Posted in

Istriku yang sedang hamil meneleponku 17 kali saat ia berjuang untuk hidupnya… tetapi aku menolak semuanya demi selingkuhanku—dan pada akhirnya, orang yang paling kubenci mengambil semuanya dariku.

Istriku yang sedang hamil meneleponku 17 kali saat ia berjuang untuk hidupnya… tetapi aku menolak semuanya demi selingkuhanku—dan pada akhirnya, orang yang paling kubenci mengambil semuanya dariku.

Musik keras menggema di sebuah klub mewah di Bonifacio Global City.

Bassnya begitu keras hingga mengguncang dinding.

Meja-meja VIP dipenuhi minuman mahal.

Lampu neon berkilauan di sofa-sofa mewah.

Udara dipenuhi aroma parfum, rokok, dan minuman keras impor.

Dan Adrian—
duduk di sana seperti seorang raja.

Mabuk uang.

Mabuk perhatian.

Dan pada wanita yang duduk di pangkuannya.

Katrina, selingkuhannya, terkikik sambil bersandar padanya.

Teman-temannya tertawa, mengangkat gelas mereka untuk bersulang, dan saling membenturkan gelas.

Tiba-tiba, ponselnya menyala di atas meja.

ISTRI.

Lagi.

Itu panggilan kesepuluhnya dalam tiga puluh menit.

Katrina memutar matanya. “Sayang, apa kau akan mengangkat telepon itu? Dia sudah menelepon sepanjang jam. Menyebalkan sekali,” katanya.

Adrian melihat layar.

Lalu dia tertawa.

Tawa dingin—

tanpa sedikit pun kekhawatiran.

“Abaikan saja,” katanya sambil menyesap anggur.

“Drama gratis.”

Teman-temannya ikut tertawa.

Adrian bersandar dengan nyaman.

“Kau tahu wanita hamil,” tambahnya.

“Semuanya dibesar-besarkan. Hanya ngidam tengah malam atau pijat dengan celana khaki.”

Katrina tersenyum.

“Kau manja sekali.”

Adrian mengangkat telepon.

Dia menolak panggilan itu.

Dia mengaktifkan mode pesawat.

Dia melemparkannya ke sofa—
seolah-olah tidak berharga.

Lalu—
dia merangkul pinggang Katrina.

Dia mengangkat gelasnya.

“Selamat malam terakhir kebebasanku sebelum menjadi seorang ayah!”

Semua itu selama ini disembunyikannya. Sementara itu—
beberapa mil jauhnya—
di sebuah rumah besar dan tenang di Forbes Park, Makati—
istrinya berdiri di kaki tangga yang familiar.

Lara.

Hamil delapan bulan.

Ia hanya bangun untuk menghirup udara segar.

Satu langkah salah.

Satu terpeleset.

Jatuh yang mengerikan.

Sekarang—
ia terbaring di lantai yang dingin.

Gemetar.

Hampir tidak bisa bernapas.

Telepon itu menempel di tangannya.

Gerakan bayi di dalam perutnya terasa aneh baginya.

Rasanya seperti—
tubuhnya perlahan hancur berantakan.

“Adrian…” bisiknya lemah.

Ia menelepon lagi.

Ditolak.

Ia menelepon lagi.

Telepon berdering lalu masuk ke pesan suara.

Air mata mengalir saat ia mencoba bergerak.

Namun setiap gerakan—
seperti pisau yang menusuknya.

Ia hampir pingsan.

Rumah itu sangat besar.

Dindingnya tinggi.

Semua gerbang tertutup.

Tidak ada ambulans yang bisa masuk—
tanpa seseorang membuka gerbang. Dan Adrian—
tidak akan datang.

Ia menyadari—
Lara menyadari sesuatu—
yang biasanya tidak dialami oleh seorang istri.

Ia bisa mati—
di rumah yang dibeli suaminya untuk pamer.

Sendirian.

Memohon—
kepada pria yang telah meninggalkannya.

Dengan tangan gemetar—
Ia membuka kontak teleponnya.

Penglihatannya mulai kabur.

Sampai ia melihat sebuah nama—
seorang pria yang sudah lima tahun tidak dihubunginya.

Gabriel.

Sahabat lama Adrian.

Pria yang paling dibenci Adrian.

Pria yang dilarang keras dihubunginya—
karena sekarang ia lebih kaya, lebih dihormati, dan lebih berkuasa.

Lara menekan tombol panggil.

Hanya satu pertanyaan.

“Lara?” suara itu menjawab.

Hening.

Tenang.

Cemas.

“Kau baik-baik saja? Ini tengah malam—”
“Gabriel…” katanya sambil menangis. “Aku jatuh… aku jatuh dari tangga… ada darah… tolong aku… Adrian tidak menggendong… bayinya…” Tidak ada keheningan sesaat pun.

Lalu—
suara Gabriel terdengar.

“LARA?! Di mana kau?! Jangan menutup matamu! Aku akan datang sekarang juga! Aku akan memanggil tim medis! Jangan pingsan! Bicaralah padaku!”

