Posted in

Ibuku yang Seorang Influencer Meninggalkanku Karena Wajahku Tidak Bagus di Kamera, Tetapi Saat Ibu Tiriku Mengajakku ke Klinik, Terungkaplah Rahasia yang Selama Ini Menjadi Sumber Penghasilan Ibuku**

Ibuku yang Seorang Influencer Meninggalkanku Karena Wajahku Tidak Bagus di Kamera, Tetapi Saat Ibu Tiriku Mengajakku ke Klinik, Terungkaplah Rahasia yang Selama Ini Menjadi Sumber Penghasilan Ibuku**

Ibuku adalah seorang seleb media sosial.

Hampir semua videonya memiliki tema yang sama.

*”Coba tebak, mana yang ibu dan mana yang anak?”*

*”Pakai baju kembaran sama anak—siapa yang paling cocok?”*

*”Menurut kalian, kami kelihatan seperti kakak-adik nggak?”*

Dan setiap kali…

Akulah yang selalu kalah.

Namaku Nica Villanueva.

Usiaku enam belas tahun.

Pipiku dipenuhi jerawat meradang.

Tubuhku agak gemuk.

Dan setiap kali kamera menyala, aku selalu menundukkan kepala.

Sementara ibuku, yang dikenal sebagai **MaraLuxe** di media sosial, selalu tampil dengan kulit mulus, wajah penuh filter, dan senyum sempurna seolah tak pernah menyadari bagaimana aku semakin mengecil di sampingnya.

Padahal…

Dia tahu.

Dia sangat tahu.

Setiap kali membaca komentar, dia malah tertawa.

*”Cantik banget, Bu Mara. Anaknya malah kelihatan seperti ART.”*

*”Ibunya cantik sekali, kok anaknya beda banget?”*

*”Ibunya bersinar, anaknya malah penuh minyak.”*

Lalu dia akan memegang daguku, menghadapkanku ke kamera, sambil berkata,

“Ayo, jangan jahat begitu. Ini cuma masa pubertas.”

Namun begitu siaran langsung selesai…

Dia menurunkan ponselnya dan berbisik,

“Itulah kenapa Mama selalu bilang jangan makan kebanyakan. Kamu bikin Mama malu di depan followers.”

Hari itu dia bilang akan pergi ke **Pulau Bali** bersama Jace, pria yang lebih muda dan selalu dia sebut sebagai “partner bisnis.”

“Nica, untuk sementara tinggal dulu di rumah Papa di Jakarta,” katanya sambil memasukkan sunscreen ke dalam tas.

“Mama sibuk. Ini perjalanan untuk bikin konten.”

Mama dan Papa sudah lama bercerai.

Sejak kecil aku tinggal bersama Mama di **Bogor**.

Hidupku selalu berada di depan ring light, kamera, dan jutaan orang asing yang merasa berhak menghakimiku.

Yang kuingat tentang Papa, Renato Villanueva…

Dia pendiam.

Tinggi.

Dan terasa seperti tembok yang tak pernah tahu bagaimana harus kudekati.

Menurut Mama…

Papa meninggalkan kami karena tidak mau memikul tanggung jawab.

Membawa koper kecilku…

Aku naik bus menuju Jakarta.

Di terminal…

Maskerku kutarik setinggi mungkin hingga hampir menutupi seluruh wajah.

Udara sangat panas.

Wajahku berminyak.

Jerawat-jerawatku terasa nyeri, seolah ada api yang membakar di bawah kulit.

Tiba-tiba seorang wanita berhenti di depanku.

“Eh! Kamu anaknya MaraLuxe, kan?”

Tubuhku langsung membeku.

Beberapa orang spontan menoleh.

Seorang pria bahkan mengeluarkan ponselnya.

Mungkin mereka membayangkan akan melihat putri cantik dari seorang influencer terkenal.

Namun…

Yang mereka lihat hanyalah aku.

Aku dengan kaus longgar.

Dahi penuh keringat.

Dan pipi merah meradang yang tampak dari balik masker.

“Benar dia ya?”

“Ternyata beda banget sama di video…”

“Berarti selama ini memang banyak editan…”

Tatapan mereka menusuk seperti jarum.

Dadaku dipenuhi rasa malu dan marah.

“Bukan aku!” teriakku.

“Kalian salah orang!”

Aku berlari keluar terminal.

Hampir tersandung karena koper yang kubawa.

Saat tiba di rumah Papa…

Tanganku masih gemetar ketika mengetuk pintu.

Namun yang membukakan pintu bukan Papa.

Seorang wanita sederhana berdiri di hadapanku.

Tanpa riasan tebal.

Memakai daster berwarna krem.

Masih memegang lap pel.

