Hari pertama masuk universitas, aku baru saja tiba di asrama ketika Mama menyerahkan kunci mobil yang katanya sudah lama beliau siapkan sebagai hadiah karena aku berhasil masuk kuliah.
Namun sebelum sempat beristirahat, teman sekamarku, Danica Villareal, tiba-tiba pamer di depan seluruh angkatan.
“Ayo kita liburan akhir pekan! Semua biaya aku yang tanggung—villa, makanan, bahkan aktivitas pantai!”
Ruangan langsung riuh oleh sorak gembira.
Di tengah keramaian, dia menghampiriku sambil tersenyum bak sosialita sejati.
“Angela, ikut juga dong. Sayang kalau kamu ditinggal di sini.”
Aku menatapnya dalam diam.
Karena di pergelangan tangannya… terpasang gelang yang diberikan Mama kepadaku tadi malam.
Gelang desainer eksklusif yang bahkan belum dirilis ke pasaran.
Dan baru pagi ini, gelang itu sudah hilang.
01
Orientasi baru saja selesai ketika Danica berdiri di tengah kelas dan mengangkat tinggi-tinggi kunci sebuah mobil sport.
“Guys, private resort sudah aku booking. Kalian tinggal senang-senang saja, urusan bayar biar aku yang urus.”
Seluruh kelas langsung ternganga.
“Gila, private resort?”
“Danica, ternyata kamu benar-benar kaya!”
“Boleh nggak aku jadi sahabatmu?”
Seseorang langsung membelikannya milk tea.
Ada yang menawarkan diri membawakan tasnya.
Bahkan beberapa cowok berebut membukakan pintu untuknya.
Sementara aku hanya duduk diam di belakang.
Danica menghampiri mejaku dan tersenyum.
“Angela, jangan jadi orang yang nggak asyik. Kita teman, kan?”
Pandanganku tertuju pada gelang di tangannya.
Sama persis.
Bahkan goresan kecil di sisi gelang itu pun sama.
Tadi malam, saat Mama memakaikannya di tanganku, beliau berkata:
“Gelang ini cuma dibuat satu buah. Ada kunci keamanan khusus. Kalau dilepas orang lain, ponsel Mama akan langsung menerima peringatan.”
Tapi seharian ini tidak ada satu pun notifikasi.
Artinya…
Kunci keamanannya belum dilepas.
Patricia Gomez, ketua kelas, terkikik.
“Mungkin Angela malu karena nggak punya barang mahal.”
Yang lain ikut tertawa.
“Iya, mungkin ini pertama kalinya dia masuk resort mewah.”
“Menurutku tasnya saja pasti palsu.”
Aku menutup buku catatan perlahan lalu menatap Danica.
“Memangnya gelangmu bagus ya?”
Danica sempat terdiam sesaat.
Namun dia segera tersenyum lagi.
“Hadiah ulang tahun dari Daddy.”
“Benarkah?”
Suasana sekitar mendadak hening.
Tapi Patricia langsung menyela.
“Angela, apa sih? Kamu menghina Danica?”
Danica berpura-pura tenang sambil merapikan rambut agar gelang itu semakin terlihat.
“Daddy bilang nanti saat Natal dia akan menggantinya dengan yang lebih mahal.”
Semua orang langsung kagum.
Aku diam-diam mengambil ponselku.
Ada pesan baru dari Kakakku.
“Kami sudah mendapatkan rekaman CCTV.”
Aku keluar ke koridor dan langsung meneleponnya.
Di video itu terlihat jelas bagaimana Danica membuka laci mejaku saat aku sedang mandi.
Dia mengambil gelang tersebut.
Lalu… memakainya di tangannya sendiri.
Kakakku tertawa dingin.
“Benar-benar nggak tahu malu.”
Aku kembali melihat ke dalam kelas.
Danica berdiri di tengah kerumunan, seperti ratu yang dikelilingi para pengagum.
Kakakku bertanya,
“Mau langsung lapor polisi?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
Senyumku perlahan mengembang.
“Biarkan saja dia membawa semuanya ke resort.”
