Posted in

SAAT AKU MULAI MENGALAMI KONTRAKSI MELAHIRKAN DI DEPAN KELUARGAKU, MEREKA HANYA BERKATA, “NAIK TAKSI SAJA, KAMI SEDANG SIBUK.” JADI AKU MENYETIR SENDIRI KE RUMAH SAKIT. SEMINGGU KEMUDIAN, IBUKU MENGETUK PINTU UNTUK MELIHAT CUCUNYA. JAWABANKU HANYA: “CUCU YANG MANA?”

SAAT AKU MULAI MENGALAMI KONTRAKSI MELAHIRKAN DI DEPAN KELUARGAKU, MEREKA HANYA BERKATA, “NAIK TAKSI SAJA, KAMI SEDANG SIBUK.” JADI AKU MENYETIR SENDIRI KE RUMAH SAKIT. SEMINGGU KEMUDIAN, IBUKU MENGETUK PINTU UNTUK MELIHAT CUCUNYA. JAWABANKU HANYA: “CUCU YANG MANA?”

Aku selalu menjadi pilihan kedua dalam keluargaku.

Sejak kecil, seluruh perhatian dan kasih sayang orang tuaku selalu tertuju pada adik perempuanku, Bianca. Aku berpikir, ketika aku hamil dan mereka akan segera memiliki cucu pertama, sikap mereka akan berubah. Aku berharap bisa melihat antusiasme di mata mereka.

Namun pada suatu malam yang dingin dan hujan, aku menyadari bahwa hubungan darah tidak selalu berarti keluarga.

Saat itu kami sedang makan malam bersama keluarga. Akulah yang memasak dan membiayai semuanya. Aku sudah hamil sembilan bulan, perutku sangat besar dan pinggulku sering terasa nyeri.

Suamiku, Anton, bekerja di luar negeri sebagai pelaut, jadi aku terpaksa tinggal sementara di dekat rumah Mama dan Papa agar ada yang menemaniku jika tiba-tiba aku melahirkan.

Saat makan, Mama dan Papa dengan penuh semangat membicarakan anjing baru yang dibeli Bianca. Tidak ada topik lain selain betapa hebatnya putri kesayangan mereka sebagai “ibu anabul.”

Tiba-tiba aku merasakan kontraksi yang sangat kuat.

Rasanya berbeda dari kontraksi palsu yang kualami selama beberapa minggu terakhir. Rasa sakit itu menjalar dari punggung hingga ke perut bagian bawah.

Aku langsung berpegangan pada tepi meja.

Tak lama kemudian, aku merasakan cairan hangat mengalir di pahaku.

Ketubanku pecah.

“Ma… Pa…” panggilku dengan suara serak sambil berusaha mengatur napas. “Sepertinya aku akan melahirkan. Kontraksinya terus-menerus. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”

Mama menatapku dengan alis terangkat.

Ia meletakkan garpunya dengan ekspresi kesal, seolah aku mengganggu cerita menarik tentang anjing Bianca.

“Ya ampun, Maya. Kamu selalu berlebihan. Pasti cuma alarm palsu. Kami sedang merayakan sesuatu bersama adikmu.”

“Ma, ini bukan alarm palsu. Ketubanku sudah pecah,” kataku sambil menangis dan memegangi perut yang semakin mengeras karena kontraksi.

Aku menoleh kepada Papa, memohon dengan tatapan mata agar ia mau membantuku berdiri dan menyalakan mobil.

Namun Papa hanya mengangkat bahu lalu kembali makan.

“Naik taksi saja, Maya. Atau pesan mobil online. Kami sedang sibuk, tidak lihat? Aku baru libur besok. Aku tidak mau begadang di rumah sakit malam ini.”

Bianca bahkan tertawa sambil memberi makan anjingnya.

“Kamu pasti bisa, Kak. Kamu memang suka drama.”

Aku membeku di tempat.

Yang paling menyakitkan bukanlah kontraksi yang kurasakan.

Yang paling menyakitkan adalah sikap dingin orang tuaku sendiri saat aku memohon bantuan.

Aku sedang hamil, sendirian, dalam proses melahirkan, dan keluargaku memilih melanjutkan makan malam mereka daripada memastikan keselamatan aku dan calon cucu mereka.

Pada saat itu, seluruh harapanku bahwa kami bisa menjadi keluarga yang sesungguhnya pun mati.

Aku menghapus air mata yang bercampur dengan keringat di wajahku. Tidak ada gunanya mengemis pada orang-orang yang tidak punya hati. Sambil menahan gelombang rasa sakit yang semakin hebat, aku mengambil tas bersalin yang sudah kusiapkan di dekat pintu, kunci mobil, dan berjalan keluar rumah sendirian.

Malam itu, di tengah hujan deras dan jalanan yang licin, aku menyetir sendiri ke rumah sakit. Setiap kali kontraksi datang menghantam, aku mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih, berteriak di dalam kabin mobil yang sunyi demi mengalihkan rasa sakit.

Pikiranku hanya satu: Aku dan bayiku harus selamat.

Sesampainya di ruang UGD, para perawat terperangah melihat seorang wanita hamil sembilan bulan turun dari kursi kemudi dengan baju yang sudah basah oleh air ketuban. Mereka langsung melarikanku ke ruang bersalin. Tiga jam kemudian, putri kecilku lahir ke dunia dengan selamat.

