Posted in

Ketika Keluarga Kandungku Akhirnya Menemukanku, Kupikir Aku Akan Pulang ke Rumah—Tapi Saat Kecelakaan Itu Terjadi, Nama Anak Palsulah yang Ibu Teriakkan, Sementara Aku Dibiarkan Berdarah di Dalam Mobil

**Ketika Keluarga Kandungku Akhirnya Menemukanku, Kupikir Aku Akan Pulang ke Rumah—Tapi Saat Kecelakaan Itu Terjadi, Nama Anak Palsulah yang Ibu Teriakkan, Sementara Aku Dibiarkan Berdarah di Dalam Mobil**

Selama lima tahun, aku menunduk di pabrik, mengencangkan baut-baut kecil sampai jari-jariku mati rasa.

Kupikir, ketika keluarga kandungku menemukanku, hidupku sebagai bayangan akhirnya akan berakhir.

Namun saat mobil kami terguling di pegunungan dekat Bandung, aku baru mengetahui kenyataannya.

Ada anak yang dicari hanya untuk mengembalikan garis keturunan keluarga.

Dan ada anak yang dicintai meski tidak memiliki hubungan darah.

Namaku Mara Santoso.

Atau lebih tepatnya, Mara Wijaya—putri kandung keluarga kaya Wijaya di Jakarta Selatan yang tertukar di rumah sakit dua puluh dua tahun lalu.

Namun pada hari pertama mereka memanggilku “anak,” aku tidak merasakan kebahagiaan.

Aku justru merasa takut.

Karena selama lima tahun sebelum mereka menemukanku, aku bekerja di sebuah pabrik elektronik di kawasan Bekasi. Setiap hari aku mengenakan seragam yang sudah memudar warnanya, rambutku berbau oli dan timah solder, dan aku terbiasa makan nasi dingin dari kotak plastik sambil duduk di belakang area bongkar muat.

Aku tidak lulus kuliah.

Aku tidak tahu cara bersikap anggun.

Aku tidak tahu gelas mana yang digunakan untuk minum anggur, tidak mengerti fungsi begitu banyak sendok di meja makan, dan terlebih lagi, aku tidak tahu bagaimana tersenyum seperti seseorang yang terbiasa dicintai.

Karena itu, saat pertama kali melihat Bianca Wijaya—gadis yang tumbuh dalam kehidupan yang seharusnya menjadi milikku—aku langsung mengerti mengapa sahabatku, Lorie, begitu khawatir.

“Mara,” katanya suatu hari sambil membalut luka di jariku dengan plester, “hati-hati sama cewek itu. Di sinetron, anak yang salah tempat biasanya yang pertama menyerang anak kandung yang asli.”

Aku tertawa, tetapi tidak menjawab.

Karena ketika melihat wajah Bianca di sampul majalah yang tergeletak di kantin pabrik, dia tampak seperti bukan manusia sungguhan.

Dia mengenakan gaun balet putih, dagunya terangkat anggun, lehernya jenjang, dan tangannya tampak tidak pernah menyentuh obeng berkarat. Dia adalah bintang muda yang sedang naik daun di dunia tari. Wawancaranya ada di mana-mana. Kontrak iklannya banyak. Penggemarnya ribuan.

Sedangkan aku?

Saat memaksa tersenyum di cermin kamar mandi asrama, yang kulihat hanyalah perempuan yang selalu kelelahan.

Karena itu, sebelum pindah ke rumah keluarga Wijaya, aku sudah siap menghadapi Bianca.

Kupikir dia akan membenciku.

Kupikir dia akan mengusirku.

Kupikir dia akan melakukan segala cara agar aku terlihat seperti pencuri yang merampas hidupnya.

Ternyata aku salah.

Bianca justru orang pertama yang meninggalkan rumah keluarga Wijaya.

Ia menurunkan koper-kopernya tepat pada hari aku datang. Matanya merah, bibirnya bergetar, tetapi dia tetap memaksakan senyum.

“Mara,” katanya, “maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Kalau saja aku tahu sejak awal bahwa kamu adalah anak kandung mereka…”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Aku hanya berdiri di ruang depan sambil memegang kantong plastik berisi seluruh hartaku—dua set pakaian, dompet tua, charger ponsel, dan kartu identitas pabrik.

