SETELAH TAMPARAN ITU, AKU LANGSUNG MENOLAK 47 PANGGILAN, MENINGGALKAN SEMUANYA, DAN TERBANG LANGSUNG KE JAKARTA.**
Aku menatap detail penerbangan di layar ponsel, sementara putriku tertidur pulas di sampingku.
Di ketinggian tiga puluh ribu kaki, tentu tidak ada sinyal.
Namun aku tahu, saat ini Sebastian Reyes mungkin sedang berdiri di dalam rumah yang terasa sedingin es.
Dua belas jam sebelumnya, di sebuah restoran yang dipenuhi orang, demi Angela Cruz, dia menamparku.
Suara tamparan itu begitu keras.
Cukup keras hingga seluruh restoran mendadak sunyi.
Cukup keras hingga aku merasakan darah di sudut bibirku.
Dan cukup keras untuk membangunkanku dari pernikahan ini.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun aku menjadi istri Sebastian Reyes, sejak usia dua puluh tiga hingga dua puluh enam tahun.
Demi dirinya, aku melepaskan kesempatan bekerja di London.
Aku meninggalkan jalan hidup yang telah dipersiapkan ibuku.
Aku rela tinggal di rumah hanya sebagai **”Mrs. Reyes.”**
Katanya dia menyukai perasaan bahwa selalu ada seseorang yang menunggunya pulang.
Maka aku menunggu.
Katanya Angela Cruz hanyalah seorang teman.
Maka aku mempercayainya.
Katanya telepon tengah malam hanya urusan pekerjaan.
Maka aku memilih bertahan.
Namun saat dia menamparku…
Tidak sedetik pun dia ragu.
Putriku bergerak pelan dalam tidurnya, menggenggam bajuku dengan tangan mungilnya.
Aku memeluknya semakin erat dan memejamkan mata.
**Sebastian Reyes… apa kau benar-benar mengira wanita yang kau tampar itu tidak akan mampu hidup tanpamu?**
Kau salah.
Yang kau hancurkan…
Adalah harapan terakhirku.
Dan aku, **Victoria Tan**, tidak pernah membutuhkanmu untuk membuktikan siapa diriku.
Saat pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, ponselku menunjukkan tepat **47 panggilan tak terjawab**.
Semuanya dari Sebastian Reyes.
Ada pula dua belas pesan.
Mulai dari:
*”Victoria, kamu di mana?”*
hingga:
*”Jangan berlebihan. Pulanglah, kita bicarakan baik-baik.”*
Dan pesan terakhir yang dikirim pukul tiga dini hari:
*”Victoria Tan, sebenarnya apa yang kamu inginkan?”*
Aku menyerahkan ponselku kepada asisten yang menjemputku.
“Carla, tolong ganti nomor ponselku.”
Carla Mendoza menerima ponsel itu tanpa bertanya apa pun.
Sudah lima tahun dia bekerja bersamaku.
Dia mengenalku lebih baik daripada siapa pun.
Aku menggendong putriku lalu berjalan keluar dari bandara.
Udara Jakarta di bulan Oktober masih hangat, tetapi entah mengapa terasa begitu menyegarkan.
Setiap tarikan napas terasa seperti kebebasan.
Sebuah **Lexus** hitam berhenti di depan kami.
Saat pintunya terbuka, ibuku sudah duduk di dalam.
“Pelan-pelan, nanti Nina masuk angin.”
Aku masuk ke mobil.
Ibu menyentuh pipiku.
Saat merasakan bekas tamparan yang masih memerah di sisi kiri wajahku, ia terdiam sesaat.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun aku melihat jemarinya mencengkeram setir begitu erat.
“Bu, aku baik-baik saja.”
“Hm… yang penting kamu baik.”
Suaranya tetap tenang.
“Ayahmu sudah menyiapkan apartemen di Sudirman. Kamar Nina juga sudah siap. Untuk sementara kalian tinggal di sana dulu.”
“Bagaimana dengan perusahaan?”
“Tunggu sampai kamu siap. Tidak perlu terburu-buru.”
Aku menyandarkan kepala ke kursi sambil memandangi lampu-lampu kota yang berkelebat di balik jendela.
