PADA HARI SAAT AKU SEHARUSNYA MENANDATANGANI KONTRAK SENILAI MILIARAN RUPIAH, TIBA-TIBA POLISI DATANG KE PERUSAHAANKU KARENA LAPORAN YANG DIAJUKAN OLEH IBUKU SENDIRI.
Pada hari saat aku seharusnya menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah,
tiba-tiba polisi datang ke perusahaanku karena laporan yang diajukan oleh ibuku sendiri.
Namun yang lebih mengguncang seluruh hidupku…
adalah orang yang diam-diam ternyata menghasutnya dari belakang.
Ibuku sendiri yang menelepon polisi untuk menangkapku.
Ia bahkan berdiri di depan tokomu sambil menunjuk ke arahku dan mengatakan kepada polisi bahwa aku menipu pelanggan, menjual produk kosmetik palsu, dan menyembunyikan penghasilan melalui bisnis livestream yang kujalankan.
Pada saat polisi masuk ke kantor, jaringan supermarket terbesar yang sedang bernegosiasi dengan kami langsung menarik diri dari kerja sama.
Aku menelepon Ibu dan bertanya apakah ia sadar bahwa aku bisa dipenjara jika kasus itu diteruskan.
Dengan nada dingin ia menjawab,
“Kalau kamu masuk penjara beberapa tahun, mungkin kamu akhirnya sadar dan mau bekerja yang benar sebagai pegawai pemerintah. Ibu bisa menunggumu.”
Saat polisi datang, aku sedang berada di ruang rapat di lantai dua.
Di hadapanku duduk perwakilan dari sebuah perusahaan ritel besar.
Jika kontrak itu berhasil ditandatangani, lebih dari tiga ratus cabang di seluruh negeri akan menjual merek skincare milikku.
Aku telah bekerja keras selama enam tahun untuk mencapai titik itu.
“Saya Letnan Ramirez.”
Pria berseragam itu meletakkan kartu identitasnya di atas meja.
“Kami menerima laporan bahwa perusahaan Anda diduga terlibat dalam penjualan produk palsu dan menyembunyikan pendapatan.”

Aku bahkan belum sempat pulih dari keterkejutan ketika perwakilan perusahaan ritel itu perlahan menutup map kontraknya.
Ia menatapku dengan ragu.
“Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan kerja sama ini.”
“Kami tidak bisa mempertaruhkan reputasi perusahaan kami, Nona. Kerja sama ini dibatalkan,” ucapnya dingin sebelum beranjak pergi, meninggalkan ruang rapat yang seketika terasa sepi dan mencekam.
Duniaku runtuh dalam sekejap. Enam tahun kerja keras, malam-malam tanpa tidur, dan tetesan air mata menguap begitu saja. Di sebelah Letnan Ramirez, Ibuku masuk dengan dagu terangkat. Tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Yang ada hanyalah kepuasan mutlak, seolah ia baru saja menyelamatkan jiwaku dari kesesatan dunia bisnis.
Namun, perhatianku tidak tertuju pada Ibu. Mataku justru terpaku pada sesosok pria yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, berpura-pura memasang wajah prihatin sambil menepuk-nepuk bahu Ibuku untuk menenangkannya.
Dia adalah Adrian.
Tunanganku. Pria yang malam sebelumnya baru saja mengecup keningku dan membisikkan kata-kata cinta. Pria yang memegang posisi sebagai Manajer Keuangan di perusahaanku, sekaligus orang yang memegang seluruh data formula produk dan laporan pajak pertanggungjawabanku.
Pengkhianatan di Balik Layar
Saat Adrian melirikku, ada kilatan kemenangan yang tipis di matanya—sebuah tatapan yang langsung membuat seluruh potongan teka-teki di kepalaku menyatu dengan menyakitkan.
Adrian tahu betul titik lemah Ibuku. Ia tahu Ibu adalah seorang pensiunan pegawai negeri konservatif yang sangat membenci dunia entrepreneur dan terobsesi agar aku memiliki pekerjaan “stabil” di pemerintahan. Selama berbulan-bulan, Adrian diam-diam mencuci otak Ibuku, menyuapkan cerita-cerita palsu bahwa bisnis livestreaming dan kosmetikku hanyalah kedok pencucian uang ilegal yang cepat atau lambat akan menyeretku ke tiang gantungan.
Ibu, yang termakan kepanikan dan manipulasi Adrian, akhirnya rela menjadi tameng untuk melaporkan anak kandungnya sendiri.
Tapi apa motif Adrian yang sebenarnya?
“Letnan,” Adrian melangkah maju, suaranya terdengar sangat meyakinkan. “Sebagai Manajer Keuangan dan tunangannya, saya sangat terpukul. Tapi tugas saya adalah menegakkan hukum. Ini adalah flashdisk berisi seluruh bukti mutasi rekening dan laporan kosmetik yang dituduhkan.”
Aku tersenyum getir, air mata kemarahan mengalir di pipiku. “Adrian… jadi ini rencanamu? Memanfaatkan Ibu untuk menghancurkanku, agar kau bisa mengambil alih seluruh formula dan sisa aset perusahaan ini sendirian?”
Adrian menggeleng dramatis, “Sayang, berhentilah berhalusinasi. Akui saja kesalahanmu pada polisi.”
Serangan Balik yang Tak Terduga
Ibu menatapku dengan tatapan mengasihi. “Sudahlah, Nak. Adrian melakukan ini karena dia peduli padamu. Dia yang menceritakan semuanya pada Ibu. Ikutlah dengan polisi, jalani hukumanmu, lalu kita mulai hidup baru yang bersih.”
“Ibu…” suaraku bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kecewa yang teramat dalam. “Ibu baru saja menghancurkan hidupku demi mempercayai seorang ular.”
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai akal sehatku yang tersisa. Adrian mengira dia telah menang, tetapi dia melupakan satu hal penting: sebagai seorang CEO yang merangkak dari bawah, aku tidak pernah menaruh seluruh telurku dalam satu keranjang.
Aku berjalan menuju meja kerjaku, membuka laci rahasia, dan mengeluarkan sebuah iPad.
“Letnan Ramirez, sebelum Anda membawa saya, saya rasa Anda harus melihat ini terlebih dahulu,” kataku sambil menyalakan layar yang menampilkan rekaman CCTV tersembunyi di ruangan Adrian, lengkap dengan rekaman suara jernih dari dua minggu lalu.
Di dalam video itu, Adrian terlihat sedang bertransaksi dengan perwakilan dari perusahaan kompetitorku. Suaranya terdengar sangat jelas:
“Aku akan membuat Ibunya melaporkan perusahaannya sendiri ke polisi tepat di hari penandatanganan kontrak besar itu. Saat citra mereknya hancur dan dia ditahan, aku akan menjual formula skincare miliknya kepada kalian dengan harga murah, lalu kami akan membagi sisa asetnya.”
Kebenaran yang Menghancurkan
Ruangan itu seketika menjadi hening bak kuburan.
Wajah Adrian yang tadinya penuh kemenangan langsung berubah pucat pasi, sekuning kain kafan. Tubuhnya gemetar hebat saat Letnan Ramirez merebut iPad tersebut dan menontonnya dengan dahi berkerut.
Ibuku ternganga. Ia menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. “A-Adrian… apa-apaan ini? Kamu bilang kamu ingin menyelamatkan anakku…”
“Ibu,” kataku dengan suara dingin namun bergetar. “Produkku 100% legal dan terdaftar di BPOM. Pajakku bersih. Pria yang Ibu agung-agungkan sebagai calon menantu ideal ini adalah orang yang menjebakku, dan Ibu baru saja membantunya dengan sukarela.”
Ibuku terduduk di kursi rapat, menangis histeris sambil memegangi dadanya, menyadari bahwa ego dan kedunguannya telah dimanfaatkan untuk menghancurkan masa depan darah dagingnya sendiri.
Letnan Ramirez mematikan iPad tersebut, lalu berbalik menatap Adrian dengan tatapan tajam.
“Saudara Adrian, atas tuduhan konspirasi kriminal, pencemaran nama baik, dan percobaan pencurian aset intelektual, Anda ditahan. Pengawal, borgol dia.”
“Tidak! Ini jebakan! Dia memanipulasi video itu!” teriak Adrian histeris saat kedua polisi meringkusnya dan memasang borgol di tangannya, menyeretnya keluar dari ruangan tempat ia hampir saja mengubur hidupku.
Akhir yang Pahit
Kini, hanya tersisa aku dan Ibu di dalam ruangan yang kacau itu.
Ibu perlahan merangkak mendekatiku, mencoba meraih tanganku sambil terisak. “Nak… maafkan Ibu… Ibu tidak tahu… Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu…”
Aku menarik tanganku perlahan, mundur satu langkah menjauhinya. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang melahirkanku jauh lebih perih daripada kehilangan kontrak miliaran rupiah itu.
“Kontrakku hari ini memang hancur, Bu,” ujarku dengan suara yang teramat datar, menatap lurus ke matanya yang sembap. “Tapi perusahaanku akan tetap berdiri. Aku akan membersihkan namaku dari laporan yang Ibu buat.”
Aku berjalan menuju pintu, membukanya lebar-lebar, memberi isyarat agar ia pergi.
“Tapi untuk kita… kurasa Ibu berhasil mendapatkan keinginan Ibu. Mulai hari ini, Ibu tidak perlu lagi mengkhawatirkan bisnis Livestream milikku. Karena bagi Ibu, aku sudah ‘mati’.”
Ibu berjalan keluar dengan langkah gontai dan tangis yang menyayat hati. Aku menutup pintu ruang rapat rapat-rapat, bersandar di baliknya, dan membiarkan air mataku tumpah sepenuhnya. Hari itu aku kehilangan kontrak terbesar dalam hidupku dan kehilangan seorang Ibu. Namun di atas puing-puing pengkhianatan itu, aku tahu, tidak akan ada lagi yang bisa menjatuhkanku.