Posted in

MEREKA MEMAKSAKU MENIKAH DENGAN SEORANG PENGEMIS UNTUK MENGHANCURKAN HIDUPKU — TAPI RAHASIA BESAR YANG TERUNGKAP DI DEPAN ALTAR MEMBUAT JANTUNG SEMUA ORANG SEAKAN BERHENTI

MEREKA MEMAKSAKU MENIKAH DENGAN SEORANG PENGEMIS UNTUK MENGHANCURKAN HIDUPKU — TAPI RAHASIA BESAR YANG TERUNGKAP DI DEPAN ALTAR MEMBUAT JANTUNG SEMUA ORANG SEAKAN BERHENTI

Aku Clara, 23 tahun. Ketika ayahku yang seorang pengusaha kaya meninggal, aku jatuh ke tangan ibu tiri yang kejam, Donya Victoria, dan putrinya yang ambisius, Isabelle.

Mereka mengambil seluruh kekayaan ayahku. Mereka menjadikanku seperti pelayan di rumahku sendiri. Tapi mereka belum puas menyiksaku. Untuk memastikan aku tidak akan pernah merebut kembali warisanku dan menjadi bahan tertawaan di kalangan sosialita, mereka merancang rencana yang kejam.

Mereka akan menikahkanku dengan seorang pengemis.

RENCANA KEJAM ITU

Suatu malam, aku dipanggil ke ruang tamu besar. Donya Victoria duduk di kursi favoritnya sambil menyeruput kopi mahal. Isabelle berdiri di sampingnya sambil tersenyum sinis.

Di tengah ruangan, seorang pria berdiri. Pakaiannya robek dan kotor, rambutnya panjang dan acak-acakan, wajahnya penuh debu dan jelaga. Tubuhnya gemetar seperti tidak punya kekuatan sama sekali. Mereka memungutnya dari jalanan.

“Clara, sudah waktunya kamu menikah. Kenalkan calon suamimu. Kita sebut saja dia… Elias,” kata Donya Victoria sambil tertawa.

Mataku membesar. Aku menatap pria pengemis itu, lalu menatap ibu tiriku.

“Tante, ini bercanda? Kenapa aku harus menikah dengan orang yang bahkan aku tidak kenal, dan kalian ambil dari jalanan?!” suaraku bergetar.

Isabelle berdiri dan mendekat, hampir menarik rambutku tapi aku menghindar cepat.

“Jangan sok suci, Clara! Kamu memang cocoknya dengan sampah seperti dia! Besok kalian akan menikah. Mommy sudah mengundang semua orang penting untuk melihat bagaimana ‘putri keluarga’ menikah dengan gelandangan!” ejeknya sambil tertawa keras.

“Aku tidak mau! Kalian tidak bisa memaksaku!” aku berteriak sambil menangis.

Donya Victoria menatapku tajam.

“Kalau kamu menolak, aku akan membunuh pengasuh tua yang sedang dirawat di rumah sakit itu. Nyawanya ada di tanganku, Clara. Jadi pilih: menikah dengan pengemis ini, atau dia mati,” ancamnya dingin.

Aku jatuh ke lantai, menangis tanpa daya. Aku tidak punya pilihan.

MALAM SEBELUM PERNIKAHAN

Malam itu, aku dan “Elias” dikurung di sebuah gudang tua di belakang mansion agar aku tidak bisa kabur.

Udara dingin dan gelap. Aku melihat Elias duduk di sudut, gemetar kedinginan. Meski dia dipakai untuk menghancurkan hidupku, aku justru merasa kasihan. Kami sama-sama korban dari kejahatan Donya Victoria.

Aku mengambil satu-satunya selimut yang aku miliki dan mendekatinya. Perlahan aku menutupi bahunya dengan selimut itu…

…Elias tersentak kecil, mendongak menatapku dari balik rambutnya yang kusut. Di bawah remang cahaya bulan yang menembus celah ventilasi, aku bisa melihat kilatan aneh di matanya—bukan kilatan ketakutan, melainkan sesuatu yang tajam, dalam, dan penuh perhitungan. Namun, itu hanya sedetik. Ia kembali menunduk dan bergumam pelan, “Terima kasih, Clara.”

Mendengarnya menyebut namaku dengan suara yang begitu tenang dan berat membuat jantungku berdesir. Malam itu, kami tidak banyak bicara, tapi kehadirannya yang sunyi anehnya memberiku kekuatan untuk menghadapi hari esok.

HARI PERNIKAHAN: ALTARE PENGHANCURAN

Keesokan paginya, aku dipaksa mengenakan gaun pengantin putih yang lusuh dan kekecilan—sengaja dipilih oleh Isabelle untuk mempermalukanku. Sementara Elias dipaksa memakai jas usang yang kedodoran, meski anehnya, tubuhnya malam tadi terasa jauh lebih tegap dari penampilannya sekarang.

Gereja dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari kalangan sosialita, pengusaha, dan wartawan yang diundang khusus oleh Donya Victoria. Bisik-bisik menghina dan tawa tertahan menggema saat aku berjalan menyusuri altar, bersanding dengan seorang “pengemis”.

Donya Victoria dan Isabelle duduk di barisan depan, tersenyum penuh kemenangan. Mereka bersiap menyaksikan kehancuranku yang mutlak.