Tiga tahun yang lalu, saat meninggalkan Indonesia, aku adalah kepala termuda Divisi Bisnis Internasional **Tan Group**.
Hari ini aku kembali…
Dan posisi itu masih menjadi milikku.
Selama tiga tahun, kursi itu sengaja dibiarkan kosong.
Ibuku menanggung seluruh tekanan dari dewan direksi seorang diri.
Beliau tidak pernah sekali pun memaksaku kembali.
Aku tahu…
Beliau hanya menungguku mengambil keputusan sendiri.
Dan sekarang…
Aku sudah yakin.
Mobil berhenti di depan apartemen.
Carla sudah menunggu.
“Bu Victoria, nomor baru sudah aktif. Pak Santos dan Pak Lim juga sudah menelepon. Mereka ingin tahu kapan Ibu akan kembali ke kantor…”
“Besok.”
Aku menggendong Nina keluar dari mobil.
“Pukul sepuluh pagi. Sampaikan pada mereka aku akan datang.”
Carla tampak terkejut.
“Cepat sekali? Bukankah Ibu ingin istirahat dulu?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku sudah beristirahat.”
“Tiga tahun… sudah lebih dari cukup.”
Aku memasuki apartemen.
Ruangannya luas.
Dari dinding kaca, seluruh cakrawala Jakarta terlihat jelas.
Dibandingkan rumah keluarga Reyes yang sempit…
Tempat ibu mertuaku selalu menyiksaku.
Tempat suamiku bersikap dingin.
Tempat aku diam-diam menghapus air mata di atas sofa.
Setiap sudut apartemen ini…
Kubangun dengan usahaku sendiri.
Aku membaringkan Nina di tempat tidurnya.
Dia masih tertidur lelap.
Ponselku bergetar.
Nomor baru ini hanya diketahui oleh tiga orang.
Pesan dari Ibu.
*”Sebastian mendatangi pamanmu, tetapi tidak ada yang meladeninya. Sepertinya dia masih belum tahu siapa keluargamu sebenarnya.”*
Aku membalas singkat.
*”Jangan dulu.”*
Masih banyak hal yang belum dia ketahui.
Misalnya…
Nama belakangku adalah **Tan**.
Tan dari **Tan Group**.
Sebelum menikah dengannya, aku menyembunyikan semuanya.
Karena saat itu aku percaya…
Cinta saja sudah cukup.
Aku pikir jika aku menjadi istri yang baik, penyayang, dan sabar…
Dia hanya akan melihatku.
Namun pada akhirnya…
Tatapannya tetap tertuju kepada Angela.
Aku mematikan lampu dan berbaring.
Cahaya kota memantul di langit-langit kamar.
Aku teringat pertama kali bertemu Sebastian tiga tahun lalu.
Saat itu dia hanyalah seorang pengacara muda yang penuh semangat.
Dengan jas sederhana, dia membela seorang buruh yang tidak dibayar haknya.
Aku duduk di bangku penonton.
Dan jatuh cinta pada cahaya di matanya.
Namun cahaya itu…
Padam pada tahun kedua pernikahan kami.
Padam tepat pada malam Angela kembali dari luar negeri.
Dia menjemput Angela di bandara.
Dan melupakan ulang tahunku.
Ponselku kembali bergetar.
Nomor tak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Halo.”
Suara yang sangat kukenal.
Sebastian.
“Bagaimana kamu mendapatkan nomor ini?” tanyaku dingin.
“Kamu pikir hanya karena ganti nomor aku tidak bisa menemukanmu?” katanya dengan nada menekan. “Ke mana kamu membawa Nina? Apa kamu tahu kalau…”
“Tahu apa?” potongku. “Bahwa sekarang kamu kesulitan berpura-pura menjadi pahlawan di depan Angela karena aku sudah tidak ada?”
Dia terdiam selama dua detik.
“Soal kemarin… aku mengakui aku terbawa emosi. Tapi kamu juga harus melihat situasinya. Kamu menyiram Angela dengan anggur…”
“Dia yang lebih dulu mendorong gelas ke arahku.”
“Ada buktinya?”
Aku tertawa pelan.
Benar-benar khas seorang pengacara.
Bahkan ketika berbicara dengan istrinya sendiri, dia masih meminta bukti.
