MILIARDER YANG DIKIRA SEMUA ORANG TELAH MENINGGAL… HINGGA SAUDARA LAKI-LAKINYA MENEMUKAN BAHWA IA MASIH HIDUP DI DALAM PETI MATI
Aku tidak bisa menggerakkan jari-jariku.
Aku mencoba menggerakkan kakiku.
Tidak bisa.
Aku mencoba berbicara.
Tidak ada yang terjadi.
Seluruh tubuhku terasa seperti membeku—kaku, dingin, dan tak bernyawa.
Tetapi pikiranku…
Sepenuhnya sadar.
Berteriak.
Aku mendengar doa-doa di sekelilingku.
Sebuah suara lemah dan bergetar membacakan ayat-ayat Alkitab.
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman…”
Terdengar langkah kaki di lantai marmer.
Isak tangis.
Dan bisikan seorang pria:
“Baru lima puluh lima tahun… serangan jantung. Kasihan keluarga Delgado.”
Darahku terasa dingin.
Aku tidak berada di tempat tidur.
Aku tidak berada di rumah sakit.
Gelap.
Sempit.
Dan menyesakkan.
Bahu kiriku dan kananku hampir menyentuh dinding di sekelilingku.
Aku berada di dalam sebuah kotak.
Peti matiku sendiri.
Namaku Rafael Delgado, CEO salah satu kerajaan wiski terbesar di Indonesia.
Dan pada saat itu…
semua orang mengira aku sudah mati.
Aku teringat malam sebelumnya.
Selama tiga minggu terakhir tubuhku semakin lemah—pusing, dada sesak, dan ada rasa dingin yang mengalir di seluruh tubuh.
Istriku datang.
Isabella Santos Delgado.
Lima belas tahun lebih muda dariku.
Cantik.
Teliti.
Terlalu sempurna.
Ia membawakan secangkir teh.
“Minumlah, Sayang,” katanya lembut sambil mengusap dahiku.
“Dokter Vance bilang ini akan membantu kondisi jantungmu.”
Dr. Adrian Vance.
Bukan hanya dokter jantungku.
Ia juga sahabatku sejak kuliah.
Karena itulah aku meminumnya.
Setelah itu…
semuanya menjadi gelap.
Sekarang aku merasakan seseorang merapikan jas yang kukenakan di dalam peti mati.
Aku mengenali aroma parfumnya.
Aroma Isabella.
“Sebentar lagi selesai, Sayang,” bisiknya.
Dan dalam suaranya…
tidak ada sedikit pun kesedihan.
“Kita hampir selesai menyingkirkannya.”
Ada suara lain.
Suara pria.
Dingin.
Akrab.
Adrian Vance.
“Obat pelumpuh itu bekerja sempurna,” katanya.
“Tidak ada yang akan curiga bahwa ini bukan serangan jantung mendadak.”
Isabella tertawa pelan.
“Jam berapa kremasinya?”
Jantungku serasa berhenti.
“Pukul enam,” jawab Adrian.
“Begitu tubuhnya menjadi abu, tidak akan ada bukti lagi. Uang, perusahaan, asuransi—semuanya akan menjadi milik kita.”
Kremasi.
Mereka akan membakarku.
Dalam keadaan hidup.
Aku mencoba berteriak.
Aku mencoba bergerak.
Tetapi tidak bisa.
Tidak ada yang merespons.
Perlahan tutup peti mati ditutup.
Cahaya menghilang.
Dan aku kembali ditelan kegelapan.
Aku mendengar suara kunci pengaman.
Satu per satu.
Udara…
semakin menipis.
Hidupku…
perlahan memudar.
Hingga akhirnya aku merasakan peti mati itu diangkat.
Menuju ruang kremasi.
Namun mereka tidak mengetahui satu hal.
Declan Delgado.
Adik laki-lakiku.
Ia tidak pernah percaya pada kematianku yang mendadak.