Nyonya Celeste Wijaya menggenggam tanganku saat kami masuk ke rumah. Telapak tangannya hangat. Lembut. Untuk sesaat aku berpikir, mungkin benar—mulai sekarang aku punya ibu.

Namun saat melihat koper Bianca, genggamannya terlepas.

“Bianca, apa yang kamu lakukan?” teriaknya dengan suara hampir pecah.

Ia memeluk Bianca seakan akan kehilangan napas jika melepaskannya.

“Sayang, aku yang membesarkanmu. Aku yang mengajarimu berjalan, berbicara, menari. Apa kamu benar-benar akan meninggalkan Mommy?”

Pak Renato Wijaya yang sebelumnya tampak tenang dan formal, tiba-tiba kehilangan ketegarannya.

“Ini bukan salahmu,” katanya kepada Bianca. “Kita berempat bisa tetap menjadi keluarga. Benar, kan, Mara?”

Mereka berdua menatapku.

Wajahku terasa panas.

Aku ingin menjawab, “Ya.”

Aku ingin menjadi anak yang baik.

Aku ingin menjadi anak yang tidak merepotkan.

Namun Bianca lebih dulu berbicara.

Ia menghampiriku dan menggenggam tanganku.

“Aku akan mengembalikan semuanya kepadamu,” bisiknya. “Aku janji.”

Dan dia tidak berbohong.

Selama beberapa bulan berikutnya, dialah yang paling sering meneleponku. Dialah yang mengajariku bagaimana menyapa teman-teman keluarga. Dialah yang menjelaskan garpu salad mana yang harus digunakan. Dialah yang mengajakku ke pusat perbelanjaan untuk membelikan pakaian yang, katanya, “tidak membuat para tante ketakutan.”

Saat aku merasa canggung, dia selalu berkata,

“Beri mereka waktu, Mara. Mereka tidak membencimu. Mereka hanya belum terbiasa.”

Dan setiap kali mengatakan itu, matanya berbinar seolah ia benar-benar percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik.

Aku iri padanya.

Bukan karena dia mengambil hidupku.

Tetapi karena dia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya mudah dicintai.

Aku tidak pernah merasakan itu.

Di rumah keluarga Wijaya, kamarku besar, tempat tidurnya empuk, pendingin ruangan selalu dingin, dan kamar mandinya bahkan lebih luas daripada kamar asrama lamaku.

Namun setiap malam aku sulit tidur.

Aku merasa seperti kucing liar yang masuk ke sebuah mansion karena gerbangnya kebetulan terbuka.

Semua benda di sekitarku indah, mahal, dan bersih.

Tapi aku takut menyentuh apa pun karena khawatir akan merusaknya.

Nama belakangku bahkan belum resmi diubah dalam dokumen hukum.

Aku juga belum terbiasa memanggil mereka Mommy dan Daddy.

Dan setiap kali kami makan malam, selalu ada satu kursi kosong.

Kursi milik Bianca.

Suatu malam saat makan malam, Nyonya Wijaya tiba-tiba bertanya dengan nada pelan,

“Mara, waktu Bianca pergi, kenapa kamu tidak menahannya?”

Aku terdiam.

“Maaf?”

“Itu bukan salahnya,” katanya. “Dia juga hanya bayi waktu itu. Setidaknya kamu bisa mencoba bicara dengannya.”

Aku menatap piringku.

Aku ingin berkata:

*Saya juga bayi waktu itu.*

*Saya juga yang hilang.*

*Saya juga tumbuh tanpa siapa pun yang melindungi saya dari orang-orang yang menyakiti saya.*

Tapi aku hanya tersenyum.

“Maaf, Mom.”

Ia menghela napas panjang seolah dialah yang paling terluka.

Sejak saat itu, Bianca sering mengajak kami pergi bersama.

Dia memperkenalkanku kepada teman-temannya—anak politisi, pengusaha, dokter, dan artis.

Mereka ramah di depanku.

Mereka memberiku hadiah.

Mereka menawariku minuman kekinian.

Mereka memilih topik percakapan yang bisa kumengerti.

Namun suatu hari, saat masuk ke toilet sebuah studio privat di kawasan SCBD Jakarta, aku mendengar mereka berbicara di balik pintu bilik.

“Kasihan Bianca,” kata seorang perempuan.

“Bayangkan, setelah bertahun-tahun tiba-tiba muncul anak kandung yang asli.”