Dia tidak secantik Mama.

Tetapi ketika dia tersenyum…

Rasanya seperti ada jendela yang terbuka di dalam dadaku.

“Kamu Nica?” tanyanya lembut.

“Saya Tante Lorna. Masuklah, Nak. Di luar panas sekali.”

**Nak.**

Dia bahkan belum mengenalku.

Tetapi sudah memanggilku dengan penuh kasih.

Dia mengambil koperku meski aku menolak.

“Sudah makan?”

“Masih ada sayur asam di dapur.”

“Nanti Tante antar ke kamarmu.”

Di ruang tamu…

Aku melihat Papa.

Dia duduk di sofa sambil memegang koran.

“Kamu sudah sampai.”

Aku mengangguk.

Namun tetap berdiri kaku.

Aku tidak tahu harus memeluknya…

Melambaikan tangan…

Atau justru berbalik pergi.

Baru kemudian kusadari…

Koran yang dipegangnya ternyata terbalik.

Entah kenapa…

Aku hampir tertawa sekaligus menangis.

Tante Lorna mengantarkanku ke kamar kecil yang bersih dan wangi.

Ada selimut baru.

Bantal baru.

Kipas angin.

Dan di atas meja terdapat sebuah keranjang berisi perlengkapan mandi.

Sikat gigi.

Gelas.

Handuk.

Sampo.

Sabun.

Serta…

Sebotol kecil pembersih wajah.

Aku terdiam.

Seumur hidup…

Aku belum pernah memiliki facial cleanser sendiri.

Suatu kali aku pernah memakai milik Mama.

Dia langsung mempermalukanku di depan ART.

“Mau jadi pencuri sekarang?”

“Skincare mahal bukan buat kamu.”

“Percuma juga.”

Sejak hari itu…

Aku selalu mencuci wajah dengan sabun mandi.

Kadang sampai tiga kali sehari.

Sampai kulitku perih.

Namun jerawatku justru semakin parah.

Tante Lorna melihat aku menatap botol itu.

“Kamu nggak suka?”

“Kalau kurang cocok, nanti kita beli yang lain.”

“Tante juga bukan ahli, jadi pilih yang paling lembut dulu.”

Tenggorokanku terasa sesak.

“Bukan begitu…”

“Terima kasih.”

Untuk pertama kalinya…

Aku memakai pembersih wajah tanpa harus sembunyi-sembunyi.

Saat membasuh wajah…

Rasanya seperti ada beban yang perlahan ikut hanyut bersama air.

Jerawatku memang belum hilang.

Tetapi untuk pertama kalinya…

Aku tidak merasa diriku kotor.

Ketika keluar dari kamar mandi…

Aku mendengar Papa dan Tante Lorna berbicara di ruang tamu.

“…mungkin besok kita bawa dia ke dokter.”

“…pelan-pelan saja, Ren,” jawab Tante Lorna.

“Jangan sampai anak itu mengira ada yang salah dengan dirinya.”

**Ada yang salah denganku.**

Kalimat itu langsung menghantam pikiranku.

Aku keluar dengan napas memburu.

“Aku tidak sakit!” teriakku.

“Kalian tidak perlu membawaku ke dokter hanya untuk membuktikan kalau aku jelek!”

Mereka berdua langsung terdiam.

Wajah Papa memerah.

Sementara Tante Lorna melangkah mendekat…

Tanpa menyentuhku.

“Nica…”

katanya lembut.

“Kamu tidak jelek.”

“Dan kami tidak ingin mengubahmu supaya orang lain menerima kamu.”

“Kami hanya ingin tahu apakah kulitmu sudah terlalu sakit.”

“Jerawatmu tampaknya sudah meradang.”

“Kita hanya akan menemui dokter spesialis kulit.”

Dokter kulit.

Bukan klinik kecantikan.

Bukan tempat pelangsingan.

Bukan proyek perubahan demi konten.

“…Apa ini bisa sembuh?” tanyaku lirih.

Tante Lorna tersenyum hangat.

“Bisa.”

“Mungkin tidak instan.”

“Tapi pasti bisa dibantu.”

Keesokan harinya…

Mereka mengajakku ke sebuah klinik kulit di kawasan **Jakarta**.

Aku hanya diam saat dokter memeriksa wajahku.

Beliau mengatakan aku mengalami jerawat inflamasi yang cukup parah.

Ada beberapa tanda yang membuatku perlu menjalani pemeriksaan darah juga.

Beliau tidak memarahiku.

Tidak menyebutku malas.

Tidak mengatakan aku menjijikkan.

Beliau hanya bertanya,

“Sudah berapa lama jerawat ini terasa sakit?”

Aku tidak mampu menjawab.

Tante Lorna menggenggam tanganku.

