Posted in

KETIKA CEO MEMBAWA PUTRI BERUSIA 4 TAHUN KE KANTOR, AKU IKUT BERBISIK-BISIK BERSAMA REKAN-REKAN KERJA MENEBAK SIAPA IBU ANAK ITU… TAPI SAAT GADIS KECIL ITU MELEWATI RATUSAN ORANG DAN LANGSUNG BERLARI MEMELUKKU SAMBIL MENANGIS, “BUNDA, APA BUNDA SUDAH TIDAK MAU AKU LAGI?”, AKU LANGSUNG INGIN LENYAP DARI TEMPAT AKU BERDIRI.**

KETIKA CEO MEMBAWA PUTRI BERUSIA 4 TAHUN KE KANTOR, AKU IKUT BERBISIK-BISIK BERSAMA REKAN-REKAN KERJA MENEBAK SIAPA IBU ANAK ITU… TAPI SAAT GADIS KECIL ITU MELEWATI RATUSAN ORANG DAN LANGSUNG BERLARI MEMELUKKU SAMBIL MENANGIS, “BUNDA, APA BUNDA SUDAH TIDAK MAU AKU LAGI?”, AKU LANGSUNG INGIN LENYAP DARI TEMPAT AKU BERDIRI.**

### BAGIAN 1: PUTRI KECIL YANG DIBAWA CEO DINGIN KE KANTOR

Hari pertama CEO Adrian Villanueva membawa putri kecilnya ke kantor…

Hampir seluruh perusahaan langsung gempar.

Namaku Angela Santos.

Usiaku dua puluh delapan tahun.

Aku hanyalah seorang karyawan biasa di divisi administrasi Villanueva Holdings.

Aku tidak pernah membayangkan akan diperhatikan oleh pria seperti Adrian Villanueva.

Karena bagi kami semua…

Dialah orang paling berpengaruh di perusahaan.

CEO muda.

Kaya.

Cerdas.

Dan sangat dingin terhadap siapa pun.

Bahkan banyak karyawan merasa gugup hanya karena berpapasan dengannya di lift.

Satu tatapannya saja…

Sudah cukup membuat orang kehilangan keberanian.

Karena itulah, ketika tiba-tiba muncul kabar bahwa ia memiliki seorang anak…

Seluruh kantor seolah meledak oleh rasa penasaran.

Semua grup chat perusahaan dipenuhi satu foto yang sama.

Sebuah foto yang diambil diam-diam.

Di dalam foto itu terlihat Adrian Villanueva tidak mengenakan setelan jas hitam yang biasanya selalu ia pakai.

Sebagai gantinya, ia mengenakan pakaian kasual.

Di pelukannya…

Ada seorang gadis kecil berusia sekitar tiga atau empat tahun.

Rambutnya dikepang dua.

Namun terlihat jelas bahwa yang mengepang belum terbiasa.

Satu ikatan berada lebih tinggi.

Yang satunya lagi lebih rendah.

Rambutnya sedikit berantakan.

Namun justru membuatnya semakin menggemaskan.

Kulitnya putih bersih.

Matanya besar.

Cantik seperti boneka hidup.

Yang paling mengejutkan?

Gadis kecil itu memanggilnya…

“Papa.”

Dan sejak saat itu, gosip terbesar di perusahaan pun dimulai.

“Benarkah itu anaknya?”

“Bukankah CEO Adrian masih lajang?”

“Jangan-jangan dia sudah menikah diam-diam?”

“Siapa ibu anak itu?”

Pertanyaan bermunculan tanpa henti.

Walaupun bergosip saat jam kerja dilarang keras…

Tak seorang pun benar-benar bisa berhenti.

Karena harus diakui…

Kalau sudah membahas CEO…

Rasa penasaran memang sulit dikendalikan.

Aku menatap foto itu di layar komputer sambil memperhatikan wajah gadis kecil itu dan Adrian.

“Lucu sekali ya…”

Tiba-tiba Maria Reyes, rekan di meja sebelahku, mendekat.

