Posted in

Saat Pulang dari Jakarta, Hal Pertama yang Kucari adalah Enam Kotak Mangga dari Pulau Guimaras. Tapi Ibu Mertuaku Hanya Tersenyum dan Berkata Semuanya Sudah Dibagikan. Ketika Kubuka Facebook Kakak Iparku, Satu Caption Membuat Tengkukku Dingin, dan Malam Itu Menjadi Awal Terbukanya Wajah Asli Seluruh Keluarga Suamiku.**

Saat Pulang dari Jakarta, Hal Pertama yang Kucari adalah Enam Kotak Mangga dari Pulau Guimaras. Tapi Ibu Mertuaku Hanya Tersenyum dan Berkata Semuanya Sudah Dibagikan. Ketika Kubuka Facebook Kakak Iparku, Satu Caption Membuat Tengkukku Dingin, dan Malam Itu Menjadi Awal Terbukanya Wajah Asli Seluruh Keluarga Suamiku.**

## Bagian 1 — Enam Kotak Mangga, Satu Kebohongan yang Disampaikan dengan Santai, dan Sebuah Unggahan Facebook yang Memutus Benang Kesabaranku Setelah Hari yang Sangat Melelahkan

Saat aku membuka gerbang townhouse kami di kawasan **Marikina Heights**, ujung celanaku masih basah terkena gerimis.

Aku baru pulang dari Jakarta.

Naik dua angkot, satu KRL, satu taksi online yang sempat membatalkan pesanan, lalu seharian penuh dikejar tenggat waktu, telepon dari klien, dan senyum palsu di kantor.

Meski begitu, masih ada sedikit kehangatan di dadaku.

Kemarin, Ibu Elena menelepon dari **Pulau Guimaras**.

*”Maya, Ibu kirim sesuatu buat kamu,”* katanya dengan suara yang terdengar sangat bahagia. *”Enam kotak mangga pilihan dari kebun kita. Ibu tahu kamu selalu bekerja keras di sana. Walaupun cuma buah, semoga kamu tetap bisa merasakan kalau masih ada yang menyayangimu.”*

Bagiku, itu bukan sekadar mangga.

Itu adalah aroma kampung halaman.

Aroma dapur rumah masa kecilku, ketika Ibu mengiris mangga tipis-tipis lalu selalu memberikan bagian pipinya kepadaku karena katanya bagian itulah yang paling manis.

Itu aroma tangan Ibu.

Aroma rumah.

Karena itulah, walaupun seluruh tubuhku terasa pegal, aku membayangkan begitu masuk rumah akan melihat enam kotak mangga itu di dekat dapur.

Aku ingin membuka satu kotak.

Mencuci satu buah.

Duduk di lantai sambil memakannya.

Lalu menelepon Ibu dan berkata,

*”Bu… manis sekali mangganya.”*

Namun ketika pintu terbuka…

Yang menyambutku justru suara sinetron dari televisi.

Ibu mertuaku, **Bu Cora**, sedang bersandar santai di sofa.

Kakinya disangga bangku kecil.

Di tangannya ada semangkuk kerupuk kulit.

Kipas angin mengarah tepat ke wajahnya, seolah dialah ratu rumah ini.

“Bu,” sapaku sambil berusaha tetap tenang.

“Kiriman dari Ibu saya sudah sampai ya?”

Ia bahkan tidak menoleh.

“Kiriman apa?”

“Mangga, Bu. Enam kotak.”

Ia mengambil sepotong kerupuk, mengunyah perlahan, lalu menjawab seolah aku hanya menanyakan letak kain lap.

“Oh, yang itu. Sudah saya bagikan.”

Duniaku seperti berhenti sesaat.

“Sudah… dibagikan?”

“Ya iyalah. Banyak sekali. Nanti keburu busuk. Lagian kulkas kita juga kecil.”

Aku menoleh ke arah dapur.

Kulkas dua pintu itu…

Aku sendiri yang membelinya memakai bonus kinerjaku tahun lalu.

Aku juga yang mencicilnya sampai lunas.

Dan pagi tadi, sebelum berangkat kerja, isinya hanya air minum, telur, dan dua kotak makanan.

“Kulkasnya kecil?” ulangku pelan.

Aku sendiri tidak tahu apakah aku sedang ingin tertawa atau menangis.

Barulah ia menoleh kepadaku.

Tatapan yang sudah sangat kukenal.

Tatapan seseorang yang selalu merasa orang lainlah yang harus mengalah.

“Maya, itu cuma buah. Jangan dibesar-besarkan. Dalam keluarga harus saling berbagi. Memangnya ibumu tidak mengajarkan hidup rukun?”

**Hidup rukun.**

Sudah tiga tahun aku mendengar kalimat itu sampai rasanya kehilangan arti.

“Hidup rukun” ketika **Jessa**, kakak iparku, mengambil sandal baru yang kubeli untuk pesta Natal karena katanya lebih cocok dipakai olehnya.

“Hidup rukun” ketika Bu Cora meminjam anting mutiaraku untuk dipakai sepupunya ke pesta pernikahan, lalu mengembalikannya dengan satu pengunci hilang.

“Hidup rukun” ketika Ibu mengirim dodol buatan sendiri, tetapi sebelum sempat kucicipi, Bu Cora sudah membawanya ke acara pengajian karena katanya malu kalau datang tanpa membawa apa-apa.

“Hidup rukun” ketika aku membayar listrik, belanja bulanan, obat-obatan Bu Cora, bahkan biaya kursus liburan anak Jessa.

Namun setiap kali aku pulang kerja dalam keadaan lelah dan hanya ingin beristirahat, mereka justru berkata aku tidak pandai bergaul dengan keluarga.

Aku meletakkan tas dari bahuku.

“Bu… itu enam kotak. Masa tidak ada satu pun yang Ibu sisakan untuk saya?”

Keningnya langsung berkerut.

“Nada bicaramu kenapa begitu? Memangnya kamu kehilangan warisan? Itu cuma mangga, Maya. Bukan emas.”

Lalu ia tersenyum tipis.

“Lagipula, kalau ibumu memang sayang sama kamu, nanti pasti kirim lagi.”

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Fakta bahwa ia mengambil semua kiriman itu…

Atau cara ia menyebut ibuku.

Seolah ibuku hanyalah pemasok buah.

Padahal beliau adalah perempuan yang setiap hari bekerja di kebun meski punggungnya sering sakit, hanya supaya masih bisa mengirim sedikit hasil panen kepada anak perempuannya yang setiap hari dianggap terlalu manja di rumah keluarga suaminya.

Aku tidak membalas.

Aku mengambil ponsel.

Entah kenapa aku langsung membuka Facebook.

Mungkin karena sejak awal aku sudah merasa keenam kotak mangga itu tidak benar-benar dibagikan kepada tetangga.

Dan firasatku ternyata benar.

Postingan pertama yang muncul adalah milik Jessa.

Sembilan foto.

Di bagasi SUV putih miliknya tersusun rapi enam kotak mangga dari **Pulau Guimaras**.

Bahkan ada foto close-up yang memperlihatkan label berisi nama ibuku dan alamat rumah kami.

Di foto terakhir, Jessa berpose sambil mengacungkan tanda damai.

Tersenyum lebar.

Memegang dua buah mangga seperti piala kemenangan.

Aku mematung di dekat meja dapur. Jariku gemetar saat membaca caption yang ditulis Jessa di bawah deretan foto tersebut:

“Rezeki anak saleh! Dapat kiriman buah kualitas ekspor gratis dari kampung. Lumayan buat modal hampers ke geng arisan sosialita dan oleh-oleh buat mertuaku besok. Yang punya rumah mah gampang, pesen lagi aja, kan orang udik sana banyak stoknya! 😜🥭 #Blessed #FamilyFirst #ManggaPremium”

Tengkukku seketika terasa dingin. Darahku seolah berhenti mengalir, digantikan oleh rasa panas yang membakar dari dada hingga ke kepala.

Orang udik. Dia menyebut ibuku—perempuan sepuh yang tangannya pecah-pecah demi mengepak buah-buah itu—sebagai orang udik yang bisa diperas kapan saja.

“Maya, ambilkan Ibu minum. Haus ini,” suara Bu Cora membuyarkan lamunan pahitku.

Aku tidak bergerak. Aku menatap punggung mertuaku yang masih asyik menonton televisi. Benang kesabaranku yang sudah kuikat erat selama tiga tahun terakhir, malam ini, putus tanpa suara.

“Maya! Kamu dengar tidak? Malah melamun!” bentak Bu Cora, mulai kesal karena perintahnya diabaikan.

Aku melangkah mendekatinya. Bukan ke dapur, tapi langsung berdiri di depan televisi, menghalangi pandangannya.

“Eh, kamu apa-apaan sih? Pinggir! Lagi seru ini!” Bu Cora bersungut-sungut.

“Bu,” suaraku terdengar sangat tenang, bahkan membuat diriku sendiri ngeri. “Jessa membawa semua mangga itu untuk mertuanya dan teman-teman arisannya. Ibu tahu?”

Bu Cora sempat terkejut, namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi ketus. “Ya terus kenapa? Mertua Jessa itu orang terpandang di Quezon City. Jessa butuh muka di depan mereka. Kamu kan cuma menantu di sini, harusnya maklum kalau kakak iparmu butuh bantuan untuk menaikkan derajat keluarga kita!”

“Derajat?” aku terkekeh. Sebuah tawa hambar yang membuat Bu Cora mengernyitkan dahi. “Memakai keringat ibu saya untuk menyuap mertua Jessa demi gengsi? Itu yang Ibu sebut derajat?”

“Jaga mulutmu, Maya! Berani kamu meninggikan suara pada orang tua?!” Bu Cora berdiri, wajahnya memerah.

Tepat saat itu, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Pintu depan terbuka, dan suamiku, Mark, melangkah masuk dengan kemeja kantor yang kusut.

“Ada apa ini? Baru pulang kok sudah ribut-ribut?” tanya Mark sambil menghela napas, tampak lelah.

“Ini istrimu, Mark!” Bu Cora langsung mengadu, suaranya sengaja dibuat gemetar seolah-olah dia adalah korban. “Cuma gara-gara mangga kiriman ibunya yang Ibu bagikan ke Jessa, dia membentak Ibu! Dia tidak ikhlas berbagi! Benar-benar menantu durhaka, tidak tahu cara hidup rukun!”

Mark menatapku, matanya memancarkan kejengkelan yang biasa kulihat setiap kali ada konflik antara aku dan keluarganya. “Maya, astaga… cuma karena mangga? Kamu kan bisa beli lagi di supermarket depan. Jangan bikin Ibu stres, tekanan darahnya bisa naik.”

Aku menatap pria yang kunikahi tiga tahun lalu ini. Pria yang berjanji akan melindungiku, namun selalu menjadi hakim yang berat sebelah.

“Cuma mangga, Mark?” aku menyodorkan layar ponselku tepat di depan wajahnya. “Baca. Baca apa yang ditulis kakakmu tentang ibuku. Baca bagaimana ibu dan kakakmu merampok kiriman yang dialamatkan khusus untukku, lalu menjadikannya bahan pameran seolah mereka pemiliknya.”

Mark membaca teks di layar itu. Sedikit kilatan rasa bersalah sempat melintas di matanya, namun ia langsung mengalihkan pandangan. “Ya… Jessa memang agak keterlaluan bahasanya. Tapi maksudnya kan baik, untuk hubungan keluarga. Lagian, kamu kan bisa minta ibumu kirim lagi, Maya. Kenapa harus diperpanjang?”

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Mark, sesuatu di dalam diriku mendadak mati. Rasa cinta, rasa hormat, semuanya menguap.

“Malam ini juga,” kataku lirih namun penuh penekanan, “saya mau semua mangga itu kembali ke rumah ini. Utuh enam kotak. Tanpa kurang satu buah pun.”

Bu Cora tertawa mengejek. “Kamu gila? Mangga itu sudah di bagasi mobil Jessa, siap dibawa besok pagi! Mana mungkin diminta lagi? Memangnya kamu siapa mengatur-atur anak saya?!”

“Kalau begitu,” aku berjalan ke arah kamar, mengambil koper besar yang bahkan belum sempat kubongkar sejak pulang dari Jakarta. Aku memasukkan sisa baju-baju kerjaku yang ada di lemari dengan gerakan cepat.

“Maya! Kamu mau ke mana? Jangan kekanak-kanakan!” Mark menyusulku ke kamar, mencoba menahan tanganku.

Aku menghempaskan tangannya dengan kasar. “Jangan sentuh saya.”

Aku berjalan keluar kamar sambil menarik koperku. Di ruang tamu, Bu Cora menonton dengan tangan bersedekap, mengira aku hanya gertak sambal.

“Biarkan saja, Mark! Biar dia tahu rasa kalau keluar dari rumah ini, tidak akan ada yang mau menerima perempuan pembangkang seperti dia!” seru Bu Cora memprovokasi.

Aku berhenti tepat di depan pintu, berbalik, dan menatap mereka berdua untuk terakhir kalinya.

“Kalian pikir, selama ini saya bertahan di rumah ini karena saya butuh kalian?” tanyaku dengan senyum dingin.

“Rumah townhouse tempat kalian tidur ini… atas nama saya. Mobil SUV putih yang dipakai Jessa untuk mengangkut mangga malam ini… cicilannya didebit otomatis dari rekening saya. Kartu kredit yang Ibu pakai untuk belanja bulanan… itu kartu tambahan dari akun saya.”

Wajah Bu Cora mendadak pucat. Mark tertegun, mulutnya setengah terbuka.

“Besok pagi, saya akan memblokir semua kartu kredit. Bulan depan, masa kontrak townhouse ini habis dan saya tidak akan memperpanjangnya. Silakan cari tempat tinggal baru. Dan Mark…” aku menatap suamiku yang mulai gemetar. “…kita selesaikan semuanya lewat pengacara.”

“Maya, tunggu! Kamu tidak bisa melakukan ini secara sepihak! Kita bisa bicarakan baik-baik!” Mark panik, mencoba menahan pintu pagar saat aku melangkah keluar ke bawah rintik gerimis Marikina Heights.

“Tanyakan pada ibumu dan Jessa,” kataku tanpa menoleh lagi. “Apakah rasa ‘hidup rukun’ yang mereka agungkan itu cukup untuk membayar sewa rumah dan cicilan mobil bulan depan.”

Aku menutup gerbang besi itu dengan dentuman keras, meninggalkan kegelapan dan kepalsuan keluarga itu di belakangku. Sambil berjalan memanggil taksi, aku mendekatkan ponsel ke telinga, menelepon satu-satunya orang yang tulus menyayangiku.

Saat nada sambung terputus, suara lembut di seberang sana menyapaku.

“Halo, Maya? Mangganya sudah sampai, Nak?”

Air mataku menetes, berbaur dengan rintik hujan, namun dadaku terasa begitu lapang. “Sudah, Bu. Mangganya… manis sekali. Dan malam ini, Maya pulang ke rumah Ibu.”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.