Posted in

DIUSIR SUAMIKU DEMI SELINGKUHANNYA, TAPI DIA TAK TAHU GELANG GIok YANG KUKENAKAN ADALAH KUNCI UNTUK MENGHANCURKAN SELURUH BISNIS MEREKA**

DIUSIR SUAMIKU DEMI SELINGKUHANNYA, TAPI DIA TAK TAHU GELANG GIok YANG KUKENAKAN ADALAH KUNCI UNTUK MENGHANCURKAN SELURUH BISNIS MEREKA**

BAGIAN 1

“Pergilah, Elena! Jangan bawa sialmu ke dalam hidupku lagi! Yang kubutuhkan adalah Monica, bukan wanita miskin sepertimu!”

Kata-kata itu menusuk dadaku seperti belati ketika Paolo menyeretku keluar dari pintu rumah mewah kami.

Aku baru tiga hari keluar dari rumah sakit setelah melahirkan anak kami.

Tubuhku masih lemah.

Hatiku telah hancur.

Namun satu-satunya yang kulindungi saat itu adalah selimut kecil yang membungkus bayi kami yang sedang tertidur lelap.

Di samping Paolo berdiri wanita selingkuhannya, Monica.



Ia mengenakan gaun desainer berwarna merah, menggenggam segelas anggur mahal, dan menatapku seolah-olah aku hanyalah sampah yang menjijikkan.

“Kasihan sekali kamu, Elena,” ejek Monica sambil melangkah mendekat.

Ia mencengkeram lenganku dengan kasar.

“Bahkan gelang yang kamu pakai itu kelihatannya cuma barang murahan dari kaki lima. Cocok sekali untuk perempuan murahan sepertimu. Sini, biar aku ambil. Siapa tahu masih ada harganya untuk beli susu anakmu.”

Sebelum sempat kutepis tangannya, Monica merampas gelang giok di pergelangan tangan kananku.

Gelang itu adalah satu-satunya benda yang kubawa ketika memutuskan meninggalkan kehidupan mewah dan hidup sederhana.

“Ups… jatuh!”

Monica tertawa sambil sengaja menjatuhkan gelang itu ke jalan berlumpur tepat di depan gerbang rumah.

“Memang tempatnya di lumpur, sama seperti pemiliknya.”

Paolo ikut tertawa.

Pria yang pernah kujanjikan untuk kucintai seumur hidup.

Pria yang pernah kupercayai sepenuh hati.

“Jangan pernah kembali lagi, Elena! Besok surat cerainya akan kukirim. Tinggal tanda tangan saja!”

**Brak!**

Pintu ditutup keras di hadapanku.

Aku tetap berdiri di bawah langit yang mulai gerimis, menggendong bayiku, sementara air mataku bercampur dengan rintik hujan.

Perlahan aku berlutut di atas lumpur.

Dengan tangan yang gemetar, kuambil kembali gelang giok itu.

Aku tersenyum pahit sambil membersihkan lumpur yang menempel di permukaannya.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun aku berpura-pura menjadi gadis desa yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa hanya untuk menguji apakah cinta Paolo benar-benar tulus.

Aku meninggalkan kemewahan.

Bertahan hidup di apartemen kecil.

Bahkan bekerja sebagai penjaga toko sederhana demi membantu mewujudkan impiannya.

Namun begitu ia bertemu wanita yang mengaku sebagai putri seorang ketua konglomerat, ia membuangku begitu saja seperti kain usang.

“Paolo… Monica…”

bisikku pelan.

“Kalian tidak tahu api seperti apa yang baru saja kalian bangunkan.”

Aku membersihkan sisa lumpur dari gelang itu, lalu menekan sebuah tombol zamrud yang sangat kecil di sisi penguncinya.

Tombol itu bukan hiasan.

Itu adalah pemancar sinyal GPS berteknologi militer yang terhubung langsung dengan sistem satelit milik keluargaku.

Belum sampai lima menit berlalu…

Suara baling-baling yang menggelegar mengguncang seluruh kompleks perumahan.

Para tetangga yang tadi hanya berbisik-bisik menyaksikan kehinaanku kini berhamburan keluar rumah.

Di balik langit yang gelap, sebuah helikopter emas mewah dengan lambang **”Valerius Royal Jewelers”** perlahan mendarat tepat di depan rumah Paolo.

Pintu helikopter terbuka.

Seorang pria tua berjas panjang dengan sarung tangan putih segera turun, diikuti delapan pengawal berpakaian hitam.

“Putri Elena!”

teriaknya sambil berlari menghampiriku, lalu membungkuk hampir sembilan puluh derajat.

“Syukur kepada Tuhan kami akhirnya menemukan Anda! Ayah Anda, Sang Raja Giok, telah menunggu kepulangan Anda!”..

BAGIAN 2 (TAMAT)

“Bawa bayiku ke dalam, paman,” kataku dengan suara dingin, menyerahkan bayiku yang terbangun akibat deru helikopter kepada pengawal wanita yang sigap melindunginya.

Aku berdiri, mengabaikan lututku yang kotor oleh lumpur. Gelang giok di tanganku kini berkilau tajam di bawah lampu sorot helikopter. Gelang ini bukan sembarang perhiasan; ini adalah The Emperor’s Heart, giok paling langka di dunia yang sekaligus menjadi kunci enkripsi biometrik untuk mengakses seluruh jaringan pasokan batu mulia global milik Valerius Group.

