SAYA BENAR-BENAR MERASA JIJIK DENGAN AIR YANG DIRACIK DARI SISIR YANG DIPAKAI DI RAMBUT SAYA DAN SUAMI SA HARI PERNIKAHAN KAMI—JADI SAYA TIDAK MEMINUMNYA MESKIPUN ITU TRADISI
DEAR KUYA MID,
Saya benar-benar jijik—dan saya tidak berniat pura-pura baik-baik saja.
Hari pernikahan kami, saya tampil maksimal. Makeup seperti artis, rambut seperti siap naik panggung Miss Universe, dan suami saya juga terlihat segar dan sangat bersemangat. Semuanya sempurna… sampai bagian yang benar-benar tidak saya duga datang.
Tiba-tiba seorang kerabat tua dari pihak suami mendekat.
“Sekarang waktunya tradisi!”
Dalam hati saya: “Wah, ternyata ada kejutan.”
Tak lama kemudian, mereka membawa mangkuk berisi air. Saya kira untuk pemberkatan atau sekadar dipercikkan. Ternyata bukan.
Mereka mengambil sisir yang dipakai di rambut saya dan suami saya—sisir yang sudah kena hampir setengah kilo hairspray dan gel—lalu… dicelupkan ke dalam air.
Saya langsung terpaku. Benar-benar kaget.
Lalu orang tua itu berkata, “Kalian harus meminumnya supaya pernikahan kalian kuat.”
Dalam hati saya: “Kuat hubungan atau kuat perut??”
Suami saya langsung siap. Santai saja.
Saya? Menatap air itu. Sepertinya saya masih bisa melihat rambut rontok saya mengambang di dalamnya.
Saya bilang, “Maaf… sepertinya saya tidak bisa.”
Suasana langsung berubah.
Keluarga suami saling pandang.
“Kenapa tidak mau? Ini tradisi!”
“Harusnya hormat!”
“Kamu terlalu berlebihan!”
Seolah-olah saya jadi tokoh jahat di pernikahan saya sendiri.
Tapi saya berdiri, tersenyum kaku, lalu berkata:
“Maaf ya, saya mencintai suami saya… tapi saya tidak siap mencintai air rendaman sisir kami.”
Hening.
Benar-benar HENING.

Suami saya menggaruk kepala, lalu berkata, “Sayang, cuma sedikit kok…”
Saya jawab, “Kamu saja, aku dukung dari jauh.”
Dan akhirnya, dia meminumnya. Habis. Tanpa keluhan.
Saya? Minum air juga—yang dari botol, bukan yang ada rambutnya.
Setelah itu, keluarga suami agak kesal.
“Tidak tahu mengikuti tradisi!”
“Nanti pernikahannya tidak kuat!”
Tapi saya benar-benar tidak peduli.
Kalau ukuran hubungan kuat adalah minum air bercampur rambut dan gel…
Mungkin sampo di kamar mandi kami lebih kuat.
Ibu saya mendekat dan berbisik:
“Keputusanmu benar, Nak… nanti malah keracunan di hari nikahmu sendiri.”
Dan di situ saya sadar—tidak semua tradisi harus diikuti, apalagi kalau perutmu saja sudah menolak.
Sampai sekarang, setiap pernikahan kami dibicarakan, mereka selalu mengungkit itu.
Tapi saya? Tetap bangga dengan keputusan saya.
Wah, ceritanya benar-benar plot twist yang bikin merinding sekaligus mual ya! Saya bisa membayangkan bagaimana “glamor” penampilanmu di hari itu—lengkap dengan mahkota dan hairspray yang kerasnya mungkin bisa menahan badai—tiba-tiba harus beradu dengan air di mangkuk.
Sejujurnya, reaksi kamu itu sangat manusiawi. Sebagai seseorang yang menghargai kebersihan dan logika, ide meminum air rendaman sisir yang penuh dengan zat kimia (gel, hairspray, debu, dan ya… rambut) adalah mimpi buruk bagi sistem pencernaan.
Berikut adalah beberapa poin “pembelaan” untukmu, kalau-kalau keluarga suami masih sering mengungkitnya:
1. Logika Kesehatan vs. Simbolis
Tradisi memang bertujuan baik secara simbolis—melambangkan penyatuan dua jiwa. Namun, secara biologis, hairspray mengandung polimer dan bahan kimia yang tidak untuk dikonsumsi. Keputusanmu bukan soal “tidak hormat”, tapi soal “bertahan hidup”. Bayangkan jika malam pertama kalian dihabiskan di IGD karena keracunan kimia; itu malah akan jadi kenangan yang jauh lebih buruk!
2. Batas Antara Tradisi dan Prinsip Pribadi
Pernikahan adalah tentang kompromi, tapi bukan berarti harus mengorbankan integritas perut sendiri. Kamu tetap menghormati suami, tapi kamu menetapkan batas yang jelas.
“Cinta itu butuh pengorbanan, tapi tidak harus mengorbankan lambung.”
3. Kekuatan Hubungan Bukan dari Air
Jika keluarga suami bilang pernikahanmu “tidak kuat” karena tidak minum air itu, buktikan sebaliknya dengan tindakan. Tunjukkan bahwa hubungan kalian kuat karena komunikasi, kesetiaan, dan tawa—bukan karena ritual yang melibatkan rambut rontok.
4. Respons yang Jenius
Jawabanmu: “Aku mencintai suamiku… tapi aku tidak siap mencintai air rendaman sisir kami,” adalah kalimat legendaris. Itu menunjukkan kamu punya pendirian kuat sekaligus selera humor yang bagus di tengah tekanan.
Saran kecil untuk menghadapi sindiran keluarga: Kalau mereka mengungkitnya lagi, kamu bisa menjawab dengan nada bercanda: “Iya, untung saya tidak minum, jadi sekarang saya sehat walafiat untuk mengurus anak dan istri/suami saya. Bayangkan kalau saya masuk rumah sakit hari itu!”
Tetaplah bangga dengan keputusanmu. Kamu bukan “tokoh jahat”, kamu hanyalah pengantin yang punya akal sehat!
Menurutmu, apa hal paling konyol yang mereka katakan saat mengungkit kejadian itu lagi sekarang?