“MANTAN PACARKU MENERTAWAKANKU KARENA AKU MENGHABISKAN UANG TERAKHIRKU UNTUK MENGOBATI ANJING JALANAN YANG TERLUKA. DIA MENYEBUT ANJING ITU SAMPAH DAN BILANG KAMI COCOK KARENA SAMA-SAMA TIDAK BERGUNA. TAPI SAAT LIMA MOBIL MEWAH BERHENTI DAN SEORANG MILIARDER YANG DITAKUTI TURUN DARI DALAMNYA, RAHANGNYA LANGSUNG TERJATUH SAAT MENGETAHUI SIAPA PEMILIK ASLI ‘ANJING SAMPAH’ ITU.”
Anjing Jalanan di Tengah Hujan
Namaku Leo, dua puluh enam tahun, hanya seorang pegawai kantor biasa. Dua minggu lalu, pacarku Brenda meninggalkanku. Dia memilih Marco, putra sombong dari seorang pengusaha kaya. “Kamu nggak punya masa depan, Leo! Aku nggak bisa hidup cuma dengan cinta!” Itu kata-kata terakhirnya sebelum dia masuk ke mobil sport milik pacar barunya.
Suatu malam, saat aku berjalan pulang di tengah hujan deras, aku mendengar suara erangan pelan dari sebuah gang gelap.
Saat kuintip, aku melihat seekor anjing—sepertinya Golden Retriever, tapi hampir tak bisa dikenali karena tubuhnya penuh lumpur, kakinya terluka, dan badannya gemetar kedinginan. Meskipun hanya tersisa Rp550.000 dari gajiku sampai akhir bulan, aku tidak tega meninggalkan hewan malang itu.
Aku menggendongnya dan membawanya ke klinik hewan 24 jam. Uang terakhirku habis untuk obat, suntikan, dan makanan anjing. Tidak ada sisa untuk diriku sendiri, tapi ketika anjing itu menjilat tanganku sambil dibungkus handuk hangat, aku merasa semuanya sepadan. Aku menamainya “Lucky”.
Penghinaan dari Orang-Orang Serakah
Seminggu berlalu. Lucky perlahan sembuh. Meski masih sedikit pincang, dia sudah makan dengan lahap dan sangat manja.
Suatu sore, aku mengajak Lucky berjalan-jalan ke taman umum. Kami baru saja duduk di bangku ketika aku mendengar tawa melengking yang terasa sangat familiar.
“Oh my God, babe, lihat! Itu Leo!”
Aku menoleh. Brenda berdiri sambil bergelayut di lengan Marco. Mereka memakai pakaian mahal dan membawa kopi di tangan. Tatapan mereka menyapu aku dan Lucky dari kepala sampai kaki dengan jijik.
“Itu apa? Sekarang kamu pungut anjing jalanan?” ejek Brenda sambil tertawa. “Dulu kamu aja sering pinjam uang buat beli kopi, sekarang malah berteman sama anjing liar. Cocok banget! Sama-sama bau sampah dan nggak berguna!”
“Sudahlah, babe. Orang miskin memang suka cari teman senasib,” tambah Marco sambil menyeringai. “Jangan dekat-dekat, nanti ketularan rabies.”

Aku menggenggam tali Lucky lebih erat. “Kalian nggak punya urusan. Anjing ini masih lebih tahu balas budi dibanding sebagian manusia. Tidak seperti kamu, Brenda.”
Wajah Brenda langsung memerah. “Berani juga kamu jawab—”
Sebelum Brenda sempat menyelesaikan makiannya, tanah di sekitar taman seolah bergetar oleh suara raungan mesin yang berat.
Dari ujung jalan, lima mobil SUV hitam mengkilap—jenis yang biasa digunakan oleh pengawal elit—melaju kencang dan langsung berhenti darurat, mengepung area sekitar bangku taman. Pintu-pintu mobil terbuka serentak, dan beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam serta earpiece langsung keluar, membuat barisan barikade.
Brenda dan Marco langsung terkesiap, melangkah mundur ketakutan.
Dari mobil paling tengah—sebuah Rolls-Royce berpelat nomor khusus—seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas yang harganya setara rumah mewah turun. Wajahnya tegas, memancarkan aura otoritas yang membuat siapa pun tunduk. Dia adalah Bramantyo, taipan properti dan miliarder yang terkenal kejam di dunia bisnis.
