Posted in

Setelah enam bulan ibuku merawat cucuku di Jakarta… aku menyadari perutnya semakin membesar—dan malam itu, seandainya saja aku tidak membuka kamera.

Setelah enam bulan ibuku merawat cucuku di Jakarta… aku menyadari perutnya semakin membesar—dan malam itu, seandainya saja aku tidak membuka kamera.

Namaku Liana Reyes, 29 tahun. Aku tinggal bersama suamiku, Marco, dan bayi kami, Sofia, di sebuah apartemen di Jakarta Selatan. Pekerjaanku di sebuah perusahaan teknologi hampir menghabiskan seluruh waktu dan tenagaku setiap hari.

Ketika Sofia lahir, hidup kami menjadi semakin sibuk dengan berbagai tanggung jawab baru. Meskipun kami mampu mempekerjakan pengasuh, kami tetap merasa tidak tenang. Karena itu, aku memutuskan memanggil Mama dari Cebu untuk membantu kami.

Sejak kedatangannya, rumah kami terasa hidup kembali.

Makanan hangat selalu tersedia.

Rumah selalu bersih.

Dan Sofia mendapatkan perhatian penuh yang penuh kasih sayang.

Aku sangat bersyukur atas bantuannya dan berusaha membalas kebaikannya semampuku.

Aku membelikannya pakaian baru dan memberinya uang sekitar Rp4.500.000 setiap bulan.

Namun ia selalu menolak dan berkata bahwa kebahagiaan kami jauh lebih penting baginya daripada uang atau barang apa pun.

Kehidupan kami berjalan baik sampai bulan kelima.

Saat itulah aku mulai menyadari ada sesuatu yang aneh pada tubuh Mama.

Meski makannya semakin sedikit, perutnya justru tampak semakin membesar.

— Ma, kok cepat sekali naik berat badan?

Candaku suatu hari sambil tersenyum, mengira itu hanya perubahan biasa karena usia.

Ia hanya tersenyum dan mengusap punggungnya.

Katanya pencernaannya tidak sebaik dulu karena faktor usia.

Aku pun tidak terlalu memikirkannya.

Namun ketika memasuki bulan keenam, perubahan itu tidak lagi bisa diabaikan.

Perutnya membuncit seperti wanita hamil.

Sementara tubuhnya justru semakin kurus dan lemah dari hari ke hari.

Punggungnya sering sakit.

Ia juga sulit tidur pada malam hari.

Aku berkali-kali menyarankan agar ia pergi ke rumah sakit, tetapi ia selalu menolak.

Katanya hanya membuang-buang uang dan semuanya akan membaik dengan sendirinya.

— Mama cuma kelelahan. Dia hanya butuh istirahat.

Kata Marco.

Aku berusaha mempercayainya, meski ada perasaan tidak nyaman yang terus menghimpit dadaku.

Suatu hari aku pulang lebih awal dari kantor.

Aku mendapati Mama duduk di sofa sambil memegangi punggungnya dan gemetar menahan sakit.

Sementara Sofia bermain sendirian di lantai seolah tidak ada yang terjadi.

— Ma, ada apa?

Tanyaku sambil buru-buru mendekat.

Ketika kusentuh dahinya, kulitnya terasa dingin seperti es.

Aku semakin khawatir.

Mataku lalu tertuju pada perutnya yang terlihat jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Saat itu sebuah pikiran muncul di kepalaku.

Pikiran yang langsung kutolak mentah-mentah.

Aku pernah hamil.

Aku tahu seperti apa bentuk tubuh wanita hamil.

Tetapi Mama sudah berusia lebih dari lima puluh tahun.

Ayah juga sudah lama meninggal.

Aku terus meyakinkan diriku bahwa hal itu mustahil.

Malamnya aku menceritakan kekhawatiranku kepada Marco.

Namun ia langsung marah dan tidak percaya pada apa yang kupikirkan.

Percakapan kami berakhir dalam keheningan yang justru membuat ketegangan semakin besar.

Keesokan harinya sebenarnya kami berencana membawa Mama ke rumah sakit.

Namun kami berdua dipanggil ke kantor karena urusan pekerjaan.

Rencana itu kembali tertunda.

Dan rasa takut dalam diriku semakin besar.

Sejak saat itu aku mulai lebih memperhatikannya.

Aku sering melihatnya berdiri sendirian di balkon sambil memegang perutnya.

Ia selalu mengatakan bahwa yang diminumnya hanya vitamin.

Tetapi aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya.

Semakin lama, pikiranku semakin dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin kupikirkan.

Bahkan meski aku tidak mau, sempat terlintas bahwa mungkin Mama menyimpan rahasia yang tidak pernah kuketahui selama ini.

