Dia Memberikan Seluruh Tabungan Kami kepada Adik Perempuannya… Saat Tak Ada Lagi Uang untuk Biaya Operasinya, Justru Aku yang Dimarahi: “Kalau Masih Punya Hati Nurani, Pinjamlah Uang!”**
## BAGIAN 1
“**Ibu harus membayar uang muka sebesar Rp22.000.000 terlebih dahulu.**”
Kata petugas kasir rumah sakit di **Jakarta** dengan tenang sambil menyerahkan mesin EDC kepadaku.
Aku mengangguk.
“Baik.”
Selama delapan tahun menikah…
Aku dan suamiku hanya menggunakan satu rekening bank.
Gajiku masuk ke rekening itu.
Gajinya Marco juga masuk ke rekening yang sama.
Dan yang terpenting…
Di sanalah kami menabung untuk membeli rumah pertama bagi keluarga kecil kami.
Namun beberapa detik kemudian…
Petugas kasir mengembalikan kartu ATM kepadaku.
“Maaf, Bu.”
“Saldo rekening ini tidak mencukupi.”
Aku seperti kehilangan pendengaran.
“Tidak mungkin…”
“Bulan lalu saja, saldo rekening ini masih lebih dari **Rp1,4 miliar**.”
Petugas itu menggeleng.
“Saat ini…”
“**Saldo yang tersisa hanya Rp12.000.**”
Seluruh tubuhku langsung membeku.
Aku segera berlari menuju mesin ATM di lobi rumah sakit.
Memasukkan kartu.
Mengetik PIN.
Lalu memeriksa saldo.
**Rp12.000.**
Duniaku seakan runtuh saat itu juga.
Dengan tangan gemetar, kubuka riwayat transaksi.
Tiga kali transfer bank berturut-turut.
Masing-masing sebesar…
**Rp467.000.000.**
Totalnya…
Lebih dari **Rp1,4 miliar.**
Seluruh tabungan kami selama delapan tahun…
Lenyap hanya dalam semalam.
Mataku terpaku pada nama penerima transfer.
**Angela Reyes.**
Adik perempuan Marco.
Adik iparku.
Tubuhku seketika terasa dingin.
Tepat saat itu…
Ponselku berdering.
Marco yang menelepon.
Suaranya terdengar lemah dari kamar rumah sakit.
“Sayang…”
“Biaya rawat inapnya sudah dibayar?”
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
“Ke mana uang kita?”
Di seberang sana langsung hening.
Sunyi cukup lama.
Lalu dia menghela napas.
“Jangan marah.”
“Angela mau menikah.”
“Ibu bilang rumah mereka harus direnovasi supaya keluarga calon suaminya tidak meremehkannya.”
“Dia cuma pinjam dulu.”
“Nanti juga akan dikembalikan.”
**Pinjam?**
Lebih dari **Rp1,4 miliar**…
Diam-diam dipindahkan tanpa sepengetahuanku.
Lalu…
Disebut hanya **meminjam**?
Aku tidak bisa menahan tawa.
Namun tawa itu terasa begitu dingin.
“Marco…”
“Kamu menghabiskan seluruh tabungan kita.”
“Lalu sekarang…”
“Aku yang harus berutang demi membayar operasi kamu?”
Dia kembali menghela napas.
“Aku ini suamimu.”
“Jangan terus menghitung-hitung uang.”
Tanpa berkata apa-apa lagi…
Aku langsung menutup telepon.
Kartu ATM yang hanya berisi **Rp12.000** kusimpan kembali ke dalam tas.
Saat aku kembali ke ruang perawatan…
Dokter segera menghampiriku.
“Bu, apakah proses administrasinya sudah selesai?”
Aku menatapnya beberapa saat.
Lalu menjawab perlahan.
“Dok…”
“Kami tidak jadi dirawat.”
“Kami sudah tidak punya uang untuk membayarnya.”
