Posted in

Pada Malam Pernikahannya, Sang Pengantin Wanita Pulang Bersimbah Darah ke Rumah Ibunya. Keluarga Mempelai Pria Mengira Mereka Bisa Menghancurkannya dengan Mudah—Mereka Tak Tahu Siapa Ayah Kandungnya Sebenarnya*

*Pada Malam Pernikahannya, Sang Pengantin Wanita Pulang Bersimbah Darah ke Rumah Ibunya. Keluarga Mempelai Pria Mengira Mereka Bisa Menghancurkannya dengan Mudah—Mereka Tak Tahu Siapa Ayah Kandungnya Sebenarnya**

*”Kalau malam ini kamu tidak menandatangani dokumen itu, kami pastikan ibumu sendiri pun tidak akan mengenalimu lagi.”*

Kalimat itu terus berulang di telinga **Mira Santoso** ketika ia tiba di apartemen sederhana milik ibunya di kawasan **Rawamangun, Jakarta Timur**, sekitar pukul tiga dini hari.

Ia berjalan tanpa alas kaki.

Tubuhnya basah kuyup diguyur hujan.

Gaun pengantin putih yang dikenakannya robek, kotor, dan dipenuhi bercak darah.

Ibunya, **Rosa Santoso**, tinggal di sebuah apartemen tua tak jauh dari Jalan Pemuda. Malam itu suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara hujan yang menghantam atap dan jendela.

Beberapa jam sebelumnya, Rosa masih melihat putrinya melangkah menuju pelaminan di sebuah hotel mewah di kawasan **Sudirman, Jakarta**.

Mira mengenakan gaun pengantin yang mereka pilih bersama setelah berbulan-bulan menabung. Rambutnya dihiasi butiran mutiara kecil, dan di wajahnya terpancar senyum yang sudah lama tidak pernah dilihat Rosa.

Seolah-olah Mira berkata, *”Bu… akhirnya aku benar-benar bahagia.”*

Namun ketika Rosa membuka pintu, yang berdiri di hadapannya bukan lagi seorang pengantin.

Melainkan seseorang yang baru saja melarikan diri dari mimpi buruk.

Bibir Mira sobek.

Salah satu matanya bengkak.

Pipinya penuh lebam.

Rambut yang tadi tersusun rapi kini menempel di wajahnya karena hujan, keringat, dan air mata.

*”Bu…”* suaranya hampir tak terdengar. *”Mereka memukulku…”*

Sebelum Rosa sempat menjawab, lutut Mira tiba-tiba lemas.

Rosa segera menopangnya dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Ia membaringkan putrinya di sofa. Saat hendak memeriksa punggung Mira, gadis itu langsung menjerit kesakitan.

Di sanalah Rosa melihat bekas cakaran di lengannya, luka di kakinya, dan memar yang mulai menghitam.

Rosa langsung mengambil ponselnya.

*”Ibu akan panggil ambulans.”*

Namun Mira buru-buru menggenggam tangan ibunya.

*”Jangan, Bu… Mereka bilang kalau aku ke rumah sakit atau melapor ke polisi, mereka akan menghilangkanku.”*

Tubuh Rosa membeku.

*”Siapa mereka?”*

Bibir Mira gemetar. Beberapa saat ia tak mampu berkata apa-apa.

Lalu perlahan ia menceritakan semuanya.

Setelah resepsi selesai, suaminya, **Enzo Wijaya**, membawanya ke bridal suite. Mira mengira mereka akhirnya bisa beristirahat. Ia duduk di tepi ranjang, melepas sepatunya, lalu menarik napas panjang.

Namun beberapa menit kemudian, ibu mertuanya, **Nyonya Celeste Wijaya**, masuk bersama enam perempuan dari keluarganya: dua bibi, dua sepupu, seorang ipar, dan seorang sahabat keluarga yang selalu mengikuti Celeste ke mana pun.

Mereka menutup pintu.

Menguncinya.

Lalu Celeste meletakkan sebuah map tebal di atas meja kaca.

*”Tandatangani.”*

*”Ini surat pengalihan hak kepemilikan apartemenmu di SCBD.”*

Apartemen itu adalah warisan dari ayah Mira, **Arturo Santoso**, yang diberikan kepadanya saat berusia delapan belas tahun melalui sebuah perwalian. Properti itu tidak bisa dipindahtangankan sembarangan.

Itulah satu-satunya harta yang benar-benar menjadi milik Mira.

Nilainya hampir **Rp35 miliar**.

