PADA HARI AKU MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN, SELURUH KELUARGA MANTAN SUAMIKU MEMBUKA CHAMPAGNE UNTUK MERAYAKANNYA… TIDAK ADA SEORANG PUN YANG TAHU BAHWA AKU SEDANG MENGANDUNG SATU-SATUNYA CUCU SEKALIGUS AHLI WARIS KELUARGA DEL ROSARIO.**
## BAGIAN 1
Kabar baik?
Aku sudah menerima uang sesuai kesepakatan dalam perjanjian perceraian.
Kabar buruk?
Aku hamil.
Dan aku mengetahui kenyataan itu tepat pada hari aku menandatangani surat perceraian setelah dua tahun menjalani pernikahan.
Bahkan sebelum pengacara sempat menyimpan kembali dokumen-dokumen itu…
Di rumah megah keluarga Del Rosario, suara botol champagne yang dibuka sudah menggema.
Mereka sedang berpesta.
Seolah-olah baru saja memenangkan sesuatu yang besar.
Mertuaku tampak sangat bahagia.
“Akhirnya…”
“…kita berhasil mengusir perempuan itu.”
“Mulai sekarang…”
“hanya Victoria yang pantas menjadi wanita keluarga Del Rosario.”
Victoria.
Wanita yang dicintai suamiku, Adrian Del Rosario, selama sepuluh tahun.
Dua tahun yang lalu, ia pergi ke Amerika untuk mengambil program MBA.
Sementara keluarga Del Rosario membutuhkan sebuah pernikahan demi menjaga citra perusahaan.
Dan aku…
Akulah yang dipilih menjadi istri sementara.
Sebuah pernikahan tanpa cinta.
Sebuah kesepakatan yang hanya dipenuhi kewajiban.
Namun ada satu orang yang melanggar kesepakatan itu.
Aku.
Hanya aku yang benar-benar jatuh cinta.
Keesokan paginya.
Aku terbangun karena suara ekskavator yang sangat keras.
Begitu membuka tirai…
hatiku langsung hancur.
Taman mawar yang kurawat selama dua tahun…
sedang dihancurkan satu per satu.
Mertuaku berdiri di tengah halaman sambil memberi perintah.
“Cabut semuanya.”
“Victoria tidak suka bunga mawar.”
“Ganti dengan bunga melati.”
“Mulai sekarang…”
“rumah ini hanya boleh berisi hal-hal yang dia sukai.”
Lalu…
dia menatapku dengan dingin.
“Kau tidak punya nilai apa pun selain wajah cantik.”
“Bahkan kalau kau melahirkan anak sekalipun…”
“darah keturunan keluarga kami hanya akan menjadi lemah.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya tersenyum.
Karena beberapa minggu sebelumnya…
aku pernah bertanya kepada Adrian.
“Kalau suatu hari aku hamil…”
“apa kau akan bahagia?”
Dia bahkan tidak mengangkat kepala.
Masih terus membaca dokumen di tangannya.
Lalu hanya menjawab dengan satu kata.
“Tidak.”
Satu kata itu…
sudah cukup membuatku mengambil keputusan.
Kalau begitu…
biar aku sendiri yang membesarkan anak ini.
Aku tidak membutuhkan nama keluarganya.
Aku juga tidak membutuhkan keluarganya.
Menjelang sore.
Aku menutup koperku dengan tenang.
Lalu berjalan keluar dari rumah megah itu.
Mertuaku mengira seperti biasanya aku hanya pergi berbelanja.
Dia bahkan sempat berteriak kepadaku.
“Jangan habiskan uang anakku!”
Aku berhenti.
Menoleh.
Lalu menjawab dengan tenang.
“Bukan.”
“Aku akan bercerai.”
Cangkir teh di tangannya langsung terjatuh.
Pecah berkeping-keping di lantai.
Dia segera menelepon Adrian.
“Istrimu pergi!”
“Dia benar-benar mau bercerai!”
Di seberang telepon…
yang terdengar hanya keheningan.
Beberapa detik kemudian…
barulah Adrian berbicara.
“Kalau dia ingin pergi…”
“Biarkan saja.”
“Nanti juga dia akan kembali.”
Dia sangat yakin.
Dia pikir…
dia mengenalku.
Karena selama dua tahun…
sekeras apa pun dia menyakitiku…
akulah yang selalu meminta maaf lebih dulu.
Akulah yang selalu kembali lebih dulu.
Tetapi kali ini…
tidak lagi.
Aku pindah ke sebuah penthouse yang diam-diam diwariskan nenek Adrian kepadaku sebelum beliau meninggal.
Semasa hidupnya…
beliau pernah menggenggam erat tanganku.
Lalu berkata,
“Kalau suatu hari kau sudah tidak bahagia lagi di rumah itu…”
“ingatlah…”
“kau masih punya rumah untuk pulang.”
Begitu memasuki penthouse itu…
aku mengusap lembut perutku.
Lalu tersenyum.
“Sayang…”
“Mulai sekarang hanya ada kita berdua.”
