Posted in

*PADA HARI AKU MENGETAHUI BAHWA AKU MENGANDUNG ANAK KEMBAR, SUAMIKU MENAWARIKU Rp85 MILIAR AGAR AKU KELUAR DARI HIDUPNYA. AKU TIDAK MENANGIS. AKU TIDAK MEMOHON. SATU-SATUNYA YANG KUTAKUTKAN HANYALAH JIKA TIBA-TIBA DIA BERUBAH PIKIRAN.**

*PADA HARI AKU MENGETAHUI BAHWA AKU MENGANDUNG ANAK KEMBAR, SUAMIKU MENAWARIKU Rp85 MILIAR AGAR AKU KELUAR DARI HIDUPNYA. AKU TIDAK MENANGIS. AKU TIDAK MEMOHON. SATU-SATUNYA YANG KUTAKUTKAN HANYALAH JIKA TIBA-TIBA DIA BERUBAH PIKIRAN.**

## BAGIAN 1

Aku sedang berbaring di ranjang pemeriksaan sebuah klinik di **Surabaya** ketika dokter mengucapkan dua kata yang sama sekali tidak kuduga.

“Anak kembar.”

Seolah dunia berhenti berputar.

Bukan karena kipas angin di langit-langit rusak.

Melainkan karena hidupku tiba-tiba berubah.

“Kembar?” bisikku pelan.

Dokter Fajardo mengangguk sambil menatap layar USG.

“Ada dua detak jantung. Keduanya kuat dan sehat.”

Aku bahkan belum sempat mengatur napas ketika ponselku yang berada di samping tas bergetar.

Nama **Rafael** muncul di layar.

Suamiku.

Pria yang sudah hampir tiga bulan tidak pernah makan bersamaku.

Pria yang hanya menghubungiku setiap awal bulan untuk mengirim uang **Rp5 juta**, yang ia sebut sebagai “uang bulanan.”

Uang bulanan.

Untuk makan.

Listrik.

Air.

Obat.

Transportasi.

Belanja.

Dan seluruh harga diriku sebagai seorang istri.

Aku mengangkat telepon sementara gel USG masih terasa dingin di perutku.

“Leah,” katanya datar, seolah sedang berbicara dalam rapat kantor.

“Aku sudah memutuskan. Aku akan memberimu **Rp85 miliar**. Tinggal tanda tangani surat perceraian.”

Aku langsung duduk.

Bukan karena hatiku hancur.

Melainkan karena kupikir aku salah dengar.

“Berapa?”

“Kamu dengar dengan jelas.”

Perawat membersihkan sisa gel di perutku, tetapi aku hampir tidak menyadarinya.

Di kepalaku, aku mulai menghitung.

Rp5 juta setiap bulan.

Tiga tahun menikah.

Total sekitar Rp180 juta.

Bahkan belum cukup untuk membeli satu jam tangan Rafael.

Dan sekarang…

Dia menawarkan **Rp85 miliar** hanya agar tidak perlu melihatku lagi.

Kalau ini investasi, mungkin para pebisnis di Jakarta pun akan ikut bingung menghitung untung-ruginya.

“Baik,” jawabku.

Mendadak ia terdiam.

Lama.

Lucu sekali.

Seolah justru dialah yang terkejut.

“Baik?” ulangnya.

“Cuma itu?”

“Ya. Cuma itu.”

“Kapan aku harus menandatangani suratnya?”

Aku mendengar suara seorang wanita di belakangnya.

Lembut.

Tapi terdengar dibuat-buat.

“Mungkin dia cuma pura-pura kuat, Raf. Jangan langsung percaya.”

Cassandra.

Wanita yang selalu diperkenalkan Rafael sebagai “konsultan branding” untuk bisnis hotel keluarganya.

Konsultan branding yang memakai gelang berlian hadiah dari suamiku.

Konsultan branding yang tinggal di apartemen mewah kawasan **Surabaya Barat**, yang seluruh cicilannya dibayar Rafael.

Konsultan branding yang selalu berdiri di sampingnya dalam acara gala amal.

Sementara aku…

Di rumah.

Menghemat beras.

Menghitung harga telur.

Aku tersenyum tipis.

Terima kasih, Cassandra.

Kalau bukan karena aktingmu setiap hari seolah kamulah ratu dalam hidupnya…

Mungkin kebebasanku tidak akan dihargai sampai Rp85 miliar.

“Raf,” kataku setenang mungkin.

“Kirim saja dokumennya. Besok aku bisa datang.”