*”Mereka bilang sekarang aku sudah menjadi keluarga Wijaya,”* kata Mira sambil menangis.

*”Katanya istri yang baik tidak boleh menyembunyikan apa pun dari suaminya. Kalau aku benar-benar mencintai Enzo, aku harus menyerahkan semuanya.”*

Perut Rosa terasa mual.

*”Di mana Enzo saat itu?”*

Mira memejamkan mata.

*”Dia berdiri di luar pintu.”*

*”Di luar?”*

*”Dia berjaga supaya tidak ada yang masuk. Waktu aku berteriak minta tolong, dia malah berkata, ‘Ma, jangan pukul wajahnya terlalu keras. Besok dia masih harus terlihat normal saat tanda tangan di hadapan notaris.'”*

Hati Rosa seperti diremas.

Mira melanjutkan ceritanya.

Karena menolak menandatangani dokumen itu, Celeste menarik rambutnya dan menamparnya.

Lalu satu per satu perempuan lainnya ikut memukul.

*”Mereka menghitung, Bu…”* bisik Mira.

*”Menghitung apa?”*

Mira menatap ibunya dengan mata kosong.

*”Empat puluh.”*

Rosa tak mampu berkata apa-apa.

Empat puluh tamparan.

Empat puluh tamparan yang diterima seorang pengantin wanita pada malam pernikahannya sendiri.

Empat puluh tamparan untuk membuatnya merasa tidak berharga.

Empat puluh tamparan demi memaksanya menyerahkan seluruh hartanya.

Namun Mira tetap tidak mau menandatangani.

Ia baru berhasil kabur ketika salah seorang sepupu membuka pintu untuk memanggil Enzo.

Mira berlari menuruni tangga darurat, keluar lewat pintu belakang hotel, lalu naik taksi di tengah hujan deras.

Ia tidak tahu apakah mereka mengejarnya.

Ia tidak tahu apakah dirinya bisa sampai dengan selamat ke rumah ibunya.

Rosa menatap putrinya yang masih gemetar di atas sofa.

Saat itu juga ia sadar.

Ia tidak mungkin melindungi Mira sendirian.

Ada satu pria yang sudah sepuluh tahun tidak pernah ia hubungi.

Ayah Mira.

**Arturo Santoso.**

Seorang pengusaha besar yang memiliki berbagai gedung perkantoran di kawasan **Jakarta Pusat** dan **BSD City**. Pria yang tenang, dingin, dan sangat disegani di dunia bisnis.

Hubungannya dengan Rosa berakhir dengan perceraian yang pahit, dipenuhi pengacara, harga diri, dan kata-kata yang tak pernah bisa ditarik kembali.

Namun Rosa tahu satu hal.

Jika ada yang berani menyakiti Mira…

Arturo sanggup mengubah dunia mereka menjadi penjara.

Telepon diangkat pada dering ketiga.

*”Rosa.”*

Rosa menatap putrinya yang berlumuran darah.

*”Arturo… mereka hampir membunuh putri kita.”*

Hening.

Beberapa detik kemudian, suara Arturo berubah menjadi sangat dingin.

*”Siapa?”*

Sebelum Rosa sempat menjawab, bel apartemen berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Lalu terdengar gedoran keras di pintu.

*”Buka pintunya, Mira!”* teriak seorang wanita dari luar.

*”Kamu sekarang sudah menjadi istri anakku!”*

Wajah Mira langsung pucat.

Rosa mengintip melalui lubang pintu.

Di luar berdiri Nyonya Celeste, masih dengan tatanan rambut rapi dan perhiasan mewah yang dikenakannya saat pesta pernikahan.

Di belakangnya berdiri para perempuan yang tadi memukuli Mira.

Dan di barisan paling belakang…

Enzo.

Jas tuxedonya kusut.

Wajahnya dipenuhi amarah.

*”Buka pintunya, Bu Rosa,”* kata Enzo.

*”Istri saya harus pulang bersama saya.”*

Tubuh Mira kembali gemetar.

Di sisi lain telepon, Arturo masih mendengarkan.

Ia mendengar suara Enzo.

Lalu hanya mengucapkan satu kalimat.

*”Rosa… jangan buka pintu itu.”*

Tepat pada saat yang sama…

Pintu lift di ujung lorong perlahan terbuka.

Seorang pria melangkah keluar.

Pria yang selama ini dianggap tak akan pernah lagi kembali ke kehidupan Mira….

