Posted in

DUA HARI SEBELUM UJIAN MASUK UNIVERSITAS, KELUARGA AYAHKU MEMINTA Rp2,4 MILIAR WARISAN DARI IBUKU UNTUK MENGIRIM ANAK TIRI IBU SAMBUNGKU KE INGGRIS**

DUA HARI SEBELUM UJIAN MASUK UNIVERSITAS, KELUARGA AYAHKU MEMINTA Rp2,4 MILIAR WARISAN DARI IBUKU UNTUK MENGIRIM ANAK TIRI IBU SAMBUNGKU KE INGGRIS**

Tinggal dua hari lagi sebelum ujian masuk universitas impianku.

Namun yang disodorkan keluargaku di hadapanku bukan buku latihan atau soal-soal ujian.

Melainkan sepiring lemper, gulai darah, mangga matang, dan sebuah pertanyaan yang terasa seperti pisau.

“Lia, Nak,” kata Paman Ernesto sambil memegang gelas arak tradisional, “apa benar ibumu meninggalkan uang Rp2,4 miliar atas namamu?”

Seluruh ruang tamu langsung hening.

Kami sedang berkumpul di rumah keluarga di Malolos untuk perayaan desa. Lebih dari dua puluh kerabat berdesakan di ruang tamu kecil. Anak-anak berlarian di dekat tangga, para bibi mengupas kacang, dari rumah sebelah terdengar karaoke lagu-lagu lawas, dan televisi menayangkan berita tentang perlombaan perahu di sungai.

Namun hanya dengan satu pertanyaan dari Paman Ernesto, rasanya dunia seperti ditekan tombol mute.

Lemper yang kupegang baru setengah kumakan.

Rasa manis santan masih tertinggal di lidahku, tetapi mendadak perutku terasa mual.

“Iya,” jawabku.

Aku perlahan meletakkan makanan itu di piring.

Paman Ernesto tersenyum.

Senyum yang biasa digunakan orang-orang dewasa ketika mereka menginginkan sesuatu tetapi tidak ingin terlihat serakah.

“Begini,” katanya. “Kamu perempuan. Kalau diterima di universitas negeri, biaya kuliahmu tidak akan besar. Kamu pintar, pasti dapat beasiswa juga. Tapi Bea…”

Dia menoleh ke arah gadis yang duduk di belakang ibu sambungku.

Bea.

Putri dari Marissa, istri baru ayahku.

Dia mengenakan gaun merah muda, memegang minuman boba, dan menunduk seolah tidak mendengar pembicaraan kami. Namun aku melihat jelas bagaimana jemarinya meremas gelas plastik itu sampai penyok.

“Bea ingin mengambil program persiapan kuliah di Inggris,” lanjut Paman Ernesto. “Kesempatan seperti itu sangat bagus. Masalahnya, mereka kekurangan dana. Jadi kami berpikir, mungkin kamu bisa meminjamkan dulu uang peninggalan ibumu. Kita keluarga, kan?”

Keluarga.

Kata yang paling mudah diucapkan oleh orang-orang yang ingin mengambil sesuatu yang bukan milik mereka.

Aku menoleh kepada Ayah.

Rogelio Santos.

Dia duduk di ujung sofa sambil memegang kaleng bir dan menatap televisi, meskipun jelas dia tidak lagi memperhatikan apa yang ditontonnya.

Seperti patung.

Seolah jika dia tidak bergerak, dia tidak perlu memilih pihak.

Di sampingnya, Marissa sedang mengupas buah dengan tenang.

Seolah semua ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Padahal aku tahu.

Aku tahu siapa yang memulai semua ini.

Sudah dua tahun empat bulan dia tinggal di rumah kami.

Dua tahun empat bulan sejak dia memindahkan foto ibuku dari ruang tamu ke gudang, lalu menyelipkannya di belakang kipas angin rusak.

“Lia,” lanjut Paman Ernesto, “kami tidak meminta uang itu secara cuma-cuma. Anggap saja membantu saudaramu.”

“Saudara?” tanyaku.

Bea langsung mengangkat wajah.

“Dia bukan saudara kandungku,” kataku pelan.

Seseorang terbatuk.

Sebuah sendok jatuh ke piring.

Aku melihat rahang Marissa mengeras.

“Lia,” katanya lembut, tetapi ada nada dingin di balik suaranya, “ucapanmu menyakitkan. Kita sudah menjadi keluarga selama lebih dari dua tahun. Hanya karena kalian tidak lahir dari ibu yang sama bukan berarti dia bukan saudaramu.”

