Posted in

MISTERI DI GUSI TALA

**MISTERI DI GUSI TALA**

Putriku, Tala, terus mengeluh bahwa giginya sakit, jadi aku membawanya ke dokter gigi. Saat memeriksanya, dokter menggunakan pinset untuk menarik sesuatu dari gusinya. Tiba-tiba ia terdiam lalu berkata, “Ini… bukan alat medis.” Setelah itu, ia menyerahkan kepadaku sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemukan di dalam mulut seorang anak.

Saat Tala pertama kali bilang giginya sakit, aku hanya berpikir mungkin gigi gerahamnya mulai tumbuh.

Usianya baru tujuh tahun, agak dramatis seperti kebanyakan anak kecil, dan sudah empat giginya tanggal dengan “perayaan besar” setiap kali terjadi. Kami tinggal di sebuah perumahan tenang di Bacoor, Cavite, di rumah sederhana dengan taman kecil di depan—kehidupan yang tampak normal bagi siapa saja yang melihat. Aku seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai teknisi farmasi. Putriku, Tala, cerdas, berhati-hati, dan lebih kuat daripada kebanyakan orang dewasa yang kukenal.

Jadi ketika ia mulai memegang sisi kiri wajahnya dan berkata, “Rasanya seperti ada yang tajam,” aku mengira hanya giginya tumbuh miring.

Tetapi rasa sakitnya semakin parah.

Ia berhenti mengunyah di sisi itu. Suatu malam, ia bangun sambil menangis karena katanya “ada yang menusuk.” Aku memeriksa mulutnya dengan senter dan melihat bagian kecil yang bengkak di atas gusi belakang gerahamnya, tetapi aku tidak menemukan sesuatu yang aneh. Tidak ada gigi berlubang. Tidak ada tanda infeksi. Aku memberinya paracetamol anak, menelepon dokter gigi kami, lalu membawanya ke sana keesokan harinya.

Klinik itu berbau mint dan disinfektan. Tala duduk di kursi dokter gigi besar sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya, sementara Dr. Santos mengatur lampu dan dengan lembut memintanya membuka mulut. Sudah tiga tahun beliau menjadi dokter gigi kami—tenang, paruh baya, dan sabar menghadapi anak-anak yang gugup. Ia memeriksa gigi Tala, lalu gusinya, sebelum tiba-tiba berhenti.

“Ini aneh,” bisiknya.

Aku langsung cemas. “Apa itu, Dok?”

“Saya belum yakin.”

Ia merebahkan kursinya lebih jauh dan meminta pinset yang lebih kecil kepada asistennya. Tala merengek ketakutan tetapi tetap diam. Aku berdiri di sampingnya sambil memegang sepatunya, memperhatikan Dr. Santos mendekat begitu dekat hingga dahinya hampir menyentuh lampu.

Lalu ia menjepit sesuatu di dalam bagian yang bengkak dan menariknya keluar.

Tala menjerit kecil.

Sebuah benda kecil muncul.

Awalnya kukira itu hanya serpihan kawat. Tetapi ketika Dr. Santos meletakkannya di atas kain kasa, wajahnya langsung pucat.

“Ini…” katanya pelan, “bukan alat medis.”

Ia menyerahkan kain kasa itu kepadaku.

Di sana tergeletak kapsul logam sangat kecil, tidak lebih besar dari sebutir beras namun sedikit lebih panjang, berlumuran darah dan air liur. Salah satu ujungnya halus seperti buatan pabrik. Ujung lainnya memiliki bagian tipis yang rusak, seolah dulu terhubung dengan sesuatu.

Aku menatapnya tanpa mengerti apa yang kulihat.

“Itu apa?”

Dr. Santos tidak langsung menjawab. Ia menoleh pada asistennya dan berkata dengan nada suara yang berubah drastis, “Saya butuh ruangan pribadi. Dan tolong hubungi polisi.”

Dadaku terasa sesak karena panik.

Tala masih menangis di kursi, bingung dan ketakutan, sementara aku berdiri di sana memegang sesuatu yang seharusnya tidak pernah berada di dalam mulut seorang anak.

Dr. Santos menatapku lalu mengajukan pertanyaan yang menghancurkan duniaku.

“Apakah akhir-akhir ini anak Anda pernah bersama seseorang yang memasang tracker pada hewan?”…

Pertanyaan Dr. Santos seolah membekukan seluruh udara di dalam ruangan. Tracker pada hewan? Pikiranku langsung melayang, berputar liar mencari kaitan antara kapsul logam berdarah itu dengan kehidupan putri kecilku yang seharusnya aman.

“Tidak, Dok,” jawabku dengan suara bergetar, setengah berbisik karena tidak ingin Tala semakin ketakutan. “Tala tidak pernah jauh dariku. Dia hanya pergi ke sekolah dan rumah. Kami bahkan tidak punya hewan peliharaan.”

