Posted in

Saat menjadi TKI di Korea Selatan, istriku terus menyuruhku untuk pulang. Namun, setibanya di tanah air, ternyata ia sudah meninggal.

Saat menjadi TKI di Korea Selatan, istriku terus menyuruhku untuk pulang. Namun, setibanya di tanah air, ternyata ia sudah meninggal.

(1)
[Aa, cepetan pulang, Neng udah gak kuat.]

[Gak kuat apa, Sayang? Sabar ya, kalau pulang nanti, kita puas-puasin.] Aku membalas chat istriku dengan candaan.
[Neng serius, Aa. Cepetan pulang, atau Aa gak akan pernah melihat Neng lagi.]

Aku terkejut membaca chat terakhir darinya. Aku langsung menelepon, tetapi nomornya mendadak tidak aktif. Karena khawatir, aku menghubungi Ibu.
“Gimana kabarnya, Kasep?” tanya wanita yang melahirkanku itu.
“Alhamdulillah baik, Bu. Boleh aku bicara sama Kinasih?”
“Dia sedang tidur, Ibu gak berani ganggu,” jawabnya.
“Apa Kinasih sakit, Bu? Tadi dia bilang gak kuat, maksudnya apa ya?”
“Mungkin dia kangen. Dia sehat, kok. Seharian ini dia ngerujak dan ngeliwet sama teman-temannya. Pulang-pulang langsung tidur.”
Entah kenapa, dadaku bergemuruh. Jawaban Ibu tak mampu menenangkan hatiku.

Namaku Nirwan. Sudah dua tahun aku mengadu nasib di Korea Selatan. Sebenarnya aku sudah meminta izin cuti sejak Kinasih merengek minta aku pulang, namun prosesnya butuh waktu satu bulan.

Sejak pesan terakhir itu, ponsel Kinasih mati total. Nomor Ibu pun tiba-tiba tidak aktif. Aku terpaksa menelepon Dini, adikku.
“Aku lagi di kampus, A,” jawabnya singkat.
“Ya sudah, kalau sudah pulang, telepon Aa, ya.”
Malam tiba, namun tak ada kabar. Keesokan harinya, aku memutuskan untuk resign. Masa bodoh dengan denda, perasaanku mengatakan ada yang tidak beres.

Sebulan berlalu, aku tiba di bandara. Aku sengaja tidak memberi kabar. Selama sebulan ini, Ibu dan Dini selalu memberi alasan yang sama: Kinasih sedang pergi dengan teman-temannya.

Setibanya di kampung, langkahku terhenti di depan rumah bercat hijau itu. Jantungku serasa copot melihat bendera kuning berkibar. Rumahku dipenuhi tetangga.

“Astaghfirullah, apa yang terjadi?” batinku. Kemarin Ibu bilang dia sakit kepala dan minta dikirimi uang, tapi saat aku bertanya soal Kinasih, Ibu malah marah dan mematikan telepon.

Aku menerobos kerumunan. Di tengah ruangan, sesosok tubuh terbujur kaku ditutupi kain jarik.

“Nirwan, k-kamu pulang?” Ibu tercengang. Dini pun tercekat, wajahnya pucat seolah melihat hantu.

Tanpa memedulikan mereka, aku menghampiri tubuh itu. Kusibak kain penutupnya. Seketika, seluruh sendiku terasa lemas.

“Neng Kinasih, bangun, Neng… ini Aa pulang.” Tangisku pecah. “Neng harus bangun, masa suami pulang Neng malah tidur!”
“Kasep, anak Ibu… Sabar, ya. Kinasih sudah lebih dulu meninggalkan kita,” ujar Ibu sambil mengelus kepalaku. Ada gurat penyesalan di wajahnya.

“Kenapa, Bu? Kenapa Ibu gak bilang soal kondisi Kinasih?” aku menatapnya kecewa.

“Maafkan Ibu, Nirwan. Maafkan Ibu…” Hanya itu yang keluar di sela isak tangisnya.

Aku teringat permintaannya dua bulan lalu. Dia ingin aku menggendongnya karena merasa tubuhnya makin kurus. Saat itu aku hanya fokus bekerja, mengejar uang demi kebahagiaannya. Aku tak sadar itu adalah sebuah pertanda.