“Baik.”
“Sebastian Reyes.”
“Aku memang tidak punya bukti.”
“Tapi aku punya satu pertanyaan.”

“Apa?”
“Saat kamu menamparku…”
**”Apa kamu sempat ragu, walau hanya setengah detik?”…
Tidak ada jawaban di seberang telepon.
Hanya hening yang panjang dan berat. Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban yang paling jujur.
“Kamu tidak pernah ragu, Sebastian,” kataku pelan, namun setiap kata terucap dengan dingin. “Jadi jangan pernah membuang waktumu untuk meneleponku lagi.”
Aku mematikan sambungan telepon, lalu memblokir nomor tersebut. Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Kebenaran di Atas Meja
Pukul sepuluh pagi keesokan harinya.
Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam berhenti di depan gedung utama Tan Group Tower di pusat bisnis Jakarta.
Lobi utama yang megah sudah dipenuhi oleh jajaran direksi, para pemegang saham, dan belasan awak media. Saat aku melangkah masuk dengan gaun formal hitam buatan perancang busana terkenal, didampingi oleh Carla dan empat pengawal pribadi, seluruh ruangan mendadak riuh oleh jepretan kamera.
“Selamat datang kembali, Vice President Victoria Tan,” panggil Pak Santos, jajaran direktur senior, sambil membungkukkan badan penuh hormat.
Ibu duduk di kursi utama ruang rapat pleno. Di hadapan puluhan wartawan dan direksi, beliau mengumumkan secara resmi:
“Mulai hari ini, putriku, Victoria Tan, secara penuh memegang kendali atas operasional Tan Group di Asia Tenggara, termasuk akuisisi seluruh anak perusahaan di bidang properti dan hukum.”
Dalam waktu kurang dari dua jam, berita kepulanganku dan penunjukanku sebagai pimpinan tertinggi Tan Group memuncaki seluruh portal berita bisnis nasional.
Kehancuran di Rumah Keluarga Reyes
Sementara itu, di kota asal Sebastian…
Sebastian Reyes duduk di ruang kerjanya dengan frustrasi. Sudah dua hari ia tidak bisa menghubungi Victoria. Rumah mereka terasa sepi dan hampa. Tidak ada lagi wangi masakan hangat, tidak ada tawa Nina, dan tidak ada lagi sosok wanita lembut yang selalu menyambutnya di depan pintu.
Ponselnya berdering kencang. Itu dari ibunya.
“Sebastian! Cepat pulang! Ada orang-orang berjas hitam yang datang dan memasang segel di rumah kita!” jerit ibunya histeris dari seberang telepon.
Sebastian tersentak. “Apa maksud Ibu?! Rumah itu kan milik kita!”
“Mereka bilang rumah ini adalah aset Tan Group yang dulu dipinjamkan atas nama Victoria! Mereka memberi waktu satu jam untuk mengangkat semua barang kita!”
Belum sempat Sebastian mencerna kekacauan itu, pintunya didobrak oleh sekretaris kantor hukumnya.
“Pak Sebastian! Batal! Semua klien utama kita membatalkan kontrak hari ini!” seru sekretarisnya dengan wajah pucat pasi. “Tan Group baru saja membeli seluruh saham firma hukum kita dan memutus kerja sama secara sepihak! Bahkan… pimpinan Tan Group mencabut Lisensi Praktik Utama Anda!”
Sebastian berdiri, seluruh tubuhnya gemetar hebat. “Tan Group?! Mengapa perusahaan raksasa itu mengincar perusahaanku?! Aku bahkan tidak pernah berurusan dengan mereka!”
Sekretarisnya menyodorkan sebuah tablet yang menayangkan siaran langsung berita bisnis hari ini.
Di layar kaca, terlihat sosok wanita yang sangat ia kenal—wanita yang selama tiga tahun ini mengenakan daster sederhana, membersihkan rumahnya, dan menerima makian dari ibunya—kini berdiri anggun di atas podium mewah dengan pin berlapis berlian di dadanya.
Teks di bawah layar membaca: “Victoria Tan, Pewaris Tunggal Tan Group, Resmi Memegang Kendali Konglomerasi.”
