“IBU MERTUAKU DATANG UNTUK MENGUNJUNGI CUCU-CUCUNYA. IA TIDAK TAHU BAHWA ANAK LAKI-LAKINYA SUDAH MENINGGALKAN KELUARGANYA DEMI WANITA LAIN. TETAPI SAAT IA MELANGKAH MASUK KE RUMAH, WAJAHNYA LANGSUNG BERUBAH…”**
Ibu mertuaku datang untuk mengunjungi cucu-cucunya pada sebuah pagi Sabtu yang cerah. Sinar matahari menyelinap lembut melalui tirai tipis dan meninggalkan garis-garis keemasan di lantai seperti tetesan madu.
Aku sedang menyiapkan sarapan ketika bel pintu berbunyi.
Aku bahkan tidak perlu melihat CCTV untuk tahu siapa yang datang.
Aku langsung tahu.
Itu dia.
Bu Lourdes.
Ia selalu datang tanpa pemberitahuan.
Membawa barang-barang untuk anak-anak, makanan buatan rumah, dan tatapan tajam khasnya yang seolah mampu membaca setiap sudut rumah.
Aku membuka pintu.
Ia berdiri di sana.
Rambutnya kini dipenuhi lebih banyak uban dibanding terakhir kali kami bertemu.
Di tangannya ada kantong belanja besar.
Matanya dengan cepat menatapku sebelum melihat ke dalam rumah.
“Di mana anak-anak?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
“Mereka di ruang keluarga, sedang sarapan,” jawabku.
Ia mengangguk lalu masuk.
Namun begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia tiba-tiba berhenti.
Mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.
Tetapi aku merasakannya.
Seolah suasana di dalam rumah mendadak berubah.
Ia memperhatikan sekeliling.
Sofa.
Meja makan.
Sandal-sandal yang tersusun rapi di dekat pintu.
Tatapannya bertahan lebih lama dari biasanya.
Lalu ia bertanya, lebih pelan dari sebelumnya.
“Di mana Mark?”
Dadaku langsung terasa sesak.
Pertanyaan itu sudah lama kuhindari.
“Ah… dia sedang sibuk bekerja,” jawabku sambil berusaha terdengar tenang.
Ia tidak langsung menanggapi.
Hanya menggumam pelan.
“Hm.”
Namun aku bisa merasakan tatapannya menjadi dingin.
Anak-anak datang berlari dan langsung memeluk nenek mereka.
Ruang keluarga pun dipenuhi tawa.
Seolah tidak ada pertanyaan yang baru saja dilontarkan.
Namun di dalam diriku, beban itu semakin berat.
Karena aku tahu…
Aku berbohong.
Dan Bu Lourdes bukan orang yang mudah dibohongi.
—
Mark—suamiku—pergi enam bulan yang lalu.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada adegan dramatis.
Suatu malam ia pulang dengan wajah lelah.
Ia meletakkan kunci di atas meja.
Menatapku cukup lama.
Lalu berkata,
“Aku lelah.”
Kupikir ia hanya lelah karena pekerjaan.
Tetapi keesokan harinya, ia sudah tidak ada.
Telepon tidak pernah diangkat.
Pesan hanya dibaca.
Lalu akhirnya tidak ada jawaban sama sekali.
Aku menunggu.
Namun semakin lama, kenyataannya semakin jelas.
Ia tidak hanya meninggalkan rumah.
Ia meninggalkan seluruh keluarganya.
Aku tidak sanggup mengatakan hal itu kepada Bu Lourdes.
Aku tahu Mark adalah satu-satunya alasan ia masih bisa tersenyum setelah suaminya meninggal dunia.
Dan cucu-cucunya adalah satu-satunya kebahagiaan yang tersisa dalam hidupnya.
Aku takut dunianya akan runtuh.
Karena itu aku memilih diam.
Aku mengatakan bahwa Mark sedang melakukan perjalanan dinas.
Sebuah kebohongan yang bertahan selama enam bulan.
—
Pagi itu berlalu dengan campuran tawa anak-anak dan keheningan yang semakin dalam di antara aku dan ibu mertuaku.
Ia bermain dengan cucu-cucunya.
Menanyakan sekolah mereka.
Menyuapi mereka buah-buahan.
Tetapi sesekali aku melihatnya terdiam dan menatap kosong ke suatu titik.
Seolah sedang mencari seseorang yang tidak ada di rumah itu.
Ketika siang tiba dan anak-anak tertidur, ia memanggilku ke dapur.
“Duduklah,” katanya.
Nada suaranya berbeda sekarang.
Aku tahu saat itu akhirnya tiba.
“Katakan yang sebenarnya,” katanya. “Di mana Mark?”
Tanganku langsung mengepal.
“Dia sedang bekerja… jauh dari sini,” jawabku lagi.
Ia menatapku.
Tatapannya seolah membelah seluruh pertahananku.
“Pekerjaan yang membuatnya tidak pulang selama enam bulan?” tanyanya dingin.
Aku tidak bisa menjawab.
Keheningan memenuhi dapur.
Ia meletakkan gelas di atas meja.
Suara benturannya terdengar jelas.
“Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku,” katanya.
Aku menunduk.
Saat itu aku sadar.
Aku tidak bisa terus berbohong.
Tetapi aku takut.
Takut semuanya hancur.
—
Sore harinya, ia naik ke kamar Mark.
Sementara aku tetap berada di bawah, aku mendengar setiap langkahnya di tangga.
Berat.
Lambat.
Penuh kecemasan.
Aku tahu apa yang akan ia temukan.