Saat semua orang menangis…
ia justru mencari kebenaran.
Di rumah kami, ia menemukan sebuah kantong sampah hitam.
Di dalamnya ada sebuah vial kecil.
“Vecur—”
Labelnya robek.
Tetapi masih cukup untuk dikenali.
Ia segera menelepon seorang ahli toksikologi.
“Apa itu Vecuronium?” tanyanya.
Dan saat itulah ia mengetahui kenyataan yang mengerikan.
“Itu obat pelumpuh,” jawab dokter tersebut.
“Korban tetap sadar, tetapi tampak seperti mayat. Tidak bisa bergerak sama sekali.”
Wajah Declan langsung pucat.
Ia melihat jadwal pemakaman:
Kremasi Privat — Pukul 18.00
Tinggal satu jam lagi.
Dan aku…
masih berada di dalam peti mati.
Hidup.
Declan langsung berlari.
Mengemudi seperti orang kehilangan akal.
“HENTIKAN KREMASINYA SEKARANG!” teriak dokter melalui telepon.
Di rumah duka, tungku kremasi sudah mulai dipanaskan.
Isabella berdiri di sana.
Tenang.
Terlalu tenang.
Namun tiba-tiba—
BRAAAK!
Pintu besar terbuka.
Declan masuk.
Marah.
Gemetar.
“HENTIKAN KREMASI ITU!” teriaknya.
Semua orang membeku.
Wajah Isabella memucat.
Adrian mundur selangkah.
Dan dari dalam peti mati…
aku mendengar suara adikku.
Untuk pertama kalinya sejak aku “mati”…

seberkas cahaya masuk ke dalam kegelapanku.
Tetapi apakah semuanya sudah terlambat…
atau justru inilah saat kebangkitanku dimulai?
Suara benturan pintu yang dibuka paksa oleh Declan bergema di seluruh ruangan krematorium yang dingin.
Di dalam peti, aku mengumpulkan seluruh sisa kesadaran yang kumiliki. Udara di sekitarku sudah sangat menipis, membuat dadaku terasa seperti dihimpit beton tak kasat mata. Namun, teriakan adikku menyuntikkan gelombang adrenalin yang luar biasa ke dalam benakku.
“Declan… aku di sini… tolong aku…” jeritku dalam hati, meski bibirku tetap terkatung rapat tanpa suara.
“Declan! Apa-apaan kamu ini? Jaga sopan santunmu, ini hari pemakaman kakakmu!” Suara Isabella melengking, mencoba menutupi kepanikan yang mulai merayap dalam nadanya.
“Buka petinya, Isabella! Buka sekarang juga!” gertak Declan. Langkah kakinya terdengar mendekat dengan cepat, berat dan penuh amarah.
“Jangan gila, Declan! Kakakmu meninggal karena serangan jantung. Peti ini sudah disegel dan siap masuk tungku. Jangan mempersulit keadaan!” Kali ini suara Adrian Vance yang mengintervensi. Langkah kakinya terdengar bergeser, kemungkinan besar mencoba menghalangi jalan Declan.
“Minggir, Adrian! Atau kuhancurkan wajahmu sekarang juga!” ancam Declan. “Aku tahu apa yang kalian lakukan. Vecuronium. Aku menemukan botol obat itu di tempat sampah rumah, Adrian! Kamu meracuni kakakku!”
Keheningan mencekam langsung melanda ruangan. Keheningan yang mengonfirmasi ketakutan terdalam Isabella dan Adrian.
“Petugas, jangan dengarkan dia! Dia sedang berduka dan kehilangan akal sehatnya. Cepat masukkan petinya ke dalam tungku!” teriak Isabella, suaranya naik satu oktav, penuh keputusasaan.
Aku bisa merasakan getaran pada peti matiku. Petugas krematorium tampaknya mulai menggerakkan tuas atau mendorong ranjang petiku menuju mulut tungku yang membara. Rasa panas dari luar mulai terasa samar-samar menembus dinding kayu.
