Posted in

SEORANG TAMU WANITA YANG SOMBONG MEMPERMALUKAN DAN MENYIRAM CALON PENGANTIN WANITA BERUSIA ENAM PULUH LIMA TAHUN DENGAN ANGGUR DI HARI PERNIKAHANNYA SENDIRI KARENA DIA MENGANGGAP WANITA ITU “PEMBANTU TUA DAN PENGINCAR HARTA”. DIA MENGIRA WANITA TUA ITU TIDAK BERDAYA. NAMUN YANG TIDAK DIA KETAHUI, WANITA YANG DIA TERTAWAKAN MEMILIKI KEKUASAAN UNTUK MENGHAPUS SELURUH KEHIDUPANNYA DALAM SEKEJAP.

SEORANG TAMU WANITA YANG SOMBONG MEMPERMALUKAN DAN MENYIRAM CALON PENGANTIN WANITA BERUSIA ENAM PULUH LIMA TAHUN DENGAN ANGGUR DI HARI PERNIKAHANNYA SENDIRI KARENA DIA MENGANGGAP WANITA ITU “PEMBANTU TUA DAN PENGINCAR HARTA”. DIA MENGIRA WANITA TUA ITU TIDAK BERDAYA. NAMUN YANG TIDAK DIA KETAHUI, WANITA YANG DIA TERTAWAKAN MEMILIKI KEKUASAAN UNTUK MENGHAPUS SELURUH KEHIDUPANNYA DALAM SEKEJAP.

Cinta Terakhir

Namaku Rosa, enam puluh lima tahun. Sepanjang hidupku aku hidup sendirian. Masa mudaku kuhabiskan bekerja dan membangun bisnis kecil yang diam-diam tumbuh menjadi kerajaan bernilai miliaran rupiah—Valderama Holdings. Namun aku memilih hidup sederhana, selalu memakai pakaian biasa, dan tak seorang pun mengenali wajahku di depan publik.

Pada usia enam puluh empat tahun, aku menemukan cinta sejati bersama Fernando. Dia seorang dokter sukses dan duda. Dia mencintaiku dengan tulus tanpa mengetahui kekayaanku yang sebenarnya. Hari ini adalah hari pernikahan kami, yang diadakan di grand glass pavilion termewah di Manila.

Namun putra Fernando, Troy, terutama istrinya Beatrice, sangat membenciku. Bagi Beatrice, aku hanyalah “wanita tua miskin” yang mencari pria kaya untuk merawatku sampai mati.

Penghinaan di Depan Altar

Aku berdiri di luar pintu besar katedral, menunggu musik dimainkan. Aku mengenakan gaun putih vintage yang sederhana namun elegan. Air mata kebahagiaan memenuhi mataku.

Tiba-tiba Beatrice mendekat. Dia memakai gaun merah berkilau dan memegang segelas red wine. Wajahnya dipenuhi rasa jijik.

“Kau menjijikkan, wanita tua,” bentaknya dingin. “Kau pikir aku tidak tahu rencanamu? Kau menikahi ayah mertuaku supaya bisa mengambil warisan suamiku saat dia mati nanti! Kau cuma pembantu tua yang haus uang!”

“Beatrice, Nak… tolong jangan sekarang. Aku mencintai ayah mertuamu,” jawabku lembut, berusaha menghindari keributan.

“Jangan panggil aku anak! Bau tanah!”

Dengan penuh amarah, Beatrice mengangkat gelas wine-nya dan sebelum aku sempat menghindar, dia menuangkan seluruh isinya ke gaun pengantinku!

SPLASH!

Anggur merah pekat mengalir dari dadaku hingga ujung gaun putihku. Para satpam dan beberapa tamu di luar pintu terkejut melihatnya.

“Oops. Tergelincir,” katanya sambil menyeringai sinis. Dia tertawa keras. “Nah, itu lebih cocok untukmu. Sekarang kau terlihat berdarah dan kotor, sama seperti niat kotormu. Pulang saja ke kawasan kumuh, nenek tua.”

Aku menatap gaunku. Tanganku gemetar dan air mata jatuh bukan karena gaunku rusak, tetapi karena kekejaman wanita itu.

Guncangan di Dalam Katedral

Tepat saat itu pintu katedral terbuka. Fernando melihat semuanya. Dia langsung berlari ke arahku dengan wajah merah dipenuhi amarah.

“Beatrice! Apa yang kau lakukan pada istriku?!” bentak Fernando.

“Dad! Aku menyelamatkanmu! Wanita tua itu pengincar harta!” jawab Beatrice dengan angkuh. “Aku cuma melindungi kekayaan Troy! Dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kita!”..