“Angela, coba lihat deh.”

“Menurutmu dia mirip CEO nggak?”

Aku memperbesar foto itu.

Mengamatinya dengan saksama.

Beberapa detik kemudian…

Aku tidak bisa menahan tawa.

“Kalau jujur…”

“Aku malah nggak terlalu melihat kemiripannya.”

Maria ikut tertawa.

“Aku juga.”

“Berarti ibunya pasti cantik banget.”

Saat kami masih mengobrol…

Maria tiba-tiba menarik lenganku.

“Eh, kamu tahu nggak?”

“Ada kabar baru.”

“Apa?”

“Tadi ada orang yang naik ke lantai 35.”

“Ke ruang kerja CEO Adrian.”

Aku langsung penasaran.

“Apa yang dia lihat?”

Maria mendekat lalu berbisik.

“Katanya gadis kecil itu sedang bermain di dalam ruang kerja.”

“Saat CEO Adrian sedang rapat.”

“Tiba-tiba mainannya jatuh.”

“Tahu nggak apa yang dilakukan CEO?”

Aku menggeleng.

“Dia langsung menghentikan rapat.”

“Menghampiri putrinya.”

“Lalu berkata…”

Maria menarik napas sebelum menirukan suara dinginnya.

*”Nak, jangan membungkuk. Biar Papa yang ambil.”*

Mataku langsung membesar.

“CEO Adrian?”

“Orang yang hampir tidak pernah tersenyum itu?”

Maria mengangguk.

“Bukan cuma itu.”

“Aku dengar…”

“Tadi pagi dia sendiri yang mengepang rambut putrinya.”

Aku tersenyum tanpa sadar.

Sulit membayangkan pria yang dikenal begitu dingin…

Duduk dengan sabar sambil berusaha mengepang rambut anak kecilnya.

Aku tidak pernah menyangka ia memiliki sisi selembut itu.

Tak lama kemudian…

Kabar lain kembali menyebar.

Konon CEO Adrian meminta bagian dapur menyiapkan menu khusus untuk putrinya.

Spaghetti dan ayam goreng.

Mata Maria langsung berbinar.

“Ayo makan siang di kantin.”

“Kita lihat langsung.”

Ternyata bukan hanya Maria yang punya ide seperti itu.

Saat jam makan siang tiba…

Kantin yang biasanya hanya terisi setengah…

Kini hampir tidak menyisakan tempat.

Semua orang berpura-pura makan.

Padahal sebenarnya…

Mereka sedang menunggu putri sang CEO muncul.

Beberapa menit kemudian…

Pintu kantin terbuka.

Adrian Villanueva masuk.

Menggendong putri kecilnya.

Seketika seluruh kantin menjadi sunyi.

Seolah waktu berhenti.

Tempat yang tadi begitu ramai…

Mendadak hening.

Semua mata tertuju kepada ayah dan anak itu.

Gadis kecil itu menyadarinya.

Ia tampak malu.

Tangannya memeluk erat leher sang ayah.

“Papa…”

“Kenapa semua orang melihat aku?”

Dan apa yang terjadi setelahnya…

Benar-benar di luar dugaan semua orang.

Pria yang ditakuti seluruh perusahaan itu…

Mengusap lembut punggung putrinya.

“Tidak usah takut.”

“Mereka hanya penasaran denganmu.”

Semua orang terpaku.

Belum pernah sekali pun kami melihat CEO Adrian seperti ini.

Tidak dingin.

Tidak galak.

Yang ada hanya kelembutan untuk putri kecilnya.

Aku dan Maria duduk sambil terus memperhatikan mereka.

“Aku nggak nyangka dia ternyata ayah yang seperti ini.”

Kata Maria.

Aku mengangguk.

“Aku juga.”

“Tapi sekarang aku malah semakin penasaran…”

“Siapa sebenarnya ibu anak itu?”

Kami sama-sama terdiam.

Karena memang benar.

Mustahil seorang anak sebesar itu tiba-tiba muncul begitu saja.