Pendeta mulai membacakan khotbah dengan dahi berkerut, menatap Elias dengan pandangan jijik. Ketika tiba saatnya mengucapkan janji suci, pendeta itu berdeham, “Saudara Elias, bersiaplah mengucapkan janji…”

“Tunggu,” sebuah suara berat memotong.

Bukan suara Elias yang gemetar seperti kemarin. Suara ini terdengar begitu menggelegar, berwibawa, dan dingin hingga membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

RAHASIA BESAR TERUNGKAP

Elias perlahan menegakkan tubuhnya. Postur bungkuknya menghilang, digantikan oleh tubuh tegap yang memancarkan aura intimidasi yang luar biasa. Ia mengangkat tangannya, lalu dengan satu gerakan perlahan, ia menyibak rambut kusut yang menutupi wajahnya, lalu menyeka lapisan debu dan jelaga buatan di pipinya menggunakan sapu tangan sutra bersih yang entah sejak kapan ada di saku jas usangnya.

Di balik kotoran itu, muncul wajah seorang pria muda yang sangat tampan, dengan rahang tegas dan tatapan mata sebiru es yang sanggup membekukan ruangan.

Terdengar pekikan tertahan dari barisan tamu. Beberapa pengusaha kaya di barisan depan langsung berdiri dari kursi mereka, wajah mereka mendadak pucat pasi.

“I-itu… tidak mungkin…” bisik seorang investor terkaya di kota itu, tubuhnya gemetar. “Tuan Adrian Valerius?!”

Mendengar nama itu, jantung semua orang di dalam gereja seakan berhenti berdetak.

Adrian Valerius. Pemilik Valerius Conglomerate, miliarder nomor satu di negara ini, pria paling berkuasa yang wajahnya sangat jarang terekspos media, namun pengaruhnya bisa menghancurkan sebuah bisnis dalam semalam.

Donya Victoria langsung berdiri, wajahnya yang penuh kosmetik mahal mendadak pucat seperti mayat. Isabelle menjatuhkan kipasnya, matanya melotot hampir keluar.

“Ba-bagaimana bisa… Pengemis itu…” Isabelle terbata-bata, suaranya tercekat di tenggorokan.

PEMBALASAN YANG SEMPURNA

Adrian menoleh ke arahku, senyum tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya. Ia meraih tanganku yang gemetar, menggenggamnya dengan lembut namun posesif.

“Maaf membuatmu takut semalam, Clara,” ucapnya lembut, lalu berbalik menatap Donya Victoria dan Isabelle dengan tatapan sekejam iblis.

“Kalian pikir, kalian sedang menjebak seorang pengemis jalanan?” suara Adrian menggema di langit-langit gereja yang mendadak sunyi senyap. “Dua minggu lalu, aku sengaja menyamar untuk menyelidiki korupsi dan pencucian uang yang dilakukan oleh mendiang suami Anda, Donya Victoria. Dan di luar dugaan, anak buah Anda justru ‘menculik’ saya dari jalanan untuk rencana konyol ini.”

Adrian menjentikkan jarinya.

BRAKK!

Pintu besar gereja terbuka sevara paksa. Belasan agen polisi bersenjata lengkap bersama tim pengacara berjas hitam melangkah masuk, langsung mengepung Donya Victoria dan Isabelle.

“Semua aset keluarga ini telah disita atas nama hukum, karena terbukti hasil dari penggelapan dana perusahaan mendiang ayah Clara. Dan untuk Anda berdua…” Adrian menatap ibu tiri dan saudari tiriku yang kini jatuh terduduk di lantai sambil menangis histeris. “…Anda akan membusuk di penjara atas pasal penipuan, pengancaman pembunuhan, dan percobaan penculikan terhadap saya.”

AKHIR DARI PENDERITAAN

Saat Donya Victoria dan Isabelle diseret keluar dari gereja diiringi jepretan kamera wartawan yang membabi buta, gereja kembali hening. Semua pasang mata kini menatapku dengan pandangan penuh hormat dan iri.

Adrian kembali berbalik menghadapku. Ia berlutut di hadapanku, mengambil sebuah kotak beludru dari saku jasnya yang lusuh, dan membukanya—menampilkan sebuah cincin berlian langka yang berkilau indah.

“Clara, mereka berniat menghancurkan hidupmu, tapi takdir membawaku untuk melindungimu. Pengasuhmu sudah dipindahkan ke rumah sakit terbaik milik keluargaku dan dia aman sekarang,” ucap Adrian, matanya menatapku dengan ketulusan yang murni.

“Aku memang bukan Elias sang pengemis. Tapi di hadapan Tuhan hari ini, aku ingin menjadi suamimu. Maukah kamu melanjutkan pernikahan ini bersamaku?”

Air mata haru menetes di pipiku. Bukan karena kekayaannya, melainkan karena kebaikan kecil yang ia tunjukkan di gudang gelap semalam, dan perlindungan yang ia berikan sekarang. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Ya, aku mau.”

Di altar yang awalnya dirancang untuk menghancurkanku, hidupku justru dimulai kembali. Bukan sebagai pelayan yang tertindas, melainkan sebagai wanita paling bahagia di samping pria yang paling ditakuti, sekaligus paling mencintaiku.