“Sudah lama…”

bisikku.

“Tapi Mama bilang aku cuma lebay.”

Dokter itu terdiam.

Setelah pemeriksaan selesai…

Saat kami berjalan di lorong…

Ponsel Papa tiba-tiba berdering.

Begitu melihat nama di layar…

Wajahnya langsung menegang.

Mama.

Belum sempat telepon itu diangkat…

Pintu klinik terbuka.

Mama masuk dengan kacamata hitam, crop top, dan ponsel yang sedang melakukan siaran langsung.

Di belakangnya, Jace membawa ring light kecil.

Mama tersenyum ke arah kamera.

Lalu mengarahkannya kepadaku.

“Halo semuanya, akhirnya aku menemukan anakku yang disembunyikan mantan suamiku.”

“Lihat sendiri bagaimana mereka berusaha melawanku.”

Lalu dia menatapku dengan mata yang dingin.

“Nica.”

“Tersenyumlah.”

“Bilang ke semua followers Mama siapa ibu kandungmu.”

Untuk pertama kalinya…

Aku melihat Tante Lorna melangkah berdiri di depanku.

Namun sebelum dia sempat berbicara…

Papa berkata dengan suara tegas,

“Mara.”

“Matikan siaran langsung itu.”

“Sekarang juga.”

Mama hanya tersenyum sinis.

“Kenapa?”

“Takut dia akhirnya tahu yang sebenarnya?”

Saat itulah…

Aku melihat tangan Papa bergetar.

Dan di tangannya…

Ada sebuah amplop cokelat yang ternyata selama ini disimpan diam-diam di dalam tas Tante Lorna…

“Amplop apa itu?” tanya Mama, matanya yang terbiasa mencari celah kamera mendadak menyipit curiga. Kamera ponselnya masih menyala, merekam setiap jengkal ketegangan di lorong klinik.

Papa tidak menjawab. Dia melangkah maju, merebut ponsel dari tangan Jace yang memegang ring light, lalu menekan tombol untuk mematikan siaran langsung tersebut.

“Hei! Apa-apaan kamu, Renato! Itu merusak algoritma siaranku!” pekik Mama murka. Wajahnya yang semula tampak manis dan keibuan di depan kamera langsung berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan.

“Algoritma?” Papa mendengus, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. “Selama bertahun-tahun aku diam karena mengira kamu setidaknya memberikan kehidupan yang layak untuk Nica dengan semua uang hasil nafkah yang kukirimkan setiap bulan. Tapi hari ini, dokter di dalam baru saja memberikan hasil pemeriksaan darah Nica.”

Papa melempar amplop cokelat itu tepat ke dada Mama. Amplop itu terjatuh ke lantai, tetapi Tante Lorna dengan cepat memungutnya dan membukanya di depan wajah Mama.

“Baca ini, Mara,” kata Tante Lorna, suaranya tidak lagi selembut kemarin. Ada ketegasan seorang ibu yang sedang melindungi anaknya. “Ini bukan sekadar jerawat pubertas. Dokter bilang Nica mengalami malnutrisi parah dan ketidakseimbangan hormon ekstrem akibat paparan zat kimia berbahaya jangka panjang.”

Aku tertegun. Zat kimia berbahaya? Malnutrisi?

Mama mencoba tertawa remeh, meski matanya mulai bergerak gelisah. “Zat kimia apa? Malnutrisi apa? Aku selalu membelikannya makanan! Dia saja yang rakus dan malas mengurus diri!”

“Jangan bohong lagi!” bentak Papa, suaranya menggelegar di lorong klinik hingga beberapa perawat menoleh. “Dokter menemukan kandungan zat pengubah hormon dan penahan metabolisme dalam dosis tinggi di sistem tubuh Nica. Zat yang biasanya ditemukan dalam obat pelangsing ilegal dan kosmetik pemutih murah ber-merkuri!”

Otakku mendadak berputar. Ingatanku langsung melesat ke masa lalu.

Sejak usiaku sepuluh tahun, setiap pagi Mama selalu membuatkanku segelas “susu suplemen peninggi badan” atau “vitamin kulit” yang rasanya pahit. Dia selalu memaksa aku menghabiskannya sebelum berangkat sekolah. Jika aku menolak, dia akan mengurungku di kamar. Dan setiap kali berat badanku mulai turun atau kulitku agak bersih, dia akan mengganti bubuk vitamin itu dengan alasan “merek yang lama sudah tidak efektif.”

“Kamu… kamu sengaja membuatku seperti ini?” bisikku, suaraku bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, membasahi jerawat di pipiku yang terasa semakin perih. “Ma… kenapa?”