Kakakku terdiam sejenak sebelum tertawa.
“Wah… ternyata kamu punya rencana yang lebih besar.”
“Dia sedang menggali kuburnya sendiri.”
Malam harinya, kami berangkat bersama menuju resort.
Danica duduk di bagian depan van sambil melakukan siaran langsung.
“Guys, nikmati saja malam ini! Uang itu bukan masalah!”
Kolom komentarnya langsung dipenuhi pujian.
“Kamu baik banget!”
“Kaya dan cantik!”
“Andai aku punya teman seperti kamu!”
Patricia tertawa sambil melirik ke arahku.
“Angela, kamu beruntung masih diajak Danica.”
Aku tidak menjawab.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Pesan dari Mama.
“Apakah gadis yang memakai gelang itu sedang berada di sampingmu?”
Aku mengernyit.
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
“Aku baru menerima peringatan keamanan tingkat tinggi.”
Aku langsung menoleh ke arah Danica.
Jari-jarinya sedang memainkan gelang tersebut.
Dan kemudian—
Terdengar suara klik yang sangat pelan.

Tubuhku langsung menegang.
Karena barusan saja dia…
membuka kunci keamanan gelang itu.
Berikut adalah kelanjutan dan akhir (ending) dari cerita tersebut:
Mendengar suara klik itu, aku langsung melirik ponselku. Sebuah pesan baru dari Mama masuk, isinya singkat namun dingin: “Sistem terkunci. Pelacak aktif. Polisi dan tim hukum keluarga kita sedang menuju koordinat gelang tersebut.”
Aku menyandarkan punggungku ke kursi van, melipat tangan di dada, dan tersenyum tipis. Kuburnya sudah selesai digali, dan Danica baru saja melompat masuk ke dalamnya dengan sukarela.
“Kenapa senyum-senyum sendiri, Angela? Gila ya?” sindir Patricia yang menyadari perubahan ekspresiku.
“Nggak apa-apa,” jawabku santai. “Aku cuma sedang membayangkan betapa ‘serunya’ akhir pekan kita nanti.”
Danica menoleh dari kursi depan, memamerkan gelang di pergelangan tangannya yang kini kililaunya sedikit berubah karena sistem keamanannya telah dinonaktifkan secara paksa. “Tentu saja seru! Resort yang kupesan ini adalah salah satu yang terbaik milik Santos Group. Orang biasa mana bisa masuk ke sini.”
Aku hampir saja tertawa terbahak-bahak. Santos Group? Itu adalah perusahaan properti milik kakekku dari pihak Mama.
Bagian 3
Dua jam kemudian, van kami tiba di depan gerbang private resort yang megah. Tempat itu dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan bertubuh tegap. Begitu van berhenti, Danica turun dengan gaya angkuh, diikuti oleh Patricia dan teman-teman sekelas yang sibuk membuat video dokumentasi.
“Selamat datang di surga, guys!” seru Danica bangga sambil berjalan menuju meja resepsionis di lobi terbuka yang mewah.
Manajer resort, seorang pria paruh baya berjas rapi bernama Pak Gunawan, menyambut kami dengan senyum profesional. “Selamat malam. Atas nama siapa reservasinya, Nona?”
Danica mengangkat dagunya. “Danica Villareal. Aku sudah booking VIP Villa untuk akhir pekan ini.”
Pak Gunawan memeriksa tablet di tangannya, dahinya berkerut. “Maaf, Nona Villareal. Di sistem kami tidak ada reservasi atas nama Anda. Terlebih lagi, seluruh area VIP Villa akhir pekan ini sudah dipesan secara privat oleh pemilik Santos Group untuk putri mereka yang baru masuk kuliah.”
Suasana mendadak hening. Senyum di wajah Danica langsung membeku.
“M-maksudnya gimana?! Periksa lagi dong! Aku sudah bayar pakai kartu!” sentak Danica mulai panik.
Patricia ikut menimpali, “Iya Pak, jangan bercanda! Danica ini kaya raya, ayahnya seorang pengusaha besar!”