Atau lebih tepatnya…
Apa yang tidak akan ia temukan.
Tidak ada lagi pakaian Mark.
Tidak ada lagi jejak seorang pria yang telah lama pergi.
Ketika ia turun kembali, wajahnya sudah berbeda.
Bukan lagi penuh keraguan.
Melainkan penuh luka.
Ia menatapku lama.
“Katakan sekali lagi,” ucapnya tenang namun berat. “Di mana Mark?”

Aku menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, aku mengatakan yang sebenarnya.
“Dia sudah tidak tinggal di sini lagi.”
Seolah waktu berhenti.
Bu Lourdes terdiam. Tubuhnya yang biasanya tegap dan tegar tampak sedikit goyah, seolah ada beban tak kasat mata yang baru saja menghantam pundaknya. Ia perlahan berjalan menuju kursi makan dan duduk di sana.
“Dia pergi… dengan wanita lain,” lanjutku, suaraku bergetar hebat. Air mata yang selama enam bulan ini kutahan di depan anak-anak, akhirnya tumpah di hadapan wanita yang melahirkan pria yang telah menghancurkan hatiku. “Maafkan aku, Ibu. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya… aku hanya tidak ingin merusak kebahagiaanmu. Aku tahu betapa Ibu mencintai Mark.”
Aku menunduk, bersiap menerima amarah, histeria, atau bahkan penolakan dari seorang ibu yang putranya baru saja kukatai sebagai pengkhianat.
Namun, ruangan itu sunyi.
Hanya ada suara detak jam dinding yang seolah mengejek kerapuhanku.
Ketika aku memberanikan diri untuk mendongak, aku tertegun. Bu Lourdes tidak menangis histeris. Wajahnya yang tadinya dipenuhi luka kini mengeras, bertransformasi menjadi ekspresi dingin yang memancarkan ketegasan yang luar biasa.
Ia membuka tas kulit besarnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tampak sengaja ia persiapkan sebelum datang ke rumah ini, lalu meletakkannya di atas meja.
“Aku sudah tahu,” ucap Bu Lourdes, suaranya terdengar sangat tenang, namun sarat akan kekecewaan yang mendalam.
Aku terbelalak. “Ibu… sudah tahu?”
Bu Lourdes mengangguk pelan. “Dua minggu lalu, seorang kenalan lamaku melihat Mark di sebuah pusat perbelanjaan di kota sebelah. Dia tidak sendiri. Dia menggandeng wanita lain. Awalnya aku menolak percaya. Aku menyewa orang untuk mencari tahu, dan kemarin… semua bukti ini sampai ke tanganku.”
Ia mendorong amplop cokelat itu ke hadapanku. Saat kubuka, isinya adalah foto-foto Mark bersama wanita itu, lengkap dengan alamat apartemen baru yang mereka sewa atas nama Mark.
“Aku datang ke sini hari ini bukan untuk mencari Mark,” kata Bu Lourdus, matanya kini menatapku dengan kehangatan yang mendalam, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. “Aku datang untuk melihat bagaimana keadaan menantuku. Aku ingin tahu seberapa besar beban yang kamu pikul sendirian selama enam bulan ini demi melindungi perasaan anak-anak… dan perasaanku.”
Bu Lourdes berdiri, berjalan mendekatiku, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang begitu erat, begitu hangat, seperti pelukan seorang ibu kandung.
“Maafkan aku karena telah melahirkan seorang pengecut,” bisik Bu Lourdes sambil mengelus rambutku. “Dia mungkin anak kandungku, tetapi apa yang dia lakukan adalah sebuah kejahatan. Dia tidak hanya meninggalkanmu, dia meninggalkan darah dagingnya sendiri.”
Aku menangis sejadi-jadinya di pundak ibu mertuaku. Semua rasa lelah, kesepian, dan kepura-puraan yang kupendam sendirian selama setengah tahun ini runtuh seketika.
Bu Lourdes melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mataku dengan jemarinya yang kasar.
“Dengar seka-rang,” ucapnya tegas. “Rumah ini dibeli dengan uang muka dari warisan mendiang suamiku, dan sertifikatnya ada di tanganku. Besok, kita akan ke notaris. Rumah ini akan kubalik nama atas namamu dan anak-anak. Mark tidak akan mendapatkan sepeser pun.”
Ia mengambil ponselnya, lalu menekan sebuah nomor. Ia menyalakan pengeras suara. Setelah beberapa nada sambung, suara Mark terdengar di seberang sana.
“Halo, Ibu? Ada apa?” suara Mark terdengar gugup.
“Mark,” suara Bu Lourdes terdengar sangat dingin, sedingin es. “Mulai hari ini, jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di rumah ini. Jangan pernah telepon atau menemui anak-anakmu sebelum kamu siap mempertanggungjawabkan perbuatanmu di pengadilan. Kamu bukan lagi anakku. Aku hanya punya satu anak perempuan sekarang, dan dia sedang bersamaku di sini.”
Tanpa menunggu jawaban dari Mark, Bu Lourdes langsung mematikan ponselnya. Ia menatapku sambil tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memberi kekuatan baru di dalam dadaku.
“Kita akan melewati ini bersama, Nak. Kamu tidak sendirian lagi.”
Sore itu, meskipun badai baru saja berlalu di dalam rumah kami, aku tahu bahwa di dalam reruntuhan pernikahan yang dihancurkan oleh Mark, egoisme suamiku justru mempertemukan dua wanita yang kini siap menjadi benteng paling kokoh demi masa depan anak-anak.