“Untungnya Mara bukan ancaman,” jawab yang lain. “Penampilannya kaku sekali. Tidak cocok jadi anggota keluarga Wijaya.”

“Benar. Mau dipakaikan baju semahal apa pun, tetap kelihatan seperti anak pabrik.”

Aku tidak keluar sampai mereka pergi.

Saat kembali ke ruangan, Bianca tersenyum dan menarikku mendekat.

“Mara, gaun itu cocok banget buat kamu.”

Aku membalas senyumnya.

Tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang perlahan mati.

Lalu tibalah hari perjalanan ke Puncak.

Bianca yang merencanakannya.

Katanya, kami berempat perlu membangun kenangan baru.

Kenangan yang bukan tentang bayi yang tertukar.

Bukan tentang rasa bersalah.

Bukan tentang dua puluh dua tahun yang hilang.

Aku setuju.

Aku duduk di kursi belakang mobil, di samping Bianca.

Di depan ada Mommy Celeste dan Daddy Renato.

Pagi itu cerah.

Kami membawa makanan, jaket, dan kamera.

Sepanjang perjalanan, Bianca bercerita tentang audisi balet baru yang akan diikutinya di Singapura.

Orang tuaku mendengarkan.

Mereka tertawa.

Aku hanya mengamati mereka bertiga.

Untuk sesaat aku berpikir:

*Mungkin beginilah rasanya punya keluarga.*

*Mungkin suatu hari nanti aku tidak hanya menjadi penonton.*

Namun saat mobil melewati tikungan tajam, terdengar ledakan keras.

Sopir berteriak.

Dunia berputar.

Kepalaku menghantam kaca.

Aku merasakan cairan hangat mengalir di wajahku.

Ada logam yang menusuk sisi tubuhku.

Pecahan kaca menancap di lengan.

Jeritan.

Rem.

Suara mobil berguling.

Lalu sunyi.

Aku tidak tahu berapa lama sampai akhirnya sadar kembali.

Hal pertama yang kudengar adalah tangisan Mommy Celeste.

“Bianca! Bianca, Sayang! Bangun!”

Aku membuka mata.

Bagian dalam mobil gelap.

Kursi menindih kakiku.

Tangan kiriku tidak bisa digerakkan.

Darah memenuhi bibirku.

Udara dipenuhi bau bensin dan tanah.

Aku ingin bicara.

Aku ingin berkata,

“Mommy, aku juga di sini.”

Tetapi tidak ada suara yang keluar.

Di luar, aku melihat Daddy Renato.

Dahinya berdarah.

Namun dengan tangan kosong, ia berusaha membuka pintu yang menjepit Bianca.

“Tunggu sebentar, Sayang,” katanya. “Daddy akan mengeluarkanmu.”

Mommy Celeste berlutut di tanah sambil menangis dan terus memanggil nama Bianca.

Tidak ada yang memanggil namaku.

Tidak ada yang melihat ke kursi belakang.

Tidak ada yang bertanya di mana Mara.

Maka aku merangkak keluar sendiri.

Aku tidak tahu bagaimana caranya.

Mungkin karena aku sudah terbiasa bertahan hidup sendirian.

Mungkin karena bahkan tubuhku tahu tidak akan ada yang datang menolongku.

Ketika berhasil keluar, seorang dokter perempuan berlari menuju Bianca.

Namun saat melihatku, ia langsung terkejut.

“Ya Tuhan!”

Ia berbalik dan berlari ke arahku sambil membawa kotak P3K.

Tetapi sebelum sempat mencapai aku, Mommy Celeste menarik lengannya.

“Dokter, mau ke mana? Anak saya—Bianca—tolong dia! Dia anak saya!”

Dokter itu berhenti.

Ia menatap Mommy.

Lalu menatapku.

Dan untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, Mommy juga melihatku.

Seolah baru ingat.

Bahwa dia memiliki anak lain.

“M-Mara…” suaranya bergetar. “Kenapa… kenapa darahmu sebanyak itu?”

Aku melihat tubuhku.

Pakaianku basah kuyup oleh darah.

Dan karena terlalu lemah, aku hanya tersenyum.

“Mommy,” bisikku, “Bianca baik-baik saja, kan?”

Dia membeku.

Namun sebelum sempat menjawab, Bianca bergerak.

