Posted in

“Sebenarnya yang mengambil uang ratusan juta milik Mbak Nadia adalah suami Mbak sendiri. Bukti cctv sudah sangat jelas. Jadi sekarang keputusan ada di tangan Anda. Tetap lanjut jalur hukum, atau diselesaikan secara kekeluargaan,” ucap polisi.

“Sebenarnya yang mengambil uang ratusan juta milik Mbak Nadia adalah suami Mbak sendiri. Bukti cctv sudah sangat jelas. Jadi sekarang keputusan ada di tangan Anda. Tetap lanjut jalur hukum, atau diselesaikan secara kekeluargaan,” ucap polisi.

Dan ternyata, uang ratusan juta yang rencananya mau dipakai beli rumah, ternyata digunakan untuk….

***
Deru mesin motor matik itu membelah jalanan yang lengang dengan kecepatan di atas rata-rata. Nada mencengkeram stang motornya kuat-kuat, seolah ingin menyalurkan gemetar di tangannya ke sana.

Panggilan telepon dari kantor polisi tadi terus terngiang, memacu adrenalinnya untuk segera sampai di rumah dan mengambil beberapa dokumen pendukung yang tertinggal.

Sesampainya di teras, Nada tertegun. Rumah itu tampak sepi dari depan, namun aura di dalamnya terasa berat dan menyesakkan. Ia memarkirkan motor dengan hati-hati, berusaha tak menimbulkan suara yang bisa mengusik penghuni di dalam.

Saat melangkah masuk, keheningan rumah itu pecah oleh suara-suara yang sangat ia kenali dari arah dapur. Suara Mama mertuanya bersahutan dengan nada tinggi Mbak Norma, dan sesekali ditimpali suara berat Raka yang terdengar penuh tekanan.

Ada sesuatu yang tidak beres. Nada merasakannya—sebuah insting yang berteriak bahwa ada rahasia besar yang sedang dibedah di balik tembok itu.

Dengan langkah sepelan kucing, Nada mendekat. Ia bersembunyi di balik pilar ruang tengah yang gelap. Dari kejauhan, ia bisa melihat ekspresi Raka yang tampak tegang, wajahnya pias dan tangannya meremas kantong kresek berwarna hitam.

Nada segera merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, dan mengaktifkan fitur perekam video. Baginya, di rumah yang penuh serigala ini, bukti adalah satu-satunya senjata untuk bertahan hidup. Apapun yang ia dengar atau lihat, harus diabadikan.

“Tapi uang ini mau Raka pakai buat ganti uang Nada, Ma,” suara Raka terdengar serak, hampir putus asa. “Kan Mama sudah kebagian sepuluh juta, Mbak Norma juga sudah lima juta. Tolong, biarkan sisa ini Raka simpan.”

Dunia Nada seolah berhenti berputar. Napasnya tertahan di tenggorokan.

“Halah, Ka! Ngapain diganti?” Mama mertuanya mendengus sinis, melambaikan tangan dengan acuh. “Kalau sudah berumah tangga, uang istri itu juga milik suami. Kamu itu kepalanya, berhak kamu pakai uang itu.”

“Bener apa kata Mama, Ka,” Mbak Norma menimpali sambil bersedekap dada. Wajahnya tampak rakus. “Sudahlah, kasih saja uang itu ke kita. Capek Mbak dihina si Rara gara-gara nggak punya perhiasan baru. Biar dia tahu rasa kalau besok Mbak pakai gelang yang lebih besar dari punya dia!”.”

Raka menggeleng lemah, ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Kasihan Nada, Mbak. Meski tidak sepenuhnya uang itu bisa balik, setidaknya ini bisa buat ganti sedikit. Aku sudah salah, aku sudah keterlaluan.”

Raka menjeda kalimatnya, sebuah pengakuan meluncur seperti belati yang langsung menghujam jantung Nada.

“Kalau bukan karena aku kalah main game dan saldo judol itu ludes, aku nggak akan nekat ambil uang di ATM Nada pakai bantuan kalian. Tapi kemarin kan kalian sudah dikasih bagian masing-masing dari hasil kuras ATM itu? Biarlah sisa ini buat aku balikin ke dia. Aku nggak tega lihat dia hampir mati di rumah sakit kemarin, Ma.”

Nada membeku di tempatnya berdiri. Lututnya terasa lemas, seakan tulang-tulangnya berubah menjadi air.

Ponsel di tangannya masih setia merekam, menangkap setiap kata laknat yang keluar dari mulut lelaki yang dua malam lalu mengusap keningnya dengan penuh ketulusan.