“Sekarang jawab jujur, kenapa Kinasih meninggal?” tanyaku pada Ibu dan Dini setelah pemakaman.

“Dia sakit setelah hujan-hujanan bersama pacarnya di tepi danau,” jawab Ibu dingin setelah para pelayat pulang.

“Ibu jangan mengada-ada! Kinasih bukan orang seperti itu!”
“Aa harus percaya Ibu. Teh Kinasih itu selingkuh sama cowok yang dikenal dari Facebook,” sahut Dini membela Ibu.

“Asal kamu tahu, selama kamu di Korea, kerjanya cuma TikTokan dan keluyuran.”
“DIAAAAAM!” teriakku.

Aku tidak percaya. Istriku itu pendiam dan pemalu. Dia bahkan tidak punya akun media sosial. Aku langsung masuk kamar dan membanting pintu. Ada yang mereka sembunyikan.

Keesokan harinya, aku menyelidiki sendiri. Anehnya, para tetangga memberikan jawaban yang sama persis dengan Ibu: Kinasih suka keluyuran malam. Hingga akhirnya, aku mendatangi teman-teman sekolahnya di kampung sebelah.

“Sejak menikah denganmu, kami tidak pernah bisa bertemu. Kinasih bilang, ibumu tidak pernah mengizinkannya keluar rumah, kecuali ke warung,” ujar Susi, sahabatnya.

Jawaban dari teman-temannya yang lain pun sama. Kinasih dikurung. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah bercat hijau itu selama aku pergi?

Mendengar penuturan Susi, darahku mendadak berdesir hebat. Amarah yang tadinya tertuju pada ketidakpastian kini beralih menjadi kecurigaan yang amat besar pada keluargaku sendiri.

Kenapa Ibu dan Dini berbohong? Kenapa mereka membangun narasi seolah Kinasih adalah istri yang buruk, sementara teman-temannya bersaksi dia dikurung?

“Susi,” suaraku bergetar, menahan gejolak di dada. “Apa Kinasih pernah cerita hal lain? Tentang kesehatannya, atau bagaimana perlakuan Ibu dan Dini padanya?”

Susi tampak ragu. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang lain sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Tiga bulan lalu, Kinasih sempat mengirim pesan lewat ponsel pemilik warung dekat rumahmu. Dia bilang dia sering pusing dan mual muntah. Dia minta tolong dibelikan testpack. Tapi setelah itu, kami kehilangan kontak karena dia tidak pernah ke warung lagi.”

“Hamil?” Jantungku berdegup kencang. Dua bulan lalu… itu waktu yang sama ketika Kinasih merengek minta aku pulang dan bilang tubuhnya makin kurus.

Tanpa mengucap kata lagi, aku langsung bangkit dan berlari pulang. Otakku berputar cepat. Selama di Korea, aku selalu mengirimkan 80% gajiku ke rekening Ibu, karena Kinasih bilang dia tidak mengerti cara mengurus m-banking dan mempercayakan uang belanja pada Ibu.

Setibanya di rumah bercat hijau itu, suasana sepi. Ibu sedang mengaji di ruang tengah, sementara Dini asyik bermain ponsel di ruang tamu.

Aku tidak menegur mereka. Aku langsung melangkah menuju kamar kamarku dan Kinasih. Kamar itu terkunci. Aku mendobraknya dengan sekali hentakan bahu hingga engselnya luntur.

BRRAAAK!

“Nirwan! Kamu apa-apaan?!” teriak Ibu, berlari menghampiri bersama Dini.

Aku tidak memedulikan mereka. Aku menggeledah lemari pakaian Kinasih. Pakaiannya berantakan, jauh dari kesan rapi seperti sifat aslinya. Di tumpukan baju paling bawah, aku menemukan sebuah buku catatan kecil bersampul usang. Itu buku harian Kinasih.

Ibu mencoba merebut buku itu dari tanganku. “Nirwan, kembalikan! Itu barang orang mati, pamali!”

“DIAM, BU!” bentakku dengan mata memerah. Kupandangi Ibu dan Dini bergantian dengan tatapan membunuh. Mereka seketika mundur, ketakutan melihat urat-urat di leherku yang menegang.

Aku membuka halaman demi halaman buku itu. Lembarannya banyak yang bernoda bercak air mata yang sudah mengering.

15 Februari Aa, Neng kangen. Ibu marah lagi hari ini karena Neng muntah-muntah. Ibu bilang Neng cuma akting supaya gak usah masak dan nyuci. Padahal perut Neng sakit sekali, Aa…

10 Maret Hari ini Neng tahu kalau Neng hamil anak kita, Aa. Neng seneng banget. Tapi waktu Neng kasih tahu Ibu, Ibu malah marah. Ibu bilang anak ini cuma bakal ngabisin uang kiriman Aa dari Korea. Ibu bilang uang dari Aa harusnya fokus untuk biaya kuliah Dini dan renovasi rumah Ibu dulu.

Air mataku menetes membaca baris demi baris tulisan tangan istriku yang rapi. Napasku mulai sesak.

4 April Uang yang Aa kirim bulan ini diambil semua sama Ibu. Neng minta Rp50.000 untuk periksa ke bidan karena ngeflek, tapi Dini malah bilang Neng manja. Neng dikurung di kamar, Aa. HP Neng disita Ibu supaya gak ngadu ke Aa. Neng cuma bisa nulis ini sembunyi-sembunyi…

28 April Neng udah gak kuat, Aa. Badan Neng lemes banget, tiap malam pendarahan. Ibu sama Dini cuma kasih Neng mi instan mentah. Mereka bilang Neng bawa sial. Aa, cepetan pulang… Neng takut…

Halaman terakhir ditulis dengan tulisan yang sangat cakar ayam, bergetar, dan nyaris tak terbaca. Itu adalah hari di mana dia berhasil mencuri HP-nya sebentar dan mengirim chat terakhir kepadaku.

Aa, kalau Aa pulang dan Neng udah gak ada, maafin Neng gak bisa jaga anak kita. Neng pendarahan hebat, tapi Ibu gak mau bawa Neng ke rumah sakit. Ibu bilang sayang uangnya. Neng sayang Aa…

“ALLAHU AKBAR!!!” teriakku histeris. Dadaku rasanya seperti dihantam godam raksasa. Pandanganku kabur oleh air mata amarah. Kinasihku… anakku… mereka tewas karena keserakahan keluargaku sendiri!

Aku berbalik, menatap Ibu dan Dini yang kini sudah pucat pasi, gemetar di ambang pintu kamar.

“Jadi ini?!” raungku sambil melempar buku harian itu ke wajah Dini. “Ini alasan Ibu bilang dia sehat? Ini alasan Dini bilang dia selingkuh?! Kalian kurung dia! Kalian biarkan dia dan darah dagingku mati kelaparan dan pendarahan demi uang kirimanku?!”

“N-Nirwan, itu gak benar… Kinasih cuma fitnah Ibu…” suara Ibu bergetar, mencoba mencari pembelaan.

“Fitnah?!” aku tertawa getir, tawa yang penuh dengan keputusasaan. “Kemarin Ibu telepon minta uang katanya buat obat sakit kepala. Ternyata uang itu buat nutupin biaya pemakaman Kinasih yang kalian telantarkan, kan?! Supaya aku gak curiga?!”

Dini bersimpuh di kakiku sambil menangis. “Maaf, A… Dini gak bermaksud… Ibu yang suruh Dini bohong…”

“Minggir!” aku menepis kaki Dini dengan kasar hingga ia tersungkur.

Aku mengambil ponselku, lalu berjalan keluar rumah dengan langkah mantap, mengabaikan teriakan dan tangisan histeris Ibu yang memohon agar aku tidak pergi. Aku tidak akan membiarkan kematian istri dan anakku menjadi rahasia yang terkubur bersama tanah makamnya.

Tujuanku hanya satu: Kantor Polisi Sektor Kampung Sebelah. Aku akan memastikan, rumah bercat hijau yang dibangun dari keringatku di negeri orang dan darah istriku sendiri, akan berubah menjadi neraka penyesalan bagi mereka berdua untuk seumur hidup.