“Mommy…”

Dalam sekejap, Mommy melepaskan dokter itu dan berlutut di samping Bianca.

“Sayang! Kamu sadar! Mommy di sini!”

Ia menggenggam tangan Bianca seolah itu adalah hal paling berharga di dunia.

Dokter itu akhirnya menghampiriku dan menekan lukaku dengan cepat.

“Mereka keluargamu juga?” tanyanya dengan kening berkerut.

Aku memandang tiga orang yang saling berpelukan di tanah.

Lalu aku tersenyum.

“Bukan.”

“Mereka bukan keluargaku.”

Dan pada saat itulah aku mendengar suara ponsel Bianca yang masih bergetar dari dalam mobil yang hancur.

Berulang kali.

Layar yang retak menampilkan cuplikan pesan dari seseorang bernama **Bibi Mercy**:

> “Pastikan rencana perjalanan ke Puncak berjalan sesuai rencana. Begitu Mara menandatangani dokumennya, semua masalah selesai.”

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Karena perjalanan itu bukanlah kecelakaan.

Aku menatap layar ponsel yang retak itu dengan pandangan yang mengabur. Dokter perempuan di sampingku sibuk menekan luka di perutku, mencoba menghentikan pendarahan yang terus memancar, sementara pikiranku mendadak menjadi sangat jernih.

Semua masalah selesai.

Kata-kata itu berputar di kepalaku. Aku teringat malam sebelum kami berangkat. Bianca datang ke kamarku membawa secangkir cokelat hangat dan selembar dokumen tebal berlogo notaris. Dia tersenyum manis, memintaku menandatangani “dokumen administrasi perubahan nama belakang” agar aku bisa resmi menjadi seorang Wijaya. Karena aku tidak mengerti istilah hukum yang rumit dan begitu memercayainya, aku menandatanganinya tanpa curiga.

Ternyata itu bukan dokumen perubahan nama. Itu adalah surat pengalihan seluruh hak waris dan asuransi atas namaku jika terjadi sesuatu padaku.

Kecelakaan ini… rem yang blong ini… semuanya sudah diatur.

Kenyataan yang Menampar

“Nona, bertahanlah! Ambulans sebentar lagi datang!” seru dokter itu panik.

Aku tidak menangis. Rasa sakit di tubuhku kalah mati rasa oleh kenyataan yang baru saja kuhantam. Aku memalingkan wajah, melihat ke arah Mommy Celeste dan Daddy Renato yang masih mendekap Bianca. Bianca menangis tersedu-sedu, memegangi kakinya yang katanya terkilir, sementara kedua orang tua kandungku histeris seolah dunia mereka runtuh hanya karena goresan kecil di tubuh anak angkat kesayangan mereka.

Mereka bahkan tidak menoleh ke arahku yang sedang bertaruh nyawa dengan genangan darah.

“Dokter…” suaraku serak, nyaris tak terdengar. “Ambil… ambil ponsel itu. Tolong.”

Dokter itu melihat ke dalam rongsokan mobil, mengambil ponsel Bianca yang masih menyala, dan membaca pesan dari ‘Bibi Mercy’. Wajah dokter itu langsung memucat. Dia menatapku dengan tatapan ngeri sekaligus iba yang amat dalam.

“Simpan itu,” bisikku. “Itu bukti… pembunuhan berencana.”

Kebenaran di Rumah Sakit

Dua jam kemudian, aku terbangun di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit daerah di dekat jalur Puncak. Tubuhku dipenuhi perban dan selang, tetapi aku hidup.

Di luar tirai, aku mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Pintu kamar rawatku terbuka kasar. Nyonya Celeste dan Tuan Renato masuk. Wajah mereka tampak lelah, tetapi tidak ada gurat kecemasan yang tulus untukku. Di belakang mereka, Bianca duduk di kursi roda dengan pergelangan kaki yang dibalut rapi.

“Mara! Kamu sudah sadar?” Nyonya Celeste mendekat, suaranya terdengar dipaksakan. “Kenapa kamu bisa keluar duluan tadi? Kamu membuat Mommy bingung harus menolong siapa dulu.”

Aku menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih. Dingin.