Baru saja kalimat itu selesai…
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Marco…
Meski perutnya masih kesakitan…
Tetap memaksa turun dari ranjang.
Dia berjalan menghampiriku.
Lalu mencengkeram lenganku dengan kuat.
Wajahnya dipenuhi amarah.
**”Isabella… Apa kamu benar-benar ingin melihatku mati?”**
“Kalau kamu masih punya hati nurani, pinjamlah uang ke teman-temanmu!” bentak Marco, suaranya menggema di sepanjang koridor rumah sakit, memicu perhatian para perawat dan keluarga pasien lain. “Kamu tega membiarkan suamimu sendiri menahan sakit seperti ini hanya karena masalah uang?!”
Aku menatap tangan Marco yang mencengkeram lenganku. Cengkeraman yang dulunya terasa hangat, kini terasa seperti besi dingin yang mencekik.
“Masalah uang?” tanyaku, suaraku begitu datar, bahkan mengejutkan diriku sendiri. “Marco, uang Rp1,4 miliar itu bukan cuma uangmu. Setengah dari nominal itu adalah hasil keringatku yang kukumpulkan selama delapan tahun bekerja lembur sampai tipus. Dan kamu memberikannya begitu saja kepada adikmu untuk renovasi rumah?”
“Angela itu adik kandungku, Isabella! Dia hanya menikah sekali seumur hidup!” Marco membela diri, wajahnya memerah menahan geram dan rasa sakit di perutnya. “Lagipula, ibuku yang memintanya. Apa kamu mau aku menjadi anak durhaka? Uang bisa dicari lagi, tapi keluarga tidak ada gantinya!”
“Lalu aku ini apa?” Aku menyentakkan lenganku hingga cengkeramannya terlepas. “Aku istri yang menemanimu dari nol, atau cuma mesin ATM yang bertugas menanggung kebodohan keluargamu?”
Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Ibu mertuaku dan Angela berjalan keluar dengan langkah anggun. Angela menjinjing tas belanjaan dari merek mewah, sementara ibu mertuaku sibuk memamerkan cincin emas barunya. Tidak ada sedikit pun raut cemas di wajah mereka, padahal mereka tahu Marco dilarikan ke rumah sakit karena usus buntu yang meradang.
Begitu melihat perdebatan kami, ibu mertuaku langsung memasang wajah masam.
“Ada apa ini ribut-ribut? Isabella, keterlaluan ya kamu! Suamimu sedang sakit, bukannya buru-buru diurus operasinya, malah diajak berantem!” omel ibu mertuaku sambil menghampiri Marco dan mengelus pundaknya.
“Bu… Isabella tidak mau membayar biaya operasiku,” adu Marco, suaranya mendadak manja bak anak kecil. “Dia mempermasalahkan uang yang kupinjamkan ke Angela.”
Angela langsung memutar bola matanya malas. “Ya ampun, Mbak Isabella, pelit banget sih? Cuma uang segitu aja diributkan sampai ke rumah sakit. Malu-maluin tahu dilihat orang! Toh nanti kalau rumahku sudah selesai direnovasi dan suamiku yang kaya itu memberikan jatah bulanan, uangnya juga bakal kukembalikan!”
Aku menatap Angela, lalu beralih ke tas belanjaan mewah di tangannya. “Uang segitu? Angela, kalau uang itu tidak penting bagimu, kembalikan Rp22.000.000 sekarang juga untuk uang muka operasi kakakmu. Dia bisa mati kalau tidak segera dioperasi.”
Angela langsung mundur selangkah, menyembunyikan tas belanjaannya di balik punggung. “Lho, kok jadi minta ke aku? Uangnya kan sudah masuk ke vendor renovasi dan katering pernikahan! Mana bisa ditarik lagi!”
“Sudah, sudah!” Ibu mertuaku menimpali dengan ketus. “Isabella, kamu kan punya banyak teman kantoran yang sukses. Orang tuamu juga masih punya rumah di kampung, kan? Jual saja dulu atau gadaikan sertifikatnya! Yang penting sekarang nyawa Marco selamat. Menjadi istri itu harus berkorban, jangan egois!”
Mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut mereka, rasa hangat menjalar di dadaku. Bukan rasa hangat karena haru, melainkan amarah yang telah mencapai titik didihnya setelah delapan tahun kupendam dalam-dalam.
Selama ini aku mengalah. Saat mereka meminta jatah bulanan yang besar, aku diam. Saat Angela meminta dibelikan ponsel baru, aku mengangguk. Tapi hari ini, mereka telah melewati batas yang paling sakral: mereka merampas masa depanku, dan memperlakukanku seperti orang asing yang wajib memberi makan parasit.
Aku mundur dua langkah, menjauh dari lingkaran keluarga “terhormat” ini. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum tipis terukir di wajahku.
“Kalian benar,” ucapku tenang.
Marco menghela napas lega, mengira aku akhirnya tunduk. “Nah, begitu dong. Cepat telepon temanmu sekarang, pinjam—”
“Kalian benar bahwa nyawa Marco harus diselamatkan,” potongku, membuat kalimat Marco menggantung di udara. “Dan kalian juga benar bahwa keluarga adalah segalanya. Saling membantu adalah kewajiban.”
Aku menatap ibu mertuaku dan Angela bergantian. “Karena Angela sudah menerima Rp1,4 miliar dari Marco, maka sekarang adalah giliran kalian untuk membuktikan cinta keluarga itu. Silakan gadaikan cincin emas baru Ibu, jalankan kembali tas mewah Angela ke toko, atau batalkan vendor pernikahan itu. Cari uang Rp22.000.000 untuk menyelamatkan anak dan kakak tercinta kalian.”
“Apa-apaan kamu, Isabella?!” teriak Marco, wajahnya pucat karena syok. “Kamu tega membiarkan ibuku dan Angela kebingungan mencari uang?!”
“Kenapa tidak tega? Kalian saja tega membiarkan rekeningku tersisa Rp12.000,” jawabku santai.
Aku membuka tas, mengeluarkan dompet, dan menarik selembar uang Rp10.000 serta dua koin Rp1.000. Aku melangkah maju, lalu meletakkan uang itu ke dalam genggaman tangan Marco yang gemetar.
“Ini Rp12.000, sisa seluruh tabungan yang kupunya di rekening kita. Anggap saja ini sumbangan terakhirku untuk keluarga Reyes,” kataku dengan nada sedingin es.

“Isabella! Jangan gila kamu! Kamu mau pergi ke mana?!” pekik Marco saat melihatku berbalik arah menuju lift.
“Aku? Aku mau pulang ke rumah kita—oh salah, rumah sewaan yang kubayar pakai uangku sendiri. Aku mau tidur nyenyak, dan besok pagi aku akan pergi ke Pengadilan Agama untuk mendaftarkan gugatan cerai kita.”
“Isabella! Kamu tidak bisa menceraikan aku hanya karena uang! Aku suamimu!” teriak Marco histeris, mencoba mengejarku, namun rasa sakit di perutnya membuat dia langsung berlutut di lantai koridor sambil mengerang kesakitan.
“Mas Marco! Angela, cepat panggil dokter! Perut Masmu pendarahan!” jerit ibu mertuaku panik.
“Duitnya gimana, Bu?! Dokter gak mau pegang kalau belum bayar!” sahut Angela yang mulai menangis ketakutan.
Di depan pintu lift yang perlahan tertutup, aku menyaksikan kepanikan tiga parasit itu dengan hati yang lapang. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku merasa bisa bernapas dengan lega. Beban berat di pundakku runtuh seketika.
Biarlah mereka menikmati hasil dari “ikatan keluarga” yang selalu mereka agung-agungkan. Sementara aku, aku akan mengambil kembali setiap rupiah yang telah mereka curi, lewat jalur hukum yang paling menyakitkan bagi mereka.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.