Beatrice masih berdiri tegak dengan dagu terangkat, yakin bahwa ayah mertuanya akan berterima kasih atas “kejujurannya”. Namun, suasana di katedral berubah menjadi mencekam. Para tamu undangan—yang terdiri dari para taipan dan pejabat tinggi—bukan menatapku dengan jijik, melainkan menatap Beatrice dengan pandangan seolah dia baru saja menggali kuburannya sendiri.

Fernando tidak membalas ucapan menantunya. Dia justru berlutut di depanku, menggunakan sapu tangan mahalnya untuk mencoba menghapus noda anggur di gaunku dengan tangan bergetar.

“Rosa… maafkan keluarga ini,” bisik Fernando penuh penyesalan.

Aku menarik napas panjang. Rasa sedih itu kini menguap, digantikan oleh ketegasan yang selama empat puluh tahun telah membantuku membangun Valderama Holdings dari nol. Aku meletakkan tangan di bahu Fernando, memintanya untuk berdiri.

“Tidak apa-apa, Fernando,” kataku tenang. Suaraku tidak lagi terdengar seperti wanita tua yang lemah. “Beatrice benar tentang satu hal. Pernikahan ini memang tentang harta. Tapi bukan harta milikmu yang aku incar.”

Runtuhnya Keangkuhan Beatrice

Aku menoleh ke arah asisten pribadiku yang berdiri di barisan depan tamu, yang sejak tadi sudah memegang tablet digitalnya. Aku memberikan isyarat kecil dengan kepala.

“Beatrice,” panggilku dingin. “Kau begitu khawatir tentang warisan suamimu, Troy. Kau tahu perusahaan konstruksi tempat suamimu bekerja, ‘Constructa Group’?”

Beatrice menyilangkan tangan di dada. “Tentu saja. Troy adalah direktur di sana, dan perusahaan itu sedang menangani proyek triliunan dari Valderama Holdings. Kami akan menjadi orang terkaya di Manila!”

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Troy—yang baru saja mendekat—berdiri.

“Sayangnya, Constructa Group baru saja kehilangan kontrak itu satu menit yang lalu,” kataku. “Dan karena Valderama Holdings memegang 70% saham di sana, aku baru saja memerintahkan dewan direksi untuk memecat Troy secara tidak hormat atas dasar kegagalan menjaga reputasi keluarga pemilik perusahaan.”

Wajah Beatrice berubah menjadi abu-abu. “Apa maksudmu? Apa hubungannya kau dengan Valderama Holdings?”

Fernando angkat bicara, suaranya berat. “Beatrice… kau bodoh. Rosa tidak membutuhkan uangku. Rosa adalah Rosa Valderama. Dia adalah pemilik tunggal perusahaan yang menghidupi suamimu dan keluargamu selama sepuluh tahun terakhir.”

Satu Kata yang Memusnahkan

Keheningan yang mematikan menyelimuti katedral. Troy jatuh terduduk di lantai, menyadari bahwa dalam sekejap, karier dan kemewahannya telah musnah karena mulut tajam istrinya.

Beatrice mulai gemetar hebat. Gelas kosong di tangannya jatuh dan pecah di lantai marmer. “Nyonya… Doña Rosa… maafkan saya! Saya tidak tahu! Saya hanya… saya hanya bercanda!”

Dia mencoba merangkak di depanku, hendak mencium kakiku yang terkena tetesan anggur.

“Tadi kau bilang aku bau tanah dan pantas berada di kawasan kumuh,” kataku sambil mundur selangkah, menghindari sentuhannya. “Aku akan mengabulkan keinginanmu. Besok, seluruh fasilitas kreditmu akan dibekukan. Rumah mewah yang kau tempati atas nama perusahaan akan disita dalam dua puluh empat jam.”

Aku menoleh ke arah Fernando. “Fernando, apakah kau tetap ingin menikahi wanita yang gaunnya sudah kotor ini?”

Fernando menggenggam tanganku erat, matanya berkaca-kaca. “Gaun ini mungkin kotor, tapi jiwamu adalah hal tercantik yang pernah aku temukan. Ayo kita lanjutkan, Rosa.”

Aku mengangguk. Sebelum berjalan menuju altar, aku menatap Beatrice untuk terakhir kalinya.

“Penghinaanmu hari ini tidak membuatku terlihat kecil, Beatrice. Itu hanya menunjukkan betapa kecilnya dirimu di dunia yang selama ini aku kendalikan.”

Pintu katedral ditutup, meninggalkan Beatrice yang menangis histeris di luar, menyadari bahwa dalam satu tuangan anggur, dia baru saja menghapus seluruh masa depannya sendiri. Di dalam, aku berjalan dengan kepala tegak, menjadi pengantin paling berkuasa yang pernah dilihat kota itu.