SEPULANG ANAKKU MARA PULANG DARI SEKOLAH, MASIH MEMBAWA TAS PINK KECILNYA DAN DAHINYA BASAH OLEH KERINGAT, AKU KIRA DIA HANYA AKAN MENGELUH TENTANG TUGAS ATAU PANASNYA KELAS.
Tapi begitu masuk ke dapur, dia berhenti di depanku, menatap ke atas, dan dengan suara lembut mengatakan sesuatu yang terasa seperti pisau yang perlahan menusuk dadaku.
“Ma… ceraikan saja Papa.”
Aku berhenti memotong kacang panjang. Senyum di bibirku membeku.
“Apa yang kamu bilang, Nak?”
Dia tidak mengalihkan pandangan. Tidak juga terlihat marah. Tidak ada kesal di wajahnya. Yang lebih menyakitkan—dia serius.
“Kita memang tidak dicintai Papa,” katanya. “Papa cuma sayang Kak Andrei dan mamanya.”
Tanganku langsung gemetar.
“Mara—”
“Walaupun Mama tidak bilang, aku tahu,” lanjutnya, seolah sudah lama memendam ini. “Waktu Papa dapat bonus kerja, Mama bilang ingin masukkan aku ke kelas piano. Tapi Tita Lovely cuma nangis di chat, Papa langsung kasih uangnya ke mereka.”
Aku menunduk.
“Terus waktu ulang tahun Mama,” tambahnya, suaranya makin pelan tapi jelas, “aku lihat gelang emas yang Papa sembunyikan di lemari. Aku kira untuk Mama. Tapi waktu Kak Andrei marah karena mamanya mau HP baru, Papa kasih lagi ke mereka.”
Seperti ada yang menyumbat tenggorokanku.
“Dan Papa sering banget keluarkan Mama dari group chat keluarga,” lanjut anakku. “Terus Mama harus minta maaf ke Tita Lovely dan Kak Andrei supaya dimasukin lagi.”
Aku tidak sadar air mataku sudah jatuh.
Mara masih kecil. Baru tujuh tahun. Tapi ternyata dia melihat semuanya—semua yang selama ini aku sembunyikan. Semua senyum paksa. Semua pura-pura kuat. Semua malam ketika aku diam-diam menangis di kamar mandi.
Dia memeluk pinggangku.
“Ma, kalau Mama tidak cerai karena aku, aku tidak mau jadi alasan. Aku cuma mau Mama bahagia.”
Aku menangis terisak.
Bukan karena kaget.
Tapi karena itu pertama kalinya seseorang mengatakan kebenaran kepadaku.
Malam itu, kami makan bersama di meja makan. Lauknya adobo. Ada sepiring ayam goreng di tengah. Leo—suamiku—diam sambil scroll HP. Andrei, anaknya dari pernikahan sebelumnya, duduk santai seperti raja di kerajaannya.
Tersisa satu paha ayam di piring.
Sejak tadi Mara menahan diri untuk tidak mengambilnya. Dia tahu itu favorit Andrei. Di rumah itu, seperti ada aturan tak tertulis: yang terbaik untuk Andrei, yang pertama untuk Andrei, yang terakhir pun untuk Andrei.
Tapi beberapa menit berlalu, dan Andrei sendiri bilang dia sudah kenyang.
Barulah Mara pelan mengambil paha itu dan menggigitnya dengan ragu, seolah masih takut salah.
Tiga detik kemudian, Andrei berteriak.
“Dad! Itu punyaku! Aku masih mau!”
Leo hanya melirik. Sekilas ke piring. Sekilas ke Mara.
Lalu tanpa bicara, dia mengambil HP dan sekali lagi mengeluarkanku dari group chat keluarga.
Lagi.
Untuk ke-28 kalinya.
Aku menatap layar saat notifikasi muncul dengan tangan gemetar.
Kamu telah dikeluarkan dari grup.
Kupikir aku sudah kebal. Ternyata hati tidak pernah terbiasa dipermalukan berulang-ulang.