Dr. Santos menatap kapsul itu lagi, lalu menatapku dengan mata yang memancarkan kecemasan mendalam. “Ini adalah mikrodip transponder, Bu. Biasanya ditanam di bawah kulit hewan ternak atau peliharaan mahal untuk pelacakan jarak jauh. Tapi yang ini… ukurannya dimodifikasi. Dan ini tidak ditanam di bawah kulit luar, melainkan sengaja disisipkan ke dalam celah gusi belakang melalui luka kecil yang sudah menutup.”

Tanganku gemetar hebat. Sesuatu yang mengerikan mulai merayap di tengkukku. Seseorang telah melukai putriku. Seseorang telah memasukkan benda ini ke dalam mulutnya tanpa sepengetahuanku.

“Tala sayang,” aku berlutut di samping kursi gigi, menggenggam tangan kecilnya yang dingin. “Ingat tidak, kapan terakhir kali mulut Tala terasa sakit seperti digigit semut sebelum minggu ini? Atau… apa ada seseorang yang memberikan permen aneh? Atau mungkin dokter lain?”

Tala menghapus air matanya dengan telinga boneka kelincinya. Ia berpikir sejenak, matanya yang besar menatap langit-langit klinik.

“Dua minggu lalu…” bisik Tala lirih. “Waktu Ibu kerja lembur malam, dan aku pulang naik bus sekolah biasa.”

Jantungku rasanya berhenti berdetak. “Ada apa dengan bus sekolah, Sayang?”

“Paman sopir yang baru, Paman Rey, bilang dia punya es mambo rasa stroberi yang keras sekali. Dia minta aku mengulumnya sampai habis di kursi belakang, sementara anak-anak lain sudah turun semua,” Tala menunduk, tampak merasa bersalah. “Paman Rey bilang, ini rahasia. Kalau aku kasih tahu Ibu, es mambonya tidak akan manis lagi. Waktu aku gigit, rasanya tajam dan berdarah sedikit. Tapi Paman Rey bilang itu cuma es yang membeku.”

Mendengar itu, Dr. Santos langsung memberikan kode kepada asistennya untuk mempercepat panggilan telepon ke Kepolisian Bacoor.

Tiga Jam Kemudian

Klinik Dr. Santos berubah menjadi ruang interogasi darurat. Dua detektif dari unit perlindungan anak datang dan segera mengamankan kapsul logam tersebut sebagai barang bukti.

Saat salah satu teknisi forensik kepolisian memeriksa nomor seri mikro yang terukir sangat kecil di badan transponder menggunakan lup pembesar, ia mendongak dengan wajah tegang.

“Ini bukan sekadar pelacak hewan lokal,” ujar detektif itu padaku. “Ini adalah bagian dari perangkat keras pelacak GPS militer ilegal yang sering digunakan oleh jaringan perdagangan manusia internasional untuk memantau ‘target’ mereka sebelum diculik. Mereka menanamnya di tempat yang jarang diperiksa orang, seperti di dalam mulut.”

Duniaku runtuh mendengarnya. Aku menarik Tala ke dalam pelukanku, menangis tanpa suara sementara putriku kebingungan melihat ibunya begitu hancur. Jika gigi Tala tidak sensitif, jika gusi Tala tidak menolak benda asing itu hingga membengkak dan menimbulkan rasa sakit… dalam hitungan hari, atau mungkin jam, Tala akan hilang tanpa jejak.

“Kami sudah mengerahkan tim ke pool bus sekolah,” tegas detektif itu lagi, tangan mereka bergerak cepat di walkie-talkie. “Sopir bernama Rey itu tidak akan bisa kabur jauh. Koordinat pemancar ini baru saja mati karena rusak saat dicabut oleh dokter gigi, yang berarti mereka tahu target mereka telah mendeteksi keberadaan alat ini. Kita harus bergerak sekarang.”

Epilog

Satu bulan telah berlalu sejak hari yang mengerikan di klinik Dr. Santos.

Pria bernama Rey itu berhasil ditangkap di pelabuhan Batangas malam itu juga, saat mencoba melarikan diri ke pulau lain. Penangkapannya membongkar jaringan besar yang melibatkan beberapa oknum tidak bertanggung jawab di wilayah Cavite. Tala diselamatkan oleh rasa sakitnya sendiri.

Kami tidak lagi tinggal di rumah perumahan tenang di Bacoor itu. Dengan bantuan yayasan perlindungan anak dan tabungan seadanya, aku memindahkan kami berdua ke kota lain, jauh di utara, memulai hidup baru dengan identitas yang lebih aman.

Sore ini, aku memperhatikan Tala bermain di halaman rumah baru kami yang dikelilingi pagar tinggi. Ia tertawa, berlari mengejar capung dengan boneka kelincinya yang tak pernah lepas.

Tala sudah kembali menjadi anak tujuh tahun yang ceria. Namun, setiap kali sebelum tidur, saat ia membuka mulutnya agar aku bisa menyikat giginya, aku selalu menatap bagian gusi belakang kirinya. Luka bekas operasi kecil itu sudah sembuh total, menyisakan garis putih tipis.

Sebuah trauma tersembunyi yang akan selalu mengingatkanku, bahwa bahaya paling mengerikan terkadang mengintai dari balik senyuman paling biasa, dan bahwa seorang ibu tidak boleh lengah, bahkan untuk satu detik saja.