluruh dunia bisnis tahu bahwa perusahaan keluarga Marcus sedang berada di ambang kehancuran. Satu-satunya harapan mereka adalah mendapatkan investasi dari sosok misterius bernama “Mr. G”.

Chloe berdiri di altar mengenakan gaun pengantin putih yang sangat mahal. Marcus tersenyum sambil menunggu pemberkatan dimulai.
“Sayang sekali kita tidak menemukan Gabriel untuk diundang, Sayang,” bisik Marcus kepada Chloe sambil menunggu. “Aku ingin melihat wajah si miskin itu saat tahu betapa kayanya kita sekarang.”
“Lupakan saja sampah itu,” jawab Chloe sambil tersenyum. “Yang penting, saat Mr. G datang ke resepsi nanti, investasi itu bisa langsung ditandatangani dan kita akan menjadi keluarga paling kaya.”
Kedatangan Sang Penguasa
Tepat ketika pendeta hendak memulai pemberkatan, atmosfer di sekitar hotel bintang lima itu mendadak berubah. Suara raungan mesin mobil sport yang menggelegar memutus keheningan taman mewah tersebut.
Satu per satu, iring-iringan mobil super mewah berwarna hitam legam—mulai dari Rolls-Royce, Lamborghini, hingga Bentley—memasuki area halaman hotel. Total ada dua puluh mobil, berbaris rapi bagai armada tempur yang siap meruntuhkan segalanya. Di kap mobil paling depan, terpasang sebuah logo emas yang sangat dikenal oleh seluruh pebisnis di sana: G-Corp.
“Mr. G datang! Dia benar-benar datang!” seru ayah Marcus dengan wajah pucat karena terlalu antusias.
Seluruh tamu undangan berdiri, mengabaikan pengantin di altar. Pintu mobil Rolls-Royce Phantom di posisi paling depan terbuka. Seorang pria dengan setelan jas custom-made seharga miliaran rupiah turun. Langkah kakinya tegas, tatapan matanya tajam dan dingin.
Chloe dan Marcus terpaku. Jantung Chloe seakan berhenti berdetak saat melihat wajah pria itu dari kejauhan. Wajah yang lima tahun lalu ia tinggalkan di atas lumpur.
“Ga-Gabriel…?” bisik Chloe, suaranya bergetar hebat.
Runtuhnya Dunia Ilusi
Gabriel berjalan di atas karpet merah menuju altar, diiringi oleh sepuluh pengawal berbadan tegap. Marcus, yang menyadari situasi ini, langsung maju dengan tubuh gemetar namun mencoba tetap terlihat sopan.
“Mr. G… maksudku, Gabriel? Kau… bagaimana bisa?” gagap Marcus.
Gabriel tidak menjawab Marcus. Tatapannya tertuju pada Chloe yang kini wajahnya seputih kapas. Gabriel kemudian melirik ke arah Nyonya Agatha yang duduk di kursi depan. Wanita tua itu tampak seperti baru saja melihat hantu; tubuhnya gemetar dan ia menyembunyikan wajahnya karena malu.
“Lima tahun lalu, di tempat ini, aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengembalikan rasa hormat yang kalian injak-injak,” ucap Gabriel, suaranya terdengar berat dan menggema melalui mikrofon yang disodorkan asistennya.
Ayah Marcus langsung berlutut di depan Gabriel, mengabaikan harga dirinya demi menyelamatkan perusahaan. “Mr. G, tolong… lupakan masa lalu. Tolong tandatangani investasi untuk perusahaan kami. Pernikahan ini… semua ini tidak ada artinya jika kami bangkrut!”
Gabriel tersenyum sinis. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu. Bukan dokumen investasi, melainkan sebuah rantai sepeda yang sudah berkarat—satu-satunya bagian yang ia simpan dari sepeda almarhum ayahnya. Gabriel menjatuhkan rantai berkarat itu tepat di atas gaun pengantin putih Chloe yang mahal.
“Ini adalah investasi yang pantas untuk kalian,” kata Gabriel dingin. “Hari ini, aku mengumumkan bahwa G-Corp telah mengakuisisi seluruh utang perusahaan keluarga Marcus. Dan per detik ini… aku menarik semua aset, memutus semua kerja sama, dan menyatakan perusahaan kalian pailit.”
“Tidak! Gabriel, kamu tidak bisa melakukan ini!” teriak Marcus histeris, jatuh terduduk di lantai altar.
Penyesalan di Atas Lumpur Karma
Chloe, dengan air mata yang mulai bercucuran, melangkah maju dan mencoba meraih tangan Gabriel. “Gabriel… maafkan aku. Aku terpaksa dulu. Aku masih mencintaimu, Gabriel! Tolong beri aku kesempatan kedua…”
Gabriel menarik tangannya dengan jijik. Ia menatap Chloe dengan tatapan kosong, tanpa ada lagi sisa cinta di dalamnya.
“Dulu, aku memberikan seluruh hatiku, tapi kamu memilih berlian yang kini bahkan tidak bisa membayar utang keluargamu,” ucap Gabriel tenang namun menusuk. “Nikmatilah pernikahan mewahmu ini, Chloe. Karena setelah hari ini, kalian tidak akan punya apa-apa lagi.”
Gabriel membalikkan badannya. Tanpa menoleh lagi, ia berjalan tegap meninggalkan altar pernikahan yang kini berubah menjadi tempat ratapan. Dua puluh mobil mewah itu pun melaju pergi, meninggalkan kepulan asap yang mengaburkan pandangan keluarga pengantin yang hancur lebur.
Di belakangnya, Chloe jatuh berlutut di atas lantai, menangis histeris sambil memeluk rantai sepeda berkarat yang ditinggalkan Gabriel. Karma telah datang menjemputnya, dan dunia indah yang mereka impikan, hancur selamanya dalam satu kedipan mata.