Beberapa menit kemudian, Lovely—mantan istrinya—bahkan tertawa di Facebook story.
“Ada wanita yang sudah lima tahun menikah tapi tetap tidak diterima keluarga. Susah ya? Tapi mungkin ada alasannya.”
Tidak perlu ditandai. Kami semua tahu itu untuk siapa.
Di sampingku, Mara gemetar. Dia menatap bekas gigitan di paha ayam, seolah itu dosa terbesar di dunia.
Lalu sebelum sempat kuhentikan, dia berdiri, lari ke tempat sampah, dan mencoba memasukkan jari ke tenggorokannya.
“Anak!” teriakku.
“Aku keluarkan saja, Ma,” katanya sambil menangis. “Supaya bisa dikembalikan ke Kak…”
Ada sesuatu yang meledak dalam diriku.
Bukan sekadar marah. Bukan kesal sesaat.
Tapi lima tahun diam, menunduk, menahan diri, dan memohon—yang tiba-tiba menjadi jelas dalam satu detik.
Anakku yang berusia tujuh tahun ketakutan hanya karena sepotong ayam.
Dan suamiku—yang seharusnya melindungi kami—hanya diam, seolah tidak ada yang salah.
Di situlah aku menjatuhkan sendok.
Aku memeluk Mara erat.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak lagi memohon.
Aku menatap Leo dan berkata dingin, “Kalau aku tidak muat di group chat keluargamu, aku juga tidak butuh rumah ini.”
Dia terdiam.
“Apa?”
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Kita cerai saja.”
Wajah Andrei langsung bersinar.
“Dad, iya! Biar Mommy bisa balik ke sini!”
Leo menoleh. “Diam dan makan.”
Tapi sudah terlambat. Kami sudah mendengarnya.
Dia menatapku dan menggeleng, seolah aku yang berlebihan.
“Ella, ini drama apa lagi? Cuma karena aku keluarkan kamu dari grup?”
Aku tidak menjawab.
Dia menghela napas. “Siapa yang salah? Anakmu tahu Andrei suka paha ayam. Kamu tidak ajari dia berbagi.”
Aku menelan ludah.
“Tadi masih ada. Andrei sudah bilang kenyang.”
“Tapi dia mau lagi,” jawabnya keras. “Lagipula Andrei bukan darah dagingmu, justru kamu harus lebih jaga supaya tidak ada masalah. Tapi aku lihat kamu terlalu memanjakan Mara.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Tapi karena ingin berteriak.
Saat Andrei kecil tidak bisa tidur tanpa ibunya, aku yang menenangkannya. Saat dia demam tinggi dan Leo di luar kota, aku yang berjaga di rumah sakit, meninggalkan Mara yang masih bayi. Saat dia tidak mau makan, aku yang memasak kesukaannya. Saat ada tugas sekolah, aku yang begadang membantu.
Tapi sampai sekarang, aku tetap dianggap ibu tiri yang jahat.
Leo menatapku seolah masih baik.
“Sudah. Mara minta maaf saja ke Andrei. Kita lihat sikapnya beberapa hari. Kalau sudah baik, aku masukkan kamu lagi ke grup.”
Aku menatapnya.
Dulu, mata seperti itu yang membuatku percaya aku bisa bahagia dengannya.
Ternyata tidak.
Selama lima tahun, aku hanya tamu di rumah sendiri.
“Leo,” tanyaku pelan, “di hatimu, aku ini benar-benar keluarga?”
Dia terdiam.
“Kalau iya,” lanjutku, “kenapa lebih mudah menghapusku daripada membelaku?”
Dia mengerutkan kening. “Lovely ada di grup karena dia ibu Andrei. Itu cuma untuk komunikasi.”
“Komunikasi?” suaraku bergetar. “Aku istrimu. Tapi setiap Andrei atau Lovely tidak suka padaku, kamu keluarkan aku seperti tidak berarti.”