Lutut Sebastian lemas. Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
“V-Victoria… Tan…?” bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Selama ini… istri yang ia anggap tak berdaya, istri yang ia acuhkan demi Angela, dan wanita yang ia tampar demi harga diri teman wanitanya… adalah penguasa bisnis terbesar di negeri ini.
Penyesalan yang Terlambat
Satu minggu kemudian.
Sebastian terbang langsung ke Jakarta. Dengan pakaian yang kusut dan wajah yang kusam karena stres, ia berjuang menembus pengamanan ketat di Tan Group Tower.
Setelah memohon selama berjam-jam di lobi, Carla akhirnya membawanya naik ke lantai atas atas perintahku.
Saat pintu ruang kerjaku yang megah terbuka, Sebastian melihatku sedang menandatangani berkas akuisisi di balik meja kayu mahoni yang besar.
“Victoria…” panggilnya dengan suara serak, matanya berkaca-kaca.
Ia melangkah maju, hendak memegang tanganku, namun pengawal pribadiku langsung menahannya.
“Victoria, maafkan aku… Aku mohon, maafkan aku,” tangis Sebastian pecah di depan meja kerja saya. “Aku tidak tahu… Aku benar-benar tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Aku buta oleh kesombonganku sendiri!”
Aku meletakkan penaku, lalu menatapnya dengan pandangan dingin dan tak tersentuh.
“Kamu tidak tahu siapa aku, Sebastian, karena kamu tidak pernah peduli,” jawabku tenang. “Kamu hanya peduli pada bayanganmu sendiri dan rasa ingin dipuja oleh Angela Cruz.”
“Aku sudah memutuskan hubungan dengan Angela! Aku sudah mengusirnya!” teriak Sebastian histeris, berlutut di atas karpet mahal ruang kerjaku. “Rumah kita disita, firma hukumku hancur, ibuku pingsan karena malu… Tolong, Victoria, demi Nina… beri aku kesempatan kedua. Kita pulang ke rumah, ya?”
Aku tersenyum tipis—sebuah senyuman yang paling dingin yang pernah ia lihat dariku.
“Rumah yang mana, Sebastian? Rumah di mana ibumu memperlakukanku seperti pembantu? Atau rumah di mana kamu menamparku di depan umum?”
Aku mengambil sebuah map merah tebal dari laci dan melemparkannya tepat di depan dadanya.
“Itu adalah gugatan perceraian resmi dan pencabutan hak asuh anak. Kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun, dan kamu tidak akan pernah bisa mendekati Nina lagi.”
“T-tidak… Victoria, jangan lakukan ini padaku! Aku mencintaimu!” jeritnya sambil memegang dokumen itu dengan tangan gemetar.
“Cinta?” kataku sambil berdiri dan berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota Jakarta dari ketinggian.
“Saat kamu menamparku hari itu, kamu tidak hanya memukul pipiku. Kamu menghancurkan seluruh rasa cintaku yang tersisa untukmu. Tamparanmu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku—karena tamparan itu mengingatkanku siapa diriku yang sebenarnya.”
Aku memberi isyarat kepada para pengawal.
“Seret dia keluar.”
“Victoria! Victoria! Maafkan aku! Victoriaaaa!”
Teriakan dan tangisan histeris Sebastian menggema di sepanjang koridor saat ia diseret keluar dari gedung. Tidak ada sedikit pun penyesalan di hatiku saat melihatnya hancur.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian kami selesai secara tertutup. Sebastian kehilangan segala yang dimilikinya—kariernya, rumahnya, dan status sosialnya. Angela Cruz meninggalkannya begitu tahu Sebastian tak lagi memiliki uang.
Sore itu, di balkon apartemenku di Sudirman, Nina berlari-lari kecil sambil membawa gambar cat airnya.
“Ibu, lihat! Aku menggambar rumah baru kita!” serunya gembira.
Aku berlutut, memeluk putri kecilku erat-erat, dan mencium keningnya.
Aku melihat ke arah langit Jakarta yang cerah. Tamparan itu memang menyakitkan, tetapi dari rasa sakit itulah aku menemukan kembali mahkotaku. Dan kali ini, tidak akan ada seorang pun yang bisa melepaskannya dariku lagi.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.