Tapi—
telepon terlepas dari tangannya.

Ia gemetar saat meletakkan tangannya di telepon.

“Maafkan aku, Bu, anakku…” bisiknya.

Dan semuanya menjadi gelap.

Sementara itu, Adrian—
tertawa dan bercanda di klub bersama kekasihnya—
pria yang paling dibencinya—
sedang dalam perjalanan kembali ke rumah besarnya—
dengan dokter, pengawal—
dan kekuatan untuk menghancurkan semua yang dia kira dimilikinya.

Saat fajar menyingsing…
Adrian akan tahu—
bahwa menolak panggilan-panggilan itu—
adalah kesalahan paling mahal dalam hidupnya…

Adrian baru saja melangkah keluar dari klub pukul lima pagi. Sinar matahari fajar menusuk matanya yang merah karena alkohol. Ia merasa hebat, merasa tak terkalahkan. Dengan langkah gontai, ia mematikan mode pesawat di ponselnya, mengharapkan rentetan pesan kemarahan dari Lara yang bisa ia jadikan alasan untuk bertengkar dan pergi lagi.

Namun, ponselnya sunyi.

Hanya ada satu pesan singkat dari nomor yang sangat ia kenal—nomor Gabriel.

“Jangan pulang ke Forbes Park. Kau sudah tidak punya rumah di sana. Temui aku di St. Luke’s. Itu pun jika kau masih punya nyali.”

Kehancuran di Forbes Park

Adrian memacu mobilnya ke Forbes Park, mengabaikan peringatan Gabriel. Namun, saat ia sampai di gerbang rumah besarnya, segalanya telah berubah.

  • Gerbang tertutup rapat.
  • Dua pengawal berpakaian hitam berdiri di depan.
  • Plang sita resmi terpasang di dinding marmer.

“Ini rumahku! Buka!” teriak Adrian.

“Tuan Adrian Reyes?” salah satu pengawal menatapnya dingin. “Rumah ini telah dialihkan kepemilikannya pagi ini. Seluruh aset perusahaan Anda yang dijaminkan atas nama istri Anda telah disita oleh konsorsium pimpinan Tuan Gabriel atas permintaan Nyonya Lara.”

Dunia Adrian terasa berputar. Lara? Bagaimana mungkin Lara yang lembut melakukan ini?

Ruang Tunggu yang Dingin

Adrian tiba di rumah sakit dengan sisa-sisa bau alkohol yang memuakkan. Di depan ruang ICU, Gabriel berdiri tegak, rapi, dan tampak berwibawa—kontras dengan Adrian yang berantakan.

“Di mana istriku?! Apa yang kau lakukan pada asetku?!” Adrian menerjang, namun Gabriel hanya menatapnya dengan rasa jijik yang mendalam.

“Lara selamat,” kata Gabriel pelan. “Tapi anakmu… dia harus berjuang di inkubator karena kau terlalu sibuk dengan wanita murahan di BGC.”

Gabriel melangkah maju, suaranya merendah namun tajam seperti sembilu. “Lara meneleponku saat dia sekarat. Aku yang mendobrak gerbang itu. Aku yang menggendongnya saat dia bermandikan darah sementara suaminya menolak 17 panggilannya.”

Kehilangan Segalanya

Gabriel menyerahkan sebuah map kulit. “Lara sudah menandatangani semuanya. Saat dia pingsan di pelukanku, dia membisikkan satu hal: ‘Berikan semuanya pada Gabriel, asal dia tidak bisa menyentuhku lagi.’

  • Hak asuh anak: Jatuh sepenuhnya ke tangan Lara.
  • Kepemilikan Saham: Karena Adrian menggunakan nama Lara sebagai pemilik utama untuk menghindari pajak, kini Lara telah mengalihkan seluruh kuasa kepada Gabriel.
  • Kebangkrutan: Adrian tidak hanya kehilangan istri dan anak, tapi juga seluruh kekaisaran bisnisnya.

“Kau membenciku karena aku lebih kaya darimu, Adrian,” ujar Gabriel sambil merapikan kerah baju Adrian yang kumal. “Sekarang, kau akan membenciku karena aku adalah pria yang akan membesarkan anakmu, menjaga istrimu, dan menempati rumah yang kau beli untuk kesombonganmu.”

Adrian jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Ponselnya bergetar di saku. Itu dari Katrina, selingkuhannya.

“Sayang, kartu kreditmu ditolak di hotel. Ada apa?”

Adrian menatap layar itu, lalu melihat ke arah pintu ICU yang tertutup rapat. Pintu yang tidak akan pernah terbuka lagi untuknya. Dia telah menolak 17 panggilan untuk menyelamatkan hidupnya, dan kini, dunia tidak akan memberikan satu panggilan pun untuk menyelamatkannya dari kehancuran.

Pria yang paling ia benci tidak hanya mengambil hartanya—ia mengambil masa depan yang Adrian sia-siakan demi satu malam yang tak berarti.