Dia tidak menjawab.
Di sampingku, Mara masih terisak…
Di sampingku, Mara masih terisak, bahu kecilnya naik turun menahan tangis yang menyesakkan. Aku menarik napas panjang, sebuah ketenangan yang dingin tiba-tiba menyelimuti hatiku. Rasa sakit yang selama lima tahun ini seperti api, kini telah berubah menjadi abu yang dingin.
“Mara, ayo naik ke atas,” kataku pelan. “Ambil tas pink-mu. Masukkan baju yang paling kamu suka. Kita tidak perlu membawa banyak-banyak.”
“Ella, jangan gila! Ini sudah malam!” teriak Leo, mulai kehilangan kesabarannya. “Mau ke mana kamu? Jangan bawa-bawa anakku!”
Aku berbalik, menatapnya dengan pandangan yang membuat suaranya mendadak tercekat. “Anakmu? Sejak kapan Mara menjadi anakmu, Leo? Kamu tidak pernah menganggapnya anak. Kamu hanya menganggapnya pengganggu di antara duniamu, Andrei, dan Lovely.”
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku membawa Mara ke kamar, memasukkan beberapa lembar pakaian dan surat-surat penting ke dalam satu koper kecil. Di bawah, aku mendengar suara Andrei yang tertawa keras sambil menelepon ibunya, melaporkan bahwa “wanita itu akhirnya pergi.”

Saat aku turun kembali, Leo berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap. Dia masih yakin aku hanya menggertak.
“Paling besok kamu juga minta dimasukkan grup lagi,” cibirnya. “Kamu tidak punya siapa-siapa di kota ini, Ella. Pikirkan itu.”
Aku berhenti tepat di depannya. Aku merogoh saku, mengambil ponselku, lalu dengan gerakan tenang, aku meletakkannya di atas meja makan. Aku menghapus aplikasi hijau itu, lalu menekan pengaturan dan melakukan factory reset pada ponsel yang dia belikan dua tahun lalu.
“Simpan saja ponsel ini. Aku tidak butuh akses ke duniamu lagi,” kataku datar.
Aku menuntun Mara keluar. Udara malam terasa sangat dingin, tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, paru-paruku terasa lapang. Tidak ada lagi sesak, tidak ada lagi rasa ingin muntah karena menahan harga diri.
“Ma…” suara Mara bergetar saat kami berdiri di pinggir jalan menunggu taksi. “Kita mau ke mana?”
Aku berlutut di depannya, menghapus sisa air mata di pipinya yang kemerahan. Aku mencium dahinya yang tadi basah oleh keringat sekolah, kini basah oleh air mata perjuangan.
“Kita akan ke tempat di mana kamu boleh makan paha ayam kapan saja kamu mau,” bisikku. “Ke tempat di mana Mama tidak perlu minta maaf hanya untuk dianggap ada.”
Taksi datang. Saat mobil itu bergerak menjauh, aku melihat dari kaca belakang rumah besar milik Leo yang tampak megah namun terasa seperti kuburan bagiku. Aku melihat bayangan Leo di jendela, mungkin dia baru menyadari bahwa kali ini, aku tidak akan mengirim pesan permohonan maaf.
Aku memeluk Mara erat di kursi belakang. Ponselku yang baru—sebuah perangkat tua yang kusimpan di laci kantor—bergetar. Sebuah notifikasi muncul dari satu-satunya orang yang selalu mendukungku, ibuku.
“Ibu sudah siapkan kamar untuk kalian. Pulanglah.”
Aku tersenyum. Bukan senyum paksa yang biasa kupasang di depan meja makan Leo. Ini adalah senyum milik Ella yang dulu—Ella yang kuat, yang berharga, dan yang kini telah bebas.
Dunia mungkin mengeluarkanku dari “grup keluarga” mereka, tapi malam ini, aku baru saja memasukkan diriku kembali ke dalam hidupku sendiri. Dan bagi Mara, itu sudah lebih dari cukup.