Aku menatapnya.

“Kalau dia saudaraku, kenapa dia membutuhkan uang milik ibuku?”

Senyum Paman Ernesto langsung menghilang.

“Hei, anak kecil,” katanya sambil tertawa kaku. “Jangan kurang ajar. Kami tidak sedang menipumu. Kami hanya memikirkan masa depan yang lebih baik untuk semua orang.”

“Berapa nilai IELTS Bea?” tanyaku.

Ruangan kembali sunyi.

Bea menunduk.

“Hah?” tanya Paman Ernesto.

“Kalau memang ingin kuliah di Inggris, apakah dia sudah punya nilai IELTS? Sudah ada surat penerimaan? Universitas tujuan? Dokumen visa? Bukti dana? Personal statement?”

Tak seorang pun menjawab.

Yang terdengar hanya suara es batu di gelas Ayah yang perlahan mencair.

“Bea,” panggilku. “Sudah berapa kali kamu ikut tes IELTS?”

Dia tetap diam.

“Sekali?”

Tidak ada jawaban.

“Belum pernah?”

Kepalanya semakin menunduk.

Saat itulah aku melihat wajah mereka semua.

Mereka tidak terkejut karena Bea tidak tahu jawabannya.

Mereka terkejut karena aku berani bertanya.

Karena di rumah ini, tugasku hanyalah mengangguk, diam, dan bersyukur bahkan ketika hakku sedang dirampas.

“Lia,” kata Marissa sambil meletakkan buah yang sedang dikupasnya, “kamu tidak perlu mempermalukan saudaramu. Tidak semua orang sepintar dirimu. Justru karena itu kami berharap kamu mau membantu.”

“Itu uang milik Ibu,” jawabku. “Asuransi dan tabungan yang dia tinggalkan sebelum meninggal. Bukan dana jalan-jalan. Bukan dana untuk membiayai mimpi orang lain.”

Mata Marissa langsung memerah.

Dia memang selalu pandai menangis pada saat yang tepat.

“Rogelio,” katanya lirih kepada Ayah, cukup keras untuk didengar semua orang, “mungkin aku salah. Aku pikir dia sudah bisa menerimaku. Tapi ternyata dia masih membenciku.”

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan.

“Anak itu keras kepala sekali.”

“Padahal Marissa baik kepadanya.”

“Kalau aku jadi ibunya, aku pasti mau membantu saudara sendiri.”

“Itu cuma uang. Apa artinya uang dibanding keluarga?”

Aku tertawa kecil.

Namun semua orang mendengarnya.

“Apa yang lucu?” tanya Paman Ernesto.

“Apa yang lucu?” tanya Paman Ernesto, suaranya naik satu oktav, wajahnya memerah karena alkohol dan harga dirinya yang mulai terusik oleh anak berusia belasan tahun.

Aku meletakkan sendok, lalu menatap mereka satu per satu dengan pandangan lurus. “Yang lucu adalah kalian semua bicara tentang ‘keluarga’ seolah-olah kata itu adalah mantra yang bisa mencairkan uang di bank.”

Aku berdiri dari kursi, membiarkan semua mata tertuju padaku. Keheningan di ruang tamu itu terasa mencekik, mengalahkan suara bising dari luar rumah.

“Keluarga?” aku mengulang kata itu sambil menatap Marissa yang air matanya masih tergenang di pelupuk mata. “Di mana kata ‘keluarga’ itu saat Tante Marissa membuang foto ibuku ke gudang? Di mana kata ‘keluarga’ itu saat uang belanja sekolahku dipotong setengahnya untuk membelikan Bea tas bermerek baru? Dan di mana kalian semua saat ibuku berjuang sendirian di rumah sakit sebelum dia meninggal?”

“Lia! Cukup!” akhirnya Ayah bersuara. Pria itu menggebrak meja, membuat kaleng birnya terguling dan isinya membasahi karpet. “Jangan kurang ajar pada ibumu dan pamanmu!”

“Dia bukan ibuku, Yah,” sahutku lantang, menolak untuk gentar oleh gertakannya. “Dan uang Rp2,4 miliar itu bukan milik Ayah, bukan milik Paman Ernesto, apalagi milik Bea. Uang itu ada di dalam akun trust fund yang dikunci rapat oleh pengacara mendiang ibuku. Uang itu baru bisa dicairkan tepat dua hari lagi—di hari pertama aku menginjakkan kaki di ruang ujian universitas.”

