Posted in

Orang-orang mulai memperhatikannya sejak ia naik ke bus, bukan karena pakaiannya yang sudah usang atau tangannya yang gemetar… tetapi karena ia membawa seekor anjing kecil yang dibungkus dan diikat di punggungnya, seolah-olah seperti seorang anak sakit yang ia gendong.

Orang-orang mulai memperhatikannya sejak ia naik ke bus, bukan karena pakaiannya yang sudah usang atau tangannya yang gemetar… tetapi karena ia membawa seekor anjing kecil yang dibungkus dan diikat di punggungnya, seolah-olah seperti seorang anak sakit yang ia gendong.

Sore itu terasa berat, seperti panas yang menempel di kulit dan lelah yang terasa di setiap tarikan napas.

Perempuan itu perlahan naik ke bus, sangat hati-hati di setiap langkahnya.

Di satu tangan ia memegang kantong belanjaan, sebuah tas tua tergantung di dadanya, dan di punggungnya, terbungkus selimut biru, ada anjing kecilnya.

Hampir tidak pernah ia mengeluarkan kepalanya.

Matanya yang kecil terbuka, tenang, seolah tahu harus diam dan tidak banyak bergerak.

Beberapa penumpang berhenti berbicara.

Seorang wanita tua menggigit bibirnya.

Seorang pemuda mengambil ponselnya, mungkin untuk merekam.

Sopir melihatnya lewat kaca spion dan berkata dengan dingin:

— Nyonya, anjing tidak boleh dibawa naik seperti itu.

Ia terhenti di tengah lorong.

Bus tiba-tiba bergerak, dan ia hampir kehilangan keseimbangan.

Seorang gadis segera menawarkan tempat duduk, tetapi perempuan itu tidak duduk. Ia terlebih dahulu merapikan anjingnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah setiap gerakan bisa menyakitinya.

— Dia tidak menggigit, Pak — katanya pelan. — Dia bahkan sudah tidak bisa berjalan dengan baik.

Karena itu, lebih banyak penumpang kembali menatapnya.

Telinga anjing itu bergerak sedikit.

Kaki belakangnya dibalut kain bersih, tetapi terlihat jelas sudah tidak merespons dengan baik.

Perempuan itu menarik napas panjang dan mencari kembalian uang di saku celemeknya.

Sopir kembali berbicara:

— Saya bilang tidak boleh ada hewan di sini. Saya bisa kena denda.

Ia menatap ke atas.

Ia tidak menangis.

Ia tidak memohon.

Hanya satu kalimat yang ia ucapkan, yang membuat seluruh bus terdiam:

— Kalau dia diturunkan, saya juga turun. Tapi saya tidak akan meninggalkannya sendirian.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Suara mesin terdengar lebih keras dari biasanya.

Akhirnya, perempuan itu duduk dekat jendela. Ia meletakkan kantong di antara kakinya dan menyandarkan kepala anjing itu di bahunya.

Ia memanggilnya Chispa.

Sesekali ia mengusap hidungnya seperti seorang anak kecil.

— Sedikit lagi, anakku… kita hampir sampai — bisiknya. — Bertahanlah.

Seorang wanita tua berambut putih di sisi lorong tidak bisa menahan diri untuk bertanya:

— Dia sakit?

Perempuan itu diam beberapa saat.

Ia menatap jendela, seolah di sana ia mengumpulkan keberanian.

— Dia tertabrak tiga minggu lalu — katanya. — Dia ditinggalkan di dekat pasar. Saya menemukannya saat sedang berjualan agar-agar.

Pemuda yang tadi merekam perlahan menurunkan ponselnya.

— Itu anjing Ibu? — tanya seorang penumpang di belakang.

Ia menggeleng.

— Bukan. Tapi saat saya melihatnya, rasanya seperti dia sudah mengenal saya.

Suasana di dalam bus berubah.

Tidak ada lagi tawa.

Tidak ada lagi rasa kesal.

Hanya kesunyian yang berat, seolah semua orang tiba-tiba merasa malu atas penilaian mereka yang terlalu cepat.

Ia bercerita bahwa ia membawa anjing itu ke dokter hewan meski tidak punya uang.

Bahwa ia menjual blendernya.

Bahwa ia menggadaikan anting milik ibunya.

Bahwa ia beberapa hari hanya makan roti dan kopi agar bisa membeli obat.

— Kata mereka mungkin dia tidak bisa berjalan lagi — lanjutnya. — Tapi kalau saya berbicara dengannya, ekornya masih bergerak. Dan selama ekornya masih bergerak, saya tidak akan menyerah.

Gadis yang memberikan kursinya tanpa sadar menyeka air matanya.

Sopir kembali melihat kaca spion, tetapi kali ini ia tidak berkata apa-apa.

Bus terus melaju di jalanan yang ramai—pedagang, klakson, dan orang-orang yang terburu-buru.

Namun di dalam bus, semua perhatian tertuju pada perempuan itu dan anjing yang berbaring di pundaknya.

Tiba-tiba Chispa mengeluarkan suara lirih.

Perempuan itu langsung terdiam.

Ia dengan hati-hati merapikannya, mengambil botol air dan membasahi jarinya untuk membersihkan mulut anjing itu.

— Jangan sakit di sini ya, sayang… — bisiknya dengan suara pecah.

