SEORANG MILIARDER MENYAMAR SEBAGAI PENCUCI PIRING UNTUK MENGAWASI TUNANGANNYA — DI BELAKANG DAPUR, DIA MEMERGOKINYA SEDANG BERPELUKAN DENGAN WANITA LAIN DAN MENDENGAR KATA-KATA YANG MENGHANCURKAN HATINYA
Isabella “Bella” Tan adalah pewaris kerajaan Hotel dan Restoran terbesar di negara itu. Di usia 28 tahun, dia sudah memiliki segalanya—uang, kekuasaan, dan kecantikan. Satu-satunya yang belum dia miliki hanyalah cinta yang tulus.
Dia pikir sudah menemukannya pada Rico, seorang pebisnis muda yang tampan dan pandai berbicara. Mereka sudah bertunangan dan akan menikah bulan depan.
Namun beberapa minggu terakhir, Bella mulai merasa ada yang aneh. Rico sering sibuk, selalu ada “meeting darurat” di malam hari, dan kadang kemejanya berbau parfum wanita.
Sebagai pebisnis cerdas, Bella tidak mudah percaya gosip. Dia ingin bukti.
Dia memutuskan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dibayangkan Rico.
Di salah satu restoran mewah miliknya, Casa Luna, Bella menyamar sebagai pegawai baru bagian pencuci piring. Dia mengenakan kaus lama, celana longgar, sepatu bot, dan menyembunyikan rambut indahnya di balik hairnet. Dia bahkan mengoleskan sedikit arang di wajahnya agar terlihat kotor. Dia memperkenalkan dirinya sebagai “Inday.”
Dapur restoran itu panas, bising, dan penuh bau menyengat. Bella tidak terbiasa dengan kerja sekeras itu. Punggungnya sakit karena harus mengerik sisa makanan dari piring sepanjang hari. Tapi dia menahan semuanya.
Dia tahu Rico akan datang malam ini untuk sebuah “meeting klien” di ruang VIP.
Sekitar pukul delapan malam, Rico tiba. Dari dapur, Bella mendengar manajer menyambutnya. “Selamat malam, Pak Rico! Rekan Anda sudah menunggu di Private Room 2.”
Satu jam kemudian, Rico izin ke toilet. Tapi bukannya menuju kamar mandi tamu, dia melewati service hallway—lorong gelap di belakang dapur tempat para staf biasa beristirahat.
Bella cepat-cepat bersembunyi di balik tumpukan kotak sayuran. Dia mengintip dari celah kecil.
Dia melihat Rico. Dan dia tidak sendirian.
Bersamanya ada seorang wanita—Vanessa, sekretaris Rico sendiri.

Rico menarik Vanessa ke sudut gelap dan memeluknya erat. Dia menciumnya penuh gairah, ciuman yang bahkan belum pernah dia berikan kepada Bella.
“Rico, aku lelah,” keluh Vanessa sambil menangis. “Sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi? Bulan depan kamu menikah dengannya! Lalu bagaimana dengan kita?”
Bella mendengar Rico menghela napas panjang. Dia mengusap rambut Vanessa dengan lembut…
“Sabar, Sayang,” bisik Rico, suaranya terdengar begitu tenang namun bagaikan belati yang menghujam langsung ke jantung Bella. “Pernikahan ini cuma bisnis. Kamu tahu sendiri betapa bodoh dan naifnya Isabella. Dia pikir aku benar-benar mencintainya.”
Rico terkekeh sinis, sebuah tawa yang belum pernah Bella dengar sebelumnya dari pria yang selalu bersikap manis di depannya itu.
“Begitu akta pernikahan ditandatangani, aku akan perlahan mengambil alih saham Casa Luna dan seluruh aset hotel milik keluarganya. Perempuan manja seperti dia tidak akan sadar kalau sedang dirampok dari dalam. Setelah semua hartanya jatuh ke tanganku, aku akan menceraikannya. Kita cuma butuh waktu satu atau dua tahun, Vanessa. Setelah itu, semua kekayaan keluarga Tan akan jadi milik kita, dan kita bisa hidup mewah selamanya.”
Vanessa tersenyum manja, menghapus air matanya, lalu mengecup pipi Rico. “Kamu benar-benar genius, Sayang. Aku akan setia menunggumu.”
Di balik tumpukan kotak sayuran, napas Bella tercekat. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih. Amarah yang membakar dadanya jauh lebih panas daripada suhu dapur restoran malam itu. Air matanya sempat menggenang, namun langsung mengering oleh rasa murka yang luar biasa. Bodoh dan naif? Perempuan manja? Bella tersenyum getir dalam kegelapan. Rico telah salah menilai singa yang sedang menyamar.
