Posted in

Saya pulang dari Dubai setelah empat tahun menghilang, bersama seorang perempuan bergaun putih, dan dia memperkenalkannya sebagai

Saya pulang dari Dubai setelah empat tahun menghilang, bersama seorang perempuan bergaun putih, dan dia memperkenalkannya sebagai “wanita yang menyelamatkan hidupnya.” Tiba-tiba Nenek berbicara, yang sudah lama hampir tidak bisa bicara: “Ternyata surat nikah itu hanya selembar kertas.” Di situlah saya mulai mengerti kenapa Mama menyembunyikan dua tiket ke Cebu di bawah tumpukan beras.

**Bagian 1**

Sejak Mama melihat surat nikah Papa di dalam amplop cokelat dari PSA, senyumnya benar-benar hilang.

Surat itu tersembunyi di dalam balikbayan box yang dikirim Papa dari Dubai. Di atasnya hanya barang-barang biasa: beberapa kotak cokelat leleh, kaos lama, dua botol minyak gosok, dan tas kulit palsu yang sudah mulai mengelupas.

Mama mengira itu hanya kiriman pakaian.

Tapi saat ia mengangkat bagian paling bawah, ia melihat amplop cokelat dengan cap merah.

Nama pengantin pria: Rafael Dizon.

Nama pengantin wanita: Camille Santos.

Bukan Ana Villamor.

Bukan nama Mama.

Sejak itu, Mama tidak lagi duduk di samping ponsel setiap malam menunggu video call Papa.

Ia juga tidak lagi membersihkan foto pernikahan lama mereka di dinding kecil rumah di Tondo. Foto itu dulu paling ia jaga. Sekarang dibiarkan berdebu di atas lemari.

Tapi hidup tetap berjalan.

Mama tetap merawat Nenek.

Mengganti popok. Menghancurkan obat. Membuat bubur encer. Mengecek gula darah. Berlari ke puskesmas saat demam.

Malam hari, ia menjahit seragam sekolah tetangga sampai jam tiga pagi.

Untuk uang sekolahku.

Untuk obat Nenek.

Untuk listrik.

Untuk utang warung kecil.

Semua itu bukan dari Papa.

Tapi dari kelelahan Mama.

Empat bulan setelah menemukan surat itu, Papa pulang.

Hujan deras waktu itu. Gang sempit kami di Quezon City kebanjiran sampai mata kaki. Saat Mama menjemur pakaian yang tidak kering, kami mendengar suara koper diseret dari luar.

Begitu pintu dibuka, Papa berdiri di sana.

Kulitnya lebih gelap, rambut lebih pendek, pakaian rapi, dan wangi parfum mahal.

Di sampingnya seorang perempuan.

Tinggi. Putih. Rambut ikal rapi. Kacamata hitam meski hujan.

Papa tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.

“Ana, aku sudah pulang.”

Mama sedang di lantai, mengelap bubur yang tumpah dari Nenek.

Tangannya berhenti satu detik.

Lalu lanjut lagi.

Papa sedikit terdiam.

Mungkin ia mengira Mama akan menangis, memeluknya, atau bertanya apakah dia baik-baik saja.

Tapi Mama tidak bertanya apa pun.

Papa berdeham lalu menarik perempuan itu.

“Ini Camille. Rekan kerjaku di Dubai. Dia banyak membantu saat aku kecelakaan di proyek. Dia yang menyelamatkan hidupku.”

Pelan sekali cara dia bicara, seperti sudah dilatih.

“Aku sekarang ditugaskan di Manila sebagai regional manager. Camille juga akan tinggal di sini. Dia belum punya siapa-siapa. Siapkan makan malam yang baik untuk tamu kita.”

Saya menatap perempuan itu.

Camille Santos.

Nama yang sama seperti di surat nikah yang disembunyikan Mama.

Nenek, yang biasanya hampir tidak bisa bicara, tiba-tiba berbicara jelas.

“Rafael sudah lelah bekerja di luar negeri. Kalau ada yang merawatnya di sana, kita harus berterima kasih. Jangan sempit hati, Ana.”

Mama menatap Nenek.

Nenek melanjutkan.

“Di sini dokumen sering hanya formalitas. Di hati kami, kamu tetap menantu keluarga ini.”

Tangan Mama dingin.

Artinya, Nenek tahu.

Semua tahu.

Tapi Mama tidak berteriak.

Tidak marah.

Tidak bertanya “kenapa”.

Ia hanya berdiri, mencuci tangan, lalu memanggilku ke dapur.

Dapur kami gelap dan sempit. Mama menarik karung beras ke samping. Di bawahnya ada plastik.

Dua amplop putih.

Dua tiket pesawat.

Manila ke Cebu.

Mama menatapku. Matanya merah, tapi suaranya tenang.

“Sofia, Mama dapat pekerjaan di toko jahit kecil di Cebu. Paman Ben mengizinkan kita tinggal sementara di belakang toko fotokopi.”

Ia menarik napas dalam.

“Kalau kamu mau tetap di sini bersama Papa, Mama tidak akan melarang.”

Aku menoleh ke ruang tamu.

Papa sedang tersenyum berbicara dengan Camille.

Nenek mempersilakan Camille duduk di kursi yang bersih.

Sementara tempat Mama duduk mengelap bubur tadi masih basah di lantai.

Aku menggenggam tangan Mama.

“Aku ikut Mama.”

Mama memejamkan mata.

Satu air mata jatuh di tanganku.

Tepat saat itu pintu dapur terbuka.

Papa berdiri di ambang pintu.

Tatapannya jatuh pada dua tiket pesawat yang tidak sempat disembunyikan.

Senyumnya hilang.

“Ana.”

Suaranya berat.

“Kamu mau bawa anakku ke mana?”

Bagian 2 (Selesai)

Papa melangkah maju, merebut dua tiket itu dari tangan Mama dengan satu sentakan kasar. Matanya memicing, membaca nama yang tertera di sana.

“Cebu? Untuk apa kamu ke Cebu?” suara Papa naik satu oktav, membuat Camille dan Nenek menoleh dari ruang tamu. “Kamu mau melarikan diri dan membawa Sofia menjauh dari saya?”

Mama tidak mundur selangkah pun. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, saya melihat Mama menatap Papa lurus-lurus, tanpa ada ketakutan, tanpa ada sisa pengabdian.

“Bukan melarikan diri, Rafael. Tapi pulang,” kata Mama, suaranya luar biasa tenang namun tajam. “Tempat ini bukan lagi rumah saya sejak wanita itu memakai nama belakangmu.”

Papa tertegun. Wajahnya yang tadi memerah karena marah mendadak berubah pias. Dia melirik ke arah amplop PSA cokelat yang mencuat sedikit dari bawah tumpukan kain jahit di sudut dapur. Papa tahu rahasianya sudah terbongkar.

“Ana, dengarkan saya dulu,” Papa menurunkan nada suaranya, mencoba meraih pundak Mama, tetapi Mama menepisnya dengan kasar. “Di Dubai hidup itu keras. Status hukum di sana rumit. Saya terpaksa melakukannya agar bisa naik jabatan, agar visa Camille bisa diurus, agar—”

“Agar kamu bisa punya dua istri?” potong Mama dengan tawa getir. “Satu istri untuk bekerja keras menjahit dan merawat ibumu yang sakit di Manila, dan satu istri bergaun putih untuk mendampingimu menjadi regional manager? Begitu?”

Camille berjalan mendekat ke ambang pintu dapur, melipat tangannya di dada dengan tatapan dingin. “Mbak Ana, tolong realistis. Rafael tidak akan bisa sesukses ini di Dubai tanpa koneksi keluarga saya. Surat nikah itu hanya selembar kertas untuk formalitas pekerjaan. Rafael tetap mengirim uang untuk kalian, kan?”

Mendengar kata-kata Camille, saya tidak bisa menahan diri lagi. Saya melangkah di depan Mama.

“Mengirim uang?” suara saya bergetar menahan amarah. “Tante Camille, empat tahun ini kami makan mie instan dibagi dua. Mama menjahit sampai matanya kabur dan jarinya berdarah demi membeli obat Nenek! Uang apa yang Papa kirim? Uang seribu dirham yang hanya datang enam bulan sekali?”

Papa membentak saya, “Sofia! Jaga mulutmu! Siapa yang mengajarimu tidak sopan pada orang tua?”

“Saya yang mengajarkannya,” Nenek tiba-tiba bersuara dari ruang tamu. Beliau menggeser kursi rodanya perlahan mendekati dapur. Matanya yang rabun menatap Papa dengan kekecewaan yang mendalam.

“Ibu…” Papa terkejut.

“Rafael, saat kamu mengirim amplop itu, kamu pikir Ibu tidak tahu?” kata Nenek, suaranya parau namun tegas. “Ibu diam karena Ibu lumpuh, Ibu tidak berdaya, dan Ibu takut Ana akan pergi meninggalkan Ibu yang menyusahkan ini. Tapi Ibu salah. Menjaga dokumen pernikahanmu yang palsu itu sama saja Ibu ikut membunuh jiwa Ana perlahan-lahan.”

Nenek menatap Mama dengan air mata yang mengalir di keriput pipinya. “Ana, menantuku… maafkan Ibu yang egois. Pergilah ke Cebu. Bawa Sofia. Kamu sudah terlalu banyak habis untuk keluarga yang tidak tahu diuntung ini.”

Papa menggelengkan kepala, panik melihat otoritasnya runtuh. “Tidak bisa! Sofia tidak boleh pergi! Saya ayahnya, saya yang berhak menentukan di mana dia sekolah!”

Mama mengambil plastik beras, mengeluarkan sisa lembaran dokumen dari sana—bukan surat nikah, melainkan buku tabungan dan catatan utang biaya rumah sakit Nenek yang semuanya ditandatangani atas nama Mama sendiri, tanpa ada nama Papa.

“Kamu mau bicara hak, Rafael?” Mama melempar buku catatan itu ke dada Papa. “Tuntut saya ke pengadilan. Kita lihat apakah hakim akan membela pria yang menelantarkan anaknya dan melakukan bigami di luar negeri, atau seorang ibu yang membiayai seluruh hidup anaknya sendirian.”

Papa terdiam seribu bahasa. Camille yang menyadari posisinya terancam secara hukum jika masalah ini sampai ke meja hijau, langsung menarik lengan Papa. “Rafael, sudahlah. Biarkan mereka pergi. Kita bisa memulai hidup baru di kondominiummu yang baru tanpa drama ini.”

Papa menatap dua tiket di tangannya, lalu menatap saya. Namun, saya langsung memalingkan wajah dan memeluk pinggang Mama dengan erat. Pria di depan saya ini bukan lagi Papa yang dulu sering membelikan saya es krim sebelum pergi ke Dubai. Dia hanyalah orang asing yang egois.

Mama merebut kembali dua tiket pesawat dari tangan Papa yang melemah.

“Ayo, Sofia. Kemasi barang-barangmu. Kita ke bandara sekarang,” kata Mama tegas.

Kami tidak membawa banyak barang. Hanya satu tas ransel berisi pakaian saya dan beberapa potong baju Mama. Sebelum melangkah keluar dari pintu rumah di Tondo, Mama berlutut di depan Nenek, mencium tangannya untuk yang terakhir kali.

“Terima kasih sudah menjaga saya selama ini, Ibu,” bisik Mama. Nenek hanya mengangguk, menangis tanpa suara.

Kami berjalan keluar ke dalam sisa hujan Quezon City. Di bawah lampu jalan yang temaram, saya menatap wajah Mama. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, beban berat di pundaknya tampak terangkat. Senyumnya belum kembali, tetapi matanya memancarkan binar kebebasan yang sudah lama hilang.

Di bawah tumpukan beras itu, Mama tidak hanya menyembunyikan dua tiket ke Cebu. Mama menyembunyikan harga diri kami, dan malam ini, kami akhirnya mengambilnya kembali.