“Mara,” Tuan Renato menimpali, suaranya berat dan menuntut. “Dokter di lokasi tadi menyita ponsel Bianca. Dia bilang ada bukti pesan mencurigakan. Di mana ponsel itu sekarang? Jangan membuat masalah keluarga kita menjadi konsumsi publik. Berikan pada Daddy.”

Aku perlahan memiringkan kepala, menatap tiga orang di depanku. Terutama Bianca. Di balik wajahnya yang pucat dan air mata buatannya, aku bisa melihat kilat ketakutan yang amat besar di matanya.

“Keluarga?” Aku terkekeh pelan, memicu rasa nyeri di dadaku. “Siapa yang kalian sebut keluarga?”

“Mara, jaga bicaramu! Kami orang tua kandungmu!” bentak Tuan Renato, mulai kehilangan kesabaran karena egonya terusik.

“Orang tua kandung yang membiarkan anak aslinya sekarat demi anak angkat yang mencoba membunuhnya?” Aku menatap Bianca lekat-lekat. “Surat yang kamu suruh aku tandatangani semalam… itu surat pelepasan hak waris dan klaim asuransi jiwa atas namaku yang dialihkan kepadamu, kan, Bianca?”

Wajah Bianca langsung kehilangan seluruh darahnya. “M-Mara… apa yang kamu katakan? Aku tidak tahu—”

“Dan ‘Bibi Mercy’ yang mengirim pesan itu… adalah ibu kandungmu yang sebenarnya, kan? Pasangan suami istri yang tertukar denganku dua puluh dua tahun lalu.” Aku tersenyum pahit. “Kalian berdua tahu sejak awal. Kalian merencanakan ini agar jalur kekayaan keluarga Wijaya tetap jatuh ke tanganmu, dan aku… lenyap seolah-olah karena kecelakaan tragis.”

Akhir dari Ilusi

Nyonya Celeste dan Tuan Renato tertegun. Mereka menatap Bianca dengan pandangan tidak percaya.

“Bianca… apa itu benar?” tanya Nyonya Celeste, suaranya bergetar.

“Enggak, Mom! Mara bohong! Dia iri padaku!” Bianca berteriak histeris.

Namun, perdebatan mereka terhenti ketika pintu kamar rawat kembali terbuka. Dua orang pria bertubuh tegap mengenakan pakaian batik masuk, diikuti oleh dokter perempuan yang menolongku di lokasi kecelakaan. Di tangan dokter itu, ada kantong plastik transparan berisi ponsel Bianca.

“Selamat sore,” ujar salah satu pria itu sambil menunjukkan lencana kepolisian. “Kami dari Polres Bogor. Kami menerima laporan terkait dugaan percobaan pembunuhan berencana dan sabotase kendaraan. Saudari Bianca Wijaya, Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.”

“Mommy! Daddy! Tolong aku! Aku tidak tahu apa-apa!” Bianca menjerit-jerit saat kursi rodanya didorong oleh petugas.

Nyonya Celeste menangis, hendak mengejar Bianca, namun Tuan Renato menahannya setelah melihat sorot mata dingin para polisi. Mereka berdua menoleh padaku, mata Nyonya Celeste dipenuhi rasa bersalah yang terlambat.

“Mara… maafkan Mommy… Mommy tidak tahu kalau Bianca tega…” Dia mencoba meraih tanganku.

Aku menarik tanganku menjauh sebelum kulit lembutnya menyentuh kulitku yang penuh bekas luka pabrik.

“Jangan sebut diri Anda Mommy lagi,” kataku, suaraku datar tanpa emosi. “Darah yang mengalir di tubuh kita mungkin sama. Tapi di atas gunung tadi, saat Anda membiarkan saya berdarah sendirian, hubungan itu sudah putus.”

Aku menatap mereka berdua untuk terakhir kalinya.

“Saya akan kembali ke pabrik saya. Seragam yang bau oli dan nasi kotak dingin jauh lebih jujur daripada kemewahan rumah kalian yang penuh racun. Mulai hari ini, keluarga Wijaya tidak memiliki putri kandung bernama Mara.”

Mereka berdua berdiri mematung di dalam kamar yang sunyi. Aku memejamkan mata, membiarkan mereka keluar dari hidupku. Aku memang kehilangan keluarga yang kuimpikan, tetapi di atas aspal jalanan Puncak yang dingin tadi, aku telah menemukan kembali diriku yang tidak akan pernah bisa mereka hancurkan.