Suatu siang ketika sedang menghadiri rapat panjang, aku menerima pesan dari Marco.

Dia memintaku segera pulang karena terjadi sesuatu yang tidak terduga.

Jantungku langsung berdebar kencang.

Aku bahkan hampir tidak ingat bagaimana caranya pulang.

Yang kuingat hanya aku berlari menuju rumah sambil berusaha tidak membayangkan hal-hal buruk.

Saat membuka pintu apartemen, suasana sunyi langsung menyambutku.

Sunyi yang terasa menakutkan.

Aku melihat Marco duduk sambil memegangi kepalanya.

Sofia tidak terlihat di mana pun.

— Di mana mereka?!

Teriakku dengan suara gemetar.

Tanpa berkata apa-apa, Marco hanya menunjuk ke arah kamar mandi.

Aku langsung berlari ke sana.

Ketika pintunya kubuka, aku melihat pemandangan yang tidak akan pernah kulupakan.

Mama berlutut di depan toilet.

Ia muntah hebat dan hampir tidak mampu bergerak karena kesakitan.

Tubuhnya gemetar.

Tangannya mencengkeram dinding sekuat tenaga seolah itulah satu-satunya hal yang mencegahnya jatuh.

Pada saat itu, seluruh pikiranku seolah meledak.

Logikaku menghilang.

Yang tersisa hanya ketakutan yang selama ini berusaha kutolak.

— Apa yang Mama lakukan?!

Bentakku tanpa mampu lagi mengendalikan emosi.

Perlahan ia berhenti muntah lalu berdiri.

Ia menatapku dengan mata yang penuh kelelahan.

Namun tidak ada kemarahan.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada penjelasan.

Dan itu justru membuatku semakin bingung.

— Apa Mama tidak malu? Papa baru saja meninggal, lalu sekarang seperti ini?!

Kata-kata itu keluar begitu saja.

Kata-kata yang bahkan tidak pernah kubayangkan akan kuucapkan kepada ibuku sendiri.

— Apa kata orang nanti? Mama mau keluarga kita jadi bahan tertawaan?

Tambahku lagi sambil kehilangan kendali atas emosiku.

Ia tetap diam.

Lalu perlahan menunduk dan melihat ke arah perutnya.

Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tetapi tidak mampu kujangkau.

— Kalau kamu tahu apa yang sebenarnya ada di dalam perut Mama…

Suaranya pelan.

Namun cukup membuat seluruh tubuhku membeku.

— Kamu tidak akan pernah mengatakan hal-hal itu.

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian dari cerita tersebut:

Kata-kata Mama malam itu menggantung di udara, dingin dan menusuk. Sebelum aku sempat membalas, Mama ambruk di lantai kamar mandi. Kesadarannya hilang sepenuhnya.

Dalam kepanikan yang luar biasa, aku dan Marco langsung melarikan Mama ke rumah sakit terdekat di Jakarta Selatan. Sepanjang perjalanan, air mataku tidak berhenti mengalir. Rasa bersalah mulai menggerogoti dadaku. Bagaimana bisa aku menuduh ibuku sendiri, yang sudah mengorbankan masa tuanya demi merawat anakku, dengan tuduhan sekeji itu?

Sesampainya di IGD, Mama langsung dilarikan ke ruang tindakan. Dokter dan perawat bergerak cepat, sementara aku dan Marco diminta menunggu di luar.

Jam dinding rumah sakit berdetak lambat. Di tengah kepanikan itu, aku teringat sesuatu. Aku belum memeriksa kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di apartemen kami—kamera kecil yang sengaja kami pasang di sudut ruang tengah dan area dapur untuk memantau Sofia saat kami bekerja.

Dengan tangan gemetar, aku membuka aplikasi kamera di ponselku. Aku memutar ulang rekaman dari dua hari terakhir, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat aku dan Marco sedang berada di kantor.

Dan malam itu, seandainya saja aku tidak membuka kamera… aku mungkin tidak akan pernah tahu kebenaran yang menghancurkan hatiku.

Rahasia di Balik Kamera

Di layar ponsel, aku melihat rekaman tiga hari yang lalu.

Mama sedang menggendong Sofia yang sedang menangis rewel. Tiba-tiba, Mama meringis kesakitan yang amat sangat. Ia terduduk di lantai, memegangi perutnya yang membuncit. Namun, alih-alih melepaskan Sofia, Mama tetap memeluk bayiku dengan erat, melindunginya agar tidak terjatuh.

Lalu, rekaman beralih ke area dapur pada malam harinya, saat aku dan Marco sudah tidur.