“Dan itu sudah lebih dari cukup.”
Tiga hari setelah perceraian kami resmi berlaku…
Adrian tiba-tiba menghilang.
Dia tidak menghadiri satu pun rapat dewan direksi.
Tidak menjawab satu pun panggilan.
Tak seorang pun tahu keberadaannya.
Memasuki hari kelima…
seluruh dunia bisnis Jakarta dibuat terkejut.
Berita itu muncul di semua media ekonomi.
“Adrian Del Rosario mendadak membatalkan seluruh perjalanan bisnisnya.”
“Bahkan jet pribadinya diperintahkan kembali saat masih berada di udara.”
“Para eksekutif Del Rosario Group tidak dapat menghubunginya.”
Tetapi…
aku sudah tidak peduli lagi.
Semuanya sudah terlambat.
Malam sudah sangat larut.
Penthouse-ku di Jakarta begitu sunyi.
Aku baru saja mematikan lampu.
Tiba-tiba—
**BRAK!**
Pintu ditendang hingga terbuka.
Sebelum sempat menoleh…
seseorang sudah menarikku dan menekanku ke dinding.
Aroma itu…
sangat familiar.
Pelukan itu…
juga sangat familiar.
Adrian.
Rambutnya berantakan.
Matanya merah.
Seolah sudah berhari-hari tidak tidur.
Namun yang paling menakutkan…
bukan kemarahan yang terlihat di matanya.

Melainkan…
ketakutan.
Dengan suara serak yang hampir tak terdengar, dia bertanya,
“Kenapa kamu menghilang?”
Berikut adalah kelanjutan dan babak penutup (ending) dari kisahmu:
BAGIAN 2 (TAMAT)
Napas Adrian memburu di ceruk leherku. Tubuhnya gemetar hebat, sebuah pemandangan yang belum pernah kulihat selama dua tahun pernikahan kami. Pria tangguh yang selalu memandangku rendah ini sekarang tampak hancur.
Aku tidak meronta. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong, sedingin es.
“Lepaskan aku, Adrian. Kita sudah bercerai. Tindakanmu ini bisa kulaporkan sebagai penerobosan liar,” ujarku, suaraku datar tanpa emosi.
“Kenapa, Mia? Kenapa kamu pergi tanpa meminta apa pun? Kenapa penthouse milik Nenek yang kamu tuju?” rentetnya dengan suara serak. “Aku pulang ke rumah… dan rumah itu terasa begitu asing. Tidak ada kamu yang menungguku, tidak ada masakanmu, tidak ada aroma tubuhmu. Aku… aku bahkan tidak bisa bernapas di sana!”
Aku tersenyum sinis. “Bukannya ibumu sudah menyiapkan pesta champagne? Bukannya taman mawar kesukaanku sudah diganti dengan melati kesukaan Victoria? Rumah itu kini sempurna untukmu dan kekasih sepuluh tahunmu. Untuk apa kamu mencariku?”
“Persetan dengan Victoria! Persetan dengan melati itu!” bentak Adrian frustrasi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku tidak peduli pada mereka! Saat aku mengira kamu akan selalu ada di sana, saat itulah aku sadar aku telah kehilangan duniaku. Aku mencintaimu, Mia… maafkan aku karena baru mengatakannya sekarang.”
Mendengar kata ‘cinta’ keluar dari mulutnya, hatiku tidak lagi berdesir. Rasa sakit yang bertumpuk selama dua tahun telah membunuh setiap jengkel perasaan yang kupunya untuknya.
Aku perlahan menurunkan tangannya dari pundakku, lalu melangkah mundur, memberi jarak di antara kami. Tanganku secara refleks bergerak melindungi perutku yang masih rata.
“Sudah terlambat, Adrian. Cinta yang datang setelah dokumen perceraian ditandatangani… itu bukan cinta. Itu hanya ego seorang pria yang tidak terima mainannya pergi.”
“Mia, tolong… beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menyuruh ibuku meminta maaf padamu!” ratapnya, bersiap untuk berlutut di hadapanku.
“Tidak perlu,” potongku tajam. “Pulanglah, Adrian. Di antara kita, sudah benar-benar selesai.”
Malam itu, dengan bantuan keamanan gedung yang kupanggil melalui interkom, Adrian diusir paksa dari penthouse-ku. Dia berteriak histeris di lorong, memanggil namaku hingga suaranya serak, namun aku tidak pernah membuka pintu itu lagi.
ENAM BULAN KEMUDIAN
Waktu berlalu dengan cepat. Perutku kini sudah membuncit dengan jelas. Kehamilanku sehat, dan aku menjalani hari-hariku dengan sangat tenang tanpa beban pikiran dari keluarga Del Rosario.
Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah berita besar mengguncang bursa saham Jakarta.
Nenek Adrian ternyata meninggalkan sebuah wasiat rahasia yang baru dibuka oleh pengacara keluarga setelah enam bulan kematian beliau. Isi wasiat itu mutlak: Seluruh aset utama, saham pengendali Del Rosario Group sebesar 45%, dan rumah utama keluarga, tidak diwariskan kepada Adrian ataupun ibunya. Melainkan, seluruhnya diwariskan kepada anak kandung atau keturunan sah dari Adrian Del Rosario.