Mendengar kata trust fund dan ‘pengacara’, wajah Paman Ernesto dan Marissa mendadak berubah drastis. Mereka mengira uang itu disimpan di rekening biasa yang bisa mereka cairkan dengan memaksa atau memalsukan tanda tanganku.

“Lia, Nak,” Paman Ernesto mencoba melembutkan suaranya lagi, meski senyumnya kini terlihat sangat dipaksakan. “Kami hanya ingin meminjamnya. Setelah Bea sukses di Inggris, dia pasti akan mengembalikannya padamu. Berlipat ganda malah.”

“Meminjam?” aku tersenyum sinis. “Dengan rekam jejak Paman yang sampai sekarang belum melunasi utang piutang ke koperasi desa? Atau dengan Tante Marissa yang bahkan tidak punya pekerjaan tetap? Bagaimana kalian akan menjamin uang Rp2,4 miliar itu kembali?”

Bea tiba-tiba berdiri, membanting gelas bobanya ke lantai hingga isinya berhamburan. “Kamu sengaja, kan, Lia?! Kamu hanya ingin melihatku gagal! Kamu tahu aku ingin ke luar negeri, tapi kamu sengaja menyembunyikan uang itu agar kamu terlihat paling hebat di keluarga ini!”

Aku menatap Bea dengan rasa kasihan yang mendalam. “Bea, ke Inggris bukan cuma soal punya uang Rp2,4 miliar. Tanpa nilai IELTS, tanpa persiapan, uang itu hanya akan habis untuk gaya hidupmu di sana. Kamu tidak sedang ingin belajar; kamu hanya ingin melarikan diri dari kenyataan bahwa kamu malas.”

“Rogelio! Lihat anakmu!” Marissa berteriak histeris, memeluk Bea yang mulai menangis buaya. “Dia menghina anakku di depan semua kerabatmu! Jika dia tidak mau memberikan uang itu, lebih baik aku dan Bea yang pergi dari rumah ini!”

Ancaman klasik. Dan seperti biasa, Ayah langsung panik. Dia memandangku dengan tatapan memohon yang menjijikkan. “Lia… tolonglah. Demi kedamaian rumah kita. Tanda tangani saja surat kuasa untuk pamanmu. Ayah mohon.”

Melihat figur seorang ayah yang berlutut demi ego istri barunya dan mengorbankan masa depan anak kandungnya sendiri, sesuatu di dalam diriku akhirnya patah. Rasa hormatku padanya menguap habis malam itu.

“Aku tidak akan menandatangani apa pun,” kataku, suaraku kini sangat tenang, namun sarat akan ketegasan yang tak bisa dibantah. “Dan kalian tidak perlu repot-repot mengusirku atau mengancam akan pergi.”

Aku berjalan ke arah kamarku, mengambil tas ransel yang sudah kusiapkan sejak sore hari. Di dalamnya sudah ada kartu ujian masuk universitas, beberapa potong baju, dan seluruh dokumen penting pribadiku. Aku tidak pernah berniat tinggal di rumah ini setelah ujian. Malam ini hanya mempercepat rencanaku.

Saat aku kembali ke ruang tamu dengan ransel di pundak, semua orang melongo.

“Mulai malam ini, aku keluar dari rumah ini,” ucapku sambil menatap Ayah. “Dua hari lagi aku akan mengikuti ujian masuk universitas. Aku akan tinggal di rumah kos dekat kampus dengan uang tabunganku sendiri sampai trust fund ibuku cair.”

Aku berjalan melewati Paman Ernesto, Marissa, dan Bea yang masih terpaku. Tepat di ambang pintu, aku berbalik sekali lagi.

“Uang Rp2,4 miliar dari ibuku akan kugunakan untuk membiayai kuliahku hingga master, membangun masa depanku, dan memastikan aku tidak akan pernah menjadi seperti kalian—orang-orang dewasa yang mengemis pada jerih payah orang mati. Selamat menikmati lemper dan gulai darahnya.”

Aku melangkah keluar ke kegelapan malam Malolos, meninggalkan riuh rendah suara karaoke tetangga dan keheningan penuh kekalahan di dalam rumah itu. Dua hari lagi adalah ujian terpenting dalam hidupku, dan untuk pertama kalinya, aku merasa sangat siap untuk menang.