Posted in

Diusir Suami dan Selingkuhannya Saat Sedang Hamil di Tengah Hujan, Lima Tahun Kemudian Sang Suami Bangkrut dan Memohon Diterima Bekerja di Perusahaan yang Ternyata Milik Mantan Istrinya**

Diusir Suami dan Selingkuhannya Saat Sedang Hamil di Tengah Hujan, Lima Tahun Kemudian Sang Suami Bangkrut dan Memohon Diterima Bekerja di Perusahaan yang Ternyata Milik Mantan Istrinya**

Namaku Clara. Aku berusia dua puluh enam tahun ketika seluruh duniaku runtuh. Aku dan Marco telah menikah selama lima tahun. Pada awalnya, aku percaya kami sedang membangun rumah tangga yang sempurna. Kami sama-sama bekerja keras untuk membeli rumah kecil impian kami. Namun, ketika aku mengetahui bahwa aku hamil, Marco memintaku mengundurkan diri dari pekerjaan agar bisa fokus menjaga kehamilan karena kondisiku cukup berisiko.

Aku mempercayai semua kata-kata manisnya. Aku yakin ia akan melindungi aku dan anak kami. Namun, seiring perutku semakin membesar, hatinya justru semakin menjauh. Ia sering pulang lewat tengah malam dengan bau alkohol dan aroma parfum wanita lain yang menempel di pakaiannya.

Hingga akhirnya tiba malam ketika ia menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.

## DIUSIR DI TENGAH BADAI

Hujan turun sangat deras malam itu. Kandunganku sudah memasuki usia tujuh bulan. Aku sedang menunggu di ruang tamu ketika pintu depan terbuka. Marco masuk, tetapi ia tidak sendirian. Seorang model muda bernama Valerie menggandeng lengannya, mengenakan gaun merah ketat dengan senyum penuh kemenangan.

“Marco… siapa dia? Kenapa dia ada di sini?” tanyaku dengan suara bergetar sambil memegang perutku yang besar.

Marco menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan penuh jijik.

“Dia Valerie, Clara. Mulai hari ini dialah yang akan menggantikanmu di rumah ini,” katanya dingin tanpa sedikit pun rasa kasihan. “Kemasi barang-barangmu. Aku ingin kamu pergi sekarang juga.”

Mataku membelalak. Dadaku terasa seperti diremas.

“Pergi? Aku istrimu, Marco! Aku sedang hamil! Ke mana aku harus pergi malam-malam begini saat hujan deras?” pintaku sambil menangis dan berusaha meraih tangannya.

Namun, ia justru menepis tubuhku hingga aku terjatuh ke lantai yang dingin.

“Aku tidak peduli kamu mau ke mana!” bentaknya. “Kamu cuma jadi beban! Badanmu gemuk, penampilanmu sudah tidak menarik, dan yang kamu lakukan di rumah ini hanya meminta uang! Valerie jauh lebih pantas menemaniku. Dia wanita yang bisa kubanggakan di depan teman-temanku!”

Valerie tertawa mengejek, lalu melemparkan sebuah tas kecil berisi pakaian lamaku ke depan kakiku.

“Dengar, kan? Cepat pergi! Melihatmu saja sudah merusak suasana!” katanya dengan nada sinis.

Marco menyeretku keluar rumah, lalu mendorongku tanpa belas kasihan hingga keluar pagar. Aku jatuh ke genangan lumpur. Tubuhku basah kuyup diterpa hujan yang dingin, sementara kedua tanganku mati-matian melindungi perutku.

Aku masih bisa mendengar tawa mereka berdua sebelum pintu rumah ditutup dengan keras.

Malam itu, di tengah gemuruh petir dan hujan lebat, Clara yang lemah telah mati.



Sambil menangis di atas trotoar yang dingin, aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menginjak-injak harga diriku maupun anakku.

KEBANGKITAN SEORANG RATU

Malam yang mengerikan itu ternyata menjadi titik balik dalam hidupku. Di tengah badai, seorang wanita paruh baya yang baik hati menemukanku dan membawaku ke rumah sakit. Di sana, aku melahirkan putra kecilku secara prematur. Aku menamainya Leo—singa kecilku yang kuat.

Dua bulan setelah melahirkan, aku bersumpah tidak akan kembali ke duniaku yang lama. Sebelum menikah dengan Marco, aku adalah lulusan terbaik di bidang manajemen bisnis internasional. Aku menggunakan sisa tabungan rahasia almarhum ibuku untuk membangun sebuah agensi konsultan bisnis dan investasi kecil-kecilan dari kamar kontrakan sempit.

Tidur hanya tiga jam sehari, menyusui Leo sambil menganalisis pergerakan saham, dan menghadapi ratusan penolakan klien menjadi makanan sehari-hariku. Namun, kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Dalam waktu lima tahun, agensi kecil itu menjelma menjadi Vanguard Group, salah satu perusahaan modal ventura dan holding terbesar di ibu kota.

Aku mengubah namaku secara legal menjadi Clara Vance. Aku menata ulang penampilanku, memotong rambutku dengan gaya elegan, dan memancarkan aura otoritas yang tak tertandingi. Tidak ada satu pun media yang mengetahui wajah asli pemilik Vanguard Group karena aku selalu bergerak di balik layar melalui asisten kepercayaanku.

Sementara itu, dari jauh, aku terus mengawasi Marco.

Seperti yang sudah kuduga, sifat boros Valerie dan ketidakmampuan Marco dalam mengelola bisnis membuat perusahaan konstruksinya perlahan hancur. Ditambah lagi, aku diam-diam menarik semua investor besar dari proyek-proyek Marco melalui jaringan Vanguard Group. Hanya dalam waktu lima tahun, Marco dinyatakan pailit, rumah impian tempat aku diusir disita oleh bank, dan Valerie… langsung mencampakkannya begitu pria itu jatuh miskin.

PERTEMUAN DI PUNCAK KEADILAN

Suatu pagi di tahun kelima, aku duduk di kursi kebesaran kantor CEO Vanguard Group yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit.

Asistenku mengetuk pintu. “Nyonya Vance, para kandidat untuk posisi manajer operasional tingkat rendah sudah siap di ruang wawancara. Ada satu kandidat yang sangat memohon untuk langsung diwawancarai oleh Anda karena dia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk melunasi utang-utangnya.”

Aku melirik berkas di mejaku. Sebuah senyum dingin terukir di bibirku saat melihat pasfoto dan nama yang tertera di sana: Marco Wijaya.

“Bawa dia masuk,” kataku tenang, sambil memutar kursi besarku menghadap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota, memunggungi pintu masuk.

Pintu terbuka. Langkah kaki yang ragu dan gemetar terdengar melangkah masuk.

“Se-selamat pagi, Direktur Utama,” suara itu terdengar. Suara yang dulu begitu membahana penuh kesombongan saat mengusirku di tengah hujan, kini terdengar begitu rapuh, putus asa, dan tak berdaya. Setelan jas yang dikenakannya tampak kusam dan kebesaran, sisa-sisa kejayaan masa lalunya yang telah pudar.

“Saya Marco, Tuan… eh, Nyonya. Saya memiliki pengalaman lima tahun memimpin perusahaan konstruksi. Saya mohon, berikan saya kesempatan ini. Saya sedang dikejar-kejar oleh penagih utang, dan saya bersedia melakukan pekerjaan apa saja, bahkan lembur tanpa dibayar sekalipun,” ratapnya dengan suara mengiba.

Aku terdiam sejenak menikmati momen itu, lalu perlahan memutar kursi kerjaku untuk menghadapnya. Aku melepas kacamata hitam yang kukenakan, lalu menatap lurus ke arah matanya.

“Lama tidak bertemu, Marco.”

KETIKA RODA NASIB BERPUTAR TOTAL

Marco seketika membeku. Matanya terbelalak lebar, wajahnya memucat pasi seperti kertas, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mundur dua langkah hingga punggungnya membentur pintu jati ruang kerjaku.

“Cla… Clara?!” pekiknya dengan suara melengking tidak percaya. “Tidak… tidak mungkin! Kamu… bagaimana bisa kamu menjadi pemilik Vanguard Group?!”

“Kenapa tidak mungkin, Marco?” tanyaku sambil bersedekap, menatapnya dengan pandangan merendahkan—tatapan yang persis sama seperti yang ia berikan padaku lima tahun lalu. “Apakah kamu mengira perempuan yang kamu tendang ke dalam lumpur saat hamil tujuh bulan akan mati begitu saja?”

“Clara… aku…” Marco langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. Ia merangkak mendekati mejaku, air mata penyesalan mulai mengalir deras di pipinya yang kuyu. “Maafkan aku, Clara! Aku khilaf! Valerie yang menghasutku malam itu! Aku menyesal telah menyia-nyiakanmu dan anak kita! Tolong… tolong bantu aku sekali ini saja. Aku tidak punya uang bahkan untuk makan besok pagi…”

Aku berdiri dari kursiku, berjalan perlahan menghampirinya, lalu berdiri tepat di depannya yang sedang bersujud.

“Kamu bilang lima tahun lalu badan bertambah gemuk dan penampilan tidak menarik membuat seorang istri pantas dibuang seperti sampah. Sekarang lihat dirimu, Marco. Kamu tampak sangat menyedihkan,” ujarku dengan nada suara yang sangat tenang namun menghujam jantungnya.

Tiba-tiba, pintu penghubung ruang bermain anak di samping kantorku terbuka. Seorang anak laki-laki tampan berusia lima tahun berlari keluar dan memeluk kakiku. “Bunda, ayo pulang, Leo lapar.”

Marco mendongak melihat anak itu. Wajah Leo sangat mirip dengannya. “Dia… dia anakku?” bisik Marco dengan tangan gemetar hendak menyentuh Leo.

Aku langsung menarik Leo ke belakang tubuhku. “Jangan berani-berani menyentuhnya dengan tangan kotormu. Dia bukan anakmu. Ayahnya sudah mati di tengah badai lima tahun lalu.”

Aku kembali ke mejaku, mengambil berkas lamaran kerja Marco, lalu melemparkannya tepat ke atas lantai di depan wajahnya.

“Vanguard Group tidak menerima sampah yang tidak memiliki integritas moral. Hari ini, lamaranmu ditolak. Dan aku pastikan, dengan pengaruh yang kumiliki saat ini, tidak akan ada satu pun perusahaan di negara ini yang mau mempekerjakan seorang mantan narapidana pailit sepertimu.”

Aku menekan tombol intercom di meja. “Keamanan, seret pria ini keluar dari gedungku.”

Dua petugas keamanan berbadan tegap segera masuk dan menarik tubuh Marco yang menangis histeris, memohon ampunan yang sudah terlambat. Ia diseret melewati koridor lobi yang megah, disaksikan oleh ratusan karyawan yang menatapnya penuh kehinaan.

Aku memeluk Leo erat-erat sambil menatap ke luar jendela. Badai telah benar-benar berlalu, dan keadilan telah menemukan jalannya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.