Marco langsung gemetar. “I-Itu… Tuan Bramantyo? Ayahku bahkan harus mengantre berbulan-bulan cuma untuk menyerahkan proposal bisnis padanya…” bisik Marco dengan suara bergetar.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai.
Lucky, yang tadinya tenang di sampingku, tiba-tiba menggonggong gembira. Dia menarik talinya, berlari kencang, dan langsung melompat ke pelukan miliarder tersebut!
“Thor! Astaga, Thor! Kamu hidup, Nak!” Pria yang ditakuti seluruh pebisnis kota itu tiba-tiba berlutut di tanah, tidak peduli jas mahalnya kotor, sambil memeluk anjing itu dengan air mata yang mengalir di matanya.
Tuan Bramantyo kemudian berdiri, menatap pengawalnya, lalu berjalan ke arahku. Pandangannya beralih pada tali kekang yang masih kupegang dan perban di kaki Lucky.
“Anak muda, apakah kamu yang menyelamatkan Thor?” tanyanya dengan suara berat yang berwibawa.
“Namanya Thor? Saya menemukannya sekarat di gang dua minggu lalu, Tuan. Saya hanya mengobati lukanya ke klinik,” jawabku jujur.
Tuan Bramantyo menepuk pundakku dengan keras. “Dua minggu lalu dia hilang setelah mobilku kecelakaan. Aku sudah mengerahkan seluruh anak buahku dan menawarkan imbalan miliaran rupiah, tapi tidak ada yang menemukannya. Dokter bilang, kalau terlambat satu hari saja dirawat, dia tidak akan selamat. Kamu telah menyelamatkan bagian dari keluargaku.”
Mendengar kata ‘miliaran rupiah’, mata Brenda langsung terbelalak. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya, sementara rahang Marco seolah jatuh ke tanah.
“T-Tuan Bramantyo…” Marco mencoba memberanikan diri, maju sambil membungkuk hormat. “Saya Marco, putra dari Wijaya Kusuma dari Megahcorp. Kebetulan kami mengenal Leo ini… dia hanya seorang pegawai rendahan yang—”
“Aku tidak bertanya siapa kamu,” potong Tuan Bramantyo dingin, bahkan tanpa menoleh ke arah Marco. Suaranya seketika membuat Marco membeku. Pria tua itu menatap Brenda dan Marco yang tadi memaki kami. “Dari jauh aku sudah mendengar bagaimana kalian menyebut anjingku dan pemuda penolong ini sebagai ‘sampah’. Wijaya Kusuma, katamu? Mulai besok, aku pastikan seluruh investasi dan kontrak kerja sama perusahaanku dengan Megahcorp dibatalkan.”
“T-Tuan, tolong jangan! Ini salah paham!” Marco mendadak pucat pasi. Jika investasi itu ditarik, perusahaan ayahnya akan bangkrut dalam semalam. Dia menatap Brenda dengan kemarahan luar biasa, menyalahkan pacar barunya itu karena telah memancing keributan.
Tuan Bramantyo mengabaikan ratapan mereka. Dia kembali menatapku dengan senyum hangat. “Leo, orang yang tulus menggunakan uang terakhirnya untuk makhluk yang lemah adalah orang yang punya integritas. Aku butuh orang sepertimu di jajaran direksi mudaku. Dan soal rumah… kurasa kamu harus pindah ke tempat yang lebih layak.”
Sambil memegang kertas kartu nama berlapis emas yang disodorkan Tuan Bramantyo, aku melihat Brenda menatapku dengan tatapan penuh penyesalan, penderitaan, dan keserakahan yang terlambat. Dia mencoba melangkah mendekatiku, “Leo, aku… aku sebenarnya—”
Namun sebelum dia sempat mendekat, para pengawal berpakaian hitam sudah menghadangnya, mengusir dia dan Marco menjauh seperti mengusir lalat.
Aku tersenyum, mengelus kepala Lucky—atau Thor—yang menjilat tanganku. Sore itu, di tengah taman yang mulai sepi, aku tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi. Kebaikan yang kulakukan dengan tulus telah membukakan pintu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.