“Kamu tidak mau bertanya apa-apa?”

“Ada satu.”

“Apa?”

“Pembayarannya lewat transfer bank atau cek?”

Aku mendengar Cassandra menarik napas.

Sedangkan Rafael…

Seolah malu pada telepon yang ia lakukan sendiri.

“Transfer.”

“Besok kita selesaikan.”

“Bagus.”

Aku langsung memutuskan sambungan.

Dokter Fajardo memandangku bingung.

Entah harus mengucapkan selamat.

Atau memelukku.

“Bu Leah… Anda tidak apa-apa?”

Aku mengusap perutku perlahan.

Dua detak jantung.

Dua kehidupan kecil.

Dua anak…

Yang bahkan belum tahu bahwa ayah mereka sudah membeli kebungkaman ibunya.

“Aku baik-baik saja, Dok.”

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir…

Aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya.

Keluar dari klinik, aku duduk di bangku dekat apotek.

Aroma alkohol.

Lantai yang baru dipel.

Bau ketakutan bercampur harapan.

Aku segera mengirim pesan kepada sahabatku, Marga.

*”Aku hamil. Kembar. Dan Rafael baru saja menawariku Rp85 miliar supaya kami bercerai.”*

Belum sampai sepuluh detik…

Telepon langsung berdering.

“Leah, kamu serius? Jangan bercanda. Ini bukan sinetron!”

“Bukan.”

“Biaya produksinya jauh lebih mahal.”

“Dia sudah tahu kalau kamu hamil?”

“Belum.”

“Terus kamu mau kasih tahu?”



Aku memandang hasil USG di tanganku.

Dua belas minggu.

Dua belas minggu muntah setiap pagi.

Dua belas minggu naik angkutan umum sendirian untuk kontrol kehamilan.

Dua belas minggu mencoba bertahan dengan Rp5 juta per bulan…

Sementara suamiku makan malam di restoran rooftop bersama wanita yang ia sebut “teman.”

“Tidak.”

“Leah…”

“Marga… dia tidak perlu tahu.”

“Tapi itu anak-anaknya.”

Aku tertawa pelan.

Tanpa sedikit pun rasa bahagia.

“Menurutmu… dia akan menganggap mereka anak?”

“Atau hanya beban biaya tambahan?”

Marga terdiam.

Karena dia tahu.

Semua orang yang mengenalku juga tahu.

Saat menikah dengan Rafael Alcantara, aku mengira dia memilihku karena cinta.

Aku hanyalah putri seorang penjahit dari **Sidoarjo**.

Dulu bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan distribusi makanan kecil.

Aku pandai memasak.

Pandai menghemat uang.

Pandai menyesuaikan diri.

Sedangkan Rafael…

Putra sulung keluarga Alcantara.

Keluarganya memiliki jaringan hotel di Surabaya.

Resor di Bali.

Dan berbagai properti di Lombok.

Pada awal hubungan kami…

Dia sangat manis.

Mengantarku bekerja.

Membawakan bakpao ketika aku lembur.

Selalu berkata,

“Aku tidak mau kamu capek. Setelah menikah nanti, biar aku yang menanggung semuanya.”

Kupikir itu cinta.

Ternyata…

Itu penjara.

Setelah menikah, dia memintaku berhenti bekerja.

“Tidak pantas istriku menghitung nota gudang.”

Dia tidak pernah mengajakku ke jamuan bisnis.

“Kamu pasti bosan.”

Dia tidak pernah memperkenalkanku kepada investor.

“Kamu kan orang yang suka privasi.”

Dia juga tidak pernah membelikanku mobil.

“Kalau perlu tinggal pakai sopir.”

Masalahnya…

Sopir itu hampir tidak pernah tersedia.

Akhirnya aku kembali naik angkot.

Naik ojek.

Berjalan kaki saat hujan.

Rumah keluarga mereka di kawasan elit Surabaya memang besar.

Ruang tamunya megah.

Lantainya mengilap.

Pendingin udaranya dingin.

Tetapi…

Aku selalu merasa seperti tamu.

Terutama saat ibu mertuaku, Nyonya Elvira, ada di rumah.

“Leah, jangan ambil lauk terlalu banyak. Nanti perutmu sakit.”

Katanya kepadaku.

Sementara ia justru memenuhi piring Cassandra.

Atau…

“Cassandra memang berkelas. Dia pintar membawa diri.”

Aku hanya duduk di ujung meja.

Mengunyah rasa malu.