Dan kalau Adrian Villanueva adalah ayahnya…

…maka wanita yang menjadi ibunya pasti adalah sosok yang sangat luar biasa. Atau setidaknya, begitulah yang kupikirkan sampai detik berikutnya terjadi.

Adrian menurunkan putri kecilnya dari gendongan agar anak itu bisa berjalan sendiri menuju meja khusus yang sudah disiapkan di sudut kantin. Gadis kecil itu melangkah pelan, menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi ratusan pasang mata karyawan yang menatapnya dengan senyum gemas.

Namun, langkah kecilnya mendadak terhenti di tengah aula kantin.

Ia memiringkan kepalanya, matanya yang besar dan bulat menyapu barisan meja, seolah sedang mencari sesuatu—atau seseorang. Sampai akhirnya, tatapan mata boneka kecil itu terkunci tepat ke arah tempat dudukku.

Detik itu juga, napasnya tercekat. Wajahnya yang semula bingung mendadak berubah dipenuhi binar kerinduan yang amat mendalam, bercampur dengan tangis yang siap pecah.

“Bunda…?” bisiknya, namun cukup jelas untuk didengar beberapa orang di sekitar.

Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, gadis kecil itu melepaskan mainan di tangannya, membiarkannya terjatuh ke lantai marmer, lalu berlari sekencang yang bisa dilakukan oleh kaki-kaki kecilnya melewati ratusan orang. Ia mengabaikan panggilan ayahnya. Ia hanya melihat ke arahku.

BRUK!

Tubuh kecilnya menabrak lututku. Kedua tangan mungilnya memeluk kaki gajahku dengan sangat erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menghilang lagi. Air matanya tumpah seketika, membasahi rok kerjaku.

“Bunda! Ini benar-benar Bunda!” jeritnya histeris di tengah keheningan kantin yang mendadak mencekam. “Bunda, apa Bunda sudah tidak mau aku lagi? Kenapa Bunda pergi dan tidak pernah pulang ke rumah? Aku kangen, Bunda…”

Ratusan pasang mata di kantin itu, termasuk Maria yang duduk di sebelahku, langsung membelalak syok. Suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring mendadak lenyap. Keheningan yang tercipta begitu pekat, hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu gila-gilaan.

Aku merasakan seluruh darah di tubuhku surut ke kaki. Wajahku pucat pasi. Pandanganku mengabur, dan pada detik itu juga, aku rasanya ingin bumi terbelah dan menelanku hidup-hidup agar aku bisa lenyap dari tempat aku berdiri.

Gadis kecil ini… Elena.

Dia bukan anak dari hubungan gelap Adrian Villanueva dengan model atau sosialita papan atas mana pun. Dia adalah putri kecil yang kulahirkan empat tahun lalu, anak yang terpaksa kutinggalkan di depan gerbang kediaman megah keluarga Villanueva dengan secarik surat tangisan, tepat setelah aku mengetahui bahwa pernikahan siriku dengan Adrian ditentang habis-habisan oleh ibunya yang kejam hingga aku diusir tanpa sepeser uang pun.

Aku sengaja melamar pekerjaan di lantai paling bawah perusahaan ini hanya untuk bisa melihat perkembangannya dari jauh, mengira aku tidak akan pernah berpapasan dengannya. Namun hari ini, rahasia terbesar dalam hidupku terbongkar di depan seluruh karyawan perusahaan.

Dari ujung koridor kantin, terdengar langkah sepatu pantofel yang berat dan tegas mendekat.

Aku mendongak dengan tubuh gemetar, dan di sana, CEO Adrian Villanueva berdiri tepat di depan mejaku. Tatapan matanya yang biasanya dingin kini berkilat penuh emosi—kemarahan, luka, dan kerinduan yang tertahan selama empat tahun meledak jadi satu saat ia menatapku.

“Jadi…” suara rendah Adrian menggema di kantin yang sunyi, mencengkeram akal sehat semua orang. “Selama ini kamu bersembunyi di sini, Angela?”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.