Posted in

Pada hari dia kabur sebelum pernikahan kami, aku membencinya sampai ke lubuk hati yang paling dalam.

**Pada hari dia kabur sebelum pernikahan kami, aku membencinya sampai ke lubuk hati yang paling dalam.**

**Delapan tahun kemudian, dia muncul lagi di hadapanku bersama keluarga yang tampak sempurna.**

**Namun sebuah telepon di tengah malam menghancurkan semua rahasia yang selama ini ia sembunyikan…**

Delapan tahun setelah kami berpisah, aku kembali melihat Marco di rumah sakit umum militer di wilayah selatan.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun menangis sambil mencengkeram erat lengan seragamnya.

**“Ayah… sakit…”**

Pria berseragam loreng itu berdiri di bawah cahaya dingin lorong rumah sakit. Bahunya masih selebar dulu, tetapi kini kelelahan jelas terlihat di sekitar matanya.

Saat melihatku, ia langsung terpaku.

Kartu registrasi yang dipegangnya jatuh ke lantai.

**“Isabella…”**

Suaranya serak, seolah sudah lama tidak tidur dengan tenang.

Aku sedikit menurunkan masker dan mempertahankan nada profesional sebagai dokter IGD.

**“Bawa anak itu masuk.”**

Anak itu mengalami luka cukup dalam di lengannya setelah terjatuh dari tangga kompleks perumahan militer.

Aku membersihkan lukanya dengan tenang.

Karena kesakitan, anak itu terus menggenggam erat seragam Marco.

Dan Marco sendiri, dari awal sampai akhir, tidak pernah melepaskan pandangannya dariku.

Ruangan itu sunyi.

Hanya suara alat-alat medis yang terdengar.

**“Untungnya tidak perlu dijahit.”**

Aku menuliskan resep obat lalu menyerahkannya kepada Marco.

**“Pastikan lukanya tidak terkena air selama tiga hari.”**

Ia menerima obat itu, tetapi tangannya tampak gemetar.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Namun setelah beberapa detik, ia hanya bertanya pelan:

**“Kamu masih sendiri sampai sekarang?”**

Sebelum aku sempat menjawab, anak itu sudah menarik tangannya.

**“Ayah, Tante sudah menunggu kita di rumah untuk makan malam.”**

Ekspresi Marco langsung berubah sedikit.

Sementara aku hanya tersenyum dingin.

**“Jangan biarkan keluargamu menunggu.”**

Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya pergi bersama anak itu.

Aku pikir itu adalah pertemuan terakhir kami.

Namun tiga hari kemudian, Marco kembali.

Kali ini anak itu tidak terluka.

Ia hanya berdiri lama di depan ruang tugasku sampai kepala perawat menyadarinya.

**“Kapten Reyes, apakah ada keperluan dengan Dokter Isabella?”**

Tanganku berhenti menulis catatan medis.

Kapten Reyes.

Jadi itulah pangkatnya sekarang.

Marco masuk ke dalam dan meletakkan sekotak pastry hangat di atas mejaku.

**“Anak itu ingin mengucapkan terima kasih.”**

Aku tidak menerimanya.

**“Tidak perlu.”**

Ia terdiam sejenak sebelum tiba-tiba bertanya:

**“Kamu masih marah padaku?”**

Aku tertawa pelan.

**“Sudah delapan tahun berlalu. Siapa yang masih punya waktu untuk menyimpan amarah selama itu?”**

Wajahnya sedikit memucat.

Tepat saat itu, kepala perawat masuk.

**“Dokter Isabella, kontak darurat Anda masih kosong. Kepala dokter meminta agar segera dilengkapi.”**

Marco langsung menoleh ke arahku.

Dengan tenang aku menutup map di depanku.

**“Saya tidak punya keluarga.”**

Ruangan itu langsung sunyi.

Perawat tampak ragu.

**“Maksud saya… suami atau pacar mungkin…”**

Aku menjawab tanpa ragu:

**“Saya tidak pernah menikah.”**

Tangan Marco langsung mencengkeram sisi meja.

Ia menatapku lama, seolah tidak percaya.

**“Kamu… tidak menikah?”**

Aku tersenyum pahit.

**“Aneh ya?”**

Tenggorokannya bergerak pelan.

**“Kupikir… setelah kejadian waktu itu… kamu tidak akan mau mengingatku lagi.”**

Aku tidak menjawab.

Karena dulu aku juga berpikir begitu.

Saat itu, seminggu sebelum pernikahan kami, Marco tiba-tiba menghilang dari markas.

Tidak ada telepon.

Tidak ada penjelasan.

Aku duduk sendirian mengenakan gaun pengantin sementara semua orang membicarakan rasa maluku.