Jadi, bukan hanya Mama dan Mbak Norma. Dalang utamanya adalah Raka. Suaminya sendiri. Lelaki yang ia percayai sebagai pelindung, ternyata adalah pencuri yang merampok masa depannya demi judi online sialan.

Air mata Nada luruh tanpa suara, namun ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar isaknya tak pecah. Ia harus kuat. Ia tidak boleh limbung sekarang. Di dalam layar ponselnya, wajah-wajah iblis itu terekam dengan sangat jelas.

“Ngapain dikasihani?” suara Mama kembali terdengar dingin. “Dia itu cuma menantu, bisa dicari gantinya. Tapi keluarga? Kamu mau lihat Mama susah?”

Nada memejamkan mata sesaat, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang terasa kosong melompong. Rasa sakitnya telah mencapai puncak, berubah menjadi kemarahan yang membeku. Polisi sudah menunggu, dan kini ia punya bukti yang jauh lebih dari cukup untuk menyeret mereka semua ke balik jeruji besi.

Sesaat Nada membeku. Kini ia bisa menarik benang merah. Ternyata semua adalah rencana terorganisir. Suaminya yang mengambil kartu, Mama mertuanya yang mungkin mengalihkan perhatian, dan Mbak Norma yang ikut menikmati hasilnya.

Dan rasa sakit di perutnya? Mungkin itu adalah cara mereka memastikan Nada tidak bisa pergi ke bank atau ke kantor polisi tepat waktu.

Kemarahan yang tadinya hanya berupa percikan kecil, kini meledak menjadi api yang dingin dan mematikan. Nada teringat bagaimana dia dulu begitu memuja Raka, menganggapnya pria paling jujur yang pernah ia temui. Kini, pria itu tampak seperti rongsokan di matanya.

“Sini uangnya, Ka!” Mbak Norma hendak menyerobot kantong kresek itu dari tangan Raka, namun gerakan tangan Raka yang menghindar lebih cepat.

“Janganlah, Mbak. Aku nggak mau masalah ini berlarut, polisi lebih pintar. Pasti gak lama lagi Nada di panggil, kita ketahuan dan akhirnya ….”

“Salah sendiri ngapain kamu bawa perempuan itu ke rumah sakit. Mama sama Mbak mu sudah pusing mikirin gimana caranya bikin dia sakit, kamu malah bawa ke rumah sakit. Harusnya biarin dia terkapar di sini!”

Deg!

Jantung Nada seperti berhenti berdetak mendengarnya. Ternyata benar, Mama mertua lah yang sengaja memberikannya racun dengan tujuan tertentu. Tak bisa dipungkiri, jantung Nada berdetak lebih kencang. Tangannya yang memegang ponsel pun tampak bergetar.

Sejenak Nada terdiam, ia menarik napas panjang, menstabilkan kakinya yang terasa seperti jeli. Ia mematikan rekaman, menyimpannya di folder yang paling aman, lalu berjalan perlahan keluar dari bayang-bayang pilar.

Suara langkah kakinya yang tegas di atas lantai keramik seketika menghentikan perdebatan di dapur. Raka, Mama, dan Norma serentak menoleh.

Wajah mereka yang tadinya penuh keserakahan, seketika berubah menjadi pucat pasi—seputih kapas.

Plok

Plok

Plok

Nada bertepuk tangan dengan ritme yang lambat dan penuh penekanan. Setiap tepukannya menggema di ruangan yang mendadak senyap itu. Matanya menatap tajam satu per satu wajah di hadapannya, dari Mama yang mendadak menyembunyikan piring, hingga Raka yang gemetar menyembunyikan kresek hitam di belakang punggungnya.

“Luar biasa,” suara Nada terdengar rendah, namun penuh dengan racun yang mematikan. “Sebuah pertunjukan keluarga yang sangat mengesankan. Aku tidak tahu kalau aku sedang tinggal di tengah-tengah komplotan perampok.”

Nada tersenyum, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata, membuat bulu kuduk ketiga orang itu meremang.

“Jadi, Mas, ternyata kamu yang merampok uang tabunganku hanya untuk melampiaskan kesenanganmu, dan membahagiakan dua manusia ini?”

Nada melangkah setapak demi setapak, mendekat ke arah meja makan yang kini terasa seperti panggung sandiwara yang hancur. Tatapannya jatuh pada kantong kresek di tangan Raka, lalu beralih ke tangan Mbak Norma yang masih menggenggam beberapa lembar uang ratusan ribu.

“Kembalikan uangnya, Mas,” ucap Nada dengan suara yang teramat tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan histeris. Hanya sebuah permintaan datar yang justru membuat nyali Raka menciut.