Suatu hari aku meminta tambahan uang kepada Rafael karena ibuku harus menjalani pemeriksaan mata.

“Memangnya kamu tidak punya saudara?”

“Tanya dia sambil mengenakan jam tangannya.”

“Itu ibuku, Raf.”

“Dan aku suamimu, bukan yayasan amal.”

Malam itu…

Aku tidak menangis di depannya.

Aku menangis di kamar mandi.

Sambil membuka keran agar suara tangisku tidak terdengar pembantu rumah.

Keesokan harinya…

Aku melihat unggahan Instagram Cassandra.

*”Terima kasih untuk kejutan Bulgari ini. Kamu selalu tahu bagaimana membuatku merasa menjadi pilihan.”*

Pilihan.

Aku adalah istri sah.

Tetapi…

Dialah yang dipilih.

Sejak saat itu…

Aku belajar diam.

Belajar berhemat.

Mengumpulkan struk.

Mengumpulkan luka.

Dan yang paling penting…

Mengumpulkan bukti.

Karena sebelum menjadi istri Rafael…

Aku adalah seorang akuntan.

Aku tidak bodoh soal uang.

Aku tidak bodoh soal dokumen.

Dan terlebih lagi…

Aku tidak bodoh menghadapi pria yang terbiasa berbohong.

Malam itu ketika aku pulang…

Rumah kosong.

Hanya lampu lorong yang menyala.

Di dalam kulkas hanya ada setengah terong.

Dua butir telur.

Dan nasi yang sudah basi.

Begitulah kehidupan seorang istri miliarder.

Aku mengambil telur.

Menggorengnya.

Menambahkan sedikit kecap asin.

Lalu makan sendirian di dapur.

Tanpa alas kaki.

Menatap meja marmer yang mungkin harganya lebih mahal daripada seluruh rumah ibuku.

Tak lama kemudian…

Pesan dari Cassandra masuk.

*”Kak Leah, semoga Kakak bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Aku tidak pernah berniat menyakitimu. Tapi Raf dan aku memang benar-benar saling mencintai.”*

Aku menatap layar cukup lama.

“Kak.”

Berani sekali dia.

Aku mengetik balasan.

*”Semoga kalian bahagia.”*

Lalu kukirim.

Setelah itu kutambahkan satu kalimat lagi.

*”Jaga dia baik-baik. Biaya perawatannya mahal.”*

Dia tidak pernah membalas.

Aku hanya tersenyum sambil meminum segelas air hangat.

Dia tidak tahu.

Dia mengira Rafael adalah hadiah terbesar dalam hidupnya.

Padahal…

Yang ia cintai hanyalah etalase yang tampak mewah dari luar….

Berikut adalah kelanjutan cerita (Bagian 2) sekaligus akhir yang memuaskan dari kisah Leah:

BAGIAN 2: Uang Kebebasan dan Penyesalan yang Terlambat

Keesokan paginya, aku datang ke firma hukum keluarga Alcantara tepat waktu. Aku mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain longgar untuk menyembunyikan perutku. Di ruang rapat utama, Rafael sudah menunggu bersama pengacara pribadinya. Di sudut ruangan, Cassandra duduk manis dengan senyum penuh kemenangan, seolah-olah dia adalah ratu baru yang siap naik takhta.

“Ini dokumen perceraiannya, Leah,” kata Rafael dingin, menyodorkan map tebal. “Semua pasal pemutusan hubungan sudah jelas. Begitu kamu tanda tangan, Rp85 miliar akan langsung masuk ke rekeningmu dalam waktu lima menit. Tapi ingat, setelah ini, kamu tidak punya hak sepeser pun atas aset Alcantara Group di masa depan.”

Aku tidak membuang waktu. Sebagai mantan akuntan, mataku langsung memindai pasal-pasal krusial, memastikan tidak ada klausul jebakan. Semuanya bersih. Rafael benar-benar sangat ingin menyingkirkanku demi meresmikan hubungannya dengan Cassandra.

Aku mengambil pena, lalu membubuhkan tanda tangan tanpa ragu sedikit pun.

Bip. Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi SMS banking masuk.

Transfer Masuk: Rp85.000.000.000,00.

Aku tersenyum tipis, bangkit berdiri, lalu merapikan tasku. Satu-satunya hal yang kutakutkan sejak kemarin hanyalah jika pria arogan ini mendadak berubah pikiran dan membatalkan transaksi sepihak. Sekarang, uang itu sudah aman.

“Terima kasih atas tiga tahun yang melelahkan, Rafael,” kataku tenang.