Mama berdiri di depan wastafel. Ia membuka sebuah botol obat, bukan vitamin seperti yang dikatakannya, melainkan obat pereda nyeri dosis tinggi. Aku memperbesar gambar. Di dekat botol itu, tergeletak sebuah amplop besar dari sebuah rumah sakit di Cebu, Filipina, yang dibawa Mama sejak kedatangannya. Di atasnya tertulis hasil diagnosis medis: Advanced Ovarian Cancer (Kanker Ovarium Stadium Lanjut).

Perut Mama yang membesar… itu sama sekali bukan karena kehamilan.

Itu adalah asites, penumpukan cairan masif di rongga perut akibat sel kanker yang telah menyebar. Tubuhnya yang semakin kurus, punggungnya yang sakit, dan muntah-muntah hebat yang dialaminya bukan karena ia menyembunyikan aib, melainkan karena tubuhnya sedang digerogoti oleh penyakit mematikan yang masuki stadium akhir.

Mama sengaja menyembunyikannya dariku. Ia menolak semua uang yang kuberikan karena ia tahu waktunya tidak lama lagi. Ia menolak ke rumah sakit di Jakarta karena tidak ingin membebani keuangan kami yang baru saja stabil. Ia menahan rasa sakit yang tak tertahankan setiap hari, hanya demi memastikan cucunya mendapatkan perawatan terbaik dari tangan seorang nenek, sebelum ia pergi untuk selamanya.

Penyesalan yang Terlambat

Ponsel hampir terjatuh dari genggamanku. Tangisku pecah di koridor rumah sakit yang sepi. Aku bersimpuh, memukul dadaku sendiri yang terasa sesak oleh penyesalan yang teramat dalam. Kata-kata kejam yang kuucapkan di kamar mandi tadi berputar-putar di kepalaku bagai belati.

“Apa Mama tidak malu?” “Mama mau keluarga kita jadi bahan tertawaan?”

Tuhan, betapa bodoh dan butanya aku sebagai seorang anak.

Dokter keluar dari ruang IGD dengan wajah lesu. Ia menghampiriku dan Marco.

“Ibu Liana… Ibu Anda mengalami robekan pada massa tumor di perutnya yang menyebabkan perdarahan internal. Kondisinya sudah sangat kritis sejak ia tiba di Indonesia. Kami sudah berusaha mengeluarkan cairan dan meredakan nyerinya, tapi kanker ini sudah menyebar ke seluruh organ dalam.” Dokter menghela napas berat. “Saat ini beliau sudah sadar, tapi… waktunya tidak banyak. Beliau memanggil nama Anda.”

Pelukan Terakhir

Aku berlari masuk ke dalam ruangan. Di atas ranjang rumah sakit, Mama terlihat begitu kecil dan rapuh di balik selimut putih. Perutnya tidak lagi sekeras sebelumnya, namun wajahnya pucat pasi.

Aku langsung berlutut di samping ranjangnya, menggenggam tangannya yang dingin seperti es, lalu menciuminya berulang kali sambil terisak.

“Ma… maafkan Liana, Ma… Liana bodoh, Liana egois…” ucapku terbata-bata di antara tangisan. “Kenapa Mama tidak cerita? Kenapa Mama harus menanggung ini semua sendirian?”

Mama membuka matanya yang kuyu dengan sangat lambat. Tidak ada dendam di sana. Hanya ada binar kasih sayang yang sama, yang selalu ia berikan sejak aku kecil. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mengusap air mata di pipiku.

“Mama… hanya ingin berguna untukmu, Liana… di sisa hidup Mama,” bisik Mama, suaranya sangat lirih, hampir menyerupai embusan angin. “Mama tidak mau membuatmu cemas atau mengganggu pekerjaanmu. Mama ingin… memori terakhir yang kamu miliki tentang Mama adalah… Mama yang membantumu menjaga Sofia dengan baik.”

Mama tersenyum lemah, sebuah senyuman paling tulus yang pernah kulihat.

“Jangan menangis, anakku. Jaga Sofia… jadilah ibu yang baik untuknya, seperti Mama yang selalu bangga memilikimu.”

Tepat setelah kalimat itu selesai, monitor jantung di samping ranjang mengeluarkan bunyi berdengung panjang yang statis. Garis di layar berubah menjadi lurus.

Mama memejamkan matanya, kali ini dengan raut wajah yang tenang, bebas dari segala rasa sakit yang selama enam bulan ini ia sembunyikan di balik senyumannya.

Aku menjerit histeris, memeluk tubuh Mama yang perlahan mulai kaku. Malam itu, di bawah lampu rumah sakit Jakarta yang temaram, aku kehilangan ibuku. Dan malam itu pula aku menyadari, bahwa cinta seorang ibu sering kali terlalu besar untuk bisa dipahami oleh logika seorang anak, sampai semuanya sudah terlambat.