Ketika aku mendekap tubuh mungilnya yang hangat di dadaku, sebuah kedamaian yang luar biasa langsung memenuhi hatiku. Bersamaan dengan itu, semua rasa hormat dan kasih sayangku untuk orang tua dan adikku menguap tanpa sisa. Mereka bukan lagi keluargaku.

Seminggu Kemudian: Ketukan di Pintu

Aku sudah kembali ke rumah kontrakanku. Anton, suamiku, berhasil mendapatkan penerbangan darurat dan kini sedang tertidur pulas di kamar setelah berjaga semalaman menjaga putri kami.

Saat aku sedang menyeduh teh di dapur, terdengar ketukan keras di pintu depan.

Aku membukanya dan mendapati Mama berdiri di sana. Ia memakai pakaian rapi, membawa sebuah kantong belanjaan kecil, dan memasang senyum lebar yang terlihat sangat palsu di mataku. Di belakangnya, Bianca sedang sibuk memainkan ponselnya.

“Halo, Maya! Akhirnya Mama punya waktu luang,” kata Mama tanpa rasa bersalah sedikit pun, mencoba melangkah masuk ke dalam rumah. “Mama sengaja datang hari ini untuk melihat cucu Mama. Mana dia? Laki-laki atau perempuan?”

Aku tidak bergeser satu inci pun dari ambang pintu. Tubuhku menghalangi jalan masuk mereka. Tatapanku dingin, datar, dan kosong.

“Cucu yang mana?” tanyaku dengan nada suara yang teramat tenang.

Senyum Mama langsung memudar, digantikan oleh kerutan di dahi. “Apa maksudmu ‘cucu yang mana’? Anakmu, lah! Yang seminggu lalu kamu ributkan itu. Ketubanku pecah, ketubanku pecah—begitu katamu, kan? Makanya Mama datang sekarang mau lihat.”

Bianca ikut menyahut dari belakang tanpa mendongak dari ponselnya, “Iya, Kak. Lagian ketebak banget sih, kemarin itu pasti cuma drama biar diperhatiin. Buktinya Kak Maya bisa pulang sendiri dan bayinya sehat-sehat aja, kan? Mana bayinya? Aku mau foto buat konten.”

Mendengar kalimat itu, dadaku tidak lagi terasa sakit. Yang ada hanyalah rasa muak yang mendalam.

“Anak yang lahir dari rahimku seminggu lalu tidak punya nenek ataupun tante di rumah ini,” kataku, setiap kata kuucapkan dengan penekanan yang jelas.

“Maya! Jaga bicaramu! Mama ini ibumu!” suara Mama mulai meninggi, wajahnya memerah karena terkejut.

“Ibu?” aku terkekeh sinis. “Seorang ibu tidak akan membiarkan putrinya yang sedang kesakitan menyetir sendirian di tengah malam saat air ketubannya sudah pecah. Seorang ayah tidak akan menolak mengantarkan anaknya ke rumah sakit hanya karena malas begadang. Dan seorang adik tidak akan menertawakan kakaknya yang bertaruh nyawa demi seekor anjing.”

Aku menatap Mama tepat di matanya.

“Malam itu, saat kalian mengusirku dan menyuruhku naik taksi karena kalian ‘sedang sibuk’, saat itulah hubungan kita selesai. Kalian tidak berhak mengklaim anakku sebagai cucu kalian setelah kalian menelantarkan ibunya di momen paling kritis dalam hidupnya.”

“Kamu keterlaluan, Maya! Hanya karena masalah sepele begitu kamu mau mutus hubungan darah?!” bentak Mama, mencoba merangsek maju.

“Ini bukan masalah sepele. Ini tentang nyawa,” ujarku dingin.

Tepat saat itu, pintu pagar terbuka. Anton berjalan masuk membawa beberapa kantong belanjaan keperluan bayi. Begitu melihat Mama dan Bianca, wajah Anton langsung mengeras. Aku sudah menceritakan semuanya, dan Anton hampir saja mendatangi rumah mereka kalau saja tidak kutahan.

“Ada apa ini?” tanya Anton dengan suara beratnya yang mengintimidasi.

Melihat menantunya yang berbadan tegap dan bermuka masam, nyali Mama dan Bianca langsung ciut. Mereka tahu Anton tidak akan segan-segan mengusir mereka dengan kasar.

“Pergi dari rumah kami,” kataku pada Mama dan Bianca sebelum mereka sempat membela diri. “Jangan pernah datang lagi, jangan pernah cari tahu tentang anakku, dan anggap saja aku tidak pernah ada di dunia ini. Mulai hari ini, kalian adalah orang asing.”

Tanpa menunggu jawaban mereka, aku menutup pintu depan dengan keras tepat di depan wajah mereka, lalu menguncinya rapat-rapat.

Aku berbalik, menyandarkan punggungku di pintu, dan mengembuskan napas lega. Di dalam kamar, terdengar rengekan kecil putriku yang baru terbangun. Aku tersenyum, melangkah menghampirinya, tahu bahwa di dalam pelukanku dan Anton, dia akan tumbuh dengan limpahan kasih sayang yang tulus—sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan dari orang-orang di luar pintu sana.