Aku melangkah maju dari belakang kerumunan, berdiri tepat di samping Danica. “Oh ya? Coba tunjukkan bukti transfer atau pesanannya, Danica. Katanya uang bukan masalah?”
“Kamu diam ya, Angela! Jangan sok tahu!” bentak Danica, wajahnya memerah karena malu. Dia buru-buru membuka tasnya, mencari kartu debit yang entah dia curi dari mana, lalu menunjukkannya pada manajer. “Ini! Pakai kartu ini! Berapa pun harganya aku bayar sekarang!”
Pak Gunawan melihat kartu itu, lalu pandangannya beralih ke pergelangan tangan Danica—ke arah gelang desainer eksklusif yang sedang dipakainya. Detik itu juga, wajah Pak Gunawan berubah sangat serius.
“Nona… dari mana Anda mendapatkan gelang itu?” tanya Pak Gunawan dengan nada yang tiba-tiba menekan.
“Ini… ini hadiah ulang tahun dari Daddy-ku!” jawab Danica gugup, suaranya agak bergetar.
“Bohong,” potong sebuah suara berat dari arah pintu masuk lobi.
Semua orang menoleh. Kakak laki-lakiku, Reynald Santos, berjalan masuk dengan setelan jas rapi, didampingi oleh dua orang pengacara keluarga dan tiga anggota kepolisian.
Akhir yang Sempurna
“Gelang itu adalah prototype edisi terbatas yang dirancang khusus oleh ibuku, dan hanya ada satu di dunia sebagai hadiah untuk adikku, Angela Santos,” ucap Kak Reynald tegas.
Mendengar nama belakangku, seluruh teman sekelas langsung menoleh ke arahku dengan mata terbelalak. Patricia bahkan sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai.
“A-Angela… Santos?” bisik Patricia dengan bibir gemetar.
Pak Gunawan langsung membungkuk hormat ke arahku dan Kak Reynald. “Selamat malam, Den Reynald, Non Angela. Maaf atas ketidaknyamanan ini.”
Danica mundur beberapa langkah, wajahnya pucat pasi seperti mayat. “Nggak… nggak mungkin… Angela itu miskin! Dia cuma anak asrama biasa!”
Salah satu polisi maju dan memegang lengan Danica. “Nona Danica Villareal, Anda ditahan atas tuduhan pencurian properti berharga senilai miliaran rupiah, pembongkaran sistem keamanan secara ilegal, dan penipuan.”
“Lepaskan! Ini salah paham! Angela, tolong aku! Kita kan teman sekamar!” jerit Danica histeris saat borgol besi dipasang di tangannya. Dia menangis tersedu-sedu, memohon kepadaku sambil diseret keluar lobi menuju mobil polisi.
Teman-teman sekelas yang tadi memuja Danica kini berdiri mematung, tidak berani menatap mataku. Patricia perlahan mendekatiku dengan wajah memelas.
“Angela… m-maafkan kami ya. Kami beneran nggak tahu kalau kamu…”
Aku mengangkat tangan, menghentikan kalimatnya sebelum selesai.
“Pak Gunawan,” panggilku tanpa memandang Patricia.
“Ya, Non Angela?”
“Tolong batalkan semua akses fasilitas untuk orang-orang ini. Dan pastikan van yang membawa mereka tadi segera pergi dari resort saya. Biarkan mereka pulang jalan kaki kalau perlu.”
“Baik, Non. Segera dilaksanakan.”
Malam itu, di bawah langit pantai yang indah, aku dan Kak Reynald duduk di balkon VIP Villa sambil menikmati makan malam mewah. Sementara di luar gerbang resort, sayup-sayup terdengar suara Patricia dan teman-teman sekelas lainnya yang menangis frustrasi karena harus berjalan kaki berkilo-kilometer di tengah malam.
Danica mengira dia bisa mencuri hidupku hanya dengan mengambil gelangku. Namun dia lupa, kilau barang mewah bisa dipalsukan, tetapi kelas dan kenyataan siapa pemilik aslinya tidak akan pernah bisa direbut.