Cassandra terkekeh sinis. “Hanya itu? Tidak ada air mata? Dasar wanita matre, ternyata yang kamu incar selama ini memang hanya uangnya.”

Aku menatap Cassandra dengan pandangan kasihan. “Anggap saja ini upah lemburku sebagai istri pajangan. Dan untukmu, Cassandra… nikmatilah sisa kemewahan Alcantara Group selama masih bisa.”

Sebelum Rafael sempat mencerna kalimat terakhirku, aku melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak. Hari itu juga, aku menjemput ibuku di Sidoarjo, memutus semua kontak dengan masa laluku, dan terbang ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru bersama dua nyawa kecil di perutku.

Tiga Tahun Kemudian: Hitungan yang Salah

Waktu berlalu dengan cepat. Dengan modal Rp85 miliar dan keahlian akuntansiku, aku berinvestasi dengan sangat hati-hati di sektor properti dan saham blue-chip. Hidupku tenang di sebuah rumah mewah di kawasan Jakarta Selatan. Anak kembar laki-lakiku, Leo dan Liam, tumbuh menjadi bocah yang cerdas dan sehat. Mereka tidak pernah kekurangan kasih sayang, dan mereka sama sekali tidak tahu siapa ayah biologis mereka.

Hingga suatu sore di sebuah pusat perbelanjaan premium di Jakarta, aku tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sangat kukenal.

Rafael Alcantara.

Namun, dia bukan lagi pria arogan yang mengenakan setelan jas puluhan juta. Pakaiannya tampak kusut, wajahnya kuyu, dan rambutnya mulai memutih. Saat matanya menatapku, dia terpaku. Lebih tepatnya, dia terpaku menatap dua anak kembar di sampingku yang memiliki garis wajah dan mata yang sangat mirip dengannya.

“Leah…?” suaranya bergetar. “Itu… mereka… anak-anakku?”

Aku menarik kedua anakku ke belakang punggungku. “Bukan. Mereka anak-anakku. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sejak tiga tahun lalu, Rafael.”

Air mata mulai menggenang di mata Rafael. Dengan suara parau, dia menceritakan apa yang terjadi setelah aku pergi. Rencana Cassandra untuk menjadi ratu Alcantara Group ternyata adalah awal dari kehancurannya. Cassandra, dengan gaya hidupnya yang glamor dan ketidakpahamannya tentang bisnis, mendesak Rafael melakukan investasi bodong demi gengsi sosial. Ibu mertuaku, Nyonya Elvira, juga terus memeras keuangan perusahaan untuk mempertahankan gaya hidup sosialitanya.

Hanya dalam waktu dua tahun, jaringan hotel keluarga Alcantara terlilit utang besar. Saat perusahaan di ambang bangkrut, Cassandra melarikan diri bersama seorang investor asing, membawa sisa aset terlikuid yang bisa dia curi.

“Aku bangkrut, Leah… Rumah di Surabaya disita bank. Mama sekarang sakit-sakitan karena stres,” bisik Rafael penuh penyesalan. “Setiap hari aku menyesal telah melepaskanmu. Kamu yang tahu cara mengelola keuangan, kamu yang selalu berhemat untukku… dan sekarang, aku tahu aku punya anak kembar…”

Rafael berlutut di depanku di tengah koridor mal, mengabaikan pandangan orang-orang. “Tolong, Leah… demi anak-anak kita. Izinkan aku kembali. Kita bangun semuanya dari awal lagi. Aku tahu kamu masih punya uang Rp85 miliar itu…”

Aku menatap pria yang dulu menganggapku sebagai beban dan yayasan amal itu. Tidak ada rasa benci, tidak ada rasa dendam. Hanya ada rasa hambar.

“Uang Rp85 miliar itu sudah berkembang menjadi ratusan miliar, Rafael. Tapi tidak ada satu rupiah pun di dalamnya yang ditujukan untuk menyelamatkanmu,” kataku dengan suara dingin tanpa emosi. “Kamu membayar Rp85 miliar untuk mengeluarkan aku dari hidupmu. Dan aku menggunakannya dengan sangat baik untuk membeli kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa kamu beli kembali.”

Aku menggandeng tangan Leo dan Liam, melangkah pergi meninggalkan Rafael yang menangis tersedu-sedu di lantai marmer. Dia mengira telah membuang sebuah kerikil yang tidak berharga, tanpa pernah menyadari bahwa dia baru saja membayar mahal untuk membuang berlian terbesar dalam hidupnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.