Bella tidak lantas keluar dan membuat keributan seperti wanita teraniaya pada umumnya. Dia adalah seorang Tan. Dia tidak akan menurunkan derajatnya untuk drama murahan di lorong dapur.
Dengan langkah tenang, Bella kembali ke area wastafel. Dia melepas hairnet-nya, membiarkan rambut indahnya terurai, lalu membasuh wajahnya yang terkena noda arang hingga bersih. Di bawah tatapan bingung para koki dan pelayan, “Inday” si pencuci piring berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dingin seorang penguasa sejati yang selama ini dia sembunyikan.
Tamu Tak Diundang di Ruang VIP
Sepuluh menit kemudian, Rico dan Vanessa kembali ke ruang VIP 2 setelah “pertemuan singkat” mereka di lorong. Mereka sedang tertawa kecil sambil memesan botol anggur termahal ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar tanpa ketukan.
Rico mengerutkan kening, siap memarahi pelayan yang tidak sopan, namun kalimatnya tertelan kembali di tenggorokan saat melihat siapa yang masuk.
Bella berdiri di sana. Dia masih mengenakan kaus lama dan celana longgar yang basah, tetapi tatapan matanya begitu tajam dan berkuasa, membuat pakaian lusuh itu seolah bertransformasi menjadi gaun haute couture yang mengintimidasi. Di belakang Bella, berdiri manajer restoran dan dua sekuriti berbadan tegap.
“B-Bella?!” Rico terlonjak kaget, wajahnya langsung pucat. “Kenapa kamu ada di sini? Dan… pakaian apa yang kamu pakai ini?”
Vanessa pun ikut panik dan langsung menggeser kursinya agar menjauh dari Rico.
Bella berjalan mendekati meja, lalu menuangkan segelas air es di depannya tepat ke atas kepala Rico.
BYUR!
“Bella! Apa-apaan ini?!” teriak Rico sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup.
“Itu untuk membangunkanmu dari mimpi siang bolongmu, Rico,” kata Bella, suaranya tenang namun sedingin es. “Aku baru saja dari belakang dapur. Mendengar rencana hebatmu tentang saham, aset, dan bagaimana cara menceraikanku setelah mengambil kekayaanku.”
Mendengar hal itu, Rico bagaikan tersambar petir. Seluruh tubuhnya gemetar. “Bella, itu… itu salah paham! Aku bisa jelaskan! Aku cuma bercanda dengan Vanessa—”
“Cukup,” potong Bella dengan lambaian tangan yang mutlak. “Kamu bilang aku bodoh dan naif? Kamu lupa siapa yang membangun kerajaan bisnis ini. Kamu pikir kamu bisa merampokku?”
Bella mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol speaker. “Halo, tim hukum? Batalkan semua kontrak kerja sama dengan perusahaan Rico efektif detik ini. Tarik semua investasi keluarga Tan dari bisnisnya. Dan pastikan seluruh kolega kita tahu alasan di baliknya.”
“Tidak, Bella! Jangan lakukan itu! Itu akan menghancurkan perusahaanku!” Rico memohon, jatuh berlutut di lantai, mencoba menggapai kaki Bella. Bisnisnya selama ini memang hanya bertahan berkat suntikan dana dari keluarga Tan. Tanpa Bella, dia akan bangkrut dalam semalam.
Akhir dari Sang Parasit
Bella melangkah mundur, menghindari sentuhan tangan Rico yang kotor. Dia melepas cincin tunangan berlian di jarinya, lalu melemparkannya ke dalam gelas anggur Rico.
“Pernikahan kita batal. Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu…” Bella menatap Rico dan Vanessa yang kini sama-sama pucat pasi seperti mayat. “…restoran tempatmu berpijak sekarang adalah milikku. Dan aku tidak sudi melihat sampah ada di sini.”
Bella menoleh ke arah manajer dan sekuriti di belakangnya. “Seret mereka berdua keluar dari pintu belakang, lewat tempat pembuangan sampah. Di sana tempat yang tepat untuk orang-orang seperti mereka.”
“Baik, Nyonya Besar!” sahut para sekuriti dengan cekatan.
Rico berteriak histeris dan Vanessa menangis meratapi reputasinya yang hancur saat para sekuriti menyeret mereka melintasi restoran yang ramai, di bawah tatapan jijik para tamu kehormatan.
Bella menarik napas dalam-dalam, merasakan beban berat yang selama ini mengganjal di hatinya lenyap seketika. Menyamar sebagai pencuci piring memang membuat punggungnya sakit, tetapi itu adalah harga yang sangat murah untuk menyelamatkan hidup dan kekayaannya dari seorang pencuri berkedok cinta.