Mama terdiam, wajahnya pucat pasi di bawah lampu neon klinik. Dia melirik ke arah Jace yang juga tampak panik.

“Kamu ingin tahu kenapa, Nica?” Tante Lorna memeluk pundakku yang bergetar, memberikan kekuatan yang sangat kubutuhkan. “Karena ‘MaraLuxe’ tidak akan pernah terkenal jika tidak ada kamu sebagai pembandingnya. Sumber penghasilan ibumu selama ini adalah dengan menjual narasi kontras. Dia adalah ibu yang awet muda, cantik, dan sempurna, sementara kamu adalah anak yang buruk rupa, gemuk, dan tidak terawat.”

Tante Lorna menyerahkan lembaran kertas lain dari dalam amplop. Itu adalah cetakan layar dari kontrak kerja sama promosi (endorsement) milik Mama dengan sebuah klinik kecantikan besar dan produk pelangsing.

Di sana tertulis jelas klausulnya: “Pihak pertama (MaraLuxe) wajib menampilkan sosok anak kandung yang kontras (tidak ideal/berjerawat) dalam setiap konten sebelum mempromosikan produk ke keindahan maksimal diri Pihak Pertama, guna meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap efektivitas produk awet muda.”

Duniaku runtuh sedalam-dalamnya. Jadi… selama ini aku bukan gagal menjadi anak yang membanggakan. Aku sengaja dirusak. Wajahku, tubuhku, dan kesehatan mental yang dihancurkan setiap hari di depan jutaan orang… semuanya adalah properti bisnis yang sengaja dia ciptakan demi meraup pundi-pundi rupiah.

“Ternyata tebakanku benar,” ucap Papa dengan nada dingin yang menusuk tulang. “Setiap bulan aku mengirimkan seratus juta rupiah untuk biaya hidup Nica, tetapi kamu menyembunyikan uang itu, memberinya makanan sisa, dan meracuninya dengan obat-obatan agar dia tetap terlihat buruk di kamera demi menunjang kariermu.”

“Renato, dengar dulu—” Mama mencoba meraih lengan Papa, tetapi Papa menepisnya dengan kasar.

“Kontrak ini, hasil laboratorium ini, beserta seluruh bukti transfer nafkah dariku selama enam tahun terakhir… semuanya sudah diserahkan oleh pengacaraku ke Polda Metro Jaya pagi ini,” kata Papa, wajahnya kini datar tanpa emosi. “Kamu tidak hanya akan kehilangan hak asuh Nica secara permanen, Mara. Kamu juga akan menghadapi tuntutan eksploitasi anak, penganiayaan berat, dan pencucian uang.”

Mendengar kata ‘Polda’, ponsel di tangan Jace langsung terjatuh. Pria muda itu langsung mundur dan berlari meninggalkan Mama sendirian di lorong klinik, takut ikut terseret dalam kasus kriminal.

“Jace! Jace, tunggu!” teriak Mama panik. Namun pria itu tidak menoleh sedikit pun.

Mama kini memandang kami dengan mata yang liar, menyadari bahwa kerajaan media sosial yang dibangunnya di atas penderitaanku telah hancur berkeping-keping dalam sehari. Dia menatapku, mencoba memasang wajah melas yang biasa dia gunakan saat membuat konten klarifikasi.

“Nica… Nica sayang, Mama melakukan ini semua untuk masa depanmu juga… Uang itu untuk kita—”

Aku melangkah maju, melepaskan diri dari dekapan hangat Tante Lorna. Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupku, aku menatap lurus ke dalam mata wanita yang melahirkanku itu tanpa rasa takut, tanpa rasa minder. Aku perlahan menurunkan maskorku, membiarkan dia melihat dengan jelas seluruh jerawat dan luka yang telah dia tanam di wajahku.

“Jangan pernah sebut namaku lagi,” kataku, suaraku terdengar begitu tenang namun penuh penekanan. “Mulai hari ini, kamu bukan ibuku. Kamu hanya orang asing yang sebentar lagi akan memakai baju tahanan oranye—dan percayalah, warna itu sama sekali tidak akan kelihatan bagus di kameramu.”

Setelah mengatakan itu, aku berbalik. Aku menggandeng tangan Papa di sebelah kananku, dan tangan Tante Lorna di sebelah kiriku. Kami berjalan keluar dari klinik menuju cahaya matahari Jakarta yang cerah.

Perjalananku untuk sembuh mungkin akan memakan waktu yang lama, dan bekas luka di wajah serta hatiku mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dalam semalam. Namun, saat aku masuk ke dalam mobil bersama keluarga yang sesungguhnya, aku tahu… untuk pertama kalinya, aku akhirnya bisa tersenyum dengan bebas tanpa perlu mengkhawatirkan sudut kamera.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.