Tidak. Tidak boleh begini.
Di dalam kegelapan, ketakutan terbesarku berubah menjadi kemarahan yang membakar. Aku menolak untuk mati sebagai abu di tangan seorang istri pengkhianat dan sahabat yang menikam dari belakang. Aku memusatkan seluruh energi yang tersisa di otakku, menyalurkannya ke satu titik: ujung jari telunjuk tangan kananku.
Bergerak… Kumohon, bergerak!
Di luar, suara keributan fisik pecah. Declan tampaknya mulai menerobos barikade Adrian dan petugas. “Buka petinya! Sialan, buka!” terdengar suara hantaman tubuh ke lantai marmer.
Bersamaan dengan suara ricuh itu, sesuatu di dalam tubuhku patah. Efek obat pelumpuh itu mulai luruh akibat lonjakan adrenalin yang ekstrem.
KRETEK.
Ujung jari telunjukku bergerak. Sedikit. Mengetuk dinding dalam peti mati yang dilapisi kain satin.
Ketuk.
Aku mencoba lagi, menggerakkan seluruh pergelangan tanganku yang kaku dengan sisa tenaga terakhir.
DUG!
Suara benturan tanganku ke dinding peti terdengar cukup keras di tengah keributan luar.
“Diam semuanya!” teriak Declan tiba-tiba. Suara perkelahian terhenti. “Kalian dengar itu? Ada suara dari dalam peti!”
“Itu… itu hanya suara pemuaian kayu karena panas tungku! Cepat dorong!” Isabella histeris.
DUG! DUG!
Kali ini aku berhasil menggerakkan kedua tanganku, memukul langit-langit peti mati dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Oksigen di dalam sini sudah hampir habis, pandanganku mulai berkunang-kunang, tetapi aku terus memukul.
“Buka petinya!!!” jerit Declan.
Detik berikutnya, terdengar suara gerendel besi dipaksa terbuka. Seseorang menghantam kunci pengaman peti mati dengan benda keras—mungkin kursi besi atau alat pemadam api.
KRAAAK!
Tutup peti mati terangkat.
Cahaya lampu krematorium yang terang benderang langsung menusuk mataku. Udara segar mengalir masuk ke dalam paru-paruku, membuatku tersedak hebat.
“Uhuk! Uhuk!”
Aku terbatuk, dadaku naik turun dengan rakus menghirup oksigen. Mataku yang buram perlahan menangis, menyesuaikan diri dengan cahaya. Hal pertama yang kulihat adalah wajah Declan yang pucat, yang langsung berubah menjadi ekspresi tidak percaya sekaligus lega yang amat sangat.
“Rafael… Demi Tuhan, kamu hidup!” Declan langsung mencengkeram bahuku, membantuku duduk di dalam peti mati.
Aku menoleh perlahan ke arah kanan. Di sana, Isabella berdiri membeku seperti patung garam. Wajah cantiknya kini pucat pasi bagai mayat yang sesungguhnya. Di sampingnya, Adrian Vance menjatuhkan tas medisnya, lututnya lemas hingga ia terduduk di lantai.
Aku menatap mereka berdua. Dengan sisa rasa kaku di rahangku, aku memaksakan sebuah senyuman dingin yang akan menjadi mimpi buruk terbesar mereka mulai malam ini.
“Kremasinya…” bisikku dengan suara parau, namun terdengar sangat mengancam di keheningan ruangan. “…harus ditunda, Isabella.”
Di luar, suara sirine polisi yang ditelepon oleh dokter toksikologi rekanan Declan mulai terdengar meraung-raung mendekati rumah duka.
Mereka mengira ini adalah akhir dari Rafael Delgado. Mereka tidak tahu, bahwa dari dalam peti mati inilah, pembalasan dendamku baru saja dimulai.