Pemuda yang memegang ponsel berdiri.

— Bu, Ibu mau ke mana?

Ia menatapnya ragu.

— Ke Desa San Rafael. Katanya ada klinik murah di sana.

Pemuda itu menelan ludah.

— Bu… klinik itu sudah tutup sejak sebulan lalu.

Perempuan itu tertegun.

Untuk pertama kalinya, matanya dipenuhi ketakutan.

— Tidak… tidak mungkin. Alamat itu yang diberikan kepada saya.

Ia mengeluarkan kertas kusut dari tasnya.

Wanita tua itu mengambilnya dan membacanya—wajahnya langsung berubah.

— Nak… alamat ini salah.

Seolah-olah udara di dalam bus tiba-tiba habis.

Perempuan itu memeluk erat selimut biru.

Chispa kembali mengerang, kali ini lebih keras.

Dan ketika bus berhenti di halte berikutnya, seorang pria di kursi belakang berdiri, menatap anjing itu dengan saksama, lalu berkata:

— Tunggu… saya kenal anjing itu….

Pria itu melangkah maju di lorong bus yang sempit. Tatapannya tertuju pada balutan kain di kaki belakang Chispa, lalu beralih ke wajah perempuan itu yang kini pucat pasi.

“Tiga minggu lalu, di dekat pasar utama, kan?” suara pria itu terdengar serak. “Itu anjing milik majikan saya yang lama. Mereka sengaja membuangnya setelah menabraknya di garasi. Mereka bilang… mengobatinya hanya buang-buang uang.”

Bisikan kemarahan dan simpati langsung menjalar di antara para penumpang. Namun, perempuan itu tidak peduli pada asal-usul Chispa. Ia hanya bisa mendekap erat tubuh kecil yang mulai gemetar di pelukannya. Napas Chispa semakin pendek, dan dari sudut matanya yang keruh, setetes air kecil menetes.

“Tolong…” bisik perempuan itu, air matanya akhirnya runtuh. “Saya tidak peduli milik siapa dia dulu. Sekarang dia anak saya. Di mana saya harus membawanya? Dia kesakitan…”

Pemuda yang memegang ponsel tadi segera berdiri, mematikan kameranya, dan membuka aplikasi peta. “Ada rumah sakit hewan 24 jam yang besar di dekat bundaran kota. Tapi… biayanya sangat mahal.”

Suasana kembali hening, namun kali ini bukan keheningan yang dingin.

“Saya ada sedikit uang belanja,” wanita tua berambut putih itu tiba-tiba membuka dompet kainnya, mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah lecek, dan meletakkannya di pangkuan perempuan itu. “Ambil ini, Nyonya. Tolong selamatkan dia.”

Gadis yang memberikan tempat duduknya ikut merogoh tasnya. “Saya juga ada, Bu. Tolong diterima.”

Satu demi satu, para penumpang di dalam bus bergerak. Pria yang mengenali Chispa tadi meletakkan beberapa lembar uang besar, disusul oleh penumpang lain yang mengulurkan tangan mereka. Lembaran-lembaran uang itu terkumpul di atas selimut biru Chispa, menjadi simbol dari kemanusiaan yang tiba-tiba bangkit di dalam ruang besi yang berjalan itu.

Perempuan itu menangis sesenggukan, menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. “Terima kasih… terima kasih banyak…”

Tiba-tiba, suara klakson keras terdengar, disusul guncangan saat bus berbelok tajam ke kanan—bukan ke arah rute yang seharusnya.

Semua orang menoleh ke depan. Sopir bus yang sedari tadi diam, kini memutar kemudi dengan cekatan, wajahnya mengeras penuh tekad. Ia melihat ke kaca spion, matanya terkunci pada perempuan itu.

“Pegang yang erat, Nyonya,” kata sopir itu dengan suara baritonnya, yang kini tidak lagi terdengar dingin, melainkan tegas dan hangat. “Saya tidak peduli soal denda atau trayek hari ini. Kita langsung ke rumah sakit hewan sekarang. Tidak ada pemberhentian lagi!”

Para penumpang tidak ada yang protes. Sebaliknya, beberapa dari mereka bersorak kecil, dan yang lain membantu mengamankan jalan lewat jendela, meminta kendaraan lain memberi jalan bagi bus mereka.

Sepuluh menit kemudian, bus itu berhenti tepat di depan lobi rumah sakit hewan dengan rem yang mencicit. Pria yang mengenali Chispa dan si pemuda langsung melompat turun terlebih dahulu, membukakan jalan dan berteriak memanggil dokter.

Perempuan itu menggendong Chispa di punggungnya, melangkah turun dengan tergesa-gesa namun penuh kehati-hatian. Tepat sebelum ia melangkah masuk ke dalam klinik, ia berbalik ke arah bus.

Melalui kaca-kaca jendela yang terbuka, semua penumpang—termasuk sang sopir—sedang menatapnya dengan senyuman dan tatapan penuh harapan.

Di dalam dekapannya, Chispa perlahan membuka matanya yang kecil. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ekor kecilnya yang tersembunyi di balik selimut biru bergerak lemah, sekali… dua kali… mengetuk pelan punggung perempuan yang telah menyelamatkan hidupnya.

Ia masih bertahan. Dan di tempat ini, mereka tidak lagi sendirian.