Sampai tengah malam, hanya satu pesan yang kuterima darinya.

**“Maaf. Lupakan aku.”**

Setelah itu, ia benar-benar menghilang dari hidupku.

Aku pindah tugas dan meninggalkan rumah sakit militer yang penuh kenangan kami.

Baru bulan lalu aku kembali ditugaskan ke sana.

Aku kira semua itu sudah kulupakan.

Sampai aku melihatnya bersama seorang anak yang memanggilnya **“Ayah.”**

**“Dokter Isabella…”**

Suara Marco menarikku kembali ke kenyataan.

Matanya memerah saat menatapku.

**“Kalau waktu itu aku tidak pergi… apakah kamu tetap akan menikah denganku?”**

Aku belum sempat menjawab ketika tiba-tiba terdengar keributan di lorong.

Seorang perawat berlari masuk dengan napas terengah-engah.

**“Dokter! Kompleks perumahan tentara terbakar!”**

Aku langsung berdiri.

Pada saat yang sama, ponsel Marco berdering.

Dari seberang terdengar jeritan panik seorang wanita.

**“Marco! Cepat! Nathan masih tertinggal di dalam!”**

Wajah Marco langsung pucat.

Dan aku seolah kehilangan napas saat mendengar nama itu.

**Nathan.**

Nama yang dulu…

Pernah kami berdua impikan untuk anak kami sendiri.

Marco tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung berbalik dan berlari kencang menuju pintu keluar. Mengabaikan segalanya, aku menyambar tas medis darurat dan ikut berlari di belakangnya. Ambulans rumah sakit bergerak membelah malam dengan sirine yang meraung memekakkan telinga.

Di dalam ambulans, Marco duduk membeku. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Aku bisa melihat ketakutan yang luar biasa di matanya—ketakutan yang belum pernah kulihat bahkan saat ia menghadapi misi paling berbahaya delapan tahun lalu.

Begitu tiba di lokasi, pemandangan di depan kami begitu mengerikan. Api membubung tinggi, melahap salah satu blok bangunan perumahan militer. Asap hitam pekat bergulung-gulung ke langit malam.

Seorang wanita dengan pakaian acak-acakan berlari histeris ke arah kami. Ia mencengkeram seragam Marco sambil menangis histeris.

“Marco! Nathan masih di kamar atas! Petugas pemadam kebakaran belum bisa masuk karena ledakan gas!”

Wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang disebut oleh anak kecil itu tempo hari. “Tante” yang menunggu mereka untuk makan malam. Namun, di tengah kekacauan itu, ada sesuatu yang janggal yang tidak sempat kupikirkan.

Tanpa memedulikan larangan petugas penjinak api, Marco basah kuyup oleh air dari selang terdekat, menutupi wajahnya dengan jaket basah, dan menerobos masuk ke dalam kobaran api.

“Marco! Jangan!” teriakku, namun suaraku tertelan suara gemeretak kayu yang terbakar.

Tiga puluh menit berikutnya adalah siksaan terlama dalam hidupku. Aku merawat beberapa korban luka ringan di tenda darurat, namun mataku tak pernah lepas dari pintu masuk bangunan yang membara itu. Jantungku berpacu gila-gilaan. Rasa benci yang kupelihara selama delapan tahun mendadak menguap, digantikan oleh ketakutan luar biasa bahwa aku akan kehilangannya untuk selamanya.

Tuhan, tolong selamatkan mereka.

Lalu, di antara kepulan asap tebal, sesosok tubuh tegap keluar dengan langkah tertatih-tatih. Marco menggendong Nathan yang pingsan di dadanya. Pakaian Marco hangus, wajahnya hitam legam oleh jelaga, dan ia batuk parah.

Aku langsung berlari menyongsong mereka. Nathan segera dilarikan ke ambulans dengan masker oksigen. Marco menolak dirawat; ia bersikeras ikut di dalam ambulans, menggenggam tangan kecil anak itu sepanjang jalan kembali ke rumah sakit.

Malam semakin larut. Nathan sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif setelah kondisinya dinyatakan stabil akibat menghirup terlalu banyak asap.

Aku baru saja selesai membersihkan luka bakar di lengan Marco di ruang tindakan yang sepi. Keheningan kembali menyelimuti kami, mirip seperti tiga hari lalu, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih berat.

Tepat pada jam dua malam, ponsel Marco yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nomor yang tidak dikenal.

Marco sedang memejamkan mata karena kelelahan, jadi aku berinisiatif mengambil ponsel itu untuk memberikannya padanya. Namun, jariku tidak sengaja menyentuh tombol terima, dan suara di seberang telepon langsung terdengar melalui pengeras suara.

Suara itu adalah suara seorang pria paruh baya, berat dan penuh otoritas, namun terdengar sangat lelah.

“Kapten Reyes… ini Jenderal Malik. Aku baru mendengar kabar tentang kebakaran di perumahan. Bagaimana keadaan putra mendiang Kapten Reynard? Apakah Nathan selamat?”

Aku terpaku. Langkahku terhenti tepat di depan Marco.

Mendiang Kapten Reynard? Putra?

Marco membuka matanya. Wajahnya seketika pucat pasi saat menyadari telepon itu telah tersambung. Ia segera merebut ponsel itu dengan tangan bergetar.

“Siap, Jenderal. Nathan selamat. Dia sedang dalam perawatan,” jawab Marco dengan suara tercekat.

“Baguslah,” desah Jenderal di seberang sana. “Delapan tahun lalu, Reynard gugur dalam misi rahasia di perbatasan demi melindungimu dan tim kita. Kamu telah memenuhi janjimu untuk menjaga istri dan anaknya, bahkan merelakan kehidupan pribadimu sendiri. Negara dan mendiang Reynard berutang budi padamu, Marco.”

Telepon itu ditutup.

Ruangan itu mendadak menjadi begitu dingin. Ponsel di tangan Marco perlahan turun. Ia tidak berani menatap mataku.

Semua potongan teka-teki yang membingungkan selama delapan tahun ini mendadak jatuh ke tempatnya dengan hantaman yang menghancurkan ulu hatiku.

“Wanita itu… dia istri mendiang sahabatmu?” suaraku bergetar, nyaris berupa bisikan.

Marco menarik napas dalam, bahunya merosot runtuh. Air mata akhirnya jatuh melewati pipinya yang terkena jelaga hitam.

“Namanya Elena. Dia kakak ipar dari mendiang Reynard yang membantu merawat Nathan setelah ibunya juga meninggal karena syok,” jawab Marco lirih. “Mereka bukan keluargaku, Isabella. Aku tidak pernah menikah. Wanita yang dipanggil ‘Tante’ oleh Nathan adalah Elena.”

Aku mundur selangkah, merasa duniaku berputar.

“Lalu kenapa, Marco? Kenapa kamu harus kabur seminggu sebelum pernikahan kita?! Kenapa kamu menyuruhku melupakanmu?!” air mataku yang sudah ditahan sejak lama akhirnya tumpah.

Marco berdiri, mencoba meraih tanganku, namun ia mengurungkannya.

“Karena misi delapan tahun lalu itu rahasia tingkat tinggi, Isabella. Reynard tewas karena ada pengkhianat di dalam internal kita. Sebelum mati, dia memohon padaku untuk melindungi keluarganya karena mereka menjadi target pembunuhan berikutnya,” Marco terisak, suara ketegaran militernya runtuh total.

“Malam itu, aku harus membawa mereka lari dan memalsukan identitas mereka. Musuh mengincarku. Jika aku tetap tinggal dan menikahimu, kamu akan menjadi target pertama mereka. Aku tidak bisa membahayakan nyawamu. Aku memilih dibenci olehmu, asalkan kamu tetap hidup dengan aman di tempat ini.”

Ia menatapku dengan mata yang sarat akan penyesalan dan cinta yang terpendam selama hampir satu dekade.

“Mengenai nama Nathan…” Marco tersenyum getir dengan air mata yang mengalir. “Reynard menamai anaknya Nathan sebelum dia gugur. Saat aku mendengarnya pertama kali di medan perang… aku tahu, itu adalah takdir yang kejam. Nama yang selalu kita impikan untuk anak kita, justru menjadi pengingat atas hutang nyawa yang harus kubayar dengan kebahagiaan kita.”

Aku berdiri di sana, di bawah cahaya lampu IGD yang temaram, memandangi pria yang selama delapan tahun ini kubenci dengan seluruh jiwa ragaku. Pria yang kukira telah mengkhianatiku demi wanita lain, ternyata adalah pria yang mengorbankan seluruh kebahagiaannya—dan reputasinya—hanya untuk memastikanku tetap bernapas di dunia ini.

Rasa benci yang membakar hatiku selama delapan tahun itu runtuh, menyisakan puing-puing penyesalan dan kerinduan yang teramat dalam.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami, dan memeluk tubuhnya yang berbau asap dengan erat. Marco tersentak kaget, namun sedetik kemudian, ia membalas pelukanku, menyembunyikan wajahnya di bahuku, menangis sejadi-jadinya melepaskan beban rahasia yang selama delapan tahun ini ia pikul sendirian.