Jika Adrian tidak memiliki anak dalam waktu satu tahun, maka seluruh harta itu akan dialihkan ke yayasan amal internasional.
Keluarga Del Rosario panik luar biasa. Ibu mertuaku mendesak Adrian untuk segera menikahi Victoria agar wanita itu bisa segera hamil. Namun, takdir berkata lain. Setelah pemeriksaan medis yang ketat demi program kehamilan kilat, Victoria dinyatakan mandul akibat komplikasi penyakit masa lalunya.
Mimpi ibu mertuaku untuk menguasai harta keluarga Del Rosario runtuh dalam sekejap.
Hingga suatu hari, sebuah foto amatir beredar di kalangan sosialita Jakarta. Foto itu menunjukkan diriku yang sedang berbelanja pakaian bayi di sebuah butik mewah, dengan perut yang sudah sangat besar.
Hanya butuh waktu beberapa jam bagi pengacara keluarga untuk mencocokkan tanggal perceraian kami dan usia kandunganku. Hasilnya mutlak: Anak di dalam kandungan Mia Reyes adalah anak kandung Adrian. Satu-satunya cucu, sekaligus ahli waris tunggal seluruh kekayaan keluarga Del Rosario.
BABAK AKHIR
Sore itu, pintu penthouse-ku diketuk dengan tidak sabar. Saat aku membukanya, aku melihat pemandangan yang sungguh menggelikan.
Mantan ibu mertuaku berdiri di sana bersama Adrian. Wajah wanita tua yang dulunya selalu angkuh dan penuh perhiasan itu kini memelas. Begitu melihatku, dia langsung menggenggam tanganku dengan ramah yang dipaksakan.
“Mia… menantuku yang cantik! Ya Tuhan, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang mengandung cucuku?” suaranya melengking manis, matanya langsung tertuju pada perutku yang membuncit. “Ayo, sayang, kita pulang ke rumah. Ibu sudah menyiapkan kamar bayi yang paling mewah. Taman mawar itu… sudah Ibu suruh tanam kembali! Rumah itu milikmu sekarang!”
Aku menarik tanganku dari genggamannya dengan kasar. Aku menatapnya, lalu menatap Adrian yang hanya berdiri diam di belakang ibunya dengan tatapan penuh rasa bersalah yang mendalam.
“Nyonya Del Rosario,” ujarku dingin, tidak lagi memanggilnya ‘Ibu’. “Apakah Anda lupa dengan kata-kata Anda sendiri? Anda bilang, darah keturunan dari wanita yang hanya bermodal wajah cantik seperti saya hanya akan membuat keluarga Anda lemah.”
Wajah wanita tua itu seketika memucat, berganti warna dari merah menjadi abu-abu. “Mia… waktu itu Ibu cuma bercanda…”
“Tapi saya tidak pernah bercanda,” sahutku tegas. “Anak ini memang darah daging Adrian. Tapi dia tidak akan pernah memakai nama belakang Del Rosario. Dia adalah anakku, Mia Reyes. Dia tidak butuh sepeser pun harta warisan dari keluarga kalian yang tamak, karena lewat peninggalan Nenek, aku sudah memiliki lebih dari cukup untuk menghidupinya.”
Aku menatap Adrian lurus-lurus. “Dan untukmu, Adrian… terima kasih karena hari itu kamu menjawab ‘Tidak’ saat kutanya tentang kehamilan. Jawabanmu memberi opsi termudah bagiku untuk melupakanmu sepenuhnya.”
“Mia… tolong, biarkan aku menjadi ayah bagi anak kita…” bisik Adrian, air matanya menetes di pipi.
“Kamu boleh menjenguknya sebagai orang asing jika dia sudah besar nanti, itu pun jika dia bersedia,” jawabku tanpa ragu. “Tapi untuk kembali menjadi istrimu? Jangankan dalam kehidupan ini, di kehidupan selanjutnya pun, aku tidak akan sudi menapakkan kakiku di rumah kalian.”
“Mia! Kamu tidak bisa sekejam ini pada kami! Anak itu adalah masa depan Del Rosario Group!” teriak mantan ibu mertuaku yang mulai histeris karena melihat harta menguap di depan mata.
Aku tersenyum penuh kemenangan, lalu perlahan menutup pintu kayu jati yang kokoh itu di depan wajah mereka.
“Masa depan kalian sudah hancur sejak hari kalian membuka botol champagne untuk merayakan kepergianku.”
Dari balik pintu, aku mendengar tangisan histeris mantan ibu mertuaku dan suara Adrian yang memukul dinding karena penyesalan yang tak berujung. Sementara aku, aku berjalan kembali ke dalam ruang tengahku yang hangat, mengusap perutku dengan penuh cinta.
Kami bebas, kami kaya, dan kami akan hidup sangat bahagia tanpa mereka.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.