Pria yang keluar dari lift itu bukanlah Arturo Santoso. Pria itu bertubuh tegap, mengenakan setelan jas hitam yang basah di bagian bahu karena air hujan, dengan tatapan mata setajam elang. Dia adalah baskara, kepala pengawal pribadi sekaligus tangan kanan Arturo yang paling dipercaya selama dua dekade.

Di belakang Baskara, delapan pria berbadan tegap dengan seragam safari hitam melangkah keluar dari dua lift tambahan secara bersamaan. Koridor apartemen tua yang sempit itu mendadak terasa begitu sesak dan mencekam.

Nyonya Celeste dan para perempuan di belakangnya menoleh dengan wajah ketakutan. Enzo, yang semula berdiri congkak di depan pintu, langsung mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding koridor.

“Siapa kalian?! Jangan macam-macam ya! Saya ini keluarga Wijaya!” teriak Celeste, mencoba menggunakan nama besarnya untuk menutupi rasa takut yang mulai merayap.

Baskara tidak menjawab. Dia hanya memberi isyarat tangan yang dingin. Dalam hitungan detik, delapan pengawal bertubuh besar itu langsung maju, mengepung, dan mengunci pergerakan Enzo serta ketujuh wanita keluarga Wijaya. Ponsel-ponsel mereka direbut paksa agar tidak ada yang bisa meminta bantuan luar.

Baskara melangkah mendekati pintu apartemen Rosa, lalu mengetuknya tiga kali dengan sopan.

“Nyonya Rosa, ini Baskara. Tuan Besar sudah dalam perjalanan. Anda dan Non Mira aman di dalam,” ucap Baskara dengan suara berat yang menembus pintu.

Di dalam apartemen, Rosa menarik napas lega. Dia menatap Mira yang masih menangis sesenggukan di sofa, lalu menggenggam jemari putrinya yang dingin. “Ayahmu datang, Sayang. Ayahmu tahu.”

Sementara di luar, malam semakin larut, namun pelataran apartemen di Rawamangun itu mendadak berubah menjadi pangkalan militer darurat. Tiga mobil Mercedes-Benz hitam antipeluru dan dua SUV besar berhenti tepat di depan lobi.

Pintu mobil tengah terbuka. Seorang pria paruh baya berkepala empat melangkah turun. Rambutnya yang mulai beruban disisir rapi ke belakang. Wajahnya tidak menampilkan amarah, melainkan ketenangan yang mematikan. Dialah Arturo Santoso.

Arturo berjalan memasuki lobi tanpa memedulikan hujan yang membasahi sepatunya. Di belakangnya, sepasang pengacara paling ditakuti di ibu kota dan seorang dokter spesialis pribadi mengikuti dengan langkah cepat.

Begitu pintu lift terbuka di lantai apartemen Rosa, pandangan Arturo langsung tertuju pada Enzo dan keluarga Wijaya yang kini terduduk di lantai koridor dalam kondisi terjepit oleh para pengawalnya.

Nyonya Celeste, yang mengenali wajah Arturo dari berbagai majalah bisnis dan berita ekonomi nasional, mendadak lemas. Lidahnya mendadak kelu. “T-Tuan… Tuan Arturo Santoso?”

Arturo bahkan tidak melirik Celeste. Dia berjalan melewati mereka seolah-olah mereka hanya tumpukan sampah di koridor, lalu mengetuk pintu apartemen Rosa.

Pintu terbuka. Rosa berdiri di sana dengan mata sembap. Arturo melangkah masuk, dan pandangannya langsung terkunci pada sosok Mira yang terbaring di sofa dengan gaun pengantin robek, wajah lebam, dan tubuh dipenuhi bercak darah.

Pria yang biasanya dikenal berdarah dingin dan tak pernah goyah di dunia bisnis itu, seketika luruh. Arturo berlutut di samping sofa. Tangannya yang gemetar perlahan menyentuh pipi Mira yang membengkak dengan kelembutan seorang ayah yang hancur hatinya.

“Mira… ini Ayah, Nak,” bisiknya, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi.

Mira membuka matanya yang bengkak, menatap wajah pria yang selama sepuluh tahun ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan. “Ayah…” tangis Mira kembali pecah, merangsek masuk ke dalam pelukan Arturo.

Arturo memeluk putrinya erat-erat, sementara matanya menatap tajam ke arah dokter pribadinya yang langsung bergerak cepat memeriksa luka-luka Mira. Setelah memastikan Mira ditangani dengan aman, Arturo bangkit berdiri. Dia membalikkan badannya menghadap pintu.