Mendengar kegaduhan luar biasa di luar, pintu rumah mewah itu kembali terbuka. Paolo dan Monica keluar dengan wajah panik yang seketika berubah menjadi syok luar biasa.

“E-Elena?!” Paolo terbata-bata, matanya membelalak menatap helikopter berlambang emas itu, lalu beralih ke arah pria tua yang sangat dikenalnya di majalah bisnis finansial. “Tuan Bastian?! Kepala Eksekutif Valerius Group?!”

Monica bahkan hampir menjatuhkan gelas anggurnya. “Tidak mungkin… Perempuan miskin ini… putri Sang Raja Giok?”

Tuan Bastian menatap Paolo dan Monica dengan pandangan seolah mereka adalah kecoak. “Putri Elena, apa yang terjadi dengan gaun Anda? Dan… mengapa ada lumpur di wajah Anda?”

Aku tersenyum tipis, menatap gelang giok di tanganku. “Paman Bastian, wanita di sebelah sana baru saja merebut gelang ini dari tanganku dan melemparkannya ke lumpur. Dia bilang, tempat gelang ini—dan tempatku—adalah di dalam lumpur.”

Mendengar itu, rahang Tuan Bastian mengeras. Aura membunuh terpancar dari delapan pengawal di belakangnya.

“Dan pria di sebelahnya,” lanjutku, menatap Paolo yang kini gemetar hebat hingga lututnya membentur lantai. “Dia mengusirku dan bayiku tiga hari setelah aku melahirkan, demi wanita yang katanya adalah putri konglomerat.”

Monica dengan wajah pucat mencoba membela diri. “Ini pasti salah paham! Perusahaan ayahku, Wijaya Gemstone, adalah mitra utama Anda, Tuan Bastian! Kita bisa membicarakan ini—”

“Mitra?” Tuan Bastian memotong kalimat Monica dengan tawa yang menggelegar namun terdengar mengerikan. “Wijaya Gemstone baru saja mengajukan pinjaman pasokan giok mentah sebesar 500 miliar kepada kami pekan lalu. Dan tebak siapa yang harus menandatangani persetujuannya?”

Tuan Bastian membungkuk hormat padaku. “Hanya pemilik The Emperor’s Heart yang memiliki kuasa mutlak atas pasokan itu. Dan pemiliknya adalah Putri Elena.”

Paolo menatap Monica dengan pandangan tidak percaya. “Monica… kamu bilang perusahaan ayahmu adalah yang terbesar? Kamu bilang kamu bisa membiayai proyek baruku?!”

“Dia berbohong padamu, Paolo,” ujarku tenang, melangkah mendekati pagar. “Perusahaan ayahnya di ambang kebangkrutan. Dia mendekatimu karena mengira bisnismu yang baru berkembang sedang naik daun. Kalian berdua adalah sepasang penipu yang saling memanfaatkan.”

“Elena… El, maafkan aku!” Paolo tiba-tiba berlari dan berlutut di hadapanku, mencoba menggapai ujung bajuku yang kotor, namun langsung ditahan oleh dua pengawal berbadan kekar. “Aku khilaf! Aku tidak tahu kamu adalah putri Valerius! Pikirkan anak kita, El!”

“Saat aku memikirkan anakku tiga hari lalu di rumah sakit, kamu sedang memesan kamar hotel mewah bersama wanita ini,” jawabku tanpa emosi. “Paman Bastian, hancurkan mereka.”

Tuan Bastian langsung mengeluarkan ponselnya. “Batalkan seluruh pasokan giok dan permata ke Wijaya Gemstone detik ini juga. Blacklist nama Paolo dan seluruh perusahaannya dari semua jaringan perbankan di bawah Valerius Group. Tarik semua investasi kita di proyeknya.”

Hanya dalam hitungan menit, ponsel Paolo dan Monica berdering bersamaan.

Wajah Monica memucat seperti mayat saat mendengar suara ayahnya yang berteriak histeris di telepon bahwa perusahaan mereka baru saja dinyatakan pailit. Sementara Paolo jatuh terduduk ketika asisten pribadinya mengabarkan bahwa seluruh investor menarik modal secara massal dan bank menyita rumah mewah yang baru ia pamerkan itu.

“Elena!! Jangan lakukan ini padaku! Aku mencintaimu!” teriak Paolo frustrasi, air mata penyesalan mulai mengalir di pipinya.

Aku tidak lagi memandangnya. Aku berbalik, melangkah dengan anggun menuju helikopter yang siap membawaku kembali ke tempat yang seharusnya.

Sebelum naik, aku menoleh sedikit ke arah mereka yang kini saling menyalahkan dan menjerit histeris di tengah hujan.

“Kalian benar tentang satu hal,” ucapku lantang di sela deru baling-baling. “Lumpur memang tempat yang cocok. Tapi bukan untukku… melainkan untuk kalian berdua.”

Pintu helikopter tertutup rapat. Aku memeluk bayiku yang kembali tertidur pulas dalam kehangatan. Di bawah sana, dinasti kecil yang dibangun Paolo dengan keserakahan hancur lebur dalam semalam, sementara aku terbang menuju puncak duniaku yang sebenarnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.