Raka mematung, tenggorokannya terasa tersumbat. “Nad, ini … aku bisa jelaskan.”

“Tidak perlu. Aku sudah mendengar semuanya, lebih jelas dari yang ingin kudengar,” potong Nada. Ia mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Raka.

“Uang itu. Berikan padaku secara baik-baik. Itu hakku, dan keringatku.”

Raka gemetar, perlahan ia meletakkan kantong kresek hitam itu ke telapak tangan Nada seolah benda itu adalah bara api yang membakar kulitnya. Raka meletakkan kantong kresek hitam itu ke telapak tangan Nada.

Namun, sebelum jemarinya sempat mengatup, sebuah tangan kurus dengan kuku-kuku tajam menyambar kresek itu dengan kasar. Mama mertua. Ia mendekap bungkusan itu di dadanya seperti singa kelaparan yang melindungi mangsanya.

“Jangan harap!” sentak Mama dengan wajah yang memerah padam. “Ini uang anakku! Apa yang sudah ada di tanganku tidak bisa keluar lagi!”…

“Masih berani menyebut ini uang anakmu, Ma?” Nada tertawa, suara tawa yang begitu kering hingga membuat Mbak Norma mundur selangkah. “Uang itu ada di dalam rekening atas namaku, hasil kerja kerasku lembur siang malam di kantor. Anakmu hanya mengambilnya lewat pencurian dan penipuan.”

“Kamu itu istri! Kewajiban istri itu berbakti!” Mama mertua semakin kencang mendekap kresek itu, matanya melotot liar. “Lagipula, kamu hampir mati kemarin dan keluarga ini yang menjagamu. Anggap saja ini biaya tebusan nyawamu!”

Nada menggeleng pelan, lalu merogoh saku jaketnya. Bukan untuk mengambil uang, tapi mengeluarkan ponsel yang layarnya masih menyala.

“Mas Raka, Ma, Mbak Norma… kalian tahu kenapa tadi aku pulang terburu-buru?” Nada menunjukkan layar ponselnya. Di sana, terpampang panggilan aktif yang sudah berlangsung selama lima belas menit ke nomor kantor polisi.

Wajah Raka yang tadinya pias, kini berubah menjadi abu-abu. “Nad… kamu…”

“Polisi sedang mendengarkan setiap kata kalian dari tadi,” ucap Nada dingin. “Rekaman video saat kalian membagi uang hasil curian, pengakuan Mas Raka tentang judi online, sampai… pernyataan Mama tentang sengaja memberiku racun agar aku terkapar. Semuanya sudah tersimpan di server awan.”

Seketika, kantong kresek di pelukan Mama mertua terjatuh ke lantai. Bunyi buk yang berat itu menandakan sisa uang yang tak seberapa dibandingkan harga diri mereka yang sudah hancur.

“Nad, tolong… Mas mohon. Kita bicarakan baik-baik,” Raka jatuh berlutut, mencoba menggapai kaki Nada, namun Nada menghindar dengan jijik. “Mas khilaf, Nad. Mas kecanduan. Mas janji akan berubah.”

“Khilaf itu sekali, Mas. Tapi merencanakan pencurian, memberi racun, dan membiarkan istrimu sekarat sementara keluargamu tertawa di atas uangnya… itu bukan khilaf. Itu kejahatan luar biasa.”

Di luar, suara sirine polisi mulai terdengar meraung, semakin lama semakin dekat hingga cahayanya yang merah biru memantul di jendela dapur.

Mbak Norma mulai menangis histeris, menyalahkan Mama. Mama mulai memaki Raka. Dan Raka hanya bisa bersujud di lantai sambil terisak. Keluarga yang tadinya terlihat solid saat merampok, kini saling cakar saat terpojok.

Nada mengambil kantong kresek hitam itu dari lantai, membersihkan debunya dengan tenang.

“Polisi tadi memberiku pilihan: jalur hukum atau kekeluargaan,” Nada menatap mereka untuk terakhir kalinya sebelum berbalik menuju pintu depan. “Dan aku baru sadar… aku tidak punya keluarga di rumah ini. Yang ada hanyalah sekumpulan kriminal. Jadi, silakan jelaskan tentang ‘biaya tebusan nyawa’ itu di depan hakim.”

Nada melangkah keluar dengan kepala tegak. Di belakangnya, polisi merangsek masuk untuk menjemput tiga serigala yang kini hanya bisa melolong ketakutan. Tabungan rumahnya mungkin berkurang, tapi malam ini, ia telah membuang sampah terbesar dalam hidupnya.