Saat itulah, ketenangan di wajah Arturo lenyap, digantikan oleh aura kepunahan yang siap menghancurkan siapa saja.

Arturo melangkah keluar ke koridor. Di sana, Enzo mencoba merangkak mendekat dengan wajah pucat pasi. “Papa… Papa Arturo, tolong dengarkan penjelasan saya. Ini semua salah paham… Ini hanya masalah internal keluarga…”

Brakk!

Sebelum Enzo menyelesaikan kalimatnya, Arturo melayangkan satu tendangan keras tepat di dada Enzo hingga pemuda itu tersungkur dan terbatuk darah. Celeste menjerit histeris melihat putrinya dihantam, namun salah satu pengawal Baskara langsung menekan bahunya agar tetap di lantai.

Arturo merapikan kembali jasnya yang sedikit kusut, lalu menatap Enzo dengan pandangan merendahkan.

“Kamu membiarkan ibumu memukul putriku empat puluh kali, Enzo?” suara Arturo berbisik, namun terdengar seperti vonis mati di koridor yang sunyi itu. “Dan kamu berdiri di luar pintu, menghitungnya?”

“Tuan Arturo, tolong… kami tidak tahu kalau Mira adalah putri Anda! Kami mengira dia hanya anak dari janda miskin di Rawamangun!” ratap Celeste dengan air mata yang merusak riasan mahalnya.

Arturo tersenyum sinis. Sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk semua orang di sana meremang.

“Baskara,” panggil Arturo tanpa menoleh.

“Siap, Tuan Besar,” jawab Baskara tegas.

“Pertama, hubungi seluruh jajaran direksi bank penjamin. Tarik seluruh investasi, likuiditas, dan modal milik Santoso Group dari Wijaya Holdings per detik ini juga. Pastikan besok pagi, saham mereka menyentuh lantai bursa terendah dalam sejarah.”

Enzo membelalakkan matanya. Wijaya Holdings selama ini bertahan dan berkembang justru karena suntikan dana terselubung dari anak perusahaan Arturo.

“Kedua,” Arturo melanjutkan, “panggil tim pengacara. Ajukan gugatan pidana atas penganiayaan berat berencana, percobaan pemerasan, dan penyekapan terhadap ketujuh wanita ini dan pemuda tidak berguna ini. Pastikan tidak ada hakim di negeri ini yang berani memberikan mereka penangguhan penahanan.”

“Tuan Arturo, jangan! Kami mohon! Kami bisa kembalikan apartemen itu! Kami tidak akan menyentuh Mira lagi!” jerit adik Celeste, meratap di lantai.

Arturo mengabaikan jeritan mereka. Dia menoleh ke arah pengacaranya. “Dan pastikan, apartemen senilai Rp35 miliar di SCBD itu… dibeli kembali oleh perusahaan saya, lalu ubah fungsinya menjadi gedung yayasan sosial. Saya tidak ingin sejumput tanah pun milik putri saya pernah dikotori oleh nama keluarga Wijaya.”

Arturo berbalik, kembali masuk ke dalam apartemen Rosa. Dia menggendong Mira yang sudah selesai diperban oleh dokter pribadi, membawa putrinya keluar dari tempat penuh trauma itu. Rosa berjalan di sampingnya, menggandeng tangan Mira yang sebelah lagi.

Saat melewati Enzo yang masih meringis kesakitan di lantai, Arturo berhenti sejenak.

“Kalian mengira bisa menghancurkan putriku dengan mudah karena dia terlihat sendirian,” ucap Arturo dingin. “Mulai besok pagi, kalian akan belajar bagaimana rasanya dihancurkan oleh pria yang tidak akan pernah berhenti sampai kalian tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan.”

Dengan itu, Arturo melangkah masuk ke dalam lift bersama keluarganya.

Keesokan harinya, sebelum matahari sempat terbit di langit Jakarta, Wijaya Holdings resmi dinyatakan pailit. Enzo dan seluruh wanita di keluarganya dijemput paksa oleh tim Jatanras Polda Metro Jaya langsung dari koridor apartemen itu tanpa sempat mengganti pakaian mereka.

Keluarga Wijaya mengira mereka telah memenangkan taruhan besar malam itu dengan memukul seorang gadis tanpa pelindung. Mereka tak pernah tahu, bahwa dengan melukai Mira, mereka baru saja membangunkan monster paling mengerikan di dunia bisnis yang siap menenggelamkan